Yang Sedang Bicara Dibalik Murshid adalah Dia #Masnawi

buku-masnawi-5-beo-dan-cermin

Bagi seorang pelatih burung beo, cermin adalah alat yang penting sekali. Dia menempatkan diri di balik cermin dan mengucapkan kata-kata yang ingin diajarkannya.

Si beo yang melihat bayangannya di dalam cermin beranggapan bahwa ada seekor beo lain yang sedang berbicara seperti manusia. Terdorong oleh rasa iri, dia pun berupaya untuk menirunya. Dan berhasil, walau tidak mengetahui artinya. Sebagaimana seorang anak manusia pun bisa meniru suara binatang tanpa memahami maknanya.

Tuhan menggunakan seorang shaykh sebagai cermin. Di balik itu, sesungguhnya Dia sendiri yang berbicara.

Para murid yang belum matang, belum siap, hanya meniru kata-kata Sang Murshid. Mereka tidak memahami maknanya. Kemudian dengan “modal kata-kata bijak” itu mereka berdagang di pasar dunia. Mereka mengumpulkan orang dan berpidato panjang lebar.

Tanpa memahami kata-kata itu, tak seorang pun memperoleh keuntungan dari pidato mereka. Dan untuk memahami kata-kata tersebut, yang dibutuhkan hanya satu: Anugerah Allah!

 

Jangan bosan “bercermin diri” pada Sang Murshid sampai memahami arti setiap kata yang diucapkan-Nya. Jangan lupa bahwa yang sedang bicara di balik cermin adalah “Dia”. Demikian, pada suatu ketika anda sendiri akan menjadi cermin.

Satu peringatan:

Cermin tidak pernah membesar-besarkan diri. Cermin tidak pernah bicara. Dia bisu. Dan karena dia bisu, dia diam, maka yang “Ada” di baliknya mulai berbicara.

 

Selama Anda masih memilikikeinginan untuk tampil sebagai Guru, Master atau Murshid, Anda belum bisu. Anda masih terlalu berisik. Anda masih belum menjadi cermin. Dan Dia pun belum bisa menjadikan Anda sebagai alat-Nya.

Rumi memberi contoh:

cover-buku-masnawi-5

Seorang darvish melihat anjing betina di dalam mimpi. Anjing itu sedang hamil tua. Yang aneh, anak-anaknya di dalam kandungan sudah mulai mengeluarkan suara, sudah mulai menggonggong.

Bangun tidur, sang darvishmemohon petunjuk Allah: “Apa makna mimpiku tadi?”

Maka terdengarlah suara misterius: “Anjing-anjing di dalam kandungan itu mewakili mereka yang belum mengalami ‘kelahiran batin’, tetapi sudah mulai bicara.”

Mereka bukanlah anjing penjaga ternak. Bukan pula anjing pemburu. Mereka bukan apa-apa. Belum apa-apa. Gonggongan mereka tidak berarti sama sekali.

Banyak orang yang berbicara hanya untuk mencari perhatian. Mereka sedang berjualan. Mereka mencari pembali. Mereka lupa bahwa Pembeli Utama adalah Tuhan. Lebih baik menjual diri kepada Dia. Dan sesungguhnya Dia sudah membeli kita. Sudah memiliki kita. Untuk apa mencari pembeli lain?

Demi Dia Yang Maha Membeli, lupakan pembeli-pembeli lain. Bersabarlah, tidak perlu lari kanan dan lari kiri untuk mencari pembeli.

 

Meniru kata-kata tanpa memahami makna, kemudian menjual diri di tengah pasar. Pembeli seperti apa pula yang kita harapkan?

 

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

Senantiasa menyadari kesadaraan Ilahi di dalam diri, inilah Meditasi. Pemusatan kesadaran pada Ilahi, itulah Meditasi. Meditasi, berarti hidup berkesadaran. Melakoni hidup secara meditatif. Penjelasan Bhagavad Gita 12:12

Sudahkah kita latihan meditasi secara rutin agar bisa melakoni hidup secara meditatif?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: