Maharaja Prithu Melawan Deva Indra: Ritual 100 Ashvamedha #SrimadBhagavatam

buku-bhagavatam-indra-mencuri-kuda

“Dunia ini ibarat pusat rehabilitasi, dimana setiap jiwa sedang mengalami program pembersihan, pelurusan, atau apa saja sebutannya. Keberadaan kita di dunia ini semata untuk menjalani program yang paling cocok bagi pembersihan dan pengembangan jiwa.

“Kecocokan program pun sudah dipastikan oleh Keberadaan dengan melahirkan kita dalam keluarga tertentu, di negara tertentu, ditambah dengan berbagai kemudahan lainnya, termasuk lingkungan kita, para sahabat, anggota keluarga dan kerabat kita, maupun lawan atau musuh kita.

“Berbagai rintangan, tantangan, kesulitan, dan persoalan yang kita hadapi dimaksudkan demi pembersihan jiwa dan pengembangan jiwa kita sendiri, karena itu, mencari kesalahan dan menyalahkan orang lain atas kejadian-kejadian yang menimpa diri kita adalah dosa. Silahkan berupaya untuk keluar dari masalah, untuk menyelesaikan perkara, tetapi bukan dengan mencari kambing hitam, bukan dengan cara menyalahkan orang lain.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

cover-buku-five-steps-to-awareness

Sebagai maharaja di dunia, maka Raja Prthu melakukan upacara Ashvamedha. Asvhamedha merupakan tradisi ritual para maharaja. Seekor kuda putih atau coklat muda keemasan dilepaskan dan diikuti  dan dikawal oleh sekelompok pasukan, yang melindunginya terhadap serangan orang atau pencuri. Selama setahun kuda itu berkelana kemanapun ia suka. Bila ia melewati perbatasan kerajaan lain, raja yang daerahnya dilewati sang kuda bisa melawan pasukan pengawal atau menyerah. Setelah kuda itu aman berkeliaran secara demikian, maka kedudukan raja yang melepaskannya kuda-kuda itu telah terbukti kekuasaannya. Setelah satu tahun kuda itu akan kembali ke ibu kota dan disambut dengan upacara ritual.

Tidak tanggung-tanggung, Maharaja Prithu berketetapan melakukan upacara 100 Ashvamedha, sehingga kekuasaannya amat sangat luas. Dikisahkan bahwa Raja Prithu sudah berhasil menyelesaikan 99 upacara Ashvamedha. Tinggal satu lagi akan mencapai tujuan 100 upacara.

Adalah Indra yang iri, karena pada saat ini hanya dialah yang telah melakukan upacara 100 Ashvameda atau disebut Satakratu, sehingga berupaya mencegahnya. Indra tidak senang ada manusia yang menyamai kekuasaannya sebagai rajanya para dewa.

Indra menyamar sebagai seorang suci kemudian mencuri kuda korban. Rishi Athri, pemimpin upacara mengatakan kepada putra Prithu bahwa Indra mencuri kuda dan sang pangeran mengejarnya. Kala putra Prithu hanya melihat orang suci dengan pakaian berdebu sedang beristirahat, dia merasa mengejar orang yang salah dan kembali ke tempat upacara. Rishi Athri menjelaskan bahwa itulah Indra yang sedang menyamar. Maka sang pangeran kembali mengejarnya. Indra lenyap meninggalkan kuda yang segera dibawa kembali ke tempat upacara. Sang pangeran kemudian disebut Vijitashva, Sang Penunduk Kuda.

Indra kembali berulah, kegelapan menyelimuti tempat upacara dan sekali lagi Indra mencuri kuda tersebut. Rishi Athri kembali mengingatkan Vijitashva yang mengejarnya, dan melihat seorang suci berdebu lagi. Rishi Athri mengatakan bahwa itulah Indra yang menyamar, maka Vijitashva yang marah memanahnya. Indra lenyap dan meninggalkan kuda tersebut.

Cara Indra menyamar tersebut menjadi pelajaran bagi para penjahat yang mempunyai keinginan dunia dengan cara menyamar sebagai orang suci agar tidak dicurigai.

Maharaja Prithu marah kepada Indra dan siap menarik anak panah dari busur dewatanya. Para rishi mengingatkan bahwa sang raja adalah pelaku upacara sehingga jangan melakukan pembunuhan. Para rishi akan membaca mantra agar Indra datang dan dikorbankan ke api suci.

Brahma, Sang Pencipta datang dan meredakan kemarahan Prithu. Untuk apa mengorbankan Indra? Bukankah Prithu juga tidak menginginkan kedudukan Indra? Baik Prithu maupun Indra adalah sama-sama wujud Narayana, manifestasi Gusti. Brahma meminta Prithu menyelesaikan upacaranya dan membiarkan Indra bertahan pada kedudukannya. Selanjutnya Prithu melanjutkan upacara ritualnya.

Senang dengan kebijaksanaan Prithu, Vishnu datang bersama Indra. Prithu bersujud kepada Vishnu yang memberkati upacara ritualnya. Indra mohon maaf dan mereka saling berpelukan.

Tahuan demi tahun lewat, Maharaja Prithu merasa sudah tua, tahu bahwa ajalnya sudah dekat. Prithu bersama Archis permaisurinya meninggalkan istana. Mereka bepergian mengunjungi tempat-tempat suci dan akhirnya menetap di suatu pertapaan. Prithu duduk melakukan yoga dan melepaskan nyawanya. Archis menyiapkan tumpukan kayu pembakaran suaminya dan dia masuk kedalam api……

 

Memahami Dewa Indra

Dewa Indra berkaitan dengan indriya, kekuatan fisik atau kemampuan manusia. Dewa Indra adalah penguasa dewa, sedangkan Dewa Indra di dalam diri manusa adalah penguasa kekuatan dan kemampuan manusia. Dewa Indra adalah supremasi kemampuan manusia. Sehingga apabila ada manusia yang berupaya melampaui batas supremasinya, Indra selalu menggoda, mengganggu agar tidak melampaui supremasi yang telah dikuasainya sebelumnya. Dalam kisah-kisah Bhagavatam, mereka yang tak terganggu peringatan Dewa Indra dapat melampaui supremasi kekuatan sebelumnya.

Pada waktu Dhruva bertapa dengan keras sambil membaca mantra dan melampaui batas kekuatan manusia, Dewa Indra mengganggunya, agar Dhruva takut dan membatalkan laku-nya. Akan tetapi Dhruva mengabaikan indriya pada dirinya untuk menemui Narayana.

Pada waktu Prithu berkuasa dan hendak meluaskan kekuasaannya, Dewa Indra mengganggu agar mengurungkan tindakannya, supaya tidak melampaui batas kemampuannya sendiri. Prithu tetap dapat melaksanakan upacara ritual meluaskan kekuasaan dan bahkan kemudian berdamai dengan Indra.

 

Catatan:

Meditasi, antara lain, adalah upaya penghalusan Gugusan Pikiran dan Perasaan atau mind. Hasilnya adalah Buddhi, kemampuan untuk memilah antara yang mulia dan tepat, dan yang tidak mulia dan tidak tepat. Penjelasan Bhagavad Gita 13:24

Sudahkah kita mulai latihan rutin meditasi agar lebih peka dalam memilah mana yang mulia dan tidak?

Tulisan terkait:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/02/10/prithu-wujud-narayana-memperbaiki-dunia-yang-porak-poranda-srimadbhagavatam/

buku-bhagavatam-prithu-mengejar-sapi-bunda-bumi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: