Kapila, Pembawa Ajaran Samkhya Pencerah Umat Manusia #SrimadBhagavatam

buku-bhagavatam-kapila-mengajar-devahuti

Berkurangnya Keterikatan Devahuti terhadap suami dan para putrinya

“Untuk keluar dari cengkeraman mind dan ketidaktahuan, kita harus melampaui keterikatan. Dan hal ini tidak sesulit yang Anda bayangkan. Keterikatan kita dengan dunia umumnya hanya dengan sekitar 20-an orang di sekitar kita. Kadang-kadang, malah kurang dari 20 orang. Tetapi, untuk mengurus  20-an orang di sekitar saja kita sudah ngos-ngosan, setengah mati. Kanapa? Karena ketidaktahuan yang tak berawal dan tak berakhir. Lalu mungkinkah kita keluar dari cengkeramannya? Mungkin, asal Anda meloncat keluar. Sementara ini kita berjalan, berlari. Ada yang ke kiri, ada yang ke kanan. Tidak keluar-keluar, karena ketidaktahuan melingkar, merupakan bulatan. Kita berjalan dan berlari dalam lingkaran. Lagi-lagi kembali pada titik yang sama. Satu-satunya jalan, ya itu tadi: meloncat keluar dari lingkaran.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mari kita renungkan bersama: kita mempunyai keterikatan dengan kedua orangtua, suami atau istri, anak-anak, saudara, pimpinan tempat kerja, kolega dan sahabat, tetapi jumlahnya sekitar 20 orang saja, kadang malah kurang.

Ikatan dengan orangtua berkurang sedikit, saat kita telah mulai berkeluarga. Setelah mempunyai beberapa putra, ikatan antara suami istri telah mulai berkurang intensitasnya. Ikatan suami dan istri terhadap anak-anak mereka justru menguat. Bila anak-anak sudah berkeluarga ikatan dengan anak-anak pun berkurang. Pengurangan keterikatan tersebut secara alami penting, sehingga saat meninggal keterikatan dengan keluarga sudah berkurang dan kita meninggal dengan ikhlas.

Demikianlah ikatan Devahuti terhadap orangtua, Raja Svayambu Manu dan Permaisuri Shatarupa berkurang saat Devahuti memutuskan tinggal dengan Rishi Kardama di hutan. Saat Devahuti mempunyai 9 putri, maka keterikatan dengan Kardama pun berkurang, dia lebih sibuk mendidik para putrinya. Pada waktu 9 putrinya menikah dan meninggalkan tempat tinggalnya, keterikatan terhadap para putrinya pun berkurang. Sehingga pada saat Devahuti sudah mempunyai putra Kapila, dia pun merelakan suaminya meneruskan perjalanan hidupnya sebagai sanyasi. Demikianlah sebetulnya perkawinan antara Devahuti dengan Kardama sudah lama berubah menjadi ikatan persahabatan, sahabat seperjalanan menuju Gusti.

Devahuti telah tahu bahwa putranya adalah Gusti yang mewujud, sehingga dia sangat mencintai putranya yang bernama Kapila. Begitu cintanya Devahuti dengan Kapila, sang putra yang bahkan nantinya mengajarinya tentang Samkhya, sehingga dalam salah satu versi kisah dia ingin melahirkan Kapila lagi di kehidupan yang akan datang. Dalam versi kisah tersebut Krishna lahir di dunia sebagai inkarnasi dari Kapila. Dalam versi kisah tersebut Devahuti lahir sebagai Yashoda, ibu Krishna. Kita sama-sama paham kisah versi mainstream bahwa Krishna adalah inkarnasi dari Rama.

 

Samkhya Ajaran Rishi Kapila yang mencerahkan umat manusia

Dalam Bhagavad Gita terdapat 18 Percakapan antara Krishna dan Arjuna. Salah satu percakapan yaitu Percakapan Kedua diberi judul Samkhya Yoga. Percakapan Kedua sendiri merupakan ringkasan seluruh isi Bhagavd Gita. Percakapan Ketiga hingga Kedelapanbelas adalah penjelasan yang lebih rinci tentang apa yang disampaikan Krsna dalam Percakapan Kedua, Samkhya Yoga.

Mencapai Kesempurnaan atau Kemanunggalan lewat Samkhya, Pengetahuan tentang Kebendaan, tentang Alam Benda. Samkhya adalah sains, ilmu, yang menggunakan akal sehat, logika, rasiao.

                Sebelum memasuki alam spiritual yang melampaui akal-sehat atau intelegensia, sains atau ilmu, bahkan alam benda itu sendiri – kita mesti tahu tentang alam benda atau kebendaan. Kita mesti paham apa yang sedang kita lampaui, dan, yang lebih penting lagi, kenapa? Kenapa mesti melampaui alam benda dan kebendaan? Apakah karena keterbatasannya? Atau, karena sesuatu yang lain?

                Adakah sesuatu yang tidak dapat digapai lewat akal sehat, rasio, logika, inteligensia? Adakah sesuatu yang melampaui semua itu? Dikutip dari penjelasan Percakapan Kedua Samkhya Yoga (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

…………….

Sri Bhagavan (Krsna Hyang Maha Berkah) bersabda: “Anagha (Arjuna yang Tiada Cela), konon di dunia ini tersedia dua pilihan untuk menuju kesempurnaan ata Yoga. Jalur Jnana – meneliti sifat kebendaan dengan logika Samkhya. Dan  jalur Karma – berkegiatan tanpa pamrih.” Bhagavad Gita 3:3

Ajaran Samkhya mempengaruhi Siddharta, Sang Buddha, Krishnamurti, Osho, dan banyak lagi para pemikir dan filsuf lainnya. Sementara itu Jalur Karma ditempuh para Yogi, pencari Kesempurnaan, yang masih berada di tengah masyarakat, dan barangkali masih memiliki tanggungan keluarga dan sebagainya. Seperti Gandhi dan Arjuna sendiri. Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 3:3 (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

……………………

Mereka yang berorientasi ke dalam diri — introvert — biasanya menjadi petapa. Mereka lebih menyukai keheningan. Tentunya, jika seorang introvert itu sedang berupaya untuk menemukan jati-dirinya…….. Kedua adalah manusia extrovert — Berorientasi ke luar-diri. Mayoritas berada dalam kelompok ini.

Dari sudut pandang spiritual, umumnya jenis pertama adalah penganut paham Samkhya, dan lebih cocok menjadi Samnyasi atau Muni — petapa yang lebih banyak berdiam diri. Dan, jenis kedua lebih cocok dengan ajaran Yoga — tetap berada di tengah kegaduhan dunia, namun bergaya hidup sebagai Yogi.

Krsna menjelaskan bila itu saja tidak cukup. Bagi seorang Muni atau Samnyasi, menarik diri dari keramaian dunia sama tidak lengkapnya, sebagaimana bagi seorang Yogi yang sekadar melakukan latihan-latihan Yoga —tanpa bergaya hidup sebagai Yogi dan tanpa menghayati tujuan yoga. Seorang Samnyasi atau Muni mesti tetap berkarya — berkarya tanpa pamrih — sehingga ia menjadi Muni-Yogi, Samnyasi-Yogi, Samkhya Yogi. Sifat introvert tidak boleh menjadi kendala baginya untuk melayani sesama tanpa pamrih. Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 6:3 (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dari salah satu sumber disebutkan bahwa para murid Kapila membangun kota yang diberinama Kapilavastu, yang juga merupakan tempat kelahiran Buddha. Kapila mempunya banyak kesamaan dengan Buddha, termasuk mengetengahkan meditasi sebagai alat untuk menghilangkan duka-derita.

 

Maharishi Kapila Sang Pembawa Ajaran Samkhya

Kardama sebagai ayah Kapila yang mengajari Kapila sewaktu kecil, sadar bahwa Kapila sudah lebih bijak dari dia sendiri. Kardama pun minta izin Kapila untuk meninggalkan rumah hidup sebagai Sanyasi. Kapila mengingatkan ayahandanya sebagai sanyasi, agar selalu bermeditasi terhadap Gusti.

Devahuti sebagai ibu Kapila yang mendidiknya sewaktu kecil juga belajar kepada Kapila. Sang Ibunda bertanya bahwa Jiwa awalnya tertipu secara alami. Meskipun kemudian menyadari jatidirinya, namun masih ada bahaya di mana sang jiwa bisa tertipu lagi. Bagaimana caranya dia bisa menghilangkan akar kepalsuan itu sehingga hal tersebut tidak terjadi lagi?

Kapila menjelaskan bahwa menurut pendapatnya jalan final untuk mendapatkan berkah tertinggi/termulia adalah yoga, di mana seseorang terbebaskan dari suka dan duka. Pikiran adalah penyebab belenggu dan juga penyebab pembebasan. Ketika pikiran mencari objek kesenangan maka akan membelenggu, dan ketika pikiran dipersembahkan kepada Tuhan, jiwa terbebaskan. Adalah pikiran yang mencari kesenangan yang menghasilkan nafsu, kemarahan, kerakusan dan kebencian. Sedangkan ketika pikiran berlawanan arah dengan kesenangan, ia mencapai keseimbangan dan kejernihan. Selanjutnya, Jiwa menembus selubung ketidaktahuan dan persepsi dualitas, dan melihat dirinya sebagai semuanya, bahkan dorongan alami pun dilemahkan.

Proses memindahkan keterikatan dari yang rendah kepada yang lebih tinggi merupakan proses yang bertahap. Untuk itu langkah terbaik adalah “sadhusangha”, berkumpul dengan para sadhu. Bagaimana mengenali para sadhu? Mereka tidak terpengaruh penderitaan dan rasa sakit. Mereka penuh rasa kasih terhadap semua makhluk. Mereka damai dengan diri mereka sendiri. Pemikiran mereka hanya terfokus kepada-Gusti. Mereka tertarik hanya pada cerita tentang Gusti. Dan mereka merasa bahagia saat menceritakan tentang Gusti kepada orang lain.

Shankara berkata: Dengan Satsang, pergaulan baik atau ‘good company’, bebaskan dirimu dari keterikatan. Berarti pergaulan yang baik justru membebaskan jiwa manusia, tidak membelenggu dirinya. Tidak menambah keterikatannya. Dan, pergaulan yang tidak baik, bad company atau Kusanga menambah keterikatannya, membelenggu jiwanya. Gunakan tolok ukur ini untuk mengevaluasi persahabatan Anda selama ini.” (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama).

Setelah selesai mengajarkan Samkhya kepada ibunya, maka Kapila pamit dan segera meninggalkan ibunya. Devahuti sudah ditinggalkan 9 putrinya, kemudian suaminya, dan terakhir putranya. Akan tetapi, dia telah mendapatkan pelajaran tentang bhakti langsung oleh Narayana sendiri yang mewujud sebagai Kapila, putra terkasihnya. Dia melaksanakan ajaran Kapila dengan sepenuh hati. Pikirannya terfokus pada Narayana yang berwujud sebagai Kapila. Rasa suka dan duka tidak memengaruhinya lagi. Dan ia telah menyatu dengan Narayana bahkan sebelum maut menjemputnya. Tempat di mana Devahuti mencapai Narayana menjadi tempat suci. Badan Devahuti menjadi sebuah sungai suci yang disebut Siddhapada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: