Maju Perang Tanpa Baju Besi, Hamzah Tak Takut Mati? Kisah #Masnawi

buku-masnawi-3-hamzah

Menjelang akhir hidupnya, Hamzah (paman Nabi Muhammad) tidak pernah memakai baju pengaman lagi. Dia akan turun ke medan perang dengan baju biasa dan selalu menempatkan diri di baris terdepan.

Ada yang bertanya, “Kenapa demikian? Bukankah kita dilarang untuk mencelakakan diri? dulu sewaktu masih muda, engkau sangat berhati-hati. Sekarang…”

Hamzah menjawab, “Ya, ya… Dulu sewaktu masih muda, aku pikir meninggalkan dunia ini berarti mati. Sekarang, berkat Cahaya Muhammad yang menerangi jiwaku, aku sadar bahwa sesungguhnya dunia ini sedang berlalu, sedang mati. Melampaui badan, pancaindra dan dunia ini, ada alam lain. Alam yang berbeda… Terima kasih kemapada dia yang telah menyadarkan diriku.”

Biarlah mereka yang menganggap kematian sebagai kecelakaan, mencari perlindungan. Sementara, mereka yang menganggap kemaian sebagai gerbang (untuk memasuki alam yang lain itu) akan berlomba untuk memasukinya.

Mereka yang  menganggap Tuhan sebagai lawan, akan takut mati. Mereka yang menganggap Tuhan sebagai kawan, tidak akan takut mati.

Kematian bagaikan cermin. Setiap orang yang bercermin, melihat wajahnya sendiri. Orang Turki melihat wajahnya yang putih. Orang Ethiopia melihat wajahnya yang hitam.

Kamu takut mati, karena sesungguhnya kamu takut pada diri sendiri. Camkan hal ini. Seseorang yang telah berserah diri tidak akan takut mati. Setiap kali dia bersujud dengan hati yang tulus, dia semakin dekat dengan alam yang lain itu.

 

Tidak heran kalau para ahli tafsir yang terlalu “kaku” tidak bisa menerima Rumi. Mereka akan menolak Rumi, mereka akan menolak para sufi. Para pemikir kontemporer yang berjiwa sufi pun akan mereka tolak.cak Nur, Cak Nun, Kang Jalal, Abdul Munir Mulkhan, Sobary, dan masih sederet nama lain akan mereka tentang. Darah mereka akan dinyatakan “halal”. Sungguh edan!

Rumi berupaya untuk menyadarkankita bahwa ajaran-ajaran dalam kitab suci pun ada yang bersifat kontekstual. Sesuatu yang sangat relevan dalam satu keadaan, belum tentu relevan dalam keadaan yang lain.

Terjemahan Nicholson menangkap Jiwa Rumi:

“That one in whose eyes death is destruction, he takes hold of (clings to) the (Divine) command. Do not cast (yourselves into destruction)”;

“And that one to whom death is for the opening of gate, for him in the (Divine) Allocution (The Qur’an) there is (the command), Vie ye with each other in hastening!”

Terjemahan bebas sudah saya berikan di atas. Yang patut diperhatikan ialah bahwa kedua anjuran tersebut berasal dari satu kitab suci yang sama. Berdasarkan keadaan dan tingkat kesadaran manusia, relevansinya pun berbeda.

Hal ini tidak akan dipahami oleh mereka yang berjiwa keras, kaku, dan alot. Untuk mengapresiasi keindahan taman bunga, Anda membutuhkan jiwa yang lembut, hati yang tulus dan batin yang  berlembab.

Rumi menyimpulkan lebih lanjut bahwa sesudah kematian bagaikan hasil “tanaman” kita semasa hidup. Mereka yang tidak bercocok tanam akan selalu takut mati. Dalam hati kecil, mereka tahu persis bahwa di alam sana tidak ada apa-apa bagi mereka.

Sementara yang sudah bercocock tanam tidak akan pernah takut. Mereka juga tidak akan mengharapkan apa-apa. Tidak perlu berharap. Tidaka ada yang perlu diharapkan. Karena mereka ‘yakin’ bahwa setiap sebab itu ada akibatnya. Bertanam dan memelihara tanaman, ya sudah pasti ada hasilnya.

Pernahkah Anda merenungkan bahwa “harapan” dan “keyakinan” merupakan dua hal yang berbeda? Mereka yang merasa telah berbuat baik dan “mengharapkan” ganjaran atau imbalan, sesungguhnya  belum ‘yakin’. Dan karena belum  yakin, maka mereka berharap. Sebaliknya, mereka yang yakin tidak perlu berharap lagi. Entah kita berada dalam kelompok  mana, kelompok mereka yang berharap atau kelompok mereka yang yakin!

Rumi menawarkan batu ujian – kematian!

Apabila takut mati, kita masih berada dalam kelompok mereka yang berharap, mereka yang belum bercocok tanam.

Apabila tidak takut mati, kita berada dalam kelompok mereka yang sudah tidak mengharapkan apa-apa lagi. Mereka yakin. Mereka sudah bercocok tanam.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Ketiga Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Kebijaksanaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Mengapa Hamzah tidak takut mati? Mengapa kita takut mati?

Meditasi sama dengan perluasan kesadaran. Hasil akhir dari meditasi adalah Samadhi atau keseimbangan. Setelah mencapai keseimbangan diri, kita tidak gelisah, khawatir, takut, cemas lagi. Sesungguhnya, kita baru mulai hidup setelah mencapai keseimbangan diri. Dari buku Seni Memberdaya Diri

Sudahkah kita latihan meditasi secara rutin?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: