Agama yang Tidak Memuliakan Emas, Kisah Ratu Bilqis #Masnawi

buku-masnawi-4-ratu-bilqis

Ada bahasa hati dan ada bahasa materi. Ada yang bertindak sesuai dengan kata hati, dengan nurani. Ada yang masih belum bisa mendengarkan suara nurani. Mereka sepenuhnya menggunakan bahasa materi. Itulah satu-satunya bahasa yang mereka pahami.

Ratu Bilqis pun hanya memahami bahasa materi. Dia belum bisa mendengarkan suara nurani. Karena itu persembahannya  kepada Nabi Sulaiman juga masih berupa “materi”. Emas “murni” – ya logam yang dianggapnya “mulia” itu yang dia persembahkan.

Dia tidak tahu bahwa seorang nabi tidak akan pernah memuliakan logam. Seorang Pir, seorang Mursyid tidak akan pernah memuliakan emas.

Rumi melanjutkan:

 

Para pengantar pun tercengang, karena Nabi Sulaiman menggunakan lembaran emas untuk menghiasi lantai.

“Lebih baik kita pulang saja. Apa yang harus kita hadiahkan kepada Nabi Sulaiman?” – pikir para pesuruh. Emas yang mereka muliakan dijadikan injakan oleh Sang Nabi.

Begitu pula dengan engkau yang ingin mencapai Tuhan dengan ilmu pengetahuan. Ketahuilah bahwa bagi Dia, ilmumu, pengetahuanmu tidak berarti sama sekali.

Para pesuruh menyadari betul hal itu. Tetapi apa boleh buat? Mereka sekadar pesuruh, pengantar. Dan mereka harus menjalankan tugas.

Melihat kiriman itu, Nabi Sulaiman tertawa, “Apa yang kalian bawa? Aku tidak menginginkan semua ini. Yang kuinginkan justru kesiapan diri (kalian) untuk menerima apa yang hendak kuberikan.”

 

Jangan berupaya untuk menyogok seorang Pir, seorang Mursyid. Dia tidak bisa disogok. Yang bisa disogok hanyalah “Pengajar Kodian”. Seorang Pir, seorang Mursyid datang untuk “memberi”, bukan untuk menerima. Mutiara Pencerahan, Emas Kesadaran – itulah pemberian mereka. siapkah kita untuk menerima semua itu?

 

Pulanglah kalian dengan emas batangan ini. Yang kuinginkan bukanlah emas, tetapi hati. Hati yang bersih….. Penolakanku ini sungguh menguntungkan kalian. Jadilah utusanku dan sampaikan kepada Ratu Bilqis apa yang kalian saksikan di sini. Bahwa bukanlah emas yang aku inginkan. Sampaikan  pula bahwa hendaknya dia segera datang ke sini untuk memeluk (agama) yang benar.” – Kata Nabi Sulaiman kepada para pesuruh itu.

 

Bagi Rumi, agama yang benar adalah agama yang “tidak memuliakan” logam, karena dengan “memuliakan” logam, kita akan terjebak dalam perbuatan syirk. Kita akan menduakan Allah. Kita akan menempatkan materi sejajar dengan Dia yang sesungguhnya berada di atas segala-galanya – termasuk materi itu.

Rumi menasihati kita untuk mendengarkan seruan para Nabi dan para Wali. Untuk memenuhi panggilan para Pir dan para Mursyid. Karena panggilan mereka sangat tulus. Yang mereka inginkan hanyalah Kebaikan kita. Sebagaimana bagi Ratu Bilqis.

cover-buku-masnawi-4

“Bukan karena hawa nafsu aku memanggilmu. Hawa nafsu sudah kutaklukkan. Panggilan ini untuk mendekatkan dirimu dengan Tuhan.”

Akhirnya, hati Sang Ratu meleleh juga, terbuka juga. Dia mulai merasa muak dengan hal-hal duniawi dan mendambakan pertemuan dengan Sang Nabi. Kendati demikian, masih saja ada sedikit keterikatan pada takhta. Pada kerajaan dan kekuasaan. Dan Sang Nabi pun mengetahui hal itu.

(seorang ahli sihir) menawarkan jasa, “Aku mampu memindahkan takhta Ratu Bilqis ke tempat ini.”

Asaf, seorang menteri Sang Nabi menanggapinya, “Dengan nama Allah, takhta itu bisa berada di sini dalam sekejap.”

Maka Nabi membiarkan Asaf untuk memindahkan takhta itu. Tawaran tukang sihir tidak dihiraukannya.

 

Tukang sihir dalam kisah ini mewakili pikiran kita. Asaf mewakili hati kita. Pikiran bisa menggunakan kekerasan. Hati tidak bisa. Hati selalu lembut. Untuk menaklukkan hawa nafsu, kita bisa menggunakan dua-duanya. Kita bisa menekannya dengan pikiran. Atau menaklukkannya dengan kelembutan kasih.

Pikiran hanya mampu menekan hawa nafsu. Diberi peringatan terus, diancam terus-menerus, pikiran bisa takut. Dia tidak berkutik. Tetapi sampai kapan? Begitu tekanan dilepaskan sedikit saja, dia beringas kembali.

Keberingasan hawa nafsu hanya bisa ditaklukkan oleh kelembutan hati. Oleh kehangatan kasih. Sekali tertaklukkan, dia tidak akan berkutik kembali. Karena bersifat lembut, sesungguhnya kasih tidak pernah menaklukkan siapa-siapa.  Dia hanya “menghadirkan” dirinya. dan hawa nafsu lenyap seketika. Kasih bagaikan Cahaya Matahari. Di mana ada cahaya, tak akan ada kegelapan. Di mana ada kasih, tak akan ada hawa nafsu.

Rumi melanjutkan kisahnya:

 

Melihat takhta itu berhasil dipindahkan, Nabi Sulaiman bersyukur kepada Allah dan berkata, “Hanya orang-orang bodoh yang akan tertarik padamu.”

Kemudian Sang Nabi pun berseru kepada Ratu Bilqis, “Sadarlah Bilqis…. Apa arti sebuah takhta? Lepaskan keterikatanmu dan masukilah kerajaan Allah…”

Genggaman kita penuh dengan kerikil. Ya, batu kerikil yang kita anggap sangat berharga, sehingga tidak mau melepaskannya. Kendati Sang Mursyid sudah menawarkan segenggam mutiara sebagai penggantinya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Sesungguhnya manusia dilahirkan dalam keadaan meditatif. Selama dalam kandungan ibu, ia sudah mencicipi meditasi. Ia mulai belajar hidup “dengan” dirinya sendiri. Ia sudah melihat setitik cahaya di ujung terowongan sana, tidak sepenuhnya hidup dalam kegelapan. Dari buku Atma Bodha

Sudahkah kita mulai latihan meditasi?

Advertisements

2 Responses to “Agama yang Tidak Memuliakan Emas, Kisah Ratu Bilqis #Masnawi”

  1. terima kasih telah mengingatkan…
    moga hidup ini selalu dalam keberkahan. amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: