Dilema Sati: antara Ayahanda dan Suami #SrimadBhagavatam

buku-bhagavatam-sati-membakar-diri

Bukan saja makhluk-makhluk hidup yang mesti menjalani tiga tahap kehidupan, yaitu kelahiran, pertumbuhan dan kematian — sesungguhnya benda-benda yang kita anggap tanpa kehidupan pun mesti menjalani ketiga tahap tersebut…………….

Ia Tunggal ada-Nya. Memiliki banyak fungsi. Diantaranya 3 fungsi utama: sebagai Visnu, Sang Pemelihara yang mengurusi pertumbuhan; Rudra atau Siva, Sang Pemusnah sekaligus Pendaur Ulang; dan Brahma, Sang Pencipta………. Penjelasan Bhagavad Gita 13:16 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Seorang Prajapati, Daksha Putra Brahma pun karena keangkuhannya bisa lengah dan merasa dirinya super sehingga kejatuhannya dicatat dalam kisah Srimad Bhagavatam untuk dipelajari umat manusia.

 

Keangkuhan Prajapati Daksha Putra Brahma

Kita masih hidup dengan ego kita, keangkuhan dan arogansi kita, kebencian dan amarah kita, kelemahan dan kekerasan hati kita. Dengan jiwa yang masih kotor itu, kita memperoleh kekuasaan, kedudukan, dan harta, maka jelaslah……………  (Krishna, Anand. (2008). Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kesadaran kita mengalami kemerosotan karena adanya rasa angkuh, karena ke”aku”an. Kesadaran dan ke”aku”an seolah berada pada dua ujung yang tak pernah bertemu, tak akan bertemu. Di mana ada ke”aku”an, di sana tidak ada kesadaran. Di mana ada kesadaran, di sana tak ada lagi ke”aku”an, keangkuhan. (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Daksha adalah salah satu putra Brahma di antara 9 putra Brahma yang diangkat sebagai “prajapati”, yang mencipta dan menjaga kelestarian makhluk. Brahma kawin dengan Prasuti, putri dari Swayambhu Manu, dan mereka dikaruniai 15 putri. Sati adalah salah satu putrinya yang dikawinkan dengan Mahadeva. Dalam diri Daksha sebenarnya dia menginginkan putri kesayangannya Sati kawin dengan seseorang yang bisa menambah kebesaran kekuasaannya. Mahadeva, hidup sederhana hanya mengenakan pakaian kulit macan dan tinggal di Gunung Kailasha. Akan tetapi dalam Svayambhara, Sati memilih Mahadeva maka Daksha pun tidak bisa mencegah keinginan putrinya.

Pada suatu saat diadakan upacara Yajna Agung yang dipimpin oleh Marici, kakak Daksha. Semua dewa hadir. Dan, pada saat Daksha masuk dia nampak begitu berwibawa seperti matahari yang menyinari ruangan upacara. Semua rishi berdiri dan menghormat Daksha kecuali Brahma dan Mahadeva.

Daksha kemudian bersujud mengambil debu di kaki Brahma, sang ayahanda dan meletakkannya di kepala. Akan tetapi Daksha tersinggung dan marah kepada Mahadeva yang tidak berdiri menyambutnya seperti rishi-rishi yang lain, padahal Mahadeva adalah menantunya. Daksha marah dan mengutuk Mahadeva sebagai dewa terburuk, dan Mahadeva tidak akan menerima yajna (persembahan) dan dia langsung pulang ke tempat tinggalnya.

Pengikut Mahadeva marah, Nandikishvara gantian mengutuk bahwa Daksha itu bodoh, angkuh melupakan Mahadeva, dia akan bernasib sial, jauh dari Rahmad Gusti. Para rishi yang mendukung kutukan Brahma akan mengalami siklus kelahiran dan kematian, disibukkan dengan urusan duniawi dan jauh dari Gusti.

Bhrigu saudara Daksha marah karena ada orang yang mengganggu upacara dan mengutuk para pengikut Mahadewa, bahwa mereka yang memuja dia sebagai yang terbesar disebut Prasandi, orang yang munafik. Mereka menjadi kotor berpakaian seperti Mahadeva. Mahadewa merasa kecewa dan segera meninggalkan tempat upacara tersebut.

Waktu terus berjalan dan Daksha telah diangkat oleh Brahma sebagai prajapati yang terkemuka. Daksha semakin angkuh, dan untuk menunjukkan penghinaannya kepada Mahadeva, maka dia mengadakan Yajna dengan nama Brihaspati Sava. Semua brahmarishi, devarishi, pitri, dan dewa diundang pada upacara tersebut kecuali Mahadeva.

 

Sati: sangat dekat Gusti tapi masih tertarik kemegahan duniawi

Ketika kita sedang bersalaman dengan cara itu, boleh mengatakan Namaste, Namaskara, Salam, atau apa saja. Ungkapan di luar boleh apa saja, dalam bahasa mana saja. Tetapi dalam hati, kesadaran kita mestilah berbahasa satu dan sama, berbahasa kesadaran itu sendiri—Kesadaran Tat Tvam Asi. Namaste, Namaskara, Salam; Tat Tvam Asi, Itulah Engkau—dan pada-Mu Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk, kuucapkan salam-hormatku, salam-kasihku.

Jadi, jangan sekadar mencakup kedua tangan dan menunjukkan sikap Namaskara Mudra. Sikap ekstemal atau luaran seperti itu tidak cukup, belum cukup. Sambil mengambil sikap demikian, Kesadaran Tat Tvam Asi mesti timbul, mesti ditimbulkan. Juga dipupuki terus-menerus, ditumbuhkembangkan. (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sati mendengar Daksha, ayahandanya akan menyelenggarakan upacara Yajna, dan mohon izin Mahadeva agar dia bisa datang ke upacara tersebut. Mahadeva mengatakan bahwa Daksha memang ayahandanya, akan tetapi dia telah berubah, menjadi sangat angkuh karena kekuasaan yang dimilikinya. Daksha telah membenci dirinya karena tidak menghormat kepada Daksha pada waktu acara yajna sebelumnya. Mahadeva mengatakan bahwa jika dia memberikan penghormatan pada waktu itu maka keangkuhannya semakin menggembung, karena merasa semua orang menghormatnya. Kita mengucapkan namaste untuk menghormati Gusti yang bersemayam dalam diri seseorang, bukan untuk membuatnya menjadi semakin angkuh. Oleh karena itu Mahadeva tidak ikut menghormati Daksha. Walaupun Sati putri yang disayangi Daksha akan tetapi kebencian terhadap Mahadeva bisa mengubah hati seseorang.

Dalam diri Sati terjadi perang batin dan akhirnya Sati memilih perasaan kewanitaannya dan mendatangi upacara Yajna yang diadakan oleh ayahandanya. Sati melihat upacara yang agung dan semua kursi kehormatan telah terisi. Sati melihat semua orang dan melihat ke arah ayahnya, akan tetapi ayahnya seolah-olah tidak melihat dirinya. Sati tak dianggap lagi oleh ayahandanya. Sati sangat malu dan berkata bahwa dia malu lahir sebagai anak Daksha. Keangkuhannya telah membuat dia mengadakan Yajna tanpa mengundang Mahadeva. Sati mengingatkan bahwa Brahma dan Vishnu tidak mau hadir dalam yajna bila Mahadeva tidak diundang.

Sati menyesal telah mengabaikan nasehat Mahadeva, suaminya. Ayahandanya benar-benar telah berubah semakin angkuh. Sati segera mengambil posisi yoga dan api segera keluar membakar tubuhnya……………

Kisah Sati ini sering terulang berkali-kali di kehidupan nyata. Sita sudah mengalami kebahagiaan bersama Gusti (Rama), akan tetapi dia masih tertarik keindahan kijang kencana (duniawi) sehingga akhirnya terperangkap oleh Rahvana (ego). Seorang pengkhotbah yang handal yang dapat mempengaruhi banyak orang berbuat kebajikan, tertarik dengan jabatan negara (duniawi) sehingga menjadi cemoohan masyarakat. Beruntunglah Sati yang sadar dan dikehidupan berikutnya (sebagai Parvati) tidak pernah melepaskan diri dari Gusti (Mahadeva). Beruntunglah Sita dengan pertolongan bhakti (Hanuman) bisa kembali bersama Gusti (Rama). Jarang sekali dalam kenyataan real life orang yang menjauh dari Gusti bisa sadar kembali…….

Catatan:

Sudahkah kita latihan meditasi dengan rutin? Meditasi menjernihkan pikiran…….. Dengan latihan rutin meditasi, pandangan kita menjadi jernih sehingga kita bisa menjadi tamu yang baik di dunia.

Pesan Bapak Anand Krishna: “Seorang tamu yang baik akan dipercayai penuh oleh manajemen hotel. Mereka yakin bahwa ia tidak akan mencuri handuk dalam kamar mandi.  Tidak akan mencuri asbak dari ruangan tamu. Tidak akan merusak penutup kloset. Ia dipercayai akan menjaga keutuhan dan keindahan kamar yang disewanya. Tinggal di Hotel Bumi ini, jadilah seorang tamu yang baik. Sadar sepenuhnya dan bertindak sesuai dengan kesadaran, maka kita tidak perlu dibelenggu dengan rantai peraturan dan hukum.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: