Kemarahan Mahadeva dan Kepasrahan Daksha #SrimadBhagavatam

buku-bhagavatam-daksha-menyembah-mahadeva

“Para avatar, para mesias, para nabi, para master dan para Buddha berada dalam kelompok kedua. Mereka tidak memiliki keinginan pribadi. Karena itu, mereka tidak pernah marah ‘seperti’ kita. Kualitas amarah mereka berbeda. Amarah mereka bukan produk keinginan yang tak terpenuhi. Amarah mereka adalah produk kepedulian mereka terhadap keadaan kita. Amarah mereka lahir dari rasa kasih. Bila melihat seorang Yesus sedang marah-marah, jangan meragukan kemesiasannya. Amarah seorang Yesus sedang marah-marah, jangan meragukan kemesiasannya. Amarah seorang Yesus atau seorang Muhammad amat sangat manis amarah yang dapat mengupas daki ketidaksadaran dari batin kita.”  (Krishna, Anand. (2008). Medina, Sehat Dalam Sekejap. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menyaksikan kematian Sati, para pengawal Sati marah dan segera menyerang Daksha yang terkesima melihat putrinya bunuh diri. Rishi Bhrigu ingin menyelamatkan upacara ritual yajna dan melakukan tindakan magis melindungi Daksha dengan munculnya ribuan makhluk yang disebut Ribhu. Seluruh pengawal Sati diusir dari tempat tersebut.

Rishi Narada memberitahu Mahadeva tentang kejadian ini. Dengan kemarahannya Mahadeva mencabut sehelai rambut ikalnya dan melemparkannya ke sebuah batu di depannya. Rambut itu berubah menjadi makhluk dengan kekuatan tak terhingga yang dikenal dengan nama Virabhadra dengan ribuan tangan, tiga mata, dan gigi yang menakutkan. Mahadeva memerintahkan Virabhadra untuk menghancurkan Daksha dan upacaranya.

Virabhadra dengan pasukan Mahadeva menyerbu tempat upacara Yajna. Semua peserta upacara kalah dan Daksha ditangkap Virabhadra. Kepala Daksha dilemparkan ke api ritual. Selesai memporak-porandakan upacara yajna semua pelayan Mahadeva kembali ke Kailasha.

 

Kemarahan Mahadeva demi kebaikan Daksha

                “Ia Tunggal ada-Nya. Memiliki banyak fungsi. Diantaranya 3 fungsi utama: sebagai Visnu, Sang Pemelihara yang mengurusi pertumbuhan; Rudra atau Siva, Sang Pemusnah sekaligus Pendaur Ulang; dan Brahma, Sang Pencipta.” Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 13:16 dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sebagai Pendaur Ulang, Mahadeva perlu marah menjadi Deva Rudra agar dapat menghancurkan yang lama dan dapat menggantikan dengan yang baru.

“Hukum Karma membuat kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Menyaksikan. la tidak menghakimi dan menghukum kita. Kita mengalami suka dan duka karena perbuatan kita sendiri.”   Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Para Rishi dan deva yang kalah melawan pasukan Mahadeva menghadap Brahma dan menceritakan apa yang sudah terjadi. Brahma berkata, “Ini adalah kesalahan kalian, kami bertiga dikenal sebagai Trimurti adalah wujud Narayana dengan tugas masing-masing yaitu: mencipta, memelihara dan mendaur-ulang. Kalian tidak mengundang Mahadeva dalam yajna sehingga Vishnu dan saya tidak hadir memberkati dan yajna kalian tidak berguna.

Brahma kemudian mengajak para deva ke Kailasha menemui Mahadeva. Brahma memohonkan maaf atas kesalahan para deva dan mengatakan bahwa para rishi danpara deva mulai saat ini akan selalu melakukan persembahan yajna bagi Mahadeva.

Mahadeva berkata bahwa semuanya harus terjadi. Semua benih yang ditanam, buahnya harus dituai. Daksha dan para pengikutnya menerima balasan akibat perbuatan mereka sendiri. Tak seorang pun dapat menyakitinya. Mereka yang tertipu oleh ilusi Gusti akan mendapatkan hukuman untuk memperbaiki kesalahannya. Biarlah Daksha yang kepalanya telah dilemparkan pada api yajna, diberikan ganti kepala kambing. Rishi Bhrgu akan mempunyai kumis dan jenggot seekor kambing juga…………

 

Daksha dan Diksha

“Ini yang disebut ‘inisiasi’. Seorang Murshid akan menguburkan ‘ego’ sang murid. Tidak ada jalan lain. Ego harus dikuburkan dan penguburannya dibantu oleh orang yang egonya sudah terkuburkan.” Dikutip dari (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

“Berserah diri sepenuhnya, penggallah ‘kepala’ ego Anda, dan cinta dalam diri Anda akan semakin matang, semakin dewasa, semakin mendekati ‘tahap kasih’, di mana Anda merasakan kesatuan, persatuan dengan sementara.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Memenggal kepala-ego dan meletakkannya di bawah kaki sang guru juga berarti menyerahkan segala beban kepadanya. Iman kita belum cukup kuat. Kita masih ragu-ragu, bimbang… maka, sesungguhnya kita belum pantas menyebut diri murid. Kita baru pelajar biasa. Sang murshid, sang guru siap sedia mengambil-alih seluruh bebanmu, asal kau siap menyerahkannya kepada dia. Justru tugas dia… Dia bagaikan perahu yang dapat mengantarmu ke seberang sana. Bila kau sudah berada di dalam perahu, untuk apa lagi menyiksa dirimu dengan buntalan berat di atas kepala? Turunkan buntalan itu dari kepala, letakkan di bawah. Perahumu, gurumu, murshidmu siap menerima tambahan beban itu. Bahkan, ia sudah menerimanya… walau berada di atas kepala, sesungguhnya beban itu sudah membebani gurumu.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Daksha hidup lagi dengan kepala kambing dan kemudian bersujud kepada Mahadeva. Daksha berkepala kambing merupakan sebuah alegori, lambang. Daksha telah memenggal egonya. Dia pasrah dan siap belajar dari Mahadeva. Daksha melakukan diksha, diterima, diinisiasi oleh Sang Guru, Mahadeva, Bathara Guru.

Kemudian para deva menyelesaikan yajna yang belum selesai dengan mempersembahkannya kepada Mahadeva, Brahma dan Vishnu. Daksha telah terberkati dan Sati akan lahir kembali sebagai Parvati anak dari Himavan dan Mena di Himalaya.

Disebutkan dalam Kitab Srimad bhagavatam bahwa mereka yang mendengarkan kisah ini mencapai kemasyhuran, umur panjang dan bebas dari penderitaan.

 

Catatan:

Mari kita merenungkan, adakah keangkuhan dalam diri kita? Keelokan wajah kita? Kekayaan, kedudukan, kecerdasan, kesucian? Banyak sekali keangkuhan dalam diri….. Beruntunglah Daksha karena keangkuhannya dipenggal Mahadeva. Kapan keangkuhan kita dipengga? Atau kapan kita memenggal keangkuhan diri sendiri?

Meditasi akan membantu kita mengenali keangkuhan diri. Sudahkah kita latihan meditasi dengan rutin?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: