Devahuti, Bhakta yang Patuh Suami sekaligus Ibu yang Bijak #SrimadBhagavatam

Lord Brahma said: "O Kardama, I know that the original Supreme Personality of Godhead has now appeared as an incarnation by His internal energy. He is the bestower of all desired by the living entities, and He has now assumed the body of Kapila Muni. By mystic yoga and the practical application of knowledge from the scriptures, Kapila Muni, who is characterized by His golden hair, His eyes just like lotus petals and His lotus feet, which bear the marks of lotus flowers, will uproot the deep-rooted desire for work in this material world."Lord Brahmā then told Devahūti: "My dear daughter of Manu, the same Supreme Personality of Godhead who killed the demon Kaiṭabha is now within your womb. He will cut off all the knots of your ignorance and doubt. Then He will travel all over the world. Your son will be the head of all the perfected souls. He will be approved by the ācāryas expert in disseminating real knowledge, and among the people He will be celebrated by the name Kapila. As the son of Devahūti, He will increase your fame."'Śrī Maitreya said: After thus speaking to Kardama Muni and his wife Devahūti, Lord Brahmā, the creator of the universe, who is also known as Haḿsa, went back to the highest of the three planetary systems on his swan carrier with the four Kumāras and Nārada.'-Srimad Bhagavatam 3.24.16-20

Perkawinan adalah perjalanan dari “aku” menuju “kita”. Bila milik-mu tetap milik-mu dan milik-ku tetap milik-ku, tujuan perkawinan itu sendiri tidak terecapai. Dianggap gagal atau tidak oleh masyarakat, berakhir dengan perceraian atau tidak, perkawinan semacam itu sesungguhnya sudah berakhir. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Saptapadi, Tujuh Langkah Menuju Keluarga Bahagia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bhagavad Gita menjelaskan bahwa seorang Bhakta, seorang Pengabdi atau Pecinta Allah selalu sama dalam keadaan suka maupun duka. Keseimbangan dirinya tak tergoyahkan oleh pengalaman-pengalaman hidup. Ilmu apa yang dikuasai oleh seorang Bhakta sehingga ia tidak terombang-ambing oleh gelombang suka dan duka? Temyata, ilmu matematika yang sangat sederhana. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang. la telah mencapai keadaan Onepointedness – Ekagrataa. One, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas. la telah menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta itu sendiri. Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu. Dikutip dari (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

 

Melayani  suami yang merupakan kekasih Gusti dengan sepenuh hati

Devahuti besar di istana kerajaan sebagai salah satu putri dari Maharaja Svayambhu Manu dan permaisuri Shatarupa yang kedua-duanya adalah ciptaan Brahma yang diminta mengembangkan anak keturunan di bumi. Sebagai putri dari pasangan penguasa bumi, Devahuti memahami bahwa semua makhluk berawal dari Gusti, saat ini mempunyai peran memperbesar jumlah penduduk, dan membina putra-putrinya. Setelah selesai melakoni perannya segera mempersiapkan diri untuk kembali kepada Gusti.

Devahuti ingin menurunkan putra-putri yang baik dan dia menerima Rishi Kardama sebagai suaminya, sehingga dia hidup melayani suaminya yang bertapa di hutan dengan penuh bhakti. Devahuti melupakan kebiasaan hidup sebagai putri raja dan dengan ekagrata, onepointedness pada sang suami.

Waktu berlalu begitu cepat. Devahuti telah menjadi lemah dan kurus. Melihat hal ini, Rishi Kardama berkata bahwa dia  bahagia dengan pelayanan dan bhaktinya yang luar biasa. Kemudian Rishi Kardama dengan kekuatan yoganya menciptakan Vimana, rumah terbang yang sangat indah. Devahuti diminta mandi di danau surgawi sebelum masuk Vimana. Selesai mandi Devahuti berubah menjadi ptri yang sangat cantik sekali dan kemudian masuk Vimana yang dikemudikan oleh Rishi Kardama yang menjadi sangat tampan. Mereka terbang secepat angin dan berada dalam Vimana dengan penuh kebahagiaan.

Tanpa terasa ratusan tahun telah lewat dan Devahuti telah menjadi ibu dari 9 putri.  Mereka sangat bahagia hidup di Vimana bersama 9 putrinya. Devahuti kembali sadar bahwa mereka harus hidup di dunia nyata dan mempersiapkan diri kelahiran seorang putra. Devahuti berkatakepada Kardama bahwa 9 putrinya akan meninggalkannya untuk hidup bersama suami mereka, sedangkan Rishi Kardama akan melanjutkan perjalanan hidup sebagai seorang sanyasi, maka dia minta sang suami akan memberkatinya dengan seorang putra yang saleh.

 

Persiapan Kelahiran Kapila, Wujud Narayana berbagi Brahmavidya

“Dhammapada (15: 204) menjelaskan langkah-langkah menuju kesempurnaan, kasunyatan, atau kebahagiaan sejati – nirvana. “Kesehatan adalah langkah pertama. Kesehatan jasmani/mental/emosional adalah berkah yang paling berharga. Kemudian yang kedua, kepuasan-batin itulah kekayaan sejati. Orang yang serakah adalah orang yang paling miskin, ia tidak pernah puas dan selalu meminta-minta. Dan, ketiga adalah keyakinan. Tanpa keyakinan kita tidak bisa berhubungan dengan orang lain. Bahkan kita tidak percaya diri. Dan, dalam bab yang sama bolak-balik Buddha mengingatkan kita warna dasar kehidupan yang adalah  kasih. Kebencian menggelisahkan, kasih membahagiakan. Kasih adalah modal awal yang mengantar kita pada kebahagiaan sejati, yang dalam ayat ini disamakan dengan nirvana. Dengan modal kasih, kesehatan, kepuasan diri dan keyakinan pun kita peroleh dengan mudah.” Dikutip dari materi Bapak Anand Krishna, Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/)

 

Kardama mengajak Devahuti berdoa siang malam kepada Gusti dengan penuh bhakti. Mereka menjaga kesehatan jasmani dan rohani, bersyukur terhadap semua karunia Gusti dan melakukan segala pekerjaan dengan penuh kasih.

Saat mereka kembali ke tepi sungai Sarasvati datanglah Brahma Sang Pencipta beserta Marici dan para rishi lainnya. Brahma berkata kepada Kardama dan Devahuti, “Kalian telah memenuhi perintahku, berikan 9 putrimu kepada Marici dan rishi-rishi yang lain. Aku tahu Narayana ada dalam kandungan Devahuti, dan Dia akan mengajarkan Samkhya Yoga yang agung dan Dia akan terkenal sebagai Kapila.”

Kardama kemudian menikahkan para putrinya dengan para rishi: Kala dengan Marici; Anasuya dengan Atri; Sraddha dengan Angirasa; Havirbhu dengan Pulastya; Gati dengan Pulaha; Kriya dengan Kratu; Khiyati dengan Bhrigu; Arundhati dengan Vasistha; dan Santi dengan Atharva.

buku-bhagavatam-silsilah-anak-keturunan-brahma

Beberapa tahun kemudian Kapila sudah menjadi anak kecil yang bijaksana dan mengizinkan ayahandanya melanjutkan perjalanan hidupnya sebagai seorang sanyasi.  Kardama hidup dalam kesunyian hutan. Seluruh kesadarannya terpusat pada Brahman. Ia sudah tidak punya rasa keterikatan pada duniawi. Ketiga guna telah seimbang dan menjadi nirguna. Rasa “aku” dan “milikku” telah lenyap. Dia hanya melihat Narayana dan mencapai kaki-Nya.

Kisah Devahuti adalah perjalanan hidup seorang wanita yang melayani orang tua dengan penuh bhakti, melayani suami dengan penuh hormat, dan melayani putra-putrinya dengan penuh kasih. Devahuti menganggap mereka semua sebagai Gusti yang mewujud di dalam keluarganya sebagai pemandunya, dan akhirnya Devahuti dibimbing oleh Gusti sendiri yang mewujud sebagai Kapila, putranya, bagaimana caranya menyatu dengan-Nya.

Setelah Kapila memberikan ilmunya kepada Devahuti, Kapila pergi menyebarkan dharma. Sedangkan Devahuti mencari tempat yang suci, bermeditasi pada wujud Sang Guru, wujud Kapila sendiri, sampai Yama menjemputnya….. silakan ikuti lanjutan kisah tentang Kapila….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: