Kardama Putra Brahma Bhakti Anak Saleh sekaligus Suami Bijak #SrimadBhagavatam

buku-bhagavatam-kardama-bertemu-vishnu

“Dalam hal berhubungan kita mesti waspada, senantiasa sadar bahwa tujuannya bukanlah mengikat diri kita, bukanlah membelenggu Jiwa – justru untuk membebaskan kita dari belenggu. Jika Anda berada dalam keadaan terbelenggu, maka Anda butuh bantuan orang lain untuk membebaskan Anda dari belenggu, bukan untuk memperkuatnya. Bukan untuk menambah belenggu.

Itulah Sebab Seorang Anak disebut Putra – Berarti, yang “membebaskan”. Bukan yang mengikat. Seorang putra membebaskan kedua orangtuanya dari belenggu kewajiban duniawi, sehingga mereka dapat berlanjut ke tahap berikut hidup mereka dengan tenang; yaitu sepenuhnya mendedikasikan diri bagi kepentingan masyarakat umum dan penggalian diri. Sayangnya, pemahaman ini sudah terlupakan. Adanya anak, kemudian cucu, cicit – justru menambah keterikatan, bukan menyelesaikannya. Sebab itu, saat ajal tiba – hanyalah rasa kecewa yang menyelimuti hati, dan kita beraduh-aduh, sepertinya, masih banyak pekerjaan yang belum selesai.

Anak, pekerjaan-pekerjaan duniawi, yang sesungguhnya hanyalah sarana untuk meraih kesadaran diri, kita jadikan tujuan. Sementara itu, tujuan hidup sendiri terlupakan – sedemikian bingungnya diri kita saat ini. Jangan lupa tujuan – penemuan jati diri, hidup berkesadaran 24/7 dalam kasih, saling sayang-menyayangi, saling menghormati, saling peduli – tanpa keterikatan.” Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 2:72 (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Anak Saleh

Brahma memerintahkan Rishi Kardama bersama 9 Putra Brahma lainnya untuk menghuni bumi. Kardama melakukan tapa selama 10 ribu tahun, melayani alam, manembah, menyerahkan diri secara total kepada Gusti. Gusti berkenan dan mewujud menemui Rishi Kardama.

Rishi Kardama mendengarkan sabda Gusti yang menanyakan anugerah apa yang diminta olehnya. Kardama menyampaikan bahwa bertemu Gusti adalah anugerah tertinggi umat manusia, akan tetapi dia juga ingin menjalankan perintah Brahma, ayahandanya agar mempunyai putra dan putri di dunia. Kakak-kakaknya para Kumara, sadar bahwa tujuan hidup adalah kembali ke asal mula, kembali ke Gusti, sehingga mereka telah menolak permintaan Brahma, ayahandanya untuk berkeluarga. Gusti berkenan dengan kepatuhan Kardama dan  berjanji akan memberikan istri yang baik bagi kehidupannya.

Doa yang ditujukan kepada Gusti tidak akan pernah sia-sia. Gusti sudah menyadari harapan yang muncul dalam hati orang  bahkan sebelum dia mengucapkannya. Gusti telah memenuhi harapannya. Gusti bersabda bahwa Penguasa Bumi, Raja Svayambu Manu akan segera memberikan anak gadisnya untuk dijadikan isteri Kardama. Kardama akan diberkahi dengan 9 anak perempuan. Kardama akan hidup tidak mementingkan diri, tanpa ego. Kardama akan selalu merasa manunggal dengan Gusti. Dan bahkan Gusti akan mewujud lahir sebagai putra Kardama. Kardama  tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun karena rasa harunya. Gusti begitu mencintai bhaktanya.

 

Suami yang Bijak

“Umumnya keterikatan kita pada dunia benda, harta kekayaan, keluarga dan kerabat yang menjadi penyebab ‘susah mati’. Kita tidak rela meninggalkan segala apa yang kita miliki. Kita tahu bila segalanya mesti di sini, tetapi tidak menyadarinya, baru sekedar tahu. Maka kita tidak rela meninggalkannya. Sanyas Ashram adalah suatu masa di mana sesungguhnya kita mencicipi kebebasan mutlak. Sayang sekali, seperti burung-burung yang sudah terbiasa hidup di dalam sangkar, kita pun tidak rela meninggalkan sangkar dunia ini. Masa transisi dari Vanaprashta menuju Sanyas tidak bisa ditentukan. Bisa satu tahun, dua tahun, atau sepuluh tahun. Bisa juga sehari, seminggu, sebulan. Semuanya kembali kepada diri kita sendiri, kepada persiapan diri masing-masing.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Tempat mewujudnya Gusti menjadi tempat yang sangat indah dan menggetarkan rasa. Pada suatu hari Raja Svayambu Manu beserta istrinya Shatarupa dan salah satu putrinya menemui Kardama. Mereka datang dengan penuh rasa hormat dan penuh aroma kasih. Sang Raja mengatakan kepada Rishi Kardama bahwa dia akan menyerahkan Devahuti, putrinya untuk dinikahkan dengan sang rishi.

Kardama menyampaikan bahwa dia bersedia menikahinya. Akan tetapi sang raja dan putrinya agar memahami tujuan hidup seorang rishi. Kardama menjelaskan bahwa dia akan menjadi Sanyasi setelah seorang anak laki-laki lahir dari Devahuti. Berkah Gusti, Rishi Kardama menyampaikan penglihatannya bahwa Gusti sendiri yang akan lahir sebagai putra tersebut. Devahuti akan sangat berbahagia mempunyai putra tersebut dan akan merelakan Kardama menjadi seorang sanyasi.

Sang raja dan putrinya menerima persyaratan dan Kardama pun menikahi Devahuti. Pada zaman itu hampir semua orang paham bahwa tujuan hidup adalah untuk moksa, manunggal dengan Gusti, bebas dari lingkaran kehidupan dan kematian. Keluarga sang maharaja juga paham bahwa setelah anak lahir, maka keterikatan antara suami-istri sudah mulai berkurang. Seorang istri akan lebih terikat dengan anaknya. Apalagi dengan seorang putra ilahi, maka Devahuti akan lebih terikat dengan putranya. Oleh karena itulah mereka menyetujui persyaratan Rishi Kardama.

Rishi Kardama sadar bahwa pada waktu membina rumah tangga sepasang suami istri adalah sebagai teman perjalanan menuju Gusti dan membina putra-putri yang merupakan amanah Gusti bagi mereka. Adalah tugas Rishi Kardama mencarikan menantu yang cocok bagi para putrinya. Akan tetapi setelah putranya lahir, seorang putra ilahi, yang merupakan perwujudan Gusti, maka perkembangan spiritual istrinya akan lebih berkembang bila diajari oleh sang putra sendiri. Kardama sudah paham bahwa putra tunggalnya akan jauh lebih bijak dari pada dirinya sebagai sang ayah. Setelah pernikahan sang raja kembali ke istana kerajaannya.

 

Renungan: bagaimanakah hubungan suami-istri pada umumnya?

“Pertemuan antara pria dan wanita, umumnya hanyalah pertemuan antara dua ego. Dan pertemuan antara dua ego tidak pernah bertahan lama. Selalu terjadi tarik-menarik, masing-masing ingin menguasai yang lain. Dari hubungan seperti itulah lahir ego baru dengan segala kelemahan dan kekuatannya. Namun jika terjadi pertemuan agung di dalam Tuhan, maka hasilnya adalah kreativitas yang tertinggi, kesempurnaan abadi, kebahagiaan sejati.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: