Istri Selingkuh yang Tertangkap Basah, Kisah #Masnawi

buku-masnawi-4-tertangkap-basah

“Pada suatu hari, seorang sufi pulang ke rumah lebih awal. Astaga, dia menemukan istrinya bercumbuan dengan tukang sepatu. Mereka memang sudah berhubungan sejak lama.

“Sang istri tercengang. Tukang sepatu pun bingung. Mau lari ke mana, mau sembunyi di mana? Rumah itu hanya memiliki satu pintu. Mereka berdua tertangkap basah!

“Tuhan memang Maha Menutupi. Dan penyelewengan wanita itu pun ditutupi-Nya untuk sekian lama. Ternyata, wanita tetap tidak sadar. Tidak bertobat. Maka akhirnya tertangkap juga.”

 

“Kisah ini bersifat simbolik, metaforis. Seorang sufi, seorang yang sudah cukup sadar pun bisa kecolongan. Wanita itu mewakili ‘kelemahan’ dia. Tukang sepatu mewakili ‘kesadaraan kulit’, nafsu berahi.

“Seberapa pun tinggi kesadaran Anda, Nafsu berahi bisa menyeretnya ke bawah. Oleh karena itu, berhati-hatilah. Waspada selalu.

“ kisahnya tentang wanita yang berbuat serong, Rumi memberi contoh:

buku-masnawi-3-buku-spiritual

“Seorang maling pernah memohon pengampunan dari Khalifa Umar, ‘Kasihanilah aku. Sebelum ini aku tidak mencuri.’

“Maka Khalifa Umar menjawab, ‘Demi Allah (Yang Maha Mengampuni), kamu tidak akan dijatuhi hukuman keras atas kesalahanmu yang pertama ini.’

“Karena Kasih-Nya, Tuhan sudah terlalu sering mengampuni kesalahan-kesalahan kita. (Tetapi apabila kita tetap tidak sadar dan tidak bertobat, maka) demi Keadilan-Nya, Dia juga bisa menghukum kita.

 

“Kembali pada kisah kita:

“Kendati sudah melihat istrinya bersama tukang sepatu, sufi itu berpikir, ‘Aku harus bersabar sedikit. Pada waktunya nanti, mereka akan kuberi pelajaran.’ Maka dia mengetuk pintu, seolah-olah tidak tahu bahwa tukang sepatu itu berada di dalam rumah.

“Sang istri pun tertipu. Dia pikira suaminya tidak tahu tentang tukang sepatu. Maka dia menyembunyikannya di balik kain chadar (penutup badan). Setelah itu, baru membuka pintu, ‘Ah, suamiku… Betapa bahagianya aku melihat kamu. Kebetulan di rumah pun ada seorang tamu. Seorang wanita dari keluarga besar, keluaraga kaya.’ (Krishna, Anand. (2001). Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

‘Oh ya? Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk dia? Sepertinya dia tidak kekurangan sesuatu.’

‘Ya, dia memang tidak kekurangan apa-apa. Dia datang ke sini untuk melamar putri kita bagi putranya.’ – sang istri masih juga membohongi suaminya.

‘Hmmm… tetapi dia dari keluarga kaya. Dan kita ini miskin…’ Si suami pun  ingin tahu sampai kapan istrinya akan berbohong.

‘Ya, ya… Aku pun sudah berkata demikian. Dia tidak peduli. Kata dia yang penting adalah kesederhanaan, kebaikan hati, dan budi pekerti. Itu pula yang sedang dia cari.’

“Sang sufi menyindir istrinya, ‘Sepertinya dia tahu persis makna kesederhanaan, kebaikan hati, dan budi pekerti. Apalagi yang harus saya katakan?”

 

“Lewat kisah yang sengaja tidak di-‘tutup’ ini, Rumi mengajak kita untuk melakukan perenungan: Jangan-jangan wanita pembohong itu mewakili diri kita.jangan-jangan tukang sepatu yang memikirkan ‘kulit melul, juga mewakili kita!

“Siapa yang sedang kita bohongi?

“Rumi mengingatkan:

 

“Tuhan adalah Yang Maha Melihat. Apa pun yang engkau lakukan, terlihat jelas oleh Dia. Perbaikilah perilakumu!

“Tuhan adalah Yang Maha Mendengar. Apa pun yang engku ucapkan, terdengar baik oleh Dia. Kendalikan mulutmu!” (Krishna, Anand. (2001). Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: