Dhruva: Kegigihan Anak Menuju Gusti Pangeran, Penghapus Segala Kesedihan #SrimadBhagavatam

buku-bhagavatam-dhruva-ingin-dipangku

Mantra adalah penolong yang membantumu keluar dari setiap persoalan hidup. Setiap pengulangan memberi makna baru, dan makin mendekatkan dirimu dengan Tuhan.” Dikutip dari buku  (Krishna, Anand. (2012). Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern. Azka)

Mantra atau manasa yantra, alat untuk mengendalikan gugusan pikiran serta perasaan. Mantra juga membebaskan kita dari keterikatan, termasuk dari memori-memori masa Ialu. Berdasarkan pengalaman saya, lebih banyak orang terbantukan oleh mantra. Maka, hampir semua kepercayaan menganjurkannya—walau dengan sebutan, cara, dan tentu ucapan yang berbeda. Sebab, energi yang dibutuhkan untuk mengucapkan mantra jauh lebih banyak daripada apa yang dibutuhkan untuk melihat yantra dan melakoni mudra. Meski diucapkan dalam hati, tetap saja butuh lebih banyak energi daripada dua cara sebelumnya. Apalagi jika sambil merenungkan makna dari apa yang diucapkan, yang adalah bagian penting dari mantra sadhana—laku mantra. Jika Anda tidak memiliki seorang pemandu yang dapat memandu Anda dalam memilih mantra yang paling cocok bagi Anda, gunakan saja salah satu yang bersifat universal. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Belajar dari Kisah Srimad Bhagavatam

Dalam kisah kelahiran Hiranyakashipu dan Hiranyaksha kita belajar bahwa dari pasangan suami istri yang baik pun, kala berhubungan suami-istri secara sembarangan, anak yang dihasilkan pun bisa mempunyai sifat raksasa. Dalam Kisah Kardama dan Devahuti, kita melihat putra yang baik dihasilkan dari pasangan suami istri yang baik. Kali ini kisah tentang seorang suami dengan dua istri yang salah satunya lebih menarik hati sang suami dibandingkan yang lain. Ternyata dari istri yang kurang diperhatikan pun justru muncul putra yang luar biasa hebatnya. Dikisahkan Sapta Rishi pun menghormati putra tersebut, dan bahkan saat bumi kiamat, Brahma beristirahat, dia pun masih bersinar.

Mungkin inilah salah satu avidyaa senjata andalan Brahma, agar manusia semakin terikat dengan dunia dan lupa pada jatidiri. Pada masa awal kehidupan, seorang suami diberi banyak istri, dan banyak kisah yang lahir dari model tersebut. Menimbulkan masalah memang, akan tetapi tetap bisa juga mempunyai putra yang luar biasa. Nanti pada waktunya akan dikisahkan bagaimana Sri Rama dan Sita bersumpah satu suami/istri saja. Rama ber eka patni vrata, kawin dengan seorang wanita dan Sita eka pati vrata kawin dengan seorang pria saja.

Dalam kondisi apa pun seseorang bisa menjadi bhakta, bisa menjadi manusia ilahi kekasih Gusti.

 

Sakit hati seorang anak kecil berusia 5 tahun

Priyavrata dan Uttanapada – dua anak laki-laki dari Swayambu Manu  – memerintah dunia dengan adil dan bijaksana. Uttanapada mempunyai dua istri, Suniti dan Suruchi. Suruchi, yang lebih muda, lebih cantik, lebih dikasihi oleh suaminya daripada istri yang lebih tua, Suniti.

Dhruva yang berusia 5 tahun melihat ayahandanya sedang memangku Uttama, adiknya dan ingin dipangku ayahandanya di paha satunya. Adalah ibu tirinya, Suruchi yang mencegah dan memarahi Dhruva. Dikatakannya bahwa walaupun sang raja adalah ayahnya, akan tetapi Dhruva bukan anak Suruchi, bila ingin dikasihi sang ayah, Dhruva diminta berdoa kepada Gusti agar di kehidupan berikutnya dilahirkan oleh dia.

 

Seorang anak umur 5 tahun dimarahi, maka sambil menangis, Dhruva mengadu kepada Suniti, ibunya. Apalagi Dhruva yang masih anak-anak, setelah remaja dan dewasa pun kita sering curhat kepada ibu kita. Sepatah-dua patah kata ibu kita akan membangkitkan semangat lagiSang ibu mengatakan bahwa Dhruva tidak perlu khawatir, setiap orang akan menanam benih dan dia sendiri yang akan memetiknya. Bunda Suruchi akan menerima hasil perbuatannya di kelak kemudian hari. Membalas dendam tidak menyelesaikan masalah, bahkan menanam benih karma baru yang tidak baik. Dhruva diminta berdoa sepenuh hati kepada Gusti Pangeran, Dia Hyang Menghapus Segala Kesedihan. Dikatakan Suniti bahwa Brahma, kakek buyut Dhruva, karena doanya menjadi Sang Pencipta, demikian pula Svayambu Manu, kakek Dhruva menjadi maharaja yang penuh berkah.

Seorang anak usia lima tahun sudah diajari karma oleh ibundanya, tetapi yang membuat dirinya bersemangat adalah dia berhasrat bertemu dengan Gusti Pangeran, sehingga segala kesedihannya bisa musnah. Dhruva pun meninggalkan istana menuju hutan ingin menemui Gusti, ingin memusnahkan semua kesedihan.

 

Bertemu Rishi Narada

Dewa adalah makhluk-makhluk yang tinggal dan hidup dalam cahaya. Ucapan serta perbuatan mereka tergerak oleh nurani. Mereka adalah makhluk-makhluk bersanubari. Mereka masih mampu mendengarkan suara hati. Dan, mereka dapat ditemukan di mana-mana. Tidak perlu mencari mereka di langit, di surga, di kahyangan. Banyak para dewa di antara kita. Banyak para dewa yang sengaja berada di tengah kita untuk memandu kita. Mereka tidak ‘datang’ ke dunia karena urusan karma. Mereka ‘datang’ untuk memandu Jiwa-Jiwa yang membutuhkan panduan mereka.

Para resi yang mampu ‘melihat’ dan merasakan kehadiran mereka, walau berwujud seperti manusia biasa, menemukan cara termudah untuk mengetahui mereka dan memperoleh panduan bimbingan mereka. Cara tersebut adalah Mantra-Yoga. Dengan suara-suara tertentu, getaran-getaran tertentu – ditambah dengan kekuatan niat yang mulia, hati yang bersih – kita dapat mengadakan hubungan seluler, bahkan menciptakan hot-line dengan mereka.

Banyak pembantu di rumah orangtua kita, jika kita membutuhkan sesuatu yang dapat diperoleh dari pembantu, lewat pembantu – mestikah kita menyusahkan orangtua? Banyak pekerjaan, banyak tugas yang memang sudah dipercayakan kepada para pembantu. Mantra-Yoga hanyalah membuat kita mengakses para Dewa, para Pembantu, para Lightworkers – ada yang berwujud dan ada yang tidak – itu saja. Dikutip dari Bhagavad Gita 10:14 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Rishi Narada, seorang Bhakta Narayana menghentikan Dhruva di jalan. Narada menyampaikan bahwa banyak sekali para pejalan spiritual yang gagal menemui Gusti, apalagi Dhruva masih anak-anak. Dhruva tidak menyerah, dan dia dengan penuh ketegasan ingin melanjutkan perjalanannya.

Senang dengan ketegasan sang anak, sang rishi memberkati Druva. Dia berkata : “Pergilah dan temukan tempat yang terpencil  di dekat sungai Yamuna, mandilah di sungai itu 3 kali sehari, dan duduk hening dan jernihkan pikiranmu dengan pranayama, bermeditasilah kepada Tuhan dalam wujud-Nya sebagai sumber kebajikan, keberhasilan, dan keindahan. Sekarang aku akan memberikan padamu sebuah mantra yang paling sakral “Om Namo Bhagavate Vasudevaya – yang harus kau ulangi terus-menerus selama 7 malam. Gunakan mantra ini dengan membayangkan Tuhan, kau akan memperoleh anugerah apa yang kauinginkan.”

Narada kemudian pergi ke istana Raja Uttanapada yang sedang terpukul dengan kesedihan mendalam atas apa yang dilakukan istri keduanya yang telah berlaku tidak tepat dan melukai hati anak pertamanya. Sang Raja berkata pada Rishi Narada bahwa dia menjamin hak raja bagi Dhruva di masa depan.

 

Dhruva mencari tempat sepi di tepi Sungai Yamuna. Dia bermeditasi, secara terus menerus membaca mantra dan membayangkan wujud Narayana seperti yang telah diajarkan oleh Rishi Narada. Dhruva memakan buah setiap 3 hari sekali selama satu bulan. Bulan berikutnya hanya makan rumput setiap 6 hari. Pada bulan ketiga hanya minum air setiap 9 hari. Pada bulan keempat Dhruva hanya menghirup napas saja. Pada saat Dhruva menahan napas seluruh dewa merasa terganggu, mereka pun menjadi sulit bernapas.

Di dekat Dhruva bertapa, adalah para Saptarishi yang juga sedang bertapa. Tujuh rishi tersebut merasakan pengaruh aura meditasi yang dilakukan oleh Dhruva, mereka mendatangi Dhruva yang sedang memejamkan mata, dan menghormatinya, dengan melakukan pradaksina, berjalan mengelilingi Dhruva sambil berdoa.

Deva Indra takut Dhruva akan merebut tahtanya di surga. Deva Indra kemudian mengganti wujudnya sebagai ibu Dhruva untuk mengubah niat Dhruva. Dhruva tetap bermeditasi sambil melantunkan mantra Om Namo Bhagavate Vasudevaya. Bahkan Dhruva bergeming, tidak bergerak kala Indra mengirimkan ular, laba-laba dan raksasa untuk mengganggunya. Dhruva tetap bermeditasi dan menutup matanya sambil terus melantunkan mantra…….

cover-buku-gayatri-mantra

 

Catatan:

Penjelasan dalam buku Soul Awareness: Setiap pikiran, perasaan, termasuk memori masa lalu yang muncul ke permukaan, membutuhkan energi pendorong. Ciptakan cabang bagi energi pendorongnya. Gunakan energi cabang yang baru diciptakan itu.

Bagaimana menciptakan cabang? Salah satu cara yang paling mudah adalah melihat gambar, Iukisan, patung, atau apa saja yang terkait dengan spiritual. Cara kedua: Mudra, gerakan-gerakan tangan dan jari yang juga bermanfaat bagi kesehatan badan, pikiran, dan perasaan. Cara ketiga: Mantra atau manasa yantra, alat unruk mengendalikan gugusan pikiran serta perasaan. Mantra juga membebaskan kita dari keterikatan, termasuk dari memori-memori masa Ialu.

Dhruva melakukan ketiga-tiganya agar fokus pada Gusti dan juga dengan melakukan Pranayama, olah prana (napas). Sudahkah kita latihan meditasi dengan memperhatikan napas?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: