Varaha Wujud Avatara saat Kezaliman Hiranyaksha Merajalela #SrimadBhagavatam

buku-bhagavatam-varaha-avatara

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), Ketika dharma, kebajikan dan keadilan, mengalami kemerosotan; dan adharma, kebatilan dan ketidakadilan merajalela – maka Aku menjelma.” Bhagavad Gita 4:7

Ini adalah sebuah janji yang bukan asal-bunyi. Janji ini memiliki dasar ilmiah yang dapat dipahami.

KETIKA ADHARMA MERAJALELA — Ketika kebatilan dan ketidakadilan berkuasa, maka di manakah dharma, di manakah kebajikan dan keadilan? Apakah dharma, kebajikan dan keadilan, lenyap sama sekali? Apakah sirna? Apakah punah tanpa bekas?

Dharma adalah energi, adharma pun sama, energi. Dan, energi tidak pernah punah. Energi hanya berubah wujud saja. Ketika adharma merajalela, maka setelah mencapai tingkat jenuh, terjadilah gejolak sosial. Berkuasanya adharma menciptakan ketidakseimbangan Dalam keadaan seperti itu, sudah pastilah muncul seorang penggerak revolusi untuk melawan kebatilan dan ketidakadilan. Ini hukum alam. Tidak bisa tidak. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Silakan mempelajari sejarah dunia. Ketika para penguasa zalim bertindak semena-mena dan menindas rakyat, maka terjadilah perubahan kekuasaan.

buku-bhagavatam-hiranyaksha

Hiranyaksha dan Hiranyakashipu yang tak terkalahkan

Kedua anak kembar Diti lahir dengan kekuatan yang luar biasa, dengan badan berukuran sebesar gunung. Ketinggiannya mencakar langit dan bumi bergetar ketika diinjaknya. Ayahnya, Ri shi Kasyapa memberi mereka nama Hiranyakashipu dan Hiranyaksha.

Mereka berdua bertapa dan memperoleh anugerah dari Brahma yang membuat mereka tak terkalahkan. Hiranyakashipu menaklukkan tiga dunia dan para dewa takut menghadapinya. Hiranyaksha gemar sekali berkelahi dan menjelajahi dunia untuk mencari lawan. Tak seorang pun yang mampu mengalahkannya.  Bahkan para dewa bersembunyi karena takut.  Dunia terasa mencekam, karena semua makhluk takut dengan Hiranyaksha yang gemar berkelahi dan menantang siapa pun yang ditemuinya. Hal ini makin menambah kesombongannya dan dia selalu berteriak-teriak menantang semua dewa, mengajak bertarung.

Tidak menemukan lawan, Hitanyaksha meloncat ke laut mencari kediaman Varuna, dewa penguasa laut dan menantangnya bertarung. Varuna marah, akan tetapi dia menahan diri dan mengatakan bahwa dia sudah terlalu tua untuk bertarung dengan Hiranyaksha. Hanya Narayana yang sebanding dengannya.

Hiranyaksha semakin panas dan dia menjelajah dunia menantang Narayana. Tidak ada seorang pun yang tahu dimana Narayana berada karena dia berada di mana-mana, bahkan berada dalam diri Hiranyaksha juga. Setiap hari dia hanya berpikir untuk melawan Narayana, tidak ada yang dipikir selain ingin mengalahkan Narayana.

Pada suatu saat Rishi Narada datang dan berkata bahwa Narayana sedang berwujud Varaha (Celeng Raksasa) mengangkat bumi ke atas permukaan samudera untuk menjadi tempat tinggal Svayambu Manu. Mendengar hal tersebut, Hiranyaksha segera menyelam ke samudera dan mencari Varaha.

 

Perkelahian antara Hiranyaksha melawan Varaha

Hiranyaksha melihat seekor celeng raksasa sedang mengangkat bumi dengan taringnya. Hiranyaksha menghina dan melecehkan Varaha dengan mengatakan bahwa dewa yang menjijikkan dengan wujud binatang raksasa tidak mempunyai kekuatan selain tipuan maya. Hiranyaksa menyatakan tidak takut dan akan membunuh Varaha.

Varaha meletakkan bumi di atas permukaan samudera dan menghadapi Hiranyaksha. Sebuah pertarungan yang maha dahsyat. Pertarungan berlangsung sampai menjelang senja. Brahma mengingatkan Varaha agar tidak bermain-main lagi dengan Hiranyaksha, saat malam tiba, asura akanmenjadi jauh lebih kuat. Varaha kemudian membunuh Hiranyaksha.

Hiranyaksha di akhir hayatnya, nampaknya seperti teringat kehidupan masa lalunya sebagai penjaga gerbang istana Vaikuntha yang dikutuk untuk lahir ke dunia. Hiranyaksa mati di tangan Varaha dengan tersenyum.

Dalam buku Srimad Bhagavatam disampaikan bahwa mereka yang mendengarkan dan menceritakan kisah Hiranyaksa akan menikmati kemakmuran, kemasyhuran, umur panjang, dan bebas dari dosa besar.

 

Apakah Dunia selalu butuh Avatara?

“Guna melindungi para bijak; membinasakan mereka yang berbuat batil; dan, meneguhkan kembali dharma, kebajikan – Aku datang menjelma dari masa ke masa.” Bhagavad Gita 4:8

Sebagaimana telah kita bahas dalam ayat sebelumnya, penjelmaan Jiwa Agung untuk menegakkan kembali dharma, kebajikan, keadilan – memang terjadi dari masa ke masa, dan bisa di mana saja. Walau, “kadar” penjelmaan bisa beda dari masa ke masa, dari tempat ke tempat – berdasarkan tuntutan masa dan kebutuhannya.

DUNIA TIDAK SELALU MEMBUTUHKAN para Avatara atau Penjelmaan Purna seperti Krsna. Saat itu, peradaban manusia sedangmenghadapi perang nuklir (Bharatayuda). Maka dibutuhkan Penjelmaan Purna.

Lebih sering, kita membutuhkan Amsa Avatara – Penjelmaan Bagian. Sebagian dari Kekuatan Agung pun sudah cukup untuk mengatasi rezim yang zalim dan menindas rakyatnya, apalagi jika terkait dengan satu negara saja, tidak melibatkan seluruh peradaban.

Maka, jumlah Amsa Avatara tak terhitung. Mereka ada di mana-mana. Bisa di mana-mana, tentunya, lagi-lagi sesuai kebutuhan.

Bahkan, jika Anda seorang aktivis yang sedang berkarya untuk mengubah tatanan sosial yang sudah usang – maka ketahuilah bila Jiwa Agung, “sebagian” dari Kekuatan Jiwa Agung telah mewujud lewat diri Anda. Tentunya, jika Anda seorang Aktivis Pembawa Perubahan Sejati sekaliber Gandhi, Soekarno, Mandela, dan sebagainya. Anda bukan aktivis bayaran yang bekerja karena adanya funding dari pihak-pihak tertentu, dengan slogan  “Membela siapa yang Membayar.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: