Vena: Kesalahan Memilih Pemimpin Membawa Bencana #Srimad Bhagavatam

buku-bhagavatam-vena

Sifat Ilahi dan Sifat Syaitani dalam diri Manusia

Adalah dua Kecenderungan atau Karakter utama yang menjadi “pilihan alami” setiap manusia: sifat daivi dan sifat asuri atau daitya. Daiva berarti “Yang Berkilau, Bercahaya”. Karakter Daiva adalah Sura, “Selaras dengan Alam, dengan Kodrat manusia”.  Sementara itu Daitya atau Asura adalah Karakter yang “Tidak Selaras dengan Kodrat Manusia, dengan Alam”. Karakter Daivi atau Sura membantu kita dalam hal peningkatan kesadaran. Karakter Daitya atau Asuri menahan kita ke bawah, membuat kita terikat dengan dunia benda. Umumnya Daiva atau Sura dikaitkan dengan kemuliaan, dan Daitya atau Asura dengan ketidakmuliaan. Penjelasan Bhagavad Gita 16:1 dikutip buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Adalah Raja Anga yang bijaksana dan mulia yang merupakan anak keturunan Maharaja Dhruva dari Vatsara kawin dengan Sunitha putri dari Mrithyu, Kematian yang jahat dan agresif. Salah satu versi kisah menyebutkan bahwa Sunitha pernah dikutuk seorang rishi bahwa dia akan mempunyai anak yang jahat. Oleh karena itu Sunitha sangat berbahagia menjadi istri Raja Anga yang mulia dan bijak dan yakin kutukan rishi tersebut bakalan luntur karena dia mempunyai suami mulia dari garis keturunan Maharaja Dhruva, sehingga anaknya pun pasti mulia.

Pada suatu hari Raja Anga melakukan upacara Ashvameda. Walaupun rangkaian upacara sudah dilakukan sebaik mungkin sesuai pakem akan tetapi tidak ada dewa yang datang untuk menerima persembahannya. Para rishi menyebutkan bahwa bahwa ritual tidak diterima, karena sang raja belum mempunyai putra. Pada zaman itu Brahma, Sang Pencipta memang ingin manusia cepat beranak-pinak memenuhi dunia.

Selanjutnya atas saran para rishi, Raja Anga melakukan yajna, ritual persembahan mohon putra. Obsesi berat memiliki putra, dan kecewa akibat tidak datangnya para dewa pada acara ritual sebelumnya membuat Raja Anga lengah untuk mohon diberkati anak yang mulia. Banyak roh yang ingin menjadi putra sang raja dengan genetika kombinasi dari Raja Anga dan Sunitha. Rupanya roh yang masuk kedalam calon janin adalah roh yang ingin mengembangkan kejahatan Mrithyu, ayah Sunitha.

Tidak berapa lama lahirlah Vena, putra mahkota sang raja. Sang raja dan permaisuri sangat berbahagia. Dalam diri Vena terdapat genetika anak keturunan Dhruva yang mulia dan bijaksana yang mempunyai sifat daivi, mulia. Akan tetapi dalam diri Vena juga terdapat genetika keturunan Mrithyu yang agresif dan jahat. Rupanya pengaruh genetika mulia dan bijaksana dan mulia kalah pengaruh dengan sifat jahat dan agresif.

Sejak kecil Vena suka membunuh binatang dengan memelintir lehernya. Bahkan setelah menjadi pemuda dia sering membunuh para pemuda musuhnya. Raja Anga gagal membawa Vena ke jalan yang benar. Terbersit rasa sesal dalam diri sang raja, ternyata mempunyai putra malah membuat dia lebih kecewa. Pada suatu hari Raja Anga pergi meninggalkan istana. Sang Raja Anga bersyukur pada Gusti bahwa dia diberkati putra yang jahat, sehingga dia cepat bisa melepaskan diri dari keterikatan dunia. Masalah Vena dia serahkan pada Gusti bagaimana kehendak-Nya saja. Tidak ada sesuatu pun yang berada diluar pengawasan-Nya. Intuisinya membimbing dia untuk mengambil keputusan meninggalkan istana.

 

Kesalahan memilih pemimpin, membawa bencana bagi seluruh negeri

Rakyat yang memilih seorang pemimpin yang salah, mesti memikul hasil dari kesalahannya sendiri. Ramai-ramai memilih seorang pemimpin hanya karena ‘cakep’, atau ‘imut-imut sih’, membuktikan bila kita ‘belum cukup cakep’ dalam hal memilih. Lebih parah lagi, ketika kita memilih seorang pemimpin karena tergiur oleh nasi bungkus atau t-shirt. Ada nasi bungkus seharga 5 ribu, ada yang harganya 5 triliun – memilih karena janji keuntungan pribadi adalah kesalahan yang sudah pasti mengundang akibat buruk.

Kemudian, di bawah kepemimpinan seorang pemimpin seperti itu, jika kita menderita, gunung meletus, jumlah kecelakaan meningkat, atau tingkat kejahatan makin tinggi – maka, janganlah menyalahkan sang pemimpin saja. Siapa suruh memilihnya? Siapa yang memilihnya? Sekarang, nikmatilah hasil pilihan yang salah.

Sang Pengawas Agung menyaksikan semua, mengawasi semua. Sudah berulang-kali, Ia pun memberi peringatan. “Kalian sudah salah, lihat apa yang terjadi!” Tapi, kita budeg, tidak mendengar peringatannya. Maka, jika terjadi hal-hal yang lebih parah lagi, janganlah meyalahkan Sang Pengawas. Penjelasan Bhagavad Gita 9:10 dikutip buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

cover-buku-bhagavad-gita

Rakyat dan pemerintahan berada dirundung duka kala mereka mengetahui raja mereka telah meninggalkan kerajaan. Mereka mencarinya kemana-mana tetapi tidak bisa menemukannya. Para rishi melihat bahwa jika kerajaan itu tanpa seorang raja, maka akan menjadi lahan subur bagi pelanggaran hukum dan ketidakbenaran. Dengan seizin ratu, mereka menobatkan Vena sebagai raja. Penobatan ini mengurangi pelaku kejahatan yang sangat takut pada kekejaman sang raja. Namun, Raja Vena memerintah dengan keangkuhan seorang diktator dan totaliter. Vena menyadari ketakutan rakyat terhadap dirinya. bahkan, kemudian Vena melarang semua kegiatan agama. Para rishi bersedih hati: dengan atau tanpa Vena, ketidakbenaran terlihat tak terelakkan. Mereka memutuskan untuk berbicara pada sang raja agar bisa memerintah kerajaan berdasar dharma. Akan tetapi Vena bertambah marah dan semakin semena-mena. Vena merasa dia adalah wakil Gusti di dunia, semua orang harus tunduk dan menyembah dirinya.

Setelah kejahatan Vena memuncak, para rishi sepakat untuk membuat Vena meninggal dunia. Dengan mantra rahasia mereka bersama melantunkannya dan Vena pun meninggal dunia. Sunitha sangat mencinta Vena, sehingga jasad Vena diawetkan dan disimpan olehnya.

Setelah kehilangan raja, kejahatan kembali menyebar cepat sekali lagi. Para rishi yang bertanggung jawab atas penobatan Vena sebagai raja dan kemudian atas kematiannya, sekarang sedang mencari jalan keluar bersama. Para rishi kemudian minta izin Sunitha untuk melahirkan putra mahkota dari jasad Vena. Mereka mempunyai tehnologinya.

Mereka paham bahwa dalam diri Vena terdapat dua karakter, karakter mulia dan karakter jahat. Dengan mantra dan tindakan rahasia, para rishi mengambil daging dari paha Vena dan setelah diproses lahirlah seorang anak yang buruk rupa dan hitam, yang merupakan perwujudan karakter tidak mulia dari Vena. Anak itu disuruh pergi mengembara dan dia dipanggil Nisada. Dalam beberapa episode berikutnya akan disinggung tentang kaum Nisada, anak keturunan Nisada yang tinggal mengembara di hutan.

Para rishi kemudian berupaya memperoleh genetika mulia dari jasad Vena. Mereka paham bahwa dalam jasad Vena kini hanya tertinggal genetika mulia, setelah yang bergenetika jahat diambil dan menjadi Nisada. Mereka kemudian mengambil daging dari lengan Vena. Setelah diproses lahirlah bayi laki-laki yang diberi nama Prthu dan seorang bayi perempuan yang diberi nama Archis. Kedua bayi tersebut adalah titisan dari Narayana dan Lakshmi. Mereka akan menjadi suami-istri. Keadaan dunia sepeninggal Vena akan diperbaiki dan dikembangkan oleh Raja Prthu.

Dalam kisah, kejahatan Vena mungkin ditulis hanya 1 atau 2 halaman, akan tetapi dalam kenyataan, penderitaan tersebut bisa selama puluhan tahun bahkan lebih. Rakyat betul-betul menderita.

Ada satu hal yang dilupakan oleh para rishi. Mereka tidak paham dengan penderitaan Bunda Bumi. Mereka lupa bahwa Bunda Bumi sangat kelelahan mendapatkan penghuni kejam seperti Vena. Binatang-binatang yang hidup di atasnya diburu dan dibunuh hanya untuk kesenangan. Hutan-hutan dibabat hanya untuk menyenangkan orang-orang serakah. Setiap malam Bunda Bumi mendengarkan rintihan rakyat yang menderita dalam ketakutan. Para ponggawa yang jujur justru disudutkan dan dibuat tidak berkutik dan hanya bisa berdoa penuh keputusasaan. Emas di dalam bukit ditambang semena-mena dan dipakai perhiasan para ponggawa yang pongah. Para pekerja hanya dibayar dengan upah yang kecil dan tidak berani protes atau nyawanya terancam. Bunda bumi semakin tertekan.

Dapatkah Prithu menyelesaikan permasalahan yang ditinggalkan Vena, ayahandanya?????

 

Catatan:

Tindakan Vena tanpa rasa belas kasih terhadap sesama dan alam semesta. Latihan meditasi dapat membudayakan kasih dalam diri dan bertindak kasih terhadap alam semesta. Sudahkah kita melakukan latihan meditasi secara rutin?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: