Archive for January, 2017

Agama yang Tidak Memuliakan Emas, Kisah Ratu Bilqis #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , , on January 30, 2017 by triwidodo

buku-masnawi-4-ratu-bilqis

Ada bahasa hati dan ada bahasa materi. Ada yang bertindak sesuai dengan kata hati, dengan nurani. Ada yang masih belum bisa mendengarkan suara nurani. Mereka sepenuhnya menggunakan bahasa materi. Itulah satu-satunya bahasa yang mereka pahami.

Ratu Bilqis pun hanya memahami bahasa materi. Dia belum bisa mendengarkan suara nurani. Karena itu persembahannya  kepada Nabi Sulaiman juga masih berupa “materi”. Emas “murni” – ya logam yang dianggapnya “mulia” itu yang dia persembahkan.

Dia tidak tahu bahwa seorang nabi tidak akan pernah memuliakan logam. Seorang Pir, seorang Mursyid tidak akan pernah memuliakan emas.

Rumi melanjutkan:

 

Para pengantar pun tercengang, karena Nabi Sulaiman menggunakan lembaran emas untuk menghiasi lantai.

“Lebih baik kita pulang saja. Apa yang harus kita hadiahkan kepada Nabi Sulaiman?” – pikir para pesuruh. Emas yang mereka muliakan dijadikan injakan oleh Sang Nabi.

Begitu pula dengan engkau yang ingin mencapai Tuhan dengan ilmu pengetahuan. Ketahuilah bahwa bagi Dia, ilmumu, pengetahuanmu tidak berarti sama sekali.

Para pesuruh menyadari betul hal itu. Tetapi apa boleh buat? Mereka sekadar pesuruh, pengantar. Dan mereka harus menjalankan tugas.

Melihat kiriman itu, Nabi Sulaiman tertawa, “Apa yang kalian bawa? Aku tidak menginginkan semua ini. Yang kuinginkan justru kesiapan diri (kalian) untuk menerima apa yang hendak kuberikan.”

 

Jangan berupaya untuk menyogok seorang Pir, seorang Mursyid. Dia tidak bisa disogok. Yang bisa disogok hanyalah “Pengajar Kodian”. Seorang Pir, seorang Mursyid datang untuk “memberi”, bukan untuk menerima. Mutiara Pencerahan, Emas Kesadaran – itulah pemberian mereka. siapkah kita untuk menerima semua itu?

 

Pulanglah kalian dengan emas batangan ini. Yang kuinginkan bukanlah emas, tetapi hati. Hati yang bersih….. Penolakanku ini sungguh menguntungkan kalian. Jadilah utusanku dan sampaikan kepada Ratu Bilqis apa yang kalian saksikan di sini. Bahwa bukanlah emas yang aku inginkan. Sampaikan  pula bahwa hendaknya dia segera datang ke sini untuk memeluk (agama) yang benar.” – Kata Nabi Sulaiman kepada para pesuruh itu.

 

Bagi Rumi, agama yang benar adalah agama yang “tidak memuliakan” logam, karena dengan “memuliakan” logam, kita akan terjebak dalam perbuatan syirk. Kita akan menduakan Allah. Kita akan menempatkan materi sejajar dengan Dia yang sesungguhnya berada di atas segala-galanya – termasuk materi itu.

Rumi menasihati kita untuk mendengarkan seruan para Nabi dan para Wali. Untuk memenuhi panggilan para Pir dan para Mursyid. Karena panggilan mereka sangat tulus. Yang mereka inginkan hanyalah Kebaikan kita. Sebagaimana bagi Ratu Bilqis.

cover-buku-masnawi-4

“Bukan karena hawa nafsu aku memanggilmu. Hawa nafsu sudah kutaklukkan. Panggilan ini untuk mendekatkan dirimu dengan Tuhan.”

Akhirnya, hati Sang Ratu meleleh juga, terbuka juga. Dia mulai merasa muak dengan hal-hal duniawi dan mendambakan pertemuan dengan Sang Nabi. Kendati demikian, masih saja ada sedikit keterikatan pada takhta. Pada kerajaan dan kekuasaan. Dan Sang Nabi pun mengetahui hal itu.

(seorang ahli sihir) menawarkan jasa, “Aku mampu memindahkan takhta Ratu Bilqis ke tempat ini.”

Asaf, seorang menteri Sang Nabi menanggapinya, “Dengan nama Allah, takhta itu bisa berada di sini dalam sekejap.”

Maka Nabi membiarkan Asaf untuk memindahkan takhta itu. Tawaran tukang sihir tidak dihiraukannya.

 

Tukang sihir dalam kisah ini mewakili pikiran kita. Asaf mewakili hati kita. Pikiran bisa menggunakan kekerasan. Hati tidak bisa. Hati selalu lembut. Untuk menaklukkan hawa nafsu, kita bisa menggunakan dua-duanya. Kita bisa menekannya dengan pikiran. Atau menaklukkannya dengan kelembutan kasih.

Pikiran hanya mampu menekan hawa nafsu. Diberi peringatan terus, diancam terus-menerus, pikiran bisa takut. Dia tidak berkutik. Tetapi sampai kapan? Begitu tekanan dilepaskan sedikit saja, dia beringas kembali.

Keberingasan hawa nafsu hanya bisa ditaklukkan oleh kelembutan hati. Oleh kehangatan kasih. Sekali tertaklukkan, dia tidak akan berkutik kembali. Karena bersifat lembut, sesungguhnya kasih tidak pernah menaklukkan siapa-siapa.  Dia hanya “menghadirkan” dirinya. dan hawa nafsu lenyap seketika. Kasih bagaikan Cahaya Matahari. Di mana ada cahaya, tak akan ada kegelapan. Di mana ada kasih, tak akan ada hawa nafsu.

Rumi melanjutkan kisahnya:

 

Melihat takhta itu berhasil dipindahkan, Nabi Sulaiman bersyukur kepada Allah dan berkata, “Hanya orang-orang bodoh yang akan tertarik padamu.”

Kemudian Sang Nabi pun berseru kepada Ratu Bilqis, “Sadarlah Bilqis…. Apa arti sebuah takhta? Lepaskan keterikatanmu dan masukilah kerajaan Allah…”

Genggaman kita penuh dengan kerikil. Ya, batu kerikil yang kita anggap sangat berharga, sehingga tidak mau melepaskannya. Kendati Sang Mursyid sudah menawarkan segenggam mutiara sebagai penggantinya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Sesungguhnya manusia dilahirkan dalam keadaan meditatif. Selama dalam kandungan ibu, ia sudah mencicipi meditasi. Ia mulai belajar hidup “dengan” dirinya sendiri. Ia sudah melihat setitik cahaya di ujung terowongan sana, tidak sepenuhnya hidup dalam kegelapan. Dari buku Atma Bodha

Sudahkah kita mulai latihan meditasi?

Advertisements

Dhruva: Kegigihan Anak Menuju Gusti Pangeran, Penghapus Segala Kesedihan #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on January 27, 2017 by triwidodo

buku-bhagavatam-dhruva-ingin-dipangku

Mantra adalah penolong yang membantumu keluar dari setiap persoalan hidup. Setiap pengulangan memberi makna baru, dan makin mendekatkan dirimu dengan Tuhan.” Dikutip dari buku  (Krishna, Anand. (2012). Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern. Azka)

Mantra atau manasa yantra, alat untuk mengendalikan gugusan pikiran serta perasaan. Mantra juga membebaskan kita dari keterikatan, termasuk dari memori-memori masa Ialu. Berdasarkan pengalaman saya, lebih banyak orang terbantukan oleh mantra. Maka, hampir semua kepercayaan menganjurkannya—walau dengan sebutan, cara, dan tentu ucapan yang berbeda. Sebab, energi yang dibutuhkan untuk mengucapkan mantra jauh lebih banyak daripada apa yang dibutuhkan untuk melihat yantra dan melakoni mudra. Meski diucapkan dalam hati, tetap saja butuh lebih banyak energi daripada dua cara sebelumnya. Apalagi jika sambil merenungkan makna dari apa yang diucapkan, yang adalah bagian penting dari mantra sadhana—laku mantra. Jika Anda tidak memiliki seorang pemandu yang dapat memandu Anda dalam memilih mantra yang paling cocok bagi Anda, gunakan saja salah satu yang bersifat universal. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Belajar dari Kisah Srimad Bhagavatam

Dalam kisah kelahiran Hiranyakashipu dan Hiranyaksha kita belajar bahwa dari pasangan suami istri yang baik pun, kala berhubungan suami-istri secara sembarangan, anak yang dihasilkan pun bisa mempunyai sifat raksasa. Dalam Kisah Kardama dan Devahuti, kita melihat putra yang baik dihasilkan dari pasangan suami istri yang baik. Kali ini kisah tentang seorang suami dengan dua istri yang salah satunya lebih menarik hati sang suami dibandingkan yang lain. Ternyata dari istri yang kurang diperhatikan pun justru muncul putra yang luar biasa hebatnya. Dikisahkan Sapta Rishi pun menghormati putra tersebut, dan bahkan saat bumi kiamat, Brahma beristirahat, dia pun masih bersinar.

Mungkin inilah salah satu avidyaa senjata andalan Brahma, agar manusia semakin terikat dengan dunia dan lupa pada jatidiri. Pada masa awal kehidupan, seorang suami diberi banyak istri, dan banyak kisah yang lahir dari model tersebut. Menimbulkan masalah memang, akan tetapi tetap bisa juga mempunyai putra yang luar biasa. Nanti pada waktunya akan dikisahkan bagaimana Sri Rama dan Sita bersumpah satu suami/istri saja. Rama ber eka patni vrata, kawin dengan seorang wanita dan Sita eka pati vrata kawin dengan seorang pria saja.

Dalam kondisi apa pun seseorang bisa menjadi bhakta, bisa menjadi manusia ilahi kekasih Gusti.

 

Sakit hati seorang anak kecil berusia 5 tahun

Priyavrata dan Uttanapada – dua anak laki-laki dari Swayambu Manu  – memerintah dunia dengan adil dan bijaksana. Uttanapada mempunyai dua istri, Suniti dan Suruchi. Suruchi, yang lebih muda, lebih cantik, lebih dikasihi oleh suaminya daripada istri yang lebih tua, Suniti.

Dhruva yang berusia 5 tahun melihat ayahandanya sedang memangku Uttama, adiknya dan ingin dipangku ayahandanya di paha satunya. Adalah ibu tirinya, Suruchi yang mencegah dan memarahi Dhruva. Dikatakannya bahwa walaupun sang raja adalah ayahnya, akan tetapi Dhruva bukan anak Suruchi, bila ingin dikasihi sang ayah, Dhruva diminta berdoa kepada Gusti agar di kehidupan berikutnya dilahirkan oleh dia.

 

Seorang anak umur 5 tahun dimarahi, maka sambil menangis, Dhruva mengadu kepada Suniti, ibunya. Apalagi Dhruva yang masih anak-anak, setelah remaja dan dewasa pun kita sering curhat kepada ibu kita. Sepatah-dua patah kata ibu kita akan membangkitkan semangat lagiSang ibu mengatakan bahwa Dhruva tidak perlu khawatir, setiap orang akan menanam benih dan dia sendiri yang akan memetiknya. Bunda Suruchi akan menerima hasil perbuatannya di kelak kemudian hari. Membalas dendam tidak menyelesaikan masalah, bahkan menanam benih karma baru yang tidak baik. Dhruva diminta berdoa sepenuh hati kepada Gusti Pangeran, Dia Hyang Menghapus Segala Kesedihan. Dikatakan Suniti bahwa Brahma, kakek buyut Dhruva, karena doanya menjadi Sang Pencipta, demikian pula Svayambu Manu, kakek Dhruva menjadi maharaja yang penuh berkah.

Seorang anak usia lima tahun sudah diajari karma oleh ibundanya, tetapi yang membuat dirinya bersemangat adalah dia berhasrat bertemu dengan Gusti Pangeran, sehingga segala kesedihannya bisa musnah. Dhruva pun meninggalkan istana menuju hutan ingin menemui Gusti, ingin memusnahkan semua kesedihan.

 

Bertemu Rishi Narada

Dewa adalah makhluk-makhluk yang tinggal dan hidup dalam cahaya. Ucapan serta perbuatan mereka tergerak oleh nurani. Mereka adalah makhluk-makhluk bersanubari. Mereka masih mampu mendengarkan suara hati. Dan, mereka dapat ditemukan di mana-mana. Tidak perlu mencari mereka di langit, di surga, di kahyangan. Banyak para dewa di antara kita. Banyak para dewa yang sengaja berada di tengah kita untuk memandu kita. Mereka tidak ‘datang’ ke dunia karena urusan karma. Mereka ‘datang’ untuk memandu Jiwa-Jiwa yang membutuhkan panduan mereka.

Para resi yang mampu ‘melihat’ dan merasakan kehadiran mereka, walau berwujud seperti manusia biasa, menemukan cara termudah untuk mengetahui mereka dan memperoleh panduan bimbingan mereka. Cara tersebut adalah Mantra-Yoga. Dengan suara-suara tertentu, getaran-getaran tertentu – ditambah dengan kekuatan niat yang mulia, hati yang bersih – kita dapat mengadakan hubungan seluler, bahkan menciptakan hot-line dengan mereka.

Banyak pembantu di rumah orangtua kita, jika kita membutuhkan sesuatu yang dapat diperoleh dari pembantu, lewat pembantu – mestikah kita menyusahkan orangtua? Banyak pekerjaan, banyak tugas yang memang sudah dipercayakan kepada para pembantu. Mantra-Yoga hanyalah membuat kita mengakses para Dewa, para Pembantu, para Lightworkers – ada yang berwujud dan ada yang tidak – itu saja. Dikutip dari Bhagavad Gita 10:14 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Rishi Narada, seorang Bhakta Narayana menghentikan Dhruva di jalan. Narada menyampaikan bahwa banyak sekali para pejalan spiritual yang gagal menemui Gusti, apalagi Dhruva masih anak-anak. Dhruva tidak menyerah, dan dia dengan penuh ketegasan ingin melanjutkan perjalanannya.

Senang dengan ketegasan sang anak, sang rishi memberkati Druva. Dia berkata : “Pergilah dan temukan tempat yang terpencil  di dekat sungai Yamuna, mandilah di sungai itu 3 kali sehari, dan duduk hening dan jernihkan pikiranmu dengan pranayama, bermeditasilah kepada Tuhan dalam wujud-Nya sebagai sumber kebajikan, keberhasilan, dan keindahan. Sekarang aku akan memberikan padamu sebuah mantra yang paling sakral “Om Namo Bhagavate Vasudevaya – yang harus kau ulangi terus-menerus selama 7 malam. Gunakan mantra ini dengan membayangkan Tuhan, kau akan memperoleh anugerah apa yang kauinginkan.”

Narada kemudian pergi ke istana Raja Uttanapada yang sedang terpukul dengan kesedihan mendalam atas apa yang dilakukan istri keduanya yang telah berlaku tidak tepat dan melukai hati anak pertamanya. Sang Raja berkata pada Rishi Narada bahwa dia menjamin hak raja bagi Dhruva di masa depan.

 

Dhruva mencari tempat sepi di tepi Sungai Yamuna. Dia bermeditasi, secara terus menerus membaca mantra dan membayangkan wujud Narayana seperti yang telah diajarkan oleh Rishi Narada. Dhruva memakan buah setiap 3 hari sekali selama satu bulan. Bulan berikutnya hanya makan rumput setiap 6 hari. Pada bulan ketiga hanya minum air setiap 9 hari. Pada bulan keempat Dhruva hanya menghirup napas saja. Pada saat Dhruva menahan napas seluruh dewa merasa terganggu, mereka pun menjadi sulit bernapas.

Di dekat Dhruva bertapa, adalah para Saptarishi yang juga sedang bertapa. Tujuh rishi tersebut merasakan pengaruh aura meditasi yang dilakukan oleh Dhruva, mereka mendatangi Dhruva yang sedang memejamkan mata, dan menghormatinya, dengan melakukan pradaksina, berjalan mengelilingi Dhruva sambil berdoa.

Deva Indra takut Dhruva akan merebut tahtanya di surga. Deva Indra kemudian mengganti wujudnya sebagai ibu Dhruva untuk mengubah niat Dhruva. Dhruva tetap bermeditasi sambil melantunkan mantra Om Namo Bhagavate Vasudevaya. Bahkan Dhruva bergeming, tidak bergerak kala Indra mengirimkan ular, laba-laba dan raksasa untuk mengganggunya. Dhruva tetap bermeditasi dan menutup matanya sambil terus melantunkan mantra…….

cover-buku-gayatri-mantra

 

Catatan:

Penjelasan dalam buku Soul Awareness: Setiap pikiran, perasaan, termasuk memori masa lalu yang muncul ke permukaan, membutuhkan energi pendorong. Ciptakan cabang bagi energi pendorongnya. Gunakan energi cabang yang baru diciptakan itu.

Bagaimana menciptakan cabang? Salah satu cara yang paling mudah adalah melihat gambar, Iukisan, patung, atau apa saja yang terkait dengan spiritual. Cara kedua: Mudra, gerakan-gerakan tangan dan jari yang juga bermanfaat bagi kesehatan badan, pikiran, dan perasaan. Cara ketiga: Mantra atau manasa yantra, alat unruk mengendalikan gugusan pikiran serta perasaan. Mantra juga membebaskan kita dari keterikatan, termasuk dari memori-memori masa Ialu.

Dhruva melakukan ketiga-tiganya agar fokus pada Gusti dan juga dengan melakukan Pranayama, olah prana (napas). Sudahkah kita latihan meditasi dengan memperhatikan napas?

Kematian: Bagi Kita Perpisahan, Bagi Bilal Pertemuan #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , on January 25, 2017 by triwidodo

buku-masnawi-3-bilal

Menjelang akhir hayatnya, badan Bilal melemah sekali. Istri dia sudah bisa merasakan bahwa tidak lama lagi suaminya akan meninggal. Dia sedih sekali. Bilal biasa-biasa saja malah tampak lebih ceria.

Sang istri berkata, “Sepertinya saat berpisah sudah semakin dekat.”

Bilal menanggapinya, “Bukan perpisahan. Tetapi pertemuan. Saat pertemuan sudah semakin dekat.”

“Suamiku, engkau akan memasuki alam yang lain. Alam yang berbeda – asing. Betapa sedihnya aku…”

“Tidak, tidak asing. Aku justru berpulang, kembali ke rumah. Betapa bahagianya aku…”

“Ya, tetapi kami tidak akan bisa melihat wajahmu lagi.”

“Bisa, kamu bisa melihat wajahku. Di antara para pencinta Allah, engkau akan melihat wajahku.”

Sang istri masih saja tidak bisa menerima kematian, “Rumah ini hancur sudah…”

Bilal tetap sadar, “Jangan memperhatikan awan. Perhatikan bulan yang berada di balik awan.”

 

Awan harus berlalu sehingga bulan terlihat jelas. Badan harus terlepaskan, sehingga jiwa bisa terbang bebas untuk bertemu dengan Allah!

Rumi melanjutkan:

 

Saat tidur, jiwa kita terbebaskan dari badan. Dia melayang jauh, bersuka-cita dan merayakan kebebasannya.

 

Bagi seorang Rumi, kematian memang tak lebih dari tidur panjang. Saat kita beristirahat dan tubuh menjadi segar kembali. Selanjutnya:

cover-buku-masnawi-3

Dunia ini seperti tempat pemandian umum. Panas, penuh dengan uap. Sudah jelas, jiwamu akan kegerahan dan berkeringat. Betapa pun luasnya, betapa pun  besarnya tempat pemandian, engkau tidak bisa berlama-lama di dalamnya. (Sudah selesai mandi, ya) harus keluar lagi.

Dunia ini bagaikan sekolah. Anda dan saya, kita semua sedang belajar di dalam sekolah ini. Ada yang baru masuk TK. Ada yang sudah duduk di bangku SMP. Ada juga yang sudah lulus kuliah dan akan diwisuda.

Karena ketidaktahuan, karena ketidaksadaran, kita menyamakan dunia dengan kehidupan. Kita anggap, selama berada di dunia kita hidup. Kalau sudah “meninggal” dunia, kita mati. Padahal, selama berada di dalam dunia, sesungguhnya kita masih belajar. Tentu saja, ada para senior yang bertugas mengajar. Tetapi, ya itu saja, proses belajar dan mengajar…

Di luar sekolah ini juga masih ada kehidupan. Bahkan hidup nyata itu justru ada di luar sekolah. Selesai kuliah, Anda harus turun ke lapangan. Keterikatan kita dengan dunia menunjukkan betapa tidak siapnya kita untuk turun ke lapangan.

Bagi Rumi, dunia ini ibarat Hamam, tempat pemandian umum. Mau berapa lama berada di dalam kamar mandi? Sudah mandi, bersih ya keluar, dong. Mau mandi sampai kapan?

Sang Maulana melanjutkan:

 

Tiba saat melahirkan, dan setiap wanita yang mengandung akan merasa sakit. Sementara, janin di dalam kandungannya malah bersuka-cita, “Sesaat lagi, aku bebas!”

 

Saat kematian, jiwa terbebaskan dari badan. Nah, sekarang tergantung dari kita. Jika masih berada pada tingkat lahiriah, maka kita akan merasa sakit. Seperti seorang ibu yang mau melahirkan. Dia jelas-jelas sakit.

Tetapi, jika berada pada tingkat batiniah, kita justru bersuka-cita. Seperti anak yang mau lahir.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Ketiga Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Kebijaksanaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

Setiap aksi akan menimbulkan reaksi. Ini merupakan hukum alam. Yang lahir harus mati. Sejak hari kelahiran, proses kematian sudah mulai berjalan. Setiap hari Anda mati sedikit, sedikit, sedikit – sampai akhirnya proses kematian pun berhenti, dan saat berhentinya proses kematian adalah saat Jiwa sudah meninggalkan badan. Namun, Alam Tidak Pernah Berhenti – Kehidupan tidak pernah berhenti. Proses daur ulang berjalan terus. Kita tidak dapat menentang hukum ini. Boleh saja, hari ini karena keterbatasan wawasan, kita tolak suatu hukum, kita tolak satu kebenaran, namun sampai kapan? Penjelasan Bhagavad Gita 2:26

Sudahkah kita latihan meditasi sehingga pikiran kita bisa lebih jernih?

Kemarahan Mahadeva dan Kepasrahan Daksha #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on January 23, 2017 by triwidodo

buku-bhagavatam-daksha-menyembah-mahadeva

“Para avatar, para mesias, para nabi, para master dan para Buddha berada dalam kelompok kedua. Mereka tidak memiliki keinginan pribadi. Karena itu, mereka tidak pernah marah ‘seperti’ kita. Kualitas amarah mereka berbeda. Amarah mereka bukan produk keinginan yang tak terpenuhi. Amarah mereka adalah produk kepedulian mereka terhadap keadaan kita. Amarah mereka lahir dari rasa kasih. Bila melihat seorang Yesus sedang marah-marah, jangan meragukan kemesiasannya. Amarah seorang Yesus sedang marah-marah, jangan meragukan kemesiasannya. Amarah seorang Yesus atau seorang Muhammad amat sangat manis amarah yang dapat mengupas daki ketidaksadaran dari batin kita.”  (Krishna, Anand. (2008). Medina, Sehat Dalam Sekejap. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menyaksikan kematian Sati, para pengawal Sati marah dan segera menyerang Daksha yang terkesima melihat putrinya bunuh diri. Rishi Bhrigu ingin menyelamatkan upacara ritual yajna dan melakukan tindakan magis melindungi Daksha dengan munculnya ribuan makhluk yang disebut Ribhu. Seluruh pengawal Sati diusir dari tempat tersebut.

Rishi Narada memberitahu Mahadeva tentang kejadian ini. Dengan kemarahannya Mahadeva mencabut sehelai rambut ikalnya dan melemparkannya ke sebuah batu di depannya. Rambut itu berubah menjadi makhluk dengan kekuatan tak terhingga yang dikenal dengan nama Virabhadra dengan ribuan tangan, tiga mata, dan gigi yang menakutkan. Mahadeva memerintahkan Virabhadra untuk menghancurkan Daksha dan upacaranya.

Virabhadra dengan pasukan Mahadeva menyerbu tempat upacara Yajna. Semua peserta upacara kalah dan Daksha ditangkap Virabhadra. Kepala Daksha dilemparkan ke api ritual. Selesai memporak-porandakan upacara yajna semua pelayan Mahadeva kembali ke Kailasha.

 

Kemarahan Mahadeva demi kebaikan Daksha

                “Ia Tunggal ada-Nya. Memiliki banyak fungsi. Diantaranya 3 fungsi utama: sebagai Visnu, Sang Pemelihara yang mengurusi pertumbuhan; Rudra atau Siva, Sang Pemusnah sekaligus Pendaur Ulang; dan Brahma, Sang Pencipta.” Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 13:16 dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sebagai Pendaur Ulang, Mahadeva perlu marah menjadi Deva Rudra agar dapat menghancurkan yang lama dan dapat menggantikan dengan yang baru.

“Hukum Karma membuat kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Menyaksikan. la tidak menghakimi dan menghukum kita. Kita mengalami suka dan duka karena perbuatan kita sendiri.”   Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Para Rishi dan deva yang kalah melawan pasukan Mahadeva menghadap Brahma dan menceritakan apa yang sudah terjadi. Brahma berkata, “Ini adalah kesalahan kalian, kami bertiga dikenal sebagai Trimurti adalah wujud Narayana dengan tugas masing-masing yaitu: mencipta, memelihara dan mendaur-ulang. Kalian tidak mengundang Mahadeva dalam yajna sehingga Vishnu dan saya tidak hadir memberkati dan yajna kalian tidak berguna.

Brahma kemudian mengajak para deva ke Kailasha menemui Mahadeva. Brahma memohonkan maaf atas kesalahan para deva dan mengatakan bahwa para rishi danpara deva mulai saat ini akan selalu melakukan persembahan yajna bagi Mahadeva.

Mahadeva berkata bahwa semuanya harus terjadi. Semua benih yang ditanam, buahnya harus dituai. Daksha dan para pengikutnya menerima balasan akibat perbuatan mereka sendiri. Tak seorang pun dapat menyakitinya. Mereka yang tertipu oleh ilusi Gusti akan mendapatkan hukuman untuk memperbaiki kesalahannya. Biarlah Daksha yang kepalanya telah dilemparkan pada api yajna, diberikan ganti kepala kambing. Rishi Bhrgu akan mempunyai kumis dan jenggot seekor kambing juga…………

 

Daksha dan Diksha

“Ini yang disebut ‘inisiasi’. Seorang Murshid akan menguburkan ‘ego’ sang murid. Tidak ada jalan lain. Ego harus dikuburkan dan penguburannya dibantu oleh orang yang egonya sudah terkuburkan.” Dikutip dari (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

“Berserah diri sepenuhnya, penggallah ‘kepala’ ego Anda, dan cinta dalam diri Anda akan semakin matang, semakin dewasa, semakin mendekati ‘tahap kasih’, di mana Anda merasakan kesatuan, persatuan dengan sementara.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Memenggal kepala-ego dan meletakkannya di bawah kaki sang guru juga berarti menyerahkan segala beban kepadanya. Iman kita belum cukup kuat. Kita masih ragu-ragu, bimbang… maka, sesungguhnya kita belum pantas menyebut diri murid. Kita baru pelajar biasa. Sang murshid, sang guru siap sedia mengambil-alih seluruh bebanmu, asal kau siap menyerahkannya kepada dia. Justru tugas dia… Dia bagaikan perahu yang dapat mengantarmu ke seberang sana. Bila kau sudah berada di dalam perahu, untuk apa lagi menyiksa dirimu dengan buntalan berat di atas kepala? Turunkan buntalan itu dari kepala, letakkan di bawah. Perahumu, gurumu, murshidmu siap menerima tambahan beban itu. Bahkan, ia sudah menerimanya… walau berada di atas kepala, sesungguhnya beban itu sudah membebani gurumu.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Daksha hidup lagi dengan kepala kambing dan kemudian bersujud kepada Mahadeva. Daksha berkepala kambing merupakan sebuah alegori, lambang. Daksha telah memenggal egonya. Dia pasrah dan siap belajar dari Mahadeva. Daksha melakukan diksha, diterima, diinisiasi oleh Sang Guru, Mahadeva, Bathara Guru.

Kemudian para deva menyelesaikan yajna yang belum selesai dengan mempersembahkannya kepada Mahadeva, Brahma dan Vishnu. Daksha telah terberkati dan Sati akan lahir kembali sebagai Parvati anak dari Himavan dan Mena di Himalaya.

Disebutkan dalam Kitab Srimad bhagavatam bahwa mereka yang mendengarkan kisah ini mencapai kemasyhuran, umur panjang dan bebas dari penderitaan.

 

Catatan:

Mari kita merenungkan, adakah keangkuhan dalam diri kita? Keelokan wajah kita? Kekayaan, kedudukan, kecerdasan, kesucian? Banyak sekali keangkuhan dalam diri….. Beruntunglah Daksha karena keangkuhannya dipenggal Mahadeva. Kapan keangkuhan kita dipengga? Atau kapan kita memenggal keangkuhan diri sendiri?

Meditasi akan membantu kita mengenali keangkuhan diri. Sudahkah kita latihan meditasi dengan rutin?

Usir Kemunafikan, Arogansi baru Dualitas? Kisah Tukang Kebun #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , , , on January 22, 2017 by triwidodo

buku-masnawi-2-tukang-kebun

Seorang tukang kebun melihat tiga orang asing memasuki kebunnya. Pertama, seorang hakim yang korup; kedua, seorang pejabat yang tidak jujur; dan ketiga, seorang penipu berjubah sufi. Tiga-tiganya jahat, tetapi bagaimana mengusir mereka? Mereka bertiga dan Si Tukang Kebun hanya seorang diri.

Si Tukang Kebun berpikir, “Aku harus memisahkan mereka. Selama masih bersatu, sulit mengusir mereka.”

Maka dia menghampiri mereka, “Silakan duduk, tetapi sebaiknya di atas alas. Bila tidak keberatan, wahai Darvish, ambilkan alas duduk dari pondok saya di sana.”

Setelah darvish palsu itu meninggalkan mereka, Si Tukang Kebun bicara dengan Si Hakim, “Wahai Hakim Agung, Bapak adalah seorang ahli hukum. Apa pun yang kita lakukan harus berdasarkan hukum yang Bapak tetapkan. Dan, teman Bapak, Pejabat Tinggi, adalah seorang Sayyid, masih memiliki hubungan darah dengan Nabi Muhammad. Masa Bapak-Bapak ini bersahabat dengan seorang Darvish berpakaian compang-camping? Untuk apa? Silakan tinggal di kebun ini selama satu minggu, tetapi saya tidak rela kaiau Si Darvish itu tinggal bersama Bapak-Bapak sekalian.”

Demikian, tukang kebun yang pintar itu berhasil meracuni mereka. Sekembalinya, Si Darvish itu mereka usir. Tinggal berdua—Si Hakim dan Si Pejabat.

Selanjutnya, tukang kebun mempersilakan Sang Pejabat memasuki pondoknya untuk mengambil roti, sehingga tinggal dia berdua dengan Hakim, “Wahai Hakim Agung yang berpikir jernih, percayakah Bapak bahwa Pejabat itu seorang Sayyid? Percayakah bahwa dia masih punya hubungan darah dengan Nabi Muhammad? Apa buktinya? Usirlah dia dari kebun ini. Dan tinggallah di dalam kebun ini bersama saya.”

Seperti Si Darvish Palsu, Si Pejabat Tinggi yang tidak jujur itu pun kena gusur. Tinggal Sang Hakim seorang diri. Mudah sekali bagi Si Tukang Kebun untuk mengusirnya, “Keluarlah dari kebun ini. Adakah hukum yang memperbolehkan seseorang memasuki kebun orang lain, tanpa izin, tanpa diundang?”

Si Hakim baru sadar bahwa dirinya dan teman-temannya telah menjadi korban siasat Si Tukang Kebun, “Baiklah, usir aku. Memang sepantasnya demikian, karena aku telah mengusir kedua sahabatku. Aku telah mengkhianati mereka.”

buku-masnawi-2

Cover Buku Masnawi Dua

Kisah ini memiliki beberapa sisi. Dilihat dari sisi tukang kebun yang mewakili “kesadaran diri”, tiga orang “asing” yang memasuki “kebun kehidupannya” adalah:

Pertama—Ahli Hukum. Apa kerjaan seorang ahli hukum? Dia memilah, membedakan, memisahkan yang satu dari yang lain, yang menurut  hukum dan yang bertentangan dengan hukum.

Kedua—Pejabat Negara. Tanpa kecuali, setiap orang yang memperoleh kedudukan tinggi mulai mempercayai kedudukannya. Dia menjadi arogan, sombong, angkuh.

Ketiga—Penipu berjubah sufi, Si Darvish. Hati masih hitam, wajah dibedaki. Jiwa masih kotor, badan tampak bersih.

Untuk lebih jelasnya: Sang Ahli Hukum mewakili “dualitas”. Pejabat Negara mewakili “arogansi”, kesombongan, keangkuhan. Sufi Palsu mewakili “kemunafikan”, ketidakjujuran, kepalsuan.

Bila ingin “kebun hidup” anda bebas dari dualitas, arogansi dan kemunafikan, anda harus bersiasat seperti Si Tukang Kebun dalam kisah ini. Yang harus diberantas pertama-tama adalah “kemunafikan”. Jujur dulu, be yourself. Jangan meniru orang. Jadilah diri sendiri. Pada tahap awal itu, dualitas masih akan tetap ada. Baik-buruk, surga-neraka, panas-dingin, Adam-Iblis—semuanya masih ada. Begitu pula dengan keangkuhan, kesombongan, arogansi masih tetap ada.

Karena itu, setelah berhasil mengusir “darvish palsu kemunafikan” dari dalam diri, jangan terlena. jangan duduk diam. Langkah berikutnya adalah mengusir  “arogansi”, Bung Kesombongan, Saudara Keangkuhan.

Terakhir, baru mengatasi dualitas baru mengusir “Si Ahli Hukum”. Mansur Al Hallaj sudah berhasil mengusir ahli hukum dari kebun hidupnya, maka berani mengatakan Ana all Haqq—Akulah Kebenaran. Begitu pula Siti Jenar dan Sarmad.

Tetapi ada juga yang hanya ingin meniru mereka. Belum mengusir kemunafikan, belum mengusir keangkuhan, sudah cepat-cepat  ingin melampaui dualitas. Jelas tidak bisa. Kemudian, kalau dia mengatakan Ana al Haqq — pernyataannya tidak berarti sama sekali, tidak berbobot, hampa.

Dilihat dari sisi mereka yang berhasil diusir oleh tukang kebun: United We stand, divided we fall! Bersatu, mereka kokoh,tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Terpecah-pecah mereka jatuh, hancur. Tiupan angin dengan sangat mudah bisa meruntuhkan mereka.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Bagaimana menyadari adanya Kemunafikan, Arogansi dan  Dualitas dalam diri? Dengan Meditasi!

Buddha mengaitkan bhaava dengan “keadaan meditatif”. Ia menyebutnya bhaavanaa. Sekarang, kita sering mengaitkan meditasi dengan kesehatan jasmani, ketenangan pikiran, keseimbangan emosi, kedamaian jiwa, dan sebagainya. Sah-sah saja, tapi sayang. Ibarat menggunakan computer canggih untuk surat-menyurat saja. Fitur-fitur lain dari computer itu tidak digunakan, bahkan tidak dipelajari. Ada kalanya kita sama sekali tidak tahu-menahu tentang kecanggihan serta kemampuan alat yang kita miliki. Buddha menggunakan inner feeling atau bhaava untuk menelusuri diri, untuk eksplorasi diri, untuk menemukan sesuatu yang tak terjangkau oleh pikiran, maupun alasan semu, yang sangat tergantung pada otak. Dan, ia menemukannya! (Krishna, Anand. (2012). Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern. Azka)

Sudahkah kita latihan rutin meditasi? Bagaimana latihan meditasi yang benar?

Dilema Sati: antara Ayahanda dan Suami #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on January 20, 2017 by triwidodo

buku-bhagavatam-sati-membakar-diri

Bukan saja makhluk-makhluk hidup yang mesti menjalani tiga tahap kehidupan, yaitu kelahiran, pertumbuhan dan kematian — sesungguhnya benda-benda yang kita anggap tanpa kehidupan pun mesti menjalani ketiga tahap tersebut…………….

Ia Tunggal ada-Nya. Memiliki banyak fungsi. Diantaranya 3 fungsi utama: sebagai Visnu, Sang Pemelihara yang mengurusi pertumbuhan; Rudra atau Siva, Sang Pemusnah sekaligus Pendaur Ulang; dan Brahma, Sang Pencipta………. Penjelasan Bhagavad Gita 13:16 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Seorang Prajapati, Daksha Putra Brahma pun karena keangkuhannya bisa lengah dan merasa dirinya super sehingga kejatuhannya dicatat dalam kisah Srimad Bhagavatam untuk dipelajari umat manusia.

 

Keangkuhan Prajapati Daksha Putra Brahma

Kita masih hidup dengan ego kita, keangkuhan dan arogansi kita, kebencian dan amarah kita, kelemahan dan kekerasan hati kita. Dengan jiwa yang masih kotor itu, kita memperoleh kekuasaan, kedudukan, dan harta, maka jelaslah……………  (Krishna, Anand. (2008). Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kesadaran kita mengalami kemerosotan karena adanya rasa angkuh, karena ke”aku”an. Kesadaran dan ke”aku”an seolah berada pada dua ujung yang tak pernah bertemu, tak akan bertemu. Di mana ada ke”aku”an, di sana tidak ada kesadaran. Di mana ada kesadaran, di sana tak ada lagi ke”aku”an, keangkuhan. (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Daksha adalah salah satu putra Brahma di antara 9 putra Brahma yang diangkat sebagai “prajapati”, yang mencipta dan menjaga kelestarian makhluk. Brahma kawin dengan Prasuti, putri dari Swayambhu Manu, dan mereka dikaruniai 15 putri. Sati adalah salah satu putrinya yang dikawinkan dengan Mahadeva. Dalam diri Daksha sebenarnya dia menginginkan putri kesayangannya Sati kawin dengan seseorang yang bisa menambah kebesaran kekuasaannya. Mahadeva, hidup sederhana hanya mengenakan pakaian kulit macan dan tinggal di Gunung Kailasha. Akan tetapi dalam Svayambhara, Sati memilih Mahadeva maka Daksha pun tidak bisa mencegah keinginan putrinya.

Pada suatu saat diadakan upacara Yajna Agung yang dipimpin oleh Marici, kakak Daksha. Semua dewa hadir. Dan, pada saat Daksha masuk dia nampak begitu berwibawa seperti matahari yang menyinari ruangan upacara. Semua rishi berdiri dan menghormat Daksha kecuali Brahma dan Mahadeva.

Daksha kemudian bersujud mengambil debu di kaki Brahma, sang ayahanda dan meletakkannya di kepala. Akan tetapi Daksha tersinggung dan marah kepada Mahadeva yang tidak berdiri menyambutnya seperti rishi-rishi yang lain, padahal Mahadeva adalah menantunya. Daksha marah dan mengutuk Mahadeva sebagai dewa terburuk, dan Mahadeva tidak akan menerima yajna (persembahan) dan dia langsung pulang ke tempat tinggalnya.

Pengikut Mahadeva marah, Nandikishvara gantian mengutuk bahwa Daksha itu bodoh, angkuh melupakan Mahadeva, dia akan bernasib sial, jauh dari Rahmad Gusti. Para rishi yang mendukung kutukan Brahma akan mengalami siklus kelahiran dan kematian, disibukkan dengan urusan duniawi dan jauh dari Gusti.

Bhrigu saudara Daksha marah karena ada orang yang mengganggu upacara dan mengutuk para pengikut Mahadewa, bahwa mereka yang memuja dia sebagai yang terbesar disebut Prasandi, orang yang munafik. Mereka menjadi kotor berpakaian seperti Mahadeva. Mahadewa merasa kecewa dan segera meninggalkan tempat upacara tersebut.

Waktu terus berjalan dan Daksha telah diangkat oleh Brahma sebagai prajapati yang terkemuka. Daksha semakin angkuh, dan untuk menunjukkan penghinaannya kepada Mahadeva, maka dia mengadakan Yajna dengan nama Brihaspati Sava. Semua brahmarishi, devarishi, pitri, dan dewa diundang pada upacara tersebut kecuali Mahadeva.

 

Sati: sangat dekat Gusti tapi masih tertarik kemegahan duniawi

Ketika kita sedang bersalaman dengan cara itu, boleh mengatakan Namaste, Namaskara, Salam, atau apa saja. Ungkapan di luar boleh apa saja, dalam bahasa mana saja. Tetapi dalam hati, kesadaran kita mestilah berbahasa satu dan sama, berbahasa kesadaran itu sendiri—Kesadaran Tat Tvam Asi. Namaste, Namaskara, Salam; Tat Tvam Asi, Itulah Engkau—dan pada-Mu Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk, kuucapkan salam-hormatku, salam-kasihku.

Jadi, jangan sekadar mencakup kedua tangan dan menunjukkan sikap Namaskara Mudra. Sikap ekstemal atau luaran seperti itu tidak cukup, belum cukup. Sambil mengambil sikap demikian, Kesadaran Tat Tvam Asi mesti timbul, mesti ditimbulkan. Juga dipupuki terus-menerus, ditumbuhkembangkan. (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sati mendengar Daksha, ayahandanya akan menyelenggarakan upacara Yajna, dan mohon izin Mahadeva agar dia bisa datang ke upacara tersebut. Mahadeva mengatakan bahwa Daksha memang ayahandanya, akan tetapi dia telah berubah, menjadi sangat angkuh karena kekuasaan yang dimilikinya. Daksha telah membenci dirinya karena tidak menghormat kepada Daksha pada waktu acara yajna sebelumnya. Mahadeva mengatakan bahwa jika dia memberikan penghormatan pada waktu itu maka keangkuhannya semakin menggembung, karena merasa semua orang menghormatnya. Kita mengucapkan namaste untuk menghormati Gusti yang bersemayam dalam diri seseorang, bukan untuk membuatnya menjadi semakin angkuh. Oleh karena itu Mahadeva tidak ikut menghormati Daksha. Walaupun Sati putri yang disayangi Daksha akan tetapi kebencian terhadap Mahadeva bisa mengubah hati seseorang.

Dalam diri Sati terjadi perang batin dan akhirnya Sati memilih perasaan kewanitaannya dan mendatangi upacara Yajna yang diadakan oleh ayahandanya. Sati melihat upacara yang agung dan semua kursi kehormatan telah terisi. Sati melihat semua orang dan melihat ke arah ayahnya, akan tetapi ayahnya seolah-olah tidak melihat dirinya. Sati tak dianggap lagi oleh ayahandanya. Sati sangat malu dan berkata bahwa dia malu lahir sebagai anak Daksha. Keangkuhannya telah membuat dia mengadakan Yajna tanpa mengundang Mahadeva. Sati mengingatkan bahwa Brahma dan Vishnu tidak mau hadir dalam yajna bila Mahadeva tidak diundang.

Sati menyesal telah mengabaikan nasehat Mahadeva, suaminya. Ayahandanya benar-benar telah berubah semakin angkuh. Sati segera mengambil posisi yoga dan api segera keluar membakar tubuhnya……………

Kisah Sati ini sering terulang berkali-kali di kehidupan nyata. Sita sudah mengalami kebahagiaan bersama Gusti (Rama), akan tetapi dia masih tertarik keindahan kijang kencana (duniawi) sehingga akhirnya terperangkap oleh Rahvana (ego). Seorang pengkhotbah yang handal yang dapat mempengaruhi banyak orang berbuat kebajikan, tertarik dengan jabatan negara (duniawi) sehingga menjadi cemoohan masyarakat. Beruntunglah Sati yang sadar dan dikehidupan berikutnya (sebagai Parvati) tidak pernah melepaskan diri dari Gusti (Mahadeva). Beruntunglah Sita dengan pertolongan bhakti (Hanuman) bisa kembali bersama Gusti (Rama). Jarang sekali dalam kenyataan real life orang yang menjauh dari Gusti bisa sadar kembali…….

Catatan:

Sudahkah kita latihan meditasi dengan rutin? Meditasi menjernihkan pikiran…….. Dengan latihan rutin meditasi, pandangan kita menjadi jernih sehingga kita bisa menjadi tamu yang baik di dunia.

Pesan Bapak Anand Krishna: “Seorang tamu yang baik akan dipercayai penuh oleh manajemen hotel. Mereka yakin bahwa ia tidak akan mencuri handuk dalam kamar mandi.  Tidak akan mencuri asbak dari ruangan tamu. Tidak akan merusak penutup kloset. Ia dipercayai akan menjaga keutuhan dan keindahan kamar yang disewanya. Tinggal di Hotel Bumi ini, jadilah seorang tamu yang baik. Sadar sepenuhnya dan bertindak sesuai dengan kesadaran, maka kita tidak perlu dibelenggu dengan rantai peraturan dan hukum.”

Maju Perang Tanpa Baju Besi, Hamzah Tak Takut Mati? Kisah #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on January 18, 2017 by triwidodo

buku-masnawi-3-hamzah

Menjelang akhir hidupnya, Hamzah (paman Nabi Muhammad) tidak pernah memakai baju pengaman lagi. Dia akan turun ke medan perang dengan baju biasa dan selalu menempatkan diri di baris terdepan.

Ada yang bertanya, “Kenapa demikian? Bukankah kita dilarang untuk mencelakakan diri? dulu sewaktu masih muda, engkau sangat berhati-hati. Sekarang…”

Hamzah menjawab, “Ya, ya… Dulu sewaktu masih muda, aku pikir meninggalkan dunia ini berarti mati. Sekarang, berkat Cahaya Muhammad yang menerangi jiwaku, aku sadar bahwa sesungguhnya dunia ini sedang berlalu, sedang mati. Melampaui badan, pancaindra dan dunia ini, ada alam lain. Alam yang berbeda… Terima kasih kemapada dia yang telah menyadarkan diriku.”

Biarlah mereka yang menganggap kematian sebagai kecelakaan, mencari perlindungan. Sementara, mereka yang menganggap kemaian sebagai gerbang (untuk memasuki alam yang lain itu) akan berlomba untuk memasukinya.

Mereka yang  menganggap Tuhan sebagai lawan, akan takut mati. Mereka yang menganggap Tuhan sebagai kawan, tidak akan takut mati.

Kematian bagaikan cermin. Setiap orang yang bercermin, melihat wajahnya sendiri. Orang Turki melihat wajahnya yang putih. Orang Ethiopia melihat wajahnya yang hitam.

Kamu takut mati, karena sesungguhnya kamu takut pada diri sendiri. Camkan hal ini. Seseorang yang telah berserah diri tidak akan takut mati. Setiap kali dia bersujud dengan hati yang tulus, dia semakin dekat dengan alam yang lain itu.

 

Tidak heran kalau para ahli tafsir yang terlalu “kaku” tidak bisa menerima Rumi. Mereka akan menolak Rumi, mereka akan menolak para sufi. Para pemikir kontemporer yang berjiwa sufi pun akan mereka tolak.cak Nur, Cak Nun, Kang Jalal, Abdul Munir Mulkhan, Sobary, dan masih sederet nama lain akan mereka tentang. Darah mereka akan dinyatakan “halal”. Sungguh edan!

Rumi berupaya untuk menyadarkankita bahwa ajaran-ajaran dalam kitab suci pun ada yang bersifat kontekstual. Sesuatu yang sangat relevan dalam satu keadaan, belum tentu relevan dalam keadaan yang lain.

Terjemahan Nicholson menangkap Jiwa Rumi:

“That one in whose eyes death is destruction, he takes hold of (clings to) the (Divine) command. Do not cast (yourselves into destruction)”;

“And that one to whom death is for the opening of gate, for him in the (Divine) Allocution (The Qur’an) there is (the command), Vie ye with each other in hastening!”

Terjemahan bebas sudah saya berikan di atas. Yang patut diperhatikan ialah bahwa kedua anjuran tersebut berasal dari satu kitab suci yang sama. Berdasarkan keadaan dan tingkat kesadaran manusia, relevansinya pun berbeda.

Hal ini tidak akan dipahami oleh mereka yang berjiwa keras, kaku, dan alot. Untuk mengapresiasi keindahan taman bunga, Anda membutuhkan jiwa yang lembut, hati yang tulus dan batin yang  berlembab.

Rumi menyimpulkan lebih lanjut bahwa sesudah kematian bagaikan hasil “tanaman” kita semasa hidup. Mereka yang tidak bercocok tanam akan selalu takut mati. Dalam hati kecil, mereka tahu persis bahwa di alam sana tidak ada apa-apa bagi mereka.

Sementara yang sudah bercocock tanam tidak akan pernah takut. Mereka juga tidak akan mengharapkan apa-apa. Tidak perlu berharap. Tidaka ada yang perlu diharapkan. Karena mereka ‘yakin’ bahwa setiap sebab itu ada akibatnya. Bertanam dan memelihara tanaman, ya sudah pasti ada hasilnya.

Pernahkah Anda merenungkan bahwa “harapan” dan “keyakinan” merupakan dua hal yang berbeda? Mereka yang merasa telah berbuat baik dan “mengharapkan” ganjaran atau imbalan, sesungguhnya  belum ‘yakin’. Dan karena belum  yakin, maka mereka berharap. Sebaliknya, mereka yang yakin tidak perlu berharap lagi. Entah kita berada dalam kelompok  mana, kelompok mereka yang berharap atau kelompok mereka yang yakin!

Rumi menawarkan batu ujian – kematian!

Apabila takut mati, kita masih berada dalam kelompok mereka yang berharap, mereka yang belum bercocok tanam.

Apabila tidak takut mati, kita berada dalam kelompok mereka yang sudah tidak mengharapkan apa-apa lagi. Mereka yakin. Mereka sudah bercocok tanam.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Ketiga Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Kebijaksanaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Mengapa Hamzah tidak takut mati? Mengapa kita takut mati?

Meditasi sama dengan perluasan kesadaran. Hasil akhir dari meditasi adalah Samadhi atau keseimbangan. Setelah mencapai keseimbangan diri, kita tidak gelisah, khawatir, takut, cemas lagi. Sesungguhnya, kita baru mulai hidup setelah mencapai keseimbangan diri. Dari buku Seni Memberdaya Diri

Sudahkah kita latihan meditasi secara rutin?