4 Pelajaran Akhir Seorang Murid, dalam Kisah Naropa Tilopa #TantraYoga

buku-tantra-yoga-lukisan-mural-di-vihara-hemis-leh

Lukisan Mural di dinding Vihara Hemis Leh Himalaya

Dalam perjalanan selanjutnya, Naropa melihat seorang anak memukuli orangtuanya. Naropa menegur dia, ”Mereka lebih tua dari kamu? Kenapa memukuli orangtua yang tak berdaya?”

“Terima-kasih Brahmana, tolong menasihati anak kami. Kami sangat menyayangi dia, sementara dia malah…..” — kalimat mereka terputus oleh tangisan.

Naropa menasihati anak itu, “Sulit mempercayai apa  yang kulihat….. Seorang anak memukuli orangtuanya. Orangtua yang melahirkan dia. Orangtua yang kendati dipukuli, masih tetap menyayangi dia…….”

“ltulah sebabnya, aku memukuli mereka. Karena kesayangan mereka, aku tidak pernah dewasa. Tetap anak. Mereka sudah tua renta, sudah hidup lama, sudah waktunya mati. Kalau mereka mati, aku baru menjadi kepala keluarga,” jawab si anak durhaka itu.

Naropa memarahi dia, ”Saya tidak pernah melihat seorang anak seperti kamu. Kamu menginginkan mereka mati? Mereka yang melahirkan kaaaaaaaaaaaaa. . . ”

Terputus  kalimat itu tak pernah selesai karena mereka semua sudah lenyap. Yang terdengar hanyalah suara Tilopa: “Naropa, Naropa – aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!

Naropa merasa lemah, lemas. Dia duduk di pinggir jalan, sambil merenungkan pelajaran kesembilan:

“Naropa lama harus mati. Ya, bila menginginkan kelahiran Naropa baru, maka yang lama harus mati.

Pola pikir lama, pola hidup lama, kebiasaan-kebiasaan lama — semuanya harus mati. Harus ditinggalkan, dilepaskan. Demi kelahiran Yang Baru!

Naropa baru sadar bahwa “pencariannya” tidak membawa hasil, karena “yang lama” di dalam dirinya belum mati. Tilopa sudah memberi sekian banyak peringatan. Sepertinya dia belum menangkap juga.

buku-tantra-yoga

Cover Buku Tantra Yoga

Naropa mensyukuri kesabaran Sang Guru. Ya, dia mensyukuri kesabaran Tilopa, “Sudah sembilan kali engkau memberi peringatan. Aku masih tetap tolol, goblok. Tidak menangkap maksudmu.”

Dia memutuskan untuk berhenti mencari. Ya, berhenti mencari dan mulai menggali. Baru jalan sebentar, dia melihat sebuah padepokan, sebuah ashram. Dia masuk ke dalam, “Bolehkah aku bermalam di sini?”

“Tentu, tentu” jawab seorang penghuni ashram.

Sore itu dia makan secukupnya. Malam pun tidur nyenyak. Esok pagi, ada yang bertanya: “Sepertinya kamu sedang mencari sesuatuu…”

“Ya, aku sedang mencari seorang Guru, Tilopa. Tetapi, sepertinya aku tak akan menemui dia, kalau belum mengubah diri. Oleh karena itu, sekarang aku berhenti mencari. Aku harus menggali diri. Harus membersihkan diri. Harus mempersiapkan diri, sehingga Sang Guru bisa kuundang untuk bersemayam di dalam diri.” Jawab Naropa.

“Tilopa? Sepertinya kamu salah cari Guru. Dia bukan apa-apa. Siapa bilang dia seorang Guru? Dia seorang pengemis biasa. Mau cari dia sih gampang. Asal kamu tahu, dia bukanlah seorang spiritual.”

Mereka berupaya meyakinkan Naropa bahwa dia telah salah-pilih. Naropa sempat bimbang, tetapi hanya untuk sesaat. Dia lebih percaya pada pengalaman pribadi daripada pendapat orang.

“Bagi orang lain, dia mungkin seorang pengemis biasa. Bagiku, dia Guru.”

Dari mereka, Naropa memperoleh alamat Tilopa.

Pelajaran kesepuluh,” Naropa menyimpulkan sencliri, ”Seorang siswa harus percaya penuh pada Gurunya. Hendaknya dia tidak bimbang, tidak ragu-ragu.”

Hendaknya dia tidak mempercayai omongan orang. Hendaknya dia meyakini pengalaman pribadi. Dengan bekal kepercayaan itu, keyakinan itu, Naropa melanjutkan perjalanannya.

buku-tantra-yoga-napak-tilas-tempat-bapak-anand-krishna-meditasi-di-vihara-hemis

Foto 2008 Napak Tilas Vihara Hemis Leh Himalaya, Tempat yang erat kaitannya latihan-latihan meditasi dalam  buku Self Empowerment

Kali ini, perjalanannya sudah terarah. Dia sudah memperoleh alamat Sang Guru. Dia tidak mengharapkan ujian lagi. Ya, selama itu kan dia diuji terus. Seperti tes masuk saja. Dia harus lulus, baru bisa masuk universitas. Ternyata Naropa salah. Masih ada satu ujian lagi.

Sesuai dengan alamat yang diberikan kepadanya, Naropa memang menemukan Tilopa. Tetapi aneh, dia dikerumuni oleh orang-orang cacat. Seperti gerombolan pengemis. Ada yang buta, ada yang tuli, ada yang bisu, ada yang pincang. Yang Iebih aneh lagi…. Dan bukan hanya aneh, tetapi seram — menyeramkan…….. Beberapa mayat, di antaranya ada yang duduk. Ada juga yang berdiri, berjalan.

Naropa bingung lagi. Sudah berhadapan dengan Sang Guru, dengan Mursyid, dengan Tilopa, Naropa masih juga bingung. “Inikah Guru yang kucari-cari? Kutinggalkan keluarga dan pekerjaan di Nalanda. Selama lebih dari satu tahun aku mengembara, mengelilingi India, dan hanya untuk mencari seorang Guru seperti ini?”

Masih tersisa arogansi di dalam dirinya, “Apa kata orang? Bila mereka bertanya, bagaimana jawabanku? Bahwa Guruku seperti ini, ini………….?”

Naropa masih sibuk berpikir, sementara Tilopa lenyap. Dan lenyap bersama dia, gerombolan pengemis dan mayat-mayat hidup itu.

“Naropa, Naropa — aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!

Tidak selalu mempercayai mata — itulah pelajaran kesebelas. Naropa memperolehnya dengan membayar mahal.

“Tidaaaaaaaaak….” Naropa menjadi histeris. Tidak, dia tidak mau kehilangan Tilopa. Dia menyadari kesalahannya, kesombongannya. “Lebih baik bunuh diri saja. Keakuan yang disebabkan oleh kesadaran jasmani telah menjauhkan aku dari Sang Guru.” — pikir Naropa.

Baru mau melemparkan diri dari atas bukit, muncul Tilopa: “Naropa, siapkah kamu untuk pelajaran berikutnya?”

Naropa tidak dapat menahan tangisnya. Dia menjatuhkan diri dan mencium kaki Sang Guru, “Maafkan aku, Guru…. Maafkan aku…..”

“Dengarkan Naropa…. Apa yang akan kusampaikan tidak dapat dilihat oleh mata kasat. Itulah sebabnya ada orang-orang buta tadi. Mata lahir mereka tertutup, tetapi mata batin terbuka.

“Apa yang akan kusampaikan tidak dapat didengarkan oleh sepasang telinga yang engkau miliki saat ini. Engkau membutuhkan alat pendengaran yang lain. Itulah sebabnya tadi kamu melihat para tuli.

”Setelah mendengarkan apa yang kusampaikan, engkau pun tak akan bisa mengungkapkannya lewat kata-kata. Seperti para bisu yang kau lihat tadi.

“Yang jelas, setelah engkau memperoleh yang satu itu, mundar-mandir ke dunia ini akan berhenti. Seperti si pincang yang enggan berjalan. Dia lebih suka duduk di satu tempat. Kecuali ada urusan yang penting sekali, baru berjalan.

“Setelah memperoleh yang satu itu, Naropa, engkau akan tetap bekerja, berkarya di dalam dunia, tetapi tanpa keterikatan. Engkau seperti mayat-mayat hidup yang terlihat tadi.”

Lewat pelajaran keduabelas bagi siswanya, Tilopa menyimpulkan beberapa hal:

bahwa ada “sesuatu” yang tak terungkapkan lewat kata-kata. Mata tak dapat melihatnya. Telinga tak bisa mendengarnya. “Sesuatu” itu harus dialami, dirasakan. Yang jelas, setelah “itu” seseorang terbebaskan dari keterikatan. Batin dia bebas. Jiwa dia ringan. Dan hidup pun menjadi perayaan.

“Katakan, Naropa — siapkah kamu untuk pelajaran berikutnya?”

Lupakan jawaban Naropa. Lupakan Tilopa. Ingat pertanyaannya: ”Siapkah kamu untuk pelajaran berikutnya?”

Bila siap, mari kita memasukinya………

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: