Penyamaran Nasuh, Sang Pencuci Rambut Kaum Hawa Kisah #Masnawi

buku-masnawi-5-nasuha

Untuk memperoleh pekerjaan sebagai pencuci rambut bagi kaum Hawa, Nasuh harus menyamar sebagai wanita. Wajah dan bentuk badannya memang sangat Feminin, sehingga tidak sulit menyembunyikan ke-“pria”-annya.

Selama bertahun—tahun, tak seorang pun menyangka bahwa Nasuh bukanlah seorang wanita. Nasuh pun menikmati pekerjaannya. Setiap kali menyentuh badan wanita yang sedang dicuci rambutnya, dia merasakan kepuasan birahi.

Kadang-kadang bila suara kecil nurani terdengar, dia juga merasa bersalah. Pada saat-saat seperti itu, dia menyadari kesalahannya.

Suatu ketika, dia bertemu dengan seorang Wali. seorang suci. “Ingat aku dalam doamu,” kata Nasuh kepada Sang Wali.

Mata batin Sang Wali sudah terbuka. Dia tahu betul apa yang disembunyikan oleh Nasuh. Kendati demikian, dia mengiyakan permintaannya: “Ya, Nak. Aku akan mengingat kamu. Aku akan berdoa untukmu.”

 

Nasuh bukanlah orang yang tidak sadar. Dia sadar. Dia menyadari kesalahannya, tetapi “merasa” tidak berdaya untuk memperbaiki diri. Tarikan “daging” masih kuat sekali. Api “napsu” masih membara. Di dalam diri dia sedang terjadi konflik antara lahir dan batin. Antara kesadaran rendah dan kesadaran tinggi. Dan belum ada yang menang. Dua-duanya masih sama kuat.

Keadaan seperti itulah yang dibutuhkan oleh seorang Murshid untuk memasuki Anda. Seorang Guru akan selalu muncul di tengah konflik. Bangsa dan negara pun didatangi oleh seorang Pembaharu, saat terjadi konflik. Konflik antara kepentingan pribadi sekelompok masyarakat dan keentingan umum rakyat luas.

Terjadinya konflik di dalam diri seorang murid atau suatu bangsa membuktikan bahwa nurani murid, kesadaran “berbangsa” belum mati. Mungkin sudah sekarat, tetapi masih hidup. Itu sebabnya, adanya dua pihak yang berseberangan. Belum ada korban.

 

Datangnya Sang Guru bukan untuk “mengorbankan” salah satu pihak. Tidak. Dia tidak akan berpihak pada siapa-siapa. Pada saat yang sama dia akan berpihak pada dua-duanya. Dia datang untuk “mengubah”. Kesadaran rendah diubah menjadi Kesadaran tinggi. Badan diubah menjadi batin. Napsu birahi diubah menjadi Kasih Ilahi. Energi sama yang saat ini sedang mengalir ke bawah bisa juga mengalir ke atas. Yang dibutuhkan hanyalah technical know-how. Dan seorang Murshid menguasai hal tersebut.

Rumi melanjutkan kisahnya:

cover-buku-masnawi-5

Sang Wali berdoa demi keselamatan jiwa Nasuh. Dan doa seorang wali bukanlah doa biasa. Seorang wali sesungguhnya suclah “tiada”. Dirinya fana, ucapannya adalah ucapan Allah…

Doa seorang wali bagaikan permohonan Tuhan yang disampaikan kepada Diri Sendiri. Lalu siapa yang akan menolaknya? Sudah pasti terkabulkan.

Pada suatu hari, putri Sultan kehilangan giwang di tempat pemandian umum, di mana Nasuh bekerja. Giwang itu sangat berharga, dan para dayang pun mulai mencarinya. Karena, tidak ditemukan juga, semua pintu ditutup rapat dan setiap pekerja mulai diperiksa.

Nasuh mulai gemetaran. Bila dirinya diperiksa dan ketahuan bahwa dia bukan wanita, celakalah dia. Dia sudah bisa membayangkan kepalanya terpenggal.

“Lepaskan baju kalian,” perintah dayang utama.

Satu per satu, setiap pekerja melepaskan baju dan membiarkan dayang itu melakukan pemeriksaan.

Nasuh makin cemas, tetapi tidak lupa berdoa, “Ya Allah, Ya Raab, selama ini aku memang berbuat salah. Sudah berapa kali aku menyadari kesalahan diri, tetapi setiap kali merasa tak berdaya untuk memperbaiki diri. Selamatkan aku hari ini, dan aku berjanji akan memperbaiki diri. Dengan kemurahan hati-Mu, berkat bantuan-Mu, aku akan melepaskan pekerjaan ini. Tolonglah aku hari ini. Tutupilah rahasiaku…..”

Tak disangka, saat itu pula nama dia dipanggil: “Nasuh, giliranmu diperiksa.”

Nasuh makin lemas. Kaki sudah tidak mampu menyangga badan dan dia jatuh.

Pada saat yang bersamaan, ada yang bcrteriak: “Sudah, sudah tidak perlu dicari lagi. Giwang Sang Putri sudah ditemukan. Nih, ada sini….”

Demikian, Nasuh terselamatkan!

 

Demikian pula, entah berapa kali kita pernah terselamatkan. Lain Nasuh, lain kita. Nasuh selamat dan berjanji akan memperbaiki diri. Dan dia menepati janjinya. Kita selamat dan berjanji juga, tetapi tidak pernah menepatinya.

 

Itulah hari terakhir Nasuh bekerja sebagai pencuci rambut, padahal banyak sekali langganan tetap yang menginginkan dia bekerja kembali. Nasuh menolak setiap tawaran. Dia tidak tergoda.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

“Bertobat” berarti “metanoia” – kembali ke dalam diri. Metanoia juga berarti “perubahan diri”, “perubahan pikiran”. Bertobat atau metanoia adalah kata lain bagi meditasi! Buku Maranatha

Nasuh sudah bertobat, sudahkah kita bertobat? Sudahkah kita meditasi?

Advertisements

One Response to “Penyamaran Nasuh, Sang Pencuci Rambut Kaum Hawa Kisah #Masnawi”

  1. Ni Made Adnyani Says:

    Reblogged this on Ni Made Adnyani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: