Dhruva: Bintang Kutub yang Dikelilingi Konstelasi Saptarishi #SrimadBhagavatam

buku-bhagavatam-bintang-dhruva-dikelilingi-saptarishi

Gambar Bintang Dhruva (Bintang Kutub) dikelilingi Konstelasi Saptarishi

Berkah Gusti kepada Dhruva

Om adalah password tunggal; baik untuk memasuki alam benda, maupun keluar dari alam benda. Bahwasanya password ini dibuka bagi setiap orang – adalah merupakan kemurahan hati Gusti Pangeran. Ini adalah berkah-Nya. Ada password, tapi password ini tidak dirahasiakan – silakan memakainya! Siapa pun kita, dengan latar belakang tradisi apa pun – password ini tidak berkurang manfaatnya. Luar biasa! Sekarang, tinggal keyakinan kita yang dibutuhkan. Karena, password ini mesti disertai keyakinan. Keyakinan adalah energi yang mengaktifkan password ini. Penjelasan Bhagavad Gita 8:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Dhruva melantunkan mantra suci “Om Namo Bhagavate Vasudevaya dan pikirannya terfokus pada wujud Vasudeva seperti yang diajarkan oleh Rishi Narada dengan penuh keyakinan.

Gusti Narayana di atas Garuda datang kepada Dhruva, dan Dhruva begitu ternganga melihat wujud Narayana. Sulit mengeluarkan kata Dhruva menyembah Narayana. Dengan terbata-bata Dhruva berkata, “Gusti aku berlindung kepada-Mu dari segala kesedihan!”

Narayana memberkatinya: “Kau akan menempati posisi di mana tidak ada seorang pun yang menempatinya sebelumnya, kau akan selalu bersinar walaupun dunia dihancurkan pada hari akhir Brahma, dan kau akan menjadi poros di mana seluruh bintang akan berputar menghormatimu. Di sini, di dunia, kau akan berkuasa sebagai seorang raja dalam jangka waktu yang lama”. Dan setelah bersabda, wujud Narayana kemudian lenyap.

Dhruva sangat bahagia memperoleh berkah dari Gusti secara pribadi, tetapi terbersit sebuah penyesalan yang dalam karena belum sempat memperoleh anugerah yang terbesar dari-Nya yaitu berupa moksa.

Selanjutnya, Dhruva menyesali rasa cemburu yang tumbuh dalam dirinya saat melihat saudara tirinya duduk di pangkuan ayahnya. Saat itu Dhruva sadar bahwa dia telah dikuasai avidyaa, ketidaktahuan atas kebenaran, bahwa segala sesuatu berasal dari diri-Nya sendiri. Yang membuat bahagia Dia, yang melukai hati pun atas pekenan Dia. Merenungkan hal tersebut, Dhruva kembali ke istana.

 

Kembalinya Dhruva ke istana

Rishi Narada kembali memberitahu Raja bahwa Dhruva sudah kembali ke istana. Sang raja bersama keluarga, para brahmana, para menteri pergi menjemput Dhruva dengan mengendarai kereta emas. Sang Raja melihat Dhruva yang kepalanya bersinar sangat terang sedang datang, dan sang raja langsung melompat dari kereta dan memeluk sang putra. Dhruva kemudian bersembah sujud kepada Suruchi, ibu tirinya yang menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Adalah tindakan ibu tirinya tersebut yang memicu Dhruva  menerima berkah bertemu dengan Narayana. Suniti, ibu kandung Dhruva memeluknya dengan penuh bahagia, putra terkasihnya yang hilang beberapa bulan telah kembali dengan kewibawaan yang tiada taranya. Seluruh rakyat mengucapkan selamat kepada Sang Raja beserta Dhruva, putra pertama Sang Raja.

Setelah Dhruva dewasa, Raja Uttanapada menobatkan Dhruva sebagai raja dan dia pergi ke hutan menjalani Vanaprastha, selanjutnya menjadi Sanyasi guna menghabiskan waktunya bermeditasi kepada Gusti.

 

Yaksa dan Kubera

“Di antara sebelas Rudra, mereka yang memusnahkan untuk menjaga keseimbangan alam, Akulah Sankara atau Siva; di antara para Yaksa dan Raksasa, penguasa alam tengah dan alam dunia yang bersifat materialis, Akulah Vittesa atau Kubera. Di antara delapan elemen penyuci, Vasu, Akulah Api; dan, di antara Gunung-gunung, Akulah Meru.” BG 10:23

‘Akulah Kubera…’ Kenapa Kubera? Kenapa Krsna menyebut kubera? Padahal, seperti halnya dengan para raksasa lainnya, Kubera pun materialis. Ya, betul. Namun, ada yang membedakan dia dengan rekan-rekan serumpunnya. Ia sudah mulai sadar bila materi bukanlah segala-galanya. Ia sudah mulai berubah.

Belum berubah total, tapi setidaknya ia sudah berupaya… Sesaat lagi kita akan membaca tentang upaya-upayanya untuk mengubah diri. sementara, sebelum terjadinya transformasi-diri secara menyeluruh, ia mesti mengalah kepada Dewa maut. Maka, setelah ‘mati’, ia menjadi Yaksa, berbadan halus, yang ‘sadar’. Dalam tradisi-tradisi yang lain, Yaksa barangkali disebut jin atau apa.

Sesungguhnya, para Yaksa adalah roh-roh para materialis yang sedang gentayangan. Mereka menyadari kesalahan-kesalahan mereka. ada yang sedang menjalani purifikasi dengan membimbing materialis lainnya. Ada pula yang masih belum sadar – masih berduka karena merasa ‘tertipu’oleh dunia. Ternyata tidak sepeser pun dapat dibawanya ke alam sana.

Kemudian, di antara para Yaksa ini ada yang disebut Yaksa-baik – mereka berupaya untuk mengadakan kontak dengan para kawan dan kerabat mereka di alam kita. Mereka ingin memberi peringatan supaya tidak mengalami nasib yang sama. Di dalam setiap masa ada saja Yaksa-Yaksa seperti itu, yang kemudian disebut Lokapala – Pelindung Loka. Loka adalah bumi kita dan alam tengah – alam mereka. mereka menjadi pembimbing para materialis, para Raksasa di dunia; dan para Yaksa gentayangan di alam mereka sendiri.

Kubera adalah seorang Yaksa Lokapala – dalam tradisi Tibet, ia disebut Zhambala, dan dalam tradisi China digambarkan sebagai seorang kaya yang juga bijak, Cai-Sen, Dewa Uang. Ya, Sang Dewa Uang yang bijak, yang memiliki materi, menggunakan materi, tapi tidak menjadi materialis. Ia mengerti arti dan batas materi. Ia tahu bahwa materi hanyalah salah satu sarana, bukan tujuan hidup. Inilah Kubera! Penjelasan Bhagavad Gita 10:23 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

buku-bhagavad-gita-membaca-gita

 

Dhruva (yang tidak bergerak) menikahi Brahmi (yang berputar) dan mereka diberkati dengan dua putra bernama Kalpa (putaran dunia) dan Vatsara (tahun). Dia memiliki istri yang lain Ila dan melaluinya dia mendapatkan putra bernama Utkala dan seorang putri. Uttama, saudara tiri Dhruva, meninggal  saat belum menikah dan ibunya Suruchi meninggal karena kesedihan. Uttama telah dibunuh oleh beberapa yaksa saat melakukan perjalanan berburu di Himalaya.

Dengan penuh kemarahan, Raja Dhruva menuju Alaka, kota para yaksa menantang para yaksa pembunuh adiknya untuk bertarung. Para yaksa mengurung Dhruva, akan tetapi semuanya dapat dilumpuhkan.

Melihat banyaknya para yaksa yang terbunuh Dhruva, mereka mulai menggunakan ilmu hitam. Dhruva segera mengambil senjata pamungkasnya untuk membunuh semua yaksa di kota tersebut. Adalah Svayambhu Manu, kakek buyut Dhruva, merasa bahwa sudah saatnya dia turun tangan di tengah peperangan menenangkan Dhruva. Svayambhu Manu mengingatkan Dhruva bahwa sejak kecil Dhruva telah memperoleh berkah Gusti. Tidak ada gunanya membunuh semua yaksa. Menganggap semua yaksa jahat adalah tidak benar. Badan kita itu bukan diri kita. Yang mati adalah tubuh Uttama sesuai hasil tindakan sebelumnya. Jiwa Uttama sendiri tidak bisa mati, dia akan meneruskan kehidupannya lagi di kehidupan berikutnya. Seharusnya Dhruva berbagi pengetahuan sejati, Gustilah yang bertanggungjawab atas kelahiran dan kematian manusia. Para yaksa tersebut adalah pengikut Kubera yaksa yang telah sadar. Kubera adalah sahabat Gusti Shiva, mintalah ampun pada Gusti yang bertugas mendaur-ulang manusia. Bermeditasilah kepada-Nya.

Kemarahan Dhruva cepat mereda.

Kubera datang kepada Dhruva dan menyampaikan bahwa para yaksa tidak membunuh saudaranya, dan tidak pula Dhruva membunuh mereka. Tak seorang pun bisa lari dari kematian. Semuanya terjadi hanya sebagai alasan kematian seseorang. Adalah ketidaktahuan tentang “aku” dan “milikku” terhadap badan yang menyebabkan keterikatan dan penderitaan. Kubera mengatakan agar Dhruva meminta anugerah kepadanya. Dhruva meminta anugerah agar hatinya selalu penuh bhakti kepada Vasudeva. Dan, Kubera mengabulkannya.

Dhruva memerintah negaranya dalam jangka waktu yang lama, dengan hati yang terus-menerus dipenuhi dengan bhakti pada Gusti. Dhruva menebus karmanya dengan kegembiraan dan menebus keburukan masa lalunya dengan pengendalian diri.

 

Bintang Kutub: Menemukan Dhruva di dalam diri

“Berkat Samyama (dharana atau kontemplasi: dhyana atau meditasi: dan menyadari atau memusatkan kesadaran) pada Bintang Kutub, seseorang meraih pengetahuan tentang gerakan bintang.” Yoga Sutra Patanjali III.29

Sejak manusia mulai berlayar, sejak itu pula Bintang Kutub telahmenjadi kompasnya—kompas alami. Bintang Kutub diketahui sebagai bintang yang “posisinya di langit tampak statis”—setidaknya demikian terlihatnya dari bumi. Sebab itu, ia dijadikan sebagai marga darsaka atau pemandu, ia yang menunjukkan arah, pengarah.

BAGI SEORANG YOGI, Bintang Kutub pun ada di dalam dirinya. Dirinya itulah Bintang Penunjuk Arah. Selama ini kita selalu mencari penuntun di luar diri, sebab masih tidak percaya pada diri sendiri. Inilah kelemahan yang mesti diatasi. lnilah keadaan yang mesti diubah. Menemukan Bintang Kutub di dalam diri berarti menemukan Jiwa, menemukan Buddhi atau Inteligensi. Kemudian, membiarkan Buddhi menuntun kita.

Sutra ini adalah tentang menentukan pilihan. Masih tetapmau dituntun oleh indra? Oleh manah, mind, atau gugusan pikiran serta perasaan? Atau oleh Buddhi, oleh Inteligensi? Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Pada saatnya, Dhruva menobatkan putranya Utkala sebagai raja dan kemudian pergi ke Visala untuk membaktikan dirinya hanya kepada Gusti. Sebuah kendaraan angkasa menjemputnya. Dua pelayan Vasudeva mengajak Dhruva naik ke angkasa.

Berabad-abad kemudian, jika kita melihat ke langit, kita dapat melihat bintang yang dikenal sebagai Bintang Dhruva, bintang yang nyaris tak bergerak ini juga dikenal sebagai Bintang Kutub. Dan kita dapat melihat tujuh bintang bergerak perlahan-lahan di sekitarnya yang dikenal sebagai konstelasi Saptarishi, atau Great Bear.

Rishi Narada menyanyikan keagungan Dhruva, kisah yang membawa keberuntungan dari Dhruva. Rishi Narada memberikan anugerah kepada mereka yang bercerita maupun yang mendengarkannya, seluruh keberuntungan, kekayaan, kemasyuran dan panjang umur dan yang terpenting dari semua, bhakti kepada Tuhan yang menumbangkan dan menghancurkan pohon penderitaan.

 

Catatan:

Dengan melakukan kontemplasi, meditasi dan memusatkan kesadaran ke dalam diri seseorang bisa menemukan Bintang Kutub (Penunjuk Arah) dalam diri. Sudahkah kita melakukan latihan meditasi secara rutin?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: