Archive for February, 2017

Kisah Orang Tua dan Tabib #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , , on February 28, 2017 by triwidodo

buku-masnawi-2-tabib-dan-orang-tua

Seorang lelaki berusia lanjut mendatangi seorang tabib dan mengeluh, “Sepertinya aku ini menjadi pikun. Tolong otakku diperiksa.”

“Tidak perlu, Pak. Bagi orang seusia Bapak, hal itu lumrah; tak ada yang tidak wajar”, jawab Sang Tabib.

“Kalau begitu, bagaimana dengan mataku? Periksalah mataku, karena penglihatanku kurang tajam”, kata lelaki itu.

“Itu pun hal yang lumrah. Setiap orang berusia lanjut akan mengalaminya.”

“Tetapi pencernaanku juga tidak baik. Perutku sering sakit.”

“Itu pun karena usia lanjut.”

“Dan, nafasku sering sesak.”

“Biasa juga—kalau sudah tua, badan pun berpenyakitan.”

Maka beranglah si tua, “Dari tadi engkau mengatakan ini biasa, itu biasa. Hanya kalimat itukah yang engkau pelajari selamaini? Tabib macam apa engkau ini?”

Sang Tabib tetap tenang, ”Aku dapat memahami kegusaranmu, Pak Tua. Itu pun karena usia tua. Bersama dengan melemahnya organ-organ tubuhmu, pengendalian diri juga melemah. Dan orang menjadi tidak sabar.”

Si Tua betul-betul marah…. Meledaklah dia. Sampai muntah-muntah.

Lain Si Tua dalam kisah ini. Lain pula seorang pir, seorang wali, seorang nabi. Mereka senantiasa muda. Walau badan sudah menunjukkan tanda-tanda lanjut usia, jiwa mereka tetap muda. Jangan tertipu oleh penampilan mereka. Di balik apa yang terlihat, tersembunyi tambang emas dan permata.

cover-buku-masnawi-2

Bagi Rumi, seorang pir, seorang wali, seorang nabi adalah “Wakil Tuhan” di atas muka bumi. Tidak berarti Anda dan saya bukan “Wakil Tuhan”; Tidak berarti bahwa  Anda dan saya “Wakil Setan”. Tidak demikian. Yang membedakan kita dari mereka hanya satu—yaitu kesadaran.

Mereka sadar akan peran mereka dan berperan sesuai dengan kesadaran mereka. Kita tidak sadar. Kalaupun sadar; belum berperan sesuai dengan kesadaran. Kalaupun sudah berperan sesuai dengan kesadaran, masih belum sepenuh waktu. Masih setengah waktu.

Tentang “Wakil Tuhan Puma Waktu” ini, Rumi mengatakan:

 

Surga dan Neraka berada di dalam dirinya. Dia tidak terjangkau oleh pikiranmu. Apa yang terjangkau oleh pikiran hanyalah hal-hal yang bersifat sementara. Yang saat ini ada, saat berikutnya tidak ada. Tuhan tidak terjangkau oleh pikiran.

 

Anda masih bersikeras bahwa Tuhan lain, Manusia lain. Tuhan berada  “di ataaaaas” sana, jauh sekali; sedangkan manusia berada “di bawaaaaah” sini, bisanya hanya merengek-rengek. Kalau begitu, Anda tidak akan pernah bisa memahami Rumi.

Paling banter, Anda bisa memahami Al Ghazali. Itu pula sebabnya, sampai akhir tahun 80-an, Rumi hampir tidak dikenal di  Indonesia. Seorang Doktor dari kalangan IAIN mengakui hal tersebut dan bahkan menulisnya dalam disertasinya. Sementara Al Ghazali cukup populer.

Sebab lain kenapa Rumi tidak populer adalah karena sesungguhnya bangsa kita sudah familiar dengan ajaran sejenis. Satu dua abad yang lalu, kalau seorang pujangga seperti Ronggowarsito atau Mangkunagoro membaca Rumi, mereka akan mengangggukkan kepala mereka. Dan hanya itu saja. Karena, apa yang disampaikan oleh Rumi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat zaman itu.

Kalau sekarang Rumi menjadi populer, itu bukan karena dia luar biasa, tetapi karena selama ini Anda menutup terhadap ajaran luhur yang berasal dari budaya sendiri. Anda selalu bersandar pada ajaran yang berasal dari budaya asing.

Sekarang pun demikian. Rumi pun Anda impor. Puisinya diterjemahkan mentah-mentah. Tulisan-tulisan orang Barat tentang dirinya juga disajikan begitu saja. Seperti membeli alat listrik dari luar negeri. Tegangan listrik di negeri orang lain, tegangan listrik di negeri kita lain, tetapi kita tidak ambil peduli. Main colok saja. Hasilnya, ya berantakan!

Tujuan saya menghadirkan Rumi di Indonesia lain! Saya ingin menggugah kesadaran dan kewarasan yang tersisa dalam diri manusia Indonesia, “Lihat, apa yang dia sampaikan itu pernah disampaikan oleh para pujangga kita sendiri. Ronggowarsito, Mangkunagoro, dan para penyusun Centini tidak kalah dari Rumi. Sadarlah!”

Melanjutkan wejangan Rumi:

 

Bangunan masjid dihormati, dijunjung tinggi, tetapi hati manusia di mana Tuhan bersemayam, dihancurkan. Sungguh tolol!

Bangunan (yang terbuat dari pasir dan batu) hanyalah simbolik. Masjid yang sesungguhnya adalah hati manusia, hati mereka yang sadar; hati para pir, para wali dan nabi. Itulah tempat ibadah sejati, yang terbuka bagi semua orang. Tuhan pun berada di sana.

 

Terpaksa saya harus mengutip terjemahan R.A. Nicholson, sehingga Anda melihat sendiri. Betapa lebih kerasnya bahasa Maulana:

Fools venerate the mosque and endeavour to destroy them that have the heart (in which God dwells).

That (mosque) is phenomenal, this (heart) is real, O asses! The (true) mosque is naught but the hearts of the (spiritual) captains.

The mosque that is the inward (consciousness) of the saints is the place of worship for all: God is there.

Apa yang saya terjemahkan sebagai “tolol” atau “bodoh” disebut “asses” oleh Rumi—Keledai. Dalam bahasa Parsi, Urdu, Hindi dan Sindhi, inilah ungkapan yang paling keras bagi orang yang bodoh, tolol, stupid, idiot, fool ……

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

Ada mentega dalam susu, walaupun tidak tampak, belum tampak, tapi ia memang di sana. Dengan mengaduk susu, mentega yang tak tampak “menjadi” tampak. Namun, fenomena munculnya mentega ini tidak membuktikan bahwa mentega tidak eksis sebelum “proses pengadukan”. Upaya Manusia, usaha keras manusia — dalam konteks ini adalah sadhana spiritual, meditasi, dan lain-lain — dapat diibaratkan seperti proses mengaduk. Dengan mengaduk susu manah atau mind — buddhi atau inteligensia bermanifestasi. Dengan menggali jauh ke dalam buddhi atau inteligensia, lapisan-lapisan kesadaran yang lebih tinggi ditemukan, dan akhimya menuntun pada Paramatma atau Hyang Tunggal — mentega dari mentega, esensi pokok. Dari buku Dvipantara Jnana Sastra

Sudahkah kita mulai latihan meditasi atau sadhana spiritual?

16507904_607845372736503_4157403851028120712_n

Advertisements

Kisah Puranjana: Sangkan Paraning Dumadi, Asal Tujuan Kejadian #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on February 26, 2017 by triwidodo

buku-bhagavatam-puranjana-kematian

 

Setan, demon, atau asura adalah suatu keadaan yang tidak selaras, tidak seirama dengan irama alam. Asura berarti tidak berirama, tanpa irama. Irama Alam adalah memberi, berbagi, mencintai, melindungi, empati – semua ini adalah irama alam. Gotong royong adalah irama alam. Dan, kebalikan semuanya itu membuat manusia tidak seirama dengan alam. Mereka yang seirama dengan alam adalah sura – kebalikannya adalah asura.

Jadi, Anda, saya, kita semua memiliki potensi ganda ini, mau menjadi seirama, selaras dengan semesta atau tidak selaras. Mau menjadi Sura atau Asura – pilihan di tangan kita!

Krsna menyebut mereka yang tidak seirama—mereka yang bersifat asura—sebagai orang bodoh. Dunia ini penuh dengan orang-orang bodoh. Mereka hidup tanpa mengetahui arah. Mereka tidak tahu tujuan hidup itu apa. Mereka pikir makan, minum, tidur, seks, kekuasaan, harta-benda, itulah kehidupan. Mereka “tampak” bahagia, tapi sesungguhnya hampa. Mereka kosong.

Hingga usia 35-40 tahun, mungkin mereka tidak mengerti arti kebahagiaan, dan menerjemahkan “kenyamanan” sebagai “kebahagiaan”. Setelah usia 35-40 tahun, umumnya mereka  baru tersadarkan bahwa Kenyamanan tidak sama dengan Kebahagiaan. Namun, saat itu pun mereka masih belum tahu cara untuk meraih kebahagiaan sejati. Adalah suatu berkah jika seorang yang sudah berusia 35-40 tahun masih sempat tersadarkan akan kesalahannya, dan mulai mencari kebahagiaan sejati. Biasanya, mereka hidup sebagai layangan yang putus – tanpa arah – bergantung pada arus angin. Demikian satu masa kehidupan tersia-siakan.

Dibutuhkan energi yang luar biasa untuk menarik diri dari pengaruh maya. Dan, energi sedahsyat itu adalah energi seorang pemuda, seorang pemudi di bawah usia 30-35 tahun. Energi semasa itu, energi hingga usia itu adalah energi keberanian, kepahlawanan. Energi yang membuat seorang berani mengambil resiko itu, tidak bertahan lama. Gunakan energi itu sekarang, dan saat ini juga, sebelum ia meredup! Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Puranjana suka berburu, membunuh binatang kesenangan hanya untuk kepuasan. Suatu kali Puranjana berburu tanpa istri. Berburu tanpa memakai pikiran hanya memuaskan nafsu. Pikiran dianggap membatasi nafsunya. Binatang yang dibunuhnya menjadi semakin banyak. Sampai akhirnya Puranjana jenuh pulang ke istana dan mandi, membersihkan diri. Hanya melulu mengikuti nafsu tanpa berpikir membuatnya merasa jenuh dan mulai membersihkan nafsunya dan kembali kepada pikirannya.

Puranjani, pikiran yang merasa diabaikan suaminya pergi menyepi. Akhirnya Puranjana sadar dan selalu berdua dengan pikirannya. Dikisahkan mereka mempunyai 1100 anak laki-laki dan 110 anak perempuan. Kehidupan berkeluarga tanpa disadari telah menghabiskan usia, mengurus anak-anak sampai dewasa, tanpa terasa manusia sudah sampai berusia paruh baya.

Tanpa disadari raja perampok Candavega dengan 360 pasangan prajuritnya selalu berupaya menjarah diri kita. Candavega adalah waktu setahun dengan 360 hari yang terdiri dari siang hari dan malam hari menjarah perlengkapan dan kesenangan indra. Setelah usia 50 tahun kita baru merasa sebagian tubuh kita telah dijarah waktu. Dalam Srimad Bhagavatam disebutkan jatah hidup manusia 100 tahun, setelah mencapai 50 tahun tubuh sudah terasa mulai rapuh.

Pada waktu itulah Jara, usia tua dan Bhaya, kecemasan mulai menghantui manusia. Pengawal manusia ular berkepala lima mulai berkurang kekuatannya, lima prana dalam tubuh manusia mulai melemah. Biasanya seorang raja yang sadar makna kehidupan, istananya diserahkan kepada putra mahkota dan dia menjalani vanaprashta, pergi ke hutan hanya berfokus pada Gusti Pangeran mempersiapkan kematian.

Dikisahkan Balatentara Yavana, Kecemasan menyerang 9 gerbang manusia, dan mana yang lebih lemah diserang lebih dahulu. Demikian, perampok Candavega semakin menjarah manusia sampai datangnya Prajvara, demam menjelang kematian. Bila seeorang belum full time job memikirkan spiritual, bila masih saja disibukkan dengan urusan keluarga, pada saat menjelang ajal yang dipikirkan pun masih keluarganya.

Prajvara, demam menjelang kematian dikisahkan membakar istana, semua anak-cucu dibakar. Bagian-bagian tubuh, angota tubuh, otot, darah adalah anak-cucu yang dihancurkan Prajvara. Masih juga Puranjana enggan keluar maka dia dipukul keluar. Dikisahkan badan halus yang dikiaskan sebagai ular menyelamatkan diri keluar dari tubuh karena kepanasan. Tenggorokan sering mampet. Menyebut nama Krishna atau Gusti Pangeran atau Allah atau Om sudah sulit sekali.

Dikisahkan Puranjana sebelum meninggal hanya berpikir tentang istri dan anak cucunya. Maka dia dipastikan akan lahir lagi sebagai bayi perempuan yang dalam hal ini adalah Putri Vaidharbi. Karena tumpukan kebaikan Puranjana dia lahir sebagai putri Raja Vidharba dan kawin dengan Raja Bijak Malayadhvaja Pandya. Bandingkan dengan kematian Raja Malayadhvaja Pandya yang sudah melakukan Vanaprahta dan menjadi Sanyasi dan berfokus pada Gusti Pangeran. Sebelum ajal sang raja hanya memikirkan Gusti Pangeran saja. Seorang politisi atau nasionalis akan melanjutkan profesinya bila menjelang ajal yang dipikir hanya bangsanya. Kalau tumpukan kebaikannya besar maka dia akan sukses melanjutkan obsesinya.

Sebelum lahir lagi, Puranjana yang suka membunuh binatang ditunggu oleh para binatang yang dibunuhnya. Dia akan merasakan kesakitan seperti sakitnya para binatang yang dibunuhnya.

Seseorang yang telah sadar seperti Vaidharbi akan ditemui Avijnata, brahmana yang mengingatkan makna kehidupan agar dia dapat mempersiapkan diri menghadapi kematiannya.

Kesimpulannya seseorang harus sadar akan tindakannya, setelah paruh baya meninggalkan tugas pekerjaan yang biasa dilakukannya untuk melakukan bhakti, pelayanan kepada sesama dan hanya berfokus pada Gusti Pangeran.

 

Sangkan Paraning Dumadi, Asal Tujuan Kejadian

“Kita semua ‘terbuat’ dari zat yang sama, substansi kita sama: Ruh. Namun, ketika ‘keluar’ dari Ruh, kita memperoleh kemampuan untuk berpikir secara terpisah. Kemampuan itu memberi kebebasan, sekaligus membuka kemungkinan bagi terjadinya kesalahan. Jika kita tidak menyadari hubungan kita dengan sumber, dengan Ruh, dengan Allah Bapa, maka terjadilah kesalahan. Awalnya, pikiran kita yang salah, kemudian perbuatan. Tanpa kesadaran akan hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, pandangan kita menjadi terbatas, sempit. Kita tidak bisa melihat kebenaran secara utuh sehingga kesimpulan kita sudah pasti salah. Merosotnya kualitas hidup, kekuatan diri, dan intelijensia atau kebijaksanaan kita selalu dalam proporsi yang persis sama dengan kemerosotan kesadaran yang kita alami. Dan, dengan kemerosotan kesadaran yang dimaksud adalah kealpaan kita akan hubungan dengan Sumber Hyang Tunggal, Roh, Allah Bapa Hyang Maha Bijak, Kehidupan Abadi. Yesus menemukan dunia dalam keadaan sakit parah karena merosotnya kesadaran manusia. Kemerosotan itu pula yang menyebabkan manusia mengejar kenikmatan indrawi secara berlebihan; menimbulkan rasa takut dan khawatir; kemudian, tenggelam dalam lautan penuh derita.” (Krishna, Anand. (2010). A NEW CHRIST, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing. Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

cover-buku-a-new-christ

 

Kita semua adalah Puranjana yang menjadi satu dengan Avijnata, kemudian mengembara dalam berbagai bentuk sampai akhirnya menjadi manusia. Lupa diri sejati kita, kita hanya mengejar kenikmatan indrawi sehingga terjadi kemerosotan kesadaran.

Puranjana harus lahir lagi sebagai Vaidharbi yang lembut yang patuh pada Sang Guru yang mewujud sebagai Raja Pandhya. Setelah itu baru bisa bertemu lagi dengan Avijnata Sang Gusti Pangeran.

Hanya 2 atau 3 tulisan tentang Kisah Puranjana, dari perpisahan dari Sang Gusti sampai tujuan Gusti lagi. Leluhur kita mempunyai istilah “sangkan paraning dumadi”, asal dan tujuan kejadian. Akan tetapi dalam praktek kita semua sudah menjadi Puranjana dalam berkali-kali kehidupan dan belum lahir lagi menjadi Vaidharbi yang lembut patuh pada Sang Guru sampai bertemu kembali dengan Sang Gusti……

Rishi Narada menguraikan ilmu Brahmavidya kepada raja Prachinabarhisat bahwa satu-satunya cara yang telah membantu manusia untuk belajar tentang Kebenaran adalah bhakti kepada Narayana, Gusti Pangeran. Narayana, Gusti Pangeran adalah segalanya, Ia adalah tempat perlindungan dari semua penderitaan. Bhakti kepada Gusti Pangeran membuat pikiran terlepas dari objek duniawi sehingga dapat menyadari jati diri. Atman, jiwa  sejatinya tidak berbeda dengan Paramatman, Jiwa Yang Agung (Puranjana yang sejatinya tidak berbeda dengan Avijnata).

Silakan ikuti penjelasan 1 putri dan 7 putra Vaidharbi pada kisah selanjutnya…….

 

Catatan:

Mengalihkan kesadaran pada diri sendiri. Inilah Meditasi. Selanjutnya, kendalikan napasmu, karena dengan terkendalinya napas, pikiranmu akan terkendali. Buku Sutasoma

Sudahkah kita mulai latihan meditasi?

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n

Kisah Nabi Musa dan Para Ahli Sihir Ilmu Hitam #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , , on February 24, 2017 by triwidodo

buku-masnawi-1-musa-melawan-tukang-sihir-firaun

Kendati tidak sepaham dengan Nabi Musa dan malah ingin bersaing dengan beliau, para ahli ilmu hitam di Mesir tetap saja menghormati Sang Nabi. Mereka mempersilakan Nabi Musa untuk lebih dahulu menunjukkan mukjizat.

Sang Nabi menjawab, “Jangan saya, kalian saja yang  mengawalinya.”

Demikian, semakin bertambah rasa hormat mereka terhadap Sang Nabi, sehingga setelah melihat mukjizat Nabi—mereka bertobat…..

 

Dimana letak perbedaan antara Nabi Musa dan para ahli ilmu hitam yang mengelilingi Firaun? Mereka menunjukkan mukjizat, Nabi Musa pun menunjukkan mukjizat.

Ilmu Hitam atau Putih—bukankah semuanya berasal dari Tuhan? Mana ada kekuatan yang bisa menandingi Allah? Katakanlah yang “hitam” berasal dari Setan. Bisakah Setan berperan, jika tidak dihendaki oleh Tuhan? Mampukah dia melawan Tuhan? Bisakah dia bersaing dengan Tuhan? Jelas tidak bisa…

Anggap saja “yang putih” dari Tuhan langsung dan “yang hitam” tidak langsung, karena harus melewati Setan. Jika ditarik benang ke belakang, sebelum ada Setan, sebelum ada ilmu hitam dan ilmu putih, siapa Yang Ada? Tuhan, bukan?

Lalu, apa yang membedakan Musa dan para ahli sihir? Para ahli ilmu hitam, para ahli sihir itu arogan, sombong, angkuh. Sedangkan Musa lembut, polos, tulus. Mereka suka pamer; Musa tidak. Mereka menggunakan kekuatan pikiran untuk mengadakan mukjizat. Dan pikiran itulah Setan—energi  sekunder yang sudah terkontaminasi karena interaksi kita dengan dunia luar. Sementara Musa menggunakan rasa, hati—Energi Ilahi yang masih Murni, tidak tercemar.

Rumi menegaskan:

 

Manusia Allah bagaikan mulut. Tugasnya adalah  menyampaikan Pesan Allah. Engkau yang masih harus belajar mendengar, jangan membukamulutmu. Jangan cepat-cepat meniru Manusia Allah.

Seorang bayi yang baru lahir harus belajar mendengar. Setelah mendengar untuk sekian lama, ia baru belajar bicara. Seorang bayi yang tuli, yang tidak bisa mendengar, menjadi bisu. Tidak bisa bicara.

cover-buku-masnawi-1

Kita belum cukup mendengar, tetapi sudah cepat-cepat ingin bicara. Hasilnya apa? Suara-suara tidak keruan. Berisik, tak berguna!

Tidak mau belajar, tetapi ingin menjadi guru. Tidak mau dituntun, tetapi ingin menjadi penuntun.

Padahal kata Rumi:

 

Adam pun harus belajar—ya, belajar menangis.  Karena itu, ia turun clari ketinggian Taman Firdaus ke dunia fana ini.

Jika kau rnenganggap dirimu sebagai turunan Adam, belajarlah darinya: belajar menangis. Siramilah Taman-Jiwamu dengan air mata…..

Sayang, kau belum bisa menghargai air mata. Kau masih mengejar hal-hal sepele yang tak berguna. Berhenti mengejar semua itu, maka kantongmu akan diisi dengan permata dan mutiara yang tak terhingga nilainya.

 

Kantong kita hanya satu. Dan sementara ini penuh dengan batu kerikil. Ada yang ingin mengisinya dengan berlian, dengan permata dan mutiara—tetapi mana kantongmu? Kamu harus mengosongkannya terlebih dahulu.

Sementara ini yang kita miliki hanyalah batu kerikil, sehingga yang kita bagikan juga kerikil. Mau membagikan berlian dan permata dari mana? Bagaimana bisa membagikan sesuatu yang tidak kita miliki?

Rumi sedang bicara tentang mind,yang berisikan pikiran-pikiran kacau— “batu-batu Kerikil Pikiran” yang justru membebani jiwa.

Pikiranlah yang menjatuhkan kita dari ketinggian Taman Firdaus. Pikiran pula yang “menjauhkan” kita dari Allah Yang Maha Dekat Ada-nya. Pikiran yang sibuk mengejar dunia bayang-bayang. Pikiran yang membuat kita lupa akan Dia Yang Terbayang. Pikiran yang membuat kita mencucurkan air mata untuk hal-hal sepele. Pikiran yang menghalangi pengembangan rasa, sehingga kita tidak pernah merindukan “Sang Maha Pemberi”. Yang kita rindukan hanyalah “pemberian-Nya”.

Dan, untuk itu Rumi memberi peringatan:

 

Jika wajahmu masih murung dan tidak bercahaya, ketahuilah bahwa yang menyusui kamu adalah Setan. Cara kamu mencari uang tidak wajar. Dan makanan yang kau beli dengan uang itu tidak halal.

 

Cara Rumi menafsirkan istilah “halal” dan “haram” akan membingungkan para ahli  agama. Rumi melampaui segala macam tafsiran dogmatis. Bagi seorang Rumi, agama sangat dinamis. Karena itu, perlu didefinisikan ulang dari waktu ke waktu.

Ajaran agama harus bersifat universal, harus relevan dengan segala zaman. Sementara, dogma-dogma yang kita anut sekarang sudah hanyak yang tidak lagi relevan dengan jaman. Lagipula, sudah jelas-jelas tidak bersifat universal.

Bagi seorang Rumi, “halal” dan “haram” tidak sebatas cap di atas bungkus mie instan. Dia akan bertanya, uang yang anda pakai untuk membeli mie itu diperoleh dengan  cara halal atau haram?

Saya pernah kenal dekat seorang pejabat  tinggi. Dia berkelakar, “Uang yang saya pakai untuk belanja keperluan dapur sudah pasti halal. Dari gaji saya, koq.”

“Lalu bagaimana dengan yang lain-lain…?” tanya saya, karena memang sudah  kenal balk.

“Lha ya, tidak ada peraturannya koq. Untuk beli kaca mata Cartier untuk beli ikat pinggang Dunhill, untuk beli jam tangan Piaget, dan untuk beli pulpen Mont Blanc—itu kan tidak dilarang. Bisa-bisa saja pakai uang lain, dong!”

Saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Demikianlah cara kita mencari pembenaran. Demilaianlah cara kita memisahkan halal dari haram.

Lalu bagaimana dengan uang yang kita gunakan untuk menguliahkan putra-putri kita di luar negeri? Harus pakai uang apa? Kalau pakai “uang panas”, berarti gelar yang mereka peroleh juga ”haram”. Lalu jabatan tinggi yang mereka duduki berkat gelar itu juga “haram”. Kepemimpinan mereka pun haram. Keputusan-keputusan yang mereka ambil pun haram.

Tolok ukurnya apa? Dengarkan Rumi, “Jika wajahmu masih murung dan tidak bercahaya, ketahuilah bahwa yang menyusui kamu adalah Setan. Cara kamu mencari uang tidak wajar. Dan makanan yang kau beli dengan uang itu tidak halal.”

Dengan menyumbang sekian persen dari uang hasil korupsi dan rampasan anda bisa saja memperoleh “sertifikat halal”, tetapi bagaimana bisa menipu diri sendiri? Bagaimana bisa menenangkan pikiran yang tidak tenang? Bagaimana bisa menenteramkan hati yang  tidak tenteram? Bagaimana bisa menghapuskan tanda-tanda kemurungan dari wajah anda? Bagaimana membuat wajah anda  berkilau, bercahaya?

Rumi melanjutkan:

 

Jika caramu mencari uang ituwajar, jika makanan yang kau beli dari uang itu halal,  maka wajahmu akan berkilau, bercahaya:

Makanan yang halal, dan dibeli dengan uang  halal akan menghasilkan kesadaran kebijakan, kelembutan dan kasih.

Rasa iri, tipu muslihat, ketidaksadaran dan ketidakpedulian—semuanya dihasilkan dari makanan haram yang dibeli dengan uang haram.

 

Kesimpulan Rumi berbeda dari para “ahli” yang mengatakan bahwa kerusuhan dan penjarahan terjadi karena kesenjangan sosial. Kesenjangan sosial bisa terjadi, tetapi jika kesenjangan sosial menimbulkan rasa iri dalam diri kita, jika kita mulai menjarah dan merampas harta orang, maka terbuktilah bahwa kita masih disusui oleh Setan pikiran. Kita masih merupakan putra-putri  Setan. Masih belum bisa disebut putra-putri Tuhan. Masih belum layak menyebut diri “turunan Adam”.

 

Makanan adalah benih pikiran. Bila makananmu halal, kamu akan selalu memikirkan Tuhan. Akan selalu berupaya untuk melayani-Nya. Untuk selalu mengabdi kepada-Nya.

 

Ada yang bertanya, “Bagaimana menjaga keseimbangan antara materi dan rohani, sehingga Tuhan pun selalu teringat dan kantong pun selalu terisi?”

Si penanya tidak sadar bahwa pertanyaannya berbau “syirk”. Bagi dia, materi adalah isi  kantong. Dan rohani adalah Tuhan. Dia sudah jelas-jelas “menduakan” Allah. Bagi dia “isi kantong” dan “Tuhan” adalah dua hal yang berbeda, tetapi berdiri bersama. Dan dia ingin memiliki dua-duanya.

Pertanyaan semacam ini muncul karena penglihatan kita tidak jelas, karena pikiran kita tidak jernih. Dan pikiran tidak jernih, karena makanan kita tidak halal.

Kalau makanan kita halal, pertanyaan semacam itu tidak akan pernah muncul. Keseimbangan apa yang hendak kita bicarakan? Bisakah terjadi keseimbangan antara isi kantong dan Allah? Mustahil!

Jika makanan kita halal, kita akan senantiasa mengingat Allah. Tidak akan membicarakan keseimhangan. Tidak akan menduakan-Nya. Apa pun yang kita lakukan semata-mata untuk melayani Dia. Hidup ini menjadi sebuah pengabdian. Jangan memikirkan gaji. Itu urusan Majikan. Bisakah kita bersikap demikian? Bisakah saya dan anda, dan kita semua, bersikap demikian? Kalau sudah bisa, ucapkan syukur Alhamdulillah… Dan berdoalah agar kesadaran anda tidak merosot, supaya anda selalu bersikap demikian.

Jika belum bisa, ketahuilah bahwa makanan anda belum halal. Cap di atas bungkusan mie tidak mampu “menghalalkan” makanan anda. Amal saleh dan perjalanan suci pun tidak akan mencuci dosa-dosa anda. Bertobatlah, berpalinglah Ke jalan yang benar. Tidak perlu mencuci dosa pakai deterjen. Cukup mengakuinya dan tidak mengulanginya lagi. Dan yang terakhir, ini penting sekali, “tidak mengulanginya lagi”. Hanya mengakuinya saja tidak berguna sama sekali.

Layani suami, isteri dan keluargamu, karena mereka adalah makhluk-makhluk Allah. Bukan karena mereka adalah pasangan-“mu” atau anak-“mu” atau saudara-“mu” atau orangtua-“mu”.

Kembangkan rasa peduli terhadap masyarakat, terhadap lingkungan, terhadap binatang-binatang tak bersalah yang anda sembelih, karena semuanya Ciptaan Allah…

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

16507904_607845372736503_4157403851028120712_n

Kisah Puranjana: Evolusi Manusia Melalui Banyak Wujud #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on February 22, 2017 by triwidodo

buku-bhagavatam-puranjana-evolusi-dna

Lahir Kembali

“Sesaat sebelum Jiwa berpisah dari Badan – Sesaat sebelum perpisahan itu betul-betul terjadi, mulailah pertunjukan kolosal – film tentang hidup kita. Saat itu terjadi penyesalan, muncul keterikatan, dan sebagainya. Dan, apa yang terjadi saat itu menjadi benih bagi kehidupan berikut.” Dikutip dari Penjelasan Bhagavad Gita 8:10 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Menjelang ajal Raja Puranjana mengingat akan Puranjani, istrinya dan anak keturunannya. Dia cemas akan nasib istri dan anak keturunannya. Karena sebelum ajal yang dipikirkan adalah istrinya, maka dia dilahirkan lagi sebagai wanita, Vaidharbi, putri Raja Vidharba. Berkat kebaikan-kebaikan masa lalunya, Puranjana lahir menjadi Vaidharbi, putri raja dan kawin dengan Raja Malayadhvaja Pandya yang saleh dan bijaksana. Vaidharbi dan Pandya mempunyai anak putri satu orang dan putra tujuh orang.

 

Masa Vanaprashta

“Masa Vanaprastha selambat-lambatnya pada usia 60 tahun, para orangtua yang telah menyelesaikan tugas dan kewajiban terhadap anak-anak mereka, mesti meninggalkan rumah untuk bermukim di vana, wana, atau hutan untuk selanjutnya ‘sepenuhnya’ mendalami laku spiritual. Ya, dalam masa Vanaprastha, laku spiritual menjadi full time job. Tidak lagi mengurusi dunia dan kebendaan, tetapi mengurusi diri, mengurusi jiwa, dan melayani sesama manusia, sesama makhluk secara purnawaktu.

“Para Vanaprasthi atau pelaku Vanaprastha Ashram boleh juga bergabung dengan salah satu ashram dalam arti padepokan yang di masa lalu berada di tengah hutan.

“Vanaprastha Ashram mesti dimaknai kembali… Vanaprastha dalam konteks modern mesti diterjemahkan sebagai pelepasan diri dari ketergantungan pada materi. Materi masih dibutuhkan untuk bertahan hidup. Namun, ya sebatas itu saja, untuk bertahan hidup, dan sisanya untuk berbagi kehidupan. Tidak lagi mengejar kemewahan. Kenyamanan boleh saja, tetapi tidak lagi mengejar kenikmatan hidup berlebihan. Untuk itu seseorang boleh masuk hutan, pindah ke kampung kelahirannya dan melayani warga sekampung yang barangkali membutuhkan pelayanan, atau bergabung dengan suatu lembaga spiritual secara purnawaktu dan mengabdikan dirinya, apa saja yang memungkinkan. Intinya, ia tidak lagi mengurusi benda dan kebendaan, dan hidup dalam pengertian simple living, bukan impoverish living atau menjadi miskin dan bergantung pada belas kasihan orang lain.”  (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

cover-buku-sanyas-dharma

Setelah mencapai usia paruh baya, Pandhya, sang raja menyerahkan tahtanya kepada putra mahkota dan menjalani kehidupan Vanaprashta di hutan dan menjadi sanyasi dengan hanya terfokus kepada Gusti Pangeran. Vaidharbi mengikuti suaminya, berdua menjadi sanyasi di hutan hanya fokus kepasa Gusti Pangeran. Sebuah peningkatan kesadaran. Bila sebelumnya sebagai Puranjana hanya menghabiskan usia dengan kesenangan, kini sebagai Vaidharbi yang sadar tubuhnya melemah karena usia, dia mengikuti sang suami hidup berfokus pada Gusti Pangeran.

Raja Pandya hanya berfokus pada Gusti Pangeran sampai saat Dewa Yama menjemputnya. Vaidarbhi menangis sedih. Memang seharusnya demikian. Sang suami adalah Guru Spiritualnya. Ketika tubuh fana dari Guru berakhir, murid-muridnya harus menangis, persis seperti Vaidharbi menangis ketika sang raja meninggal. Namun, murid dan Guru tidak pernah bisa dipisahkan, karena Guru selalu menjaga hubungan dengan murid selama murid tersebut patuh melakoni instruksi dari Gurunya. Selama Guru hadir secara fisik, murid harus melayani tubuh fisik dari Guru, dan ketika Guru tidak lagi ada secara fisik, murid harus melakoni instruksi dari Guru.

Kala Vaidarbhi sedang menyiapkan ritual pembakaran suami dan dirinya, seorang brahmana datang dan bertanya, “Kamu ingat saya?” Puranjana yang sudah lahir sebagai Vaidharbi mulai ingat siapa brahmana yang menyapa dirinya. Brahmana tersebut berkata, “Saya adalah sahabatmu yang paling dekat, Avijnata. Pada waktu itu kau meninggalkan aku mencari tempat yang sesuai seleramu, dan akhirnya kau tertarik masuk Kota Bhogavati, kamu melupakan alam keilahian. Beruntung, kamu lahir lagi, mempunyai suami yang taat kepada Gusti Pangeran yang dapat memengaruhi dirimu sehingga kesadaranmu meningkat dan bisa bertemu kembali dengan-Ku. Sejatinya kau bukan Puranjana, bukan pula Vaidharbi, kau adalah proyeksi dari-Ku. Pikiranmu membuat kau semakin menjauh dari-Ku”

Raja Prachinabarhisat larut dalam kisah Narada dan Narada melanjutkan………

 

Makna Puranjana

“Aku mati sebagai mineral dan menjelma sebagai tumbuhan, aku mati sebagai tumbuhan dan lahir kembali sebagai binatang. Aku mati sebagai binatang dan kini manusia. Kenapa aku harus takut ? Maut  tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.

“Sekali lagi, Aku masih harus mati sebagai manusia. Dan lahir di alam para malaikat. Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat, Aku masih harus mati lagi, Karena, kecuali Tuhan, Tidak ada sesuatu yang kekal abadi. Setelah kelahiranku sebagai malaikat, Aku masih akan menjelma lagi dalam bentuk yang tak kupahami. Ah, biarkan diriku lenyap, Memasuki kekosongan, kasunyataan. Karena hanya dalam kasunyatan itu  terdengar nyanyian mulai;

“Kepada Nya, kita semua akan kembali” (Jalaluddin Rumi) Terjemahan Puisi Jalaluddin Rumi tersebut menjelaskan tentang reinkarnasi dalam buku (Krishna, Anand. (2002). Kematian, Panduan Untuk Menghadapinya Dengan Senyuman. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

buku-bhagavatam-puranjana-kota-9-gerbang

Puranjana adalah penghuni kota, penghuni tempat, penguasa raga, yang menghidupi tubuh. Setiap makhluk adalah Puranjana. Raja dari tubuhnya. Karena ketidaktahuan maka dia menganggap wujudnya sebagai identitasnya, menuruti indra, melayani indra, mencari kepuasan dari indra.

Puranjana mengembara, mencari kota (tubuh) yang tepat sesuai seleranya. Ia melakukan perjalanan pada seluruh ciptaan, disebut 8.400.000 species hidup dan trilyunan planet penciptaan. Puranjana berpindah-pindah tubuh mencari tubuh yang sesuai dengan seleranya. Ini  adalah perjalanan evolusi yang sangat panjang yang dicatat dalam genetika dari mineral, tanaman, hewan sampai manusia. Perhatikan puisi Rumi di atas.

Dalam buku Genom, Kisah Species Manusia oleh Matt Ridley terbitan Gramedia 2005, disebutkan bahwa Genom Manusia – seperangkat lengkap gen manusia – hadir dalam paket berisi dua puluh tiga pasangan kromosom yang terpisah-pisah. Penulis Buku tersebut membayangkan genom manusia sebagai semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya – berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species  kita serta nenek moyangnya sejak pertama kehidupan di jagad raya. Genom telah menjadi semacam otobiografi untuk species kita yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini berisi 23 Bab, tiap Bab berisi beberapa ribu Gen. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku dengan tebal 400-an halaman.

Puranjana mengembara dalam berbagai jenis tubuh guna memenuhi upaya untuk menikmati indra. Sampailah pengembaraan Puranjana ke kota bernama Bhogavati, kota kesenangan”. Kota tersebut mempunyai sembilan gerbang untuk memenuhi kebutuhan penduduk kota. Sembilan gerbang adalah 9 lubang tubuh manusia: 2 mata, 2 telinga, 2 lubang hidung, 1 mulut, 1 dubur, dan 1 lubang kemaluan. Puranjana akhirnya menghuni tubuh manusia. Ular berkepala 5 adalah 5 praana.

Etheric body terbuat dari 5 energi

Etheric-Body ini terbuat dari 5 Praana. Praana, di sini, lebih tepat bila diterjemahkan sebagai kekuatan, energi. Yang pertama disebut Praana juga. Inilah Energi Murni di dalam diri manusia. Setiap kali Anda menarik napas dan membuang napas, terciptalah energi. Energi ini disebut Prana. Kedua disebut Samana. Tetap dihasilkan oleh napas, tetapi khusus untuk membantu pencernaan. Lalu, sebagai hasil pencernaan terciptalah Ojas atau Tejas…..Ketiga adalah Vyana, energi yang membantu Ojas dan Tejas hasil pencernaan, serta prana hasil napas , menyebar ke seluruh badan. Sarana yang digunakannya adalah pembuluh darah dan jaringan saraf….. Keempat adalah Apana, yaitu energi yang mendesak kotoran-kotoran di dalam Udana badan agar keluar. Ketika Anda membuang napas misalnya, CO2 membutuhkan dorongan Apana untuk keluar lewat hidung atau mulut. Ketika Anda membuang air besar atau air kecil, atau bahkan mengeluarkan kentut, yang berperan adalah Apana…. Kelima Udana, yaitu energi yang mendesak soul atau roh keluar dari badan. adalah energi yang paling penting. Sebab energi Prana dan lain-lain bisa berjalan sendiri, bisa berkembang sendiri. Sebaliknya, energi Udana harus dikembangkan. Bila tidak, saat kematian kita akan menderita. Sulit bagi roh untuk keluar dari badan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sepuluh penjaga adalah panca indra dan 5 organnya: yang melihat dan mata, yang mendengar dan telinga, yang meraba dan kulit, yang mengecap dan lidah, yang membaui dan hidung. Puranjani sang gadis cantik adalah pikiran kita.

Puranjana merasa nyaman dalam tubuh manusia dan kawin dengan pikiran. Puranjana lupa dan merasa dia adalah pikiran. Merasa aku adalah pikiranku. Karena maya lupa sejarah panjang dia bukan pikiran, bukan tubuh dia adalah penghuni tubuh.

Silakan ikuti penjelasan cara kematian Puranjana dan bagaimana cara mati yang baik, apa yang dilakukan sebelum ajal tiba dalam lanjutan kisah ini:

 

Catatan:

Bagaimana cara menyadari bahwa aku adalah penghuni tubuh ini? Aku bukan tubuhku, aku bukan pikiranku?

Silakan latihan meditasi secara rutin agar kita dapat berpikir jernih.

Ajarkan Aku Bahasa Hewan! Kisah #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on February 20, 2017 by triwidodo

buku-masnawi-3-musa-bahasa-hewan

Seorang pemuda mendesak Nabi Musa, “Ajarkan aku bahasa hewan, ya Rasul Allah. Lewat bahasa mereka, mungkin aku bisa memahami  sesuatu yang bersifat batiniah. Karena, bahasa manusia hanya mengurusi keperluan lahiriah.”

 

Rumi sedang menyindir kita. Sindirannya halus, tetapi tegas—Jelas. Selama ini kita memang sibuk mengurusi keperluan dan keinginan lahiriah. Kalaupun bicara agama, masih sepenuhnya terkait dengan hal-hal yang bersifat lahiriah. Berdoa untuk memperoleh jodoh. Melakukan perjalanan suci karena baru naik pangkat. Ya, begitulah! Rumi kegerahan dan dia meminjam mulut pemuda dalam kisah ini untuk mengomeli kita…

 

Nabi Musa menjawab, “Janganlah engkau berkeinginan macam-macam. (Pencarianmu selama ini salah). Kesadaran rohani, pengalaman batiniah, hanya dapat diperoleh dengan menyelami) Tuhan. Tidak bisa diperoleh lewat bacaan maupun wejangan.”

 

Jawaban Nabi Musa tepat sekali. Pencarian pemuda itu memang salah. Dia mencari pengalaman batin lewat “bacaan dan wejangan”. Lewat buku, tulisan, ceramah, ungkapan, dun lain sebagainya. Jelas dia tidak akan mendapatkannya. Pengalaman batin harus diperoleh dengan menyelami batin itu sendiri. Apabila Tuhan dapat dia rasakan lebih dekat daripada urat leher, apabila kerajaan-Nya berada di dalam diri kita, apabila Dia meliputi segala-galanya, maka untuk “bertemu” dengan Dia, kita harus berhenti berkeliaran di luar diri.

Baik bahasa manusia maupun bahasa hewan, dua-duanya menjauhkan kita dari  diri sendiri. Bahasa merupakan sarana komunikasi. Dan untuk berkomunikasi, anda membutuhkan seorang “lawan”. Kalau tidak ada, mau berkomunikasi dengan siapa?

Ketika anda melakukan perenungan atau berkomunikasi dengan diri sendiri, sesungguhnya anda menciptakan “lawan” di dalam diri. Ada “sesuatu” yang sedang bicara dengan “yang lain”. Katakan ada “pikiran” dan ada “suara hati”. Ada “dua”, padahal anda “satu”!

Untuk berkomunikasi dengan “pihak luar” bahasa jelas dibutuhkan. Tetapi untuk berhubungan dengan “diri sendiri”, apakah bahasa masih dibutuhkan juga? Mereka yang telah menyelami alam meditasi tahu persis bahwa “hubungan dengan diri” justru terjadi ketika “bahasa dan kata-kata” sudah terlampaui, terlepaskan. Bahasa dan kata-kata justru selalu menghalang-halangi hubungan tersebut.

Kisah ini sungguh indah:

 

Pemuda itu masih saja mendesak Musa. Sang Nabi pun berpikir dalam hati, “Apabila saya mengajarinya, akan berbahaya bagi diri dia sendiri. Apabila saya tidak mengajarinya, dia akan bersedih hati. Ya Allah, Ya Rabb, apa yang harus saya lakukan?”

Tuhan menjawab, “Kabulkan perrnintaannya. Karena kami tidak pernah menolak permohonan seseorang.”

“Tetapi dia sendiri akan menyesali permintaannya itu….,” kata Musa.

cover-buku-masnawi-3

                Kekuatan, kedudukan dun kekuasaan justru bisa mencelakakan manusia. Bilamana dia tidak mampu menahan diri, bilamana dia tidak bisa menjaga keseimbangan diri, maka kesadarannya akan pasti merosot. Demikian penjelasan Rumi.

Lebih lanjut, Sang Maulana juga menegaskan bahwa mereka yang sedang mengejar semua itu sesungguhnya diperbudak oleh hawa nafsu dan keinginan yang liar. Mereka terperangkap dalam kesadaran lahiriah.

Dalam bahasa Rumi, mereka sudah terbiasa makan tanah, sehingga diberi manisan mereka tidak akan menghargainya. Bahkan tidak dapat mencernanya.

Melanjutkan kisah ini:

 

Tuhan menjawab, “(Bagaimanapun juga), kabulkan permohonannya. Beri dia kesempatan untuk memilih, mana yang baik dan mana yang tidak baik (bagi dirinya). Beri dia pedang dan biarlah dia sendiri yang menentukan mau membela mereka yang lemah atau justru menindas mereka dengan pedang itu!”

Walau sudah dijinkan oleh Tuhan, Musa masih saja berupaya agar pemuda itu mengurungkan niatnya, “Apa yang kau minta itu bisa rnencelakakan dirimu. Lebih baik lupakan saja.”

Si pemuda berpikir sebentar, lalu menanggapi Nabi, “Begini Nabi, ajarkan saya dua bahasa saja. Bahasa anjing yang menjaga pintu dan bahasa unggas yang berada di dalarn rumahku.”

“Baiklah, engkau akan memahami bahasa mereka.” Akhirnya Musa menyerah juga.

 

Pemuda dalam kisah ini mewakili saya dan anda—mewakili kita semua. Awalnya keren banget, dia mau belajar bahasa hewan untuk mendalami batin. Alasan belaka. Ternyata apa? Dia hanya ingin memahami bahasa anjing penjaga pintu dan bahasa unggas yang setiap saat bisa disembelih dan dimakan.

Anjing mewakili keamanan, keselamatan, kenyamanan. Kalau ada anjing penjaga rumah, anda bisa tidur nyenyak. Kemudian unggas, binatang yang satu ini mewakili umpan bagi pancaindra. Setiap indra sedang mencari kepuasan. Selalu, setiap saat. Mereka membutuhkan “unggas” yang bisa dipelihara di dalam rumah, sekaligus disembelih dan dimakan kapan saja. Yang sedang kita cari memang dua binatang itu. Yang sibuk kita pelajari memang bahasa mereka.

Musa tahu bahwa kedua “bahasa” tersebut tidak pernah membantu manusia. Bahkan yang namanya “bahasa” tidak pernah membantu mannsia. Setidaknya untuk menyelami diri, untuk meniti jalan ke dalam diri, bahasa justru menjadi penghalang. Tetapi, apa boleh buat? Pemuda itu ngotot…..

Dengarkan lanjutan kisah ini:

 

Esoknya, dia mendengar anjing dan unggas meributkan sepotong roti. Si anjing mengeluh, “Kamu kan bisa makan biji-bijian, padi, apa pun. Biarkan aku yang makan roti ini.”

Unggas menjawab, “Jangan ribut, Kang.Besok pagi, si kuda tua milik majikan kita itu akan mati. Kamu bisa berpesta pora. Roti ini untuk aku saja.”

Maka si anjing mengalah. Dan Sang Majikan bersyukur telah mendengar pembicaraan rnereka. Hari itu juga dia menjual kudanya. “Biar si pembeli yang rugi, kenapa aku?” Pikir dia.

Esoknya, si anjing mengeluh, “Eh unggas, kamu pembohong. Katanya kuda tua itu akan mati.”

“Memang mati. Tetapi apa boleh buat, kemarin sudah dijual oleh majikan kita. Jadi, ya mati di rumah majikannya yang baru. Tetapi jangan khawatir, Kang. Besok si keledai akan mati.” Si unggas memberi harapan baru.

Sang majikan yang mendengar hal itu, langsung menjual keledainya. Biar mati di rumah pemiliknya yang baru. Maka esoknya si anjing mengeluh kembali.

“Jangan menyalahkan aku, Kang. Keledai pun mati, tetapi di rumah pemiliknya yang baru. Begini, besok pagi si budak akan mati. Nah, keluarganya pasti membagikan makanan kepada fakir miskin dan anjing-anjing sekampung,” kata unggas.

Si majikan tidak mau rugi, maka budak itu pun berpindah tangan (Untuk pertama kali, saya harus menggunakan istilah budak. Selama ini, saya menggunakan istilah “pembantu”, padahal yang dimaksudkan adalah budak. Khusus untuk kisah ini, terpaksa saya menggunakan  istilah “budak” karena “pembantu” tidak bisa dijual—a.k.).

Esoknya, si anjing marah besar, “Koq begini jadinya!”

Si unggas menjawab, “Jangan khawatir, kali ini tidak salah lagi, yang mati majikan kita. Nah, besok pagi anaknya pasti memberi korban. Pasti menyembelih sapi. Kamu berpesta, deh…”

Mendengar ramalan tentang kematiannya, si majikan berkeringatan. Seluruh badan basah kuyup. Berlari-lari dia mcndatangi kemah Musa, “Nabi, lindungilah aku.”

“Lindungi kamu? Bukannya kamu sudah cukup pintar untuk melindungi diri? Selama ini kamu sudah berhasil melindungi diri kerugian,” kata Musa.

“Maafkan aku, Nabi.” Dan pemuda itu mulai menangis terisak-isak.

“Anak panah yang sudah dilepaskan tidak bisa kembali lagi. Saya hanya bisa berdoa agar imanmu dan keyakinanmu menyertai kamu.”

Belum selesai mcndengar jawaban Sang Nabi pemuda itu merasa mual. Seperti ingin muntah. Dibantu oleh mereka yang mengantarnya, dia pulang ke rurnah. Pikir dia, rasa mual itu disebabkan oleh salah makan. Dan kalau sudah muntah, rasa mualnya akan hilang. Dia masih tidak sadar bahwa ajalnya sudah dekat.

Esok harinya Musa berdoa, “Ya Allah, Ya Rabb. Biarkan iman dia, keyakinan dia menyertai dia. Lindungilah dia.”

Tuhan menanggapi doa yang berasal dari hati yang tulus itu, “Musa, jika engkau menghendakinya, akan Kubangkitkan kembali jasadnya yang sudah tak bernyawa.”

“Tidak, Tuhanku. Tidak. Apa gunanya kebangkitan dalam dunia ini, dunia yang sedang menuju kematian? Bangkitkan dia dalam alam yang bercahaya itu….”

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n

Demi keamanan, keselamatan dan kenyamanan diri, manusia melakukan apa sajaa. Orang lain merugi, tak apa. Asal kita untung terus. Tetapi sampai kapan? Selama untung-rugi dikaitkan dengan hidup-mati, maka apa pun yang dia lakukan, kematian tak bisa dihindari.

Sementara itu, kebahagiaan yang kita kejar juga tidak membahagiakan”. Kita pikir dengan mengikuti kemauan pancaindra kita akan bahagia. Tidak terpikir bahwa kemauan pancaindra tidak pernah habis. Keinginannya bertambah terus. Kendaraan yang dulu membahagiakan anda,  sekarang tidak memhahagiakan lagi. Anda ingin memiliki yang lebih mahal, yang lebih mewah. Rumah idaman yang anda anggap sorga, ternyata bukan sorga juga. Anda ingin memiliki sorga yang lebih besar, lebih mewah.

Dan yang jelas, alamatnya harus berbeda. Alamat lama di bilangan Sunter sudah tidak membahagiakan lagi. Sorga anda harus beralamat Simprug.

Kita sudah terbiasa hidup dalam kegelapan. Dalam bahasa Rumi, seperti tikus yang selaln mencari lorong-lorong gelap. Lahir dalam kegelapan, hidup dalam kegelapan, akhirnya mati pun dalarn kegelapan. Apa arti hidup seperti itu? Mungkin di antara kita masih ada yang bisa bertanya demikian. Dia masih cukup sadar. Dia tahu bahwa ada hidup lain. Mayoritas tidak bertanya demikian. Bagi mereka, kegelapan itulah arti hidup. Arti apa lagi? Niat seorang Musa pun akan mereka ragukan, “Cahaya apa yang sedang kau bicarakan? Ah, kamu berkhayal saja. Inilah kehidupan. Dari dulu orangtuaku hidup dalam lorong ini. Orangtua mereka pun hidup dalam lorong yang sama. Demikian yang sudah berjalan selama berabad-abad. Jangan menyesatkan kami. Inilah tradisi kami, kepercayaan kami.”

Semoga anda dan saya, kita, tidak sekelompok dengan mereka!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Ketiga Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Kebijaksanaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Prachinabarhisat: Ritual Pengorbanan Mahal yang Tak Berkesudahan? #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on February 18, 2017 by triwidodo

 

buku-bhagavatam-prachina-barhisat

“Banyak pendukung dari ritual-ritual rumit menganggap ritual-ritual tersebut sebagai tujuan. Mereka lupa memandang ritual sebagai sarana. Ritual menggosok gigi setiap pagi dan/atau malam bermaksud untuk menjaga kesehatan kita. Bahkan bukan sekadar kesehatan gigi dan gusi semata, tapi kesehatan keseluruhan tubuh kita. Dengan demikian, menggosok gigi bukanlah segala-galanya. Jika kita sadar akan maksudnya – yaitu untuk menjaga kesehatan – maka kita juga harus makan yang tepat, berolahraga, dan sebagainya.

“Ritual—ritual dan bentuk-bentuk luaran dari ibadah bisa diibaratkan sebagai kegiatan menggosok gigi. Mulia, tetapi seseorang tetap harus practical juga. Kita tidak bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggosok gigi. Di samping itu, sebagaimana telah dibahas sebelumnya — menggosok gigi saja, ritual luaran saja tidak cukup. Oleh karena itu, risalah ini membahas tentang panduan-panduan yama, niyama, dan dharma yang harus dipatuhi.” Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

cover-buku-yoga-sastra

Raja Bahirshat adalah cucu Vijitashva, cucu buyut dari Prithu sebagai raja penerus anak keturunan Prithu Yang Agung. Raja Bahirsat terkenal dengan sebutan Prachinabarhisat, karena mengadakan ritual yajna yang mahal yang sangat panjang, sambung-menyambung. Raja Prachinabarhisat berputera 10 orang yang kesemuanya dikenal sebagai Pracetasa dan kesepuluh putra tersebut diminta bertapa di dasar samudera untuk memperoleh anak keturunan yang baik. Raja Prachinabarhisat terobsesi oleh upacara ritual yajna. Begitu selesai satu upacara dia melanjutkan lagi dengan upacara ritual berikutnya. Demikian ritual demi ritual dilakukannya sepanjang waktu. Rishi Narada memahami bahwa pada dasarnya sang raja adalah raja baik, akan tetapi tidak dapat mengendalikan obsesi ritual berkelanjutan.

Rishi Narada menemui sang raja dan menyampaikan bahwa sang raja telah berupaya melepaskan keterikatan terhadap istri, anak, kekayaan dan kekuasaan. Tidak salah. Akan tetapi sang rishi mengingatkan bahwa sang raja telah terikat dengan ritual. Dan, tidak bisa melepaskan diri dengan ritual tersebut. Prachinabarhis sadar bahwa apa yang diucapkan Rishi Narada adalah benar dan kemudian mohon petunjuk sang rishi lebih lanjut.

Dengan kekuatan yoganya Rishi Narada memperlihatkan ribuan sapi yang telah dibunuh untuk keperluan ritual dan mengatakan bahwa sapi-sapi tersebut menantikan kematian sang raja untuk membalas dendam. Sang raja pucat pasi dan baru sadar bahwa dia telah berbuat kesalahan melakukan ritual dengan membunuh ribuan sapi. Selanjutnya Rishi Narada menyampaikan kisah Raja Puranjana……..

 

Kisah Raja Puranjana

Ketersesatan adalah ketika kita keluar dari rel, keluar jalur demi kenikmatan indra, dan kenyamanan fisik. Padahal kenyamanan tubuh dan kenikmatan indra hanyalah kebahagiaan palsu nan semu —sesaat. Kembalilah pada jalur – berada di jalur kebenaran inilah kita baru bisa mencapai tujuan kehidupan — Kebebasan Mutlak, Moksa – Kebahagiaan Sejati, Ananda! Penjelasan Bhagavad Gita 17:27

Ketidakbenaran atau kepalsuan — asad — adalah memercayai alam kebendaan sebagai sumber kebahagiaan, kemudian membiarkan diri kita terbelenggu olehnya. Keterikatan pada kebendaan adalah ungkapan asad — ketidakbenaran.

Kepalsuan hanyalah mengantar kita pada alam bayang-bayang, ilusif, di mana segala sesuatu sedang berubah bentuk, tidak ada yang permanen. Tidak ada kepastian. Dari ketidakpastian, kita tidak bisa memperoleh kebahagiaan sejati. Sebab itu, bebaskan diri kita dari ketidakpastian, dari belenggu-belenggu kepalsuan yang menjerat kita. Ketika kita bebas dari keterikatan pada alam benda – maka saat itu juga, kita meraih Kebahagiaan Sejati.

Sesungguhnya Kebebasan Mutlak itulah Kebahagiaan Sejati. Moksa dan Ananda adalah dua sisi kepingan uang logam yang sama. Kebahagiaan Sejati tidak dapat dipisahkan dari Kebebasan Mutlak. Bagi seseorang yang berada di balik jeruji keterikatan penjara dunia alam benda, tiada kebahagiaan melebihi kebebasan dari tempat dan keadaan yang memenjarakan dirinya. Inilah Kesadaran Jiwa, kesadaran yang membebaskan dan membahagiakan. Penjelasan Bhagavad Gita 17:28

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

buku-bhagavatam-puranjana-kota-9-gerbang

Dikisahkan pada suatu ketika, ada seorang raja terkenal bernama Puranjana. Dia mempunyai sahabat bernama Avijnata, ‘yang tak diketahui’. Mereka selalu tak terpisahkan, sampai suatu kali Puranjana berkeinginan untuk mencari tempat tinggal yang sesuai dengan seleranya. Avijnata memperingatkan Puranjana, untuk apa berpisah dengan dia? Akan tetapi Puranjana merasa bahwa keputusan yang dia ambil benar.

Puranjana berkeliling dunia mencari tempat yang cocok baginya. Tapi tidak ada satupun yang membuatnya krasan. Pada akhirnya, Puranjana menemukan sebuah kota bernama Bhogavati, kota kesenangan”. Kota tersebut mempunyai sembilan gerbang untuk memenuhi kebutuhan penduduk kota. Kota tersebut juga dijaga oleh sepuluh penjaga dan seekor ular raksasa berkepala lima. Kota tersebut dihuni seorang putri yang amat menawan bernama Puranjani. Tak sabar Puranjana bertanya tentang asal-usul sang putri yang dijawab bahwa dia tidak tahu orang tuanya siapa. Dia hanya tahu bahwa dia telah berada di kota tersebut. Mereka yang berada di sekeliling dirinya adalah sahabat-sahabatnya, mereka menjaga dirinya di kala dia sedang tidur. Sang putri mengucapkan selamat datang ke kotanya dan berkata bahwa tamunya akan mendapat banyak harta dan  kenikmatan di dalam kota. Akhirnya, Puranjana bersedia tinggal di kota tersebut dan putri tersebut dipinangnya sebagai istri. Puranjana lupa akan waktu dan larut dalam keasyikan hidup di kota Bhogavati bersama istrinya.

 

Puranjana mempunyai kesukaan untuk berburu dan biasanya istrinya diajak serta. Pada suatu ketika istrinya ditinggal di kota dan dia berburu sendirian. Semakin banyak hewan buruan yang dibununhnya. Setelah jenuh, Puranjana pulang mandi yang bersih dan mencari sang istri yang tidak menyambutnya, dan mengasingkan diri di tempat yang sepi. Istrinya bertanya, mengapa sang raja hanya mencari kesenangan diri dan melupakan dia? Sang raja sadar dan selanjutnya patuh terhadap istrinya. Dan, kemudian mereka selalu berduaan saja siang dan malam. Mereka lupa waktu sehingga dikaruniai seratus sepuluh putri dan seribu seratus putra. Putri dan putra mereka, semuanya kawin dan menurunkan keturunan. Sang raja terlibat dalam upacara ritual pengorbanan hewan tak berdosa saat kelahiran dan saat perkawinan putra-putrinya. Kesibukan mengurus putra dan putri membuat Puranjana kehilangan separuh umurnya, dia sudah menjadi pria separuh baya.

Raja Puranjana asyik dengan kenikmatan dunia yang didapatkan di kota Bhogavati dan lengah bahwa ada pemimpin perampok bernama Chandavega yang selalu menunggu kesempatan menghancurkan kotanya. Chandavega mempunyai tiga ratus enam puluh pasang pengawal yang kuat yang terdiri dari 360 pria berkulit putih dan 360 wanita yang berkulit hitam. Mereka selalu berupaya menjarah milik Puranjana.

Ada juga musuh dari Kota Bhogavati, yaitu Sang Kala, waktu yang mempunyai putri bernama Jara, Usia Tua dia juga disebut Durbhaga, nasib jelek. Jara ingin mempunyai suami, akan tetapi tak ada seorang pun yang berminat dengannya. Jara minta Rishi Narada menjadi suaminya, akan tetapi ditolak sehingga Rishi Narada dikutuk tidak pernah menetap lama, selalu bepergian. Jara kemudian mendatangi Raja Yavana, yang juga dikenal sebagai Bhaya, kecemasan. Bhaya menasihatinya bahwa tidak ada seorang pun yang mencintai Jara, usia tua. Bhaya punya saudara bernama Prajvara, demam sebelum kematian. Dan, Jara diminta kawin dengan Prajvara dan mendatangi semua manusia dengan mengendap-endap. Bila Jara dan Prajvara sudah menguasai seseorang, maka Bhaya, kecemasan akan mendatangi orang tersebut, sampai Dewa Yama mengambil nyawanya.

Keamanan kota Bhogavati memang dijaga ular perkasa berkepala lima, tetapi dengan berjalannya sang waktu, sang ular penjaga pun semakin tua dan lemah. Puranjana sadar, pada suatu hari akan tiba saatnya kotanya jatuh dan dikuasai Chandavega. Saat usia paruh baya, ular perkasa sudah melemah. Sang raja bingung, karena tidak pernah berpikir bahwa pada suatu saat kotanya akan hancur juga. Dia mulai muak terhadap kenikmatan duniawi dalam kotanya. Istri dan anak keturunannya  pun tidak peduli tentang ancaman nyata yang akan tiba. Rasa jenuh menghantui dirinya.

Puranjana sadar tatkala Chandavega sudah menguasai kotanya, sedang Jara, usia tua dan Prajvara, demam sebelum kematian, dan Bhaya, kecemasan sudah berada dalam bilik kamarnya. Dalam keadaan depresi Dewa Kematian sudah menjemputnya…………. Sebelum ajal tiba, yang dipikir oleh Puranjana adalah bagaimana nanti nasib istrinya dan juga anak keturunannya.

Silakan simak penjelasan tentang Bhogavati, Puranjani, Chandavega dalam kisah selanjutnya……

 

Catatan:

Lawan kata dari Yoga adalah Bhoga. Jika Yoga berarti disiplin diri, pengendalian diri, Bhoga berarti sebaliknya, yakni hidup tanpa disiplin, membiarkan diri terkendali alam benda dan kebendaan; membiarkan indra lepas kendali dan mencari mangsa, mencari kenikmatan sesaat yang tidak berarti (malah bisa membahayakan, mencelakakan diri dan orang lain). Itulah Bhoga. Yoga Sutra Patanjali.

Sudahkah kita hidup dengan disiplin? Menjalankan Yoga Sadhana (Paket Laku Yoga) secara rutin?

Mohon Diajari Cara Menghidupkan Orang Mati #Kisah Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , , on February 16, 2017 by triwidodo

http://art.bathnes.gov.uk/ow23/collections/voir.xsp?id=00101-17&qid=sdx_q0&n=13&e= The Raising of Jairus' Daughter Oil Painting :: 1889 :: Long , Edwin Longsden Height (cm) : 162.6 Width (cm) : 182.9

Seorang sahabat Yesus melihat tumpukan tulang. Dalam ketidaksadarannya, dia memohon kepada Sang Nabi, “Sahabatku, ajari aku cara untuk menghidupkan kembali orang yang sudah mati ini.”

 

Seorang master, seorang nabi, seorang guru, seorang avatar, seorang mesias, seorang buddha akan selalu menganggap para muridnya sebagai “sahabat”. Demikianlah kebesaran jiwa mereka. Tetapi, para murid sering kali menyalahartikan kebesaran jiwa sang mursyid. Baru belajar jalan sedikit, mereka sudah mau lari seperti sang mursyid. Mereka tidak sadar bahwa sang mursyid justru tengah melangkah lamban, agar bisa diikuti oleh para murid.

Jika seorang mursyid seperti Isa menghidupkan kembali seseorang, itu dilakukan bukan untuk memamerkan kesaktiannya. Ada tujuan lain. Jika setiap orang yang mati bisa dan harus dihidupkan kembali, apa gunanya ada “lembaga kematian”? Dihapus saja, supaya yang ada hanyalah “lembaga kelahiran” dan sekali lahir, setiap makhluk hidup untuk selama-lamanya.

 

Yesus bersabda, “Itu bukanlah tugasmu. Untuk melakukan hal itu, engkau membutuhkan jiwa yang lebih bersih, lebih jernih daripada air hujan. Dan untuk membersihkan jiwa, untuk menjernihkan hati, dibutuhkan sekian banyak masa kehidupan.

“Kalaupun engkau memperoleh tongkat Nabi Musa, dari mana akan kau peroleh kesadaran seorang Musa?”

 

Kata-kata ini sungguh dahsyat; Seperti para nabi sebelumnya (anda harus mempelajari ajaran Kabbalah dari Tradisi Yahudi yang dianggap berawal dari Nabi Ibrahim atau Abraham –a.k.), Yesus juga menerima adanya reinkarnasi. Dikatakannya bahwa untuk menjernihkan jiwa, dibutuhkan sekian masa kehidupan. Pengangkatan seseorang menjadi “nabi”, “rasul”, “wali”—atau apa pun istilahnya—bukan karena KKN. Anggapan Anda bahwa Si Fulan adalah Putra Tunggal-Nya, atau Si Fulan adalah Utusan-Nya yang Terakhir tidak akan saya komentari lebih lanjut. Itu urusan Anda.

Yang harus saya jelaskan sedikit adalah tradisi Kuno dalam ajaran Yahudi, Tradisi Kabbalah, yang jelas-jelas menerima adanya reinkarnasi (baca juga Reinkarnasi: Hidup Tak Pernah Berakhir  oleh penulis yang sama—Ed.). Bahkan siklus reinkarnasi dijelaskan dengan sangat ilmiah. Ada ilmu fisik, ilmu lahiriah; ada pula ilmu roh, ilmu batiniah.

Agama, ajaran agama, bagaikan tongkat. Jika dipegang oleh Musa yang sadar, “tongkat” menjadi sangat dinamis; bisa meremukkan ego anda, menghaluskan jiwa anda, melembutkan batin anda. Tetapi jika dipegang oleh seseorang yang tidak sadar, terjadilah kekacauan, konflik, pertikaian. Yang penting bukanlah tongkat, yang penting siapa yang memegangnya. Saat ini, “tongkat agama” dipegang oleh orang-orang yang tidak sadar. Lihat saja apa yang terjadi. Di mana-mana terjadi konflik.

Kembali pada kisah kita….

 

Murid Yesus masih saja bersikeras, “Kalau begitu, engkaulah yang menghidupkan kembali manusia ini.”

Yesus menjerit, “Ya Allah, apa maksud manusia tolol ini! Dia sendiri sakit dan tidak menyadari  penyakitnya, malah mau menghidupkan orang lain yang sudah mati. Dia tidak sadar kalau jiwanya sudah sekarat. Yang dia perhatikan malah tengkorak orang lain.”

Tuhan menjawab, “Yang mati memang selalu mengurusi kematian.”

cover-buku-masnawi-2

Tak heran kalau Yesus pernah bersabda, “Biarlah orang  mati mengurusi orang mati, tetapi kamu ikutilah aku!”

Berarti, yang  tidak sadar selalu mengurusi ketololan. Yang tolol selalu mengurusi ketololan. Yang jahat selalu mengurusi kejahatan.

Sebaliknya, yang sadar akan selalu mengurusi kesadaran. Yang bijak akan selalu mengurusi kebijakan. Yang baik akan selalu mengurusi kebaikan.

Jika kematian “fisik” masih meresahkan Anda, kesadaran Anda masih sepenuhnya berada pada tingkat lahiriah. Kendati sudah rajin berdoa, sudah sering melakukan perjalanan suci, sudah beramal saleh, kesadaran Anda masih belum mengalami peningkatan sama sekali.

 

Karena didesak terus oleh muridnya yang tolol, Yesus mengucapkan Asma Allah. Astaga, ternyata tumpukan tulang itu bukanlah milik manusia, tetapi milik seekor singa yang buas. Begitu hidup kembali, dia menerjang si murid dan mencakarnya sampai tewas.

Yesus menegur Si Singa, “Kenapa engkau harus membunuh dia?”

“Supaya yang mendengar tentang kejadian ini mengambil hikmahnya. Berada begitu dekat dengan Sumber Air Kehidupan Yang Jernih, si tolol itu masih saja mau bermain-main dengan air kotor. ‘Allah, Allah’ dia ucapkan dengan mulut, padahal jiwanya masih kafir. Jiwanya masih belum beriman! Nama Allah pun dia ucapkan untuk memperoleh imbalan, untuk mendapatkan keuntungan duniawi. Seperti seekor keledai yang mengangkat Al-Qur’an. Ada kitab suci di atas punggungnya, tetapi dia tidak mengetahui nilainya. Bagi dia Al-Qur’an atau beban lain sama saja. Dia mengangkatnya demi perut.”

 

Lagi-lagi, Rumi mengajak kita untuk bercermin diri… Jangan-jangan keagamaan kita selama ini tidak lebih baik daripada keagamaan murid Yesus yang tolol itu! Jangan-jangan keagamaan kita tak lebih dari sekadar alat dagangan, atau mata dagangan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

Yoga, Meditasi, Laku Spiritual Bukan sekali dibaca, sekali dipelajari — selesai. Tapi, mesti diulang-ulang — dihayati, dan dilakoni dalam keseharian hidup. Seperti yang telah kita baca sebelumnya, Krsna menyebutnya Abhyasa — dilakoni secara terus-menerus, secara intensif dan repetitif. Dengan cara itulah kita baru memperoleh manfaatnya. Penjelasan Bhagavad Gita 8:8

Sudahkah kita menghayati dan melakoni Yoga, Meditasi, Laku Spiritual dalam keseharian hidup?