Mohon Diajari Cara Menghidupkan Orang Mati #Kisah Masnawi

http://art.bathnes.gov.uk/ow23/collections/voir.xsp?id=00101-17&qid=sdx_q0&n=13&e= The Raising of Jairus' Daughter Oil Painting :: 1889 :: Long , Edwin Longsden Height (cm) : 162.6 Width (cm) : 182.9

Seorang sahabat Yesus melihat tumpukan tulang. Dalam ketidaksadarannya, dia memohon kepada Sang Nabi, “Sahabatku, ajari aku cara untuk menghidupkan kembali orang yang sudah mati ini.”

 

Seorang master, seorang nabi, seorang guru, seorang avatar, seorang mesias, seorang buddha akan selalu menganggap para muridnya sebagai “sahabat”. Demikianlah kebesaran jiwa mereka. Tetapi, para murid sering kali menyalahartikan kebesaran jiwa sang mursyid. Baru belajar jalan sedikit, mereka sudah mau lari seperti sang mursyid. Mereka tidak sadar bahwa sang mursyid justru tengah melangkah lamban, agar bisa diikuti oleh para murid.

Jika seorang mursyid seperti Isa menghidupkan kembali seseorang, itu dilakukan bukan untuk memamerkan kesaktiannya. Ada tujuan lain. Jika setiap orang yang mati bisa dan harus dihidupkan kembali, apa gunanya ada “lembaga kematian”? Dihapus saja, supaya yang ada hanyalah “lembaga kelahiran” dan sekali lahir, setiap makhluk hidup untuk selama-lamanya.

 

Yesus bersabda, “Itu bukanlah tugasmu. Untuk melakukan hal itu, engkau membutuhkan jiwa yang lebih bersih, lebih jernih daripada air hujan. Dan untuk membersihkan jiwa, untuk menjernihkan hati, dibutuhkan sekian banyak masa kehidupan.

“Kalaupun engkau memperoleh tongkat Nabi Musa, dari mana akan kau peroleh kesadaran seorang Musa?”

 

Kata-kata ini sungguh dahsyat; Seperti para nabi sebelumnya (anda harus mempelajari ajaran Kabbalah dari Tradisi Yahudi yang dianggap berawal dari Nabi Ibrahim atau Abraham –a.k.), Yesus juga menerima adanya reinkarnasi. Dikatakannya bahwa untuk menjernihkan jiwa, dibutuhkan sekian masa kehidupan. Pengangkatan seseorang menjadi “nabi”, “rasul”, “wali”—atau apa pun istilahnya—bukan karena KKN. Anggapan Anda bahwa Si Fulan adalah Putra Tunggal-Nya, atau Si Fulan adalah Utusan-Nya yang Terakhir tidak akan saya komentari lebih lanjut. Itu urusan Anda.

Yang harus saya jelaskan sedikit adalah tradisi Kuno dalam ajaran Yahudi, Tradisi Kabbalah, yang jelas-jelas menerima adanya reinkarnasi (baca juga Reinkarnasi: Hidup Tak Pernah Berakhir  oleh penulis yang sama—Ed.). Bahkan siklus reinkarnasi dijelaskan dengan sangat ilmiah. Ada ilmu fisik, ilmu lahiriah; ada pula ilmu roh, ilmu batiniah.

Agama, ajaran agama, bagaikan tongkat. Jika dipegang oleh Musa yang sadar, “tongkat” menjadi sangat dinamis; bisa meremukkan ego anda, menghaluskan jiwa anda, melembutkan batin anda. Tetapi jika dipegang oleh seseorang yang tidak sadar, terjadilah kekacauan, konflik, pertikaian. Yang penting bukanlah tongkat, yang penting siapa yang memegangnya. Saat ini, “tongkat agama” dipegang oleh orang-orang yang tidak sadar. Lihat saja apa yang terjadi. Di mana-mana terjadi konflik.

Kembali pada kisah kita….

 

Murid Yesus masih saja bersikeras, “Kalau begitu, engkaulah yang menghidupkan kembali manusia ini.”

Yesus menjerit, “Ya Allah, apa maksud manusia tolol ini! Dia sendiri sakit dan tidak menyadari  penyakitnya, malah mau menghidupkan orang lain yang sudah mati. Dia tidak sadar kalau jiwanya sudah sekarat. Yang dia perhatikan malah tengkorak orang lain.”

Tuhan menjawab, “Yang mati memang selalu mengurusi kematian.”

cover-buku-masnawi-2

Tak heran kalau Yesus pernah bersabda, “Biarlah orang  mati mengurusi orang mati, tetapi kamu ikutilah aku!”

Berarti, yang  tidak sadar selalu mengurusi ketololan. Yang tolol selalu mengurusi ketololan. Yang jahat selalu mengurusi kejahatan.

Sebaliknya, yang sadar akan selalu mengurusi kesadaran. Yang bijak akan selalu mengurusi kebijakan. Yang baik akan selalu mengurusi kebaikan.

Jika kematian “fisik” masih meresahkan Anda, kesadaran Anda masih sepenuhnya berada pada tingkat lahiriah. Kendati sudah rajin berdoa, sudah sering melakukan perjalanan suci, sudah beramal saleh, kesadaran Anda masih belum mengalami peningkatan sama sekali.

 

Karena didesak terus oleh muridnya yang tolol, Yesus mengucapkan Asma Allah. Astaga, ternyata tumpukan tulang itu bukanlah milik manusia, tetapi milik seekor singa yang buas. Begitu hidup kembali, dia menerjang si murid dan mencakarnya sampai tewas.

Yesus menegur Si Singa, “Kenapa engkau harus membunuh dia?”

“Supaya yang mendengar tentang kejadian ini mengambil hikmahnya. Berada begitu dekat dengan Sumber Air Kehidupan Yang Jernih, si tolol itu masih saja mau bermain-main dengan air kotor. ‘Allah, Allah’ dia ucapkan dengan mulut, padahal jiwanya masih kafir. Jiwanya masih belum beriman! Nama Allah pun dia ucapkan untuk memperoleh imbalan, untuk mendapatkan keuntungan duniawi. Seperti seekor keledai yang mengangkat Al-Qur’an. Ada kitab suci di atas punggungnya, tetapi dia tidak mengetahui nilainya. Bagi dia Al-Qur’an atau beban lain sama saja. Dia mengangkatnya demi perut.”

 

Lagi-lagi, Rumi mengajak kita untuk bercermin diri… Jangan-jangan keagamaan kita selama ini tidak lebih baik daripada keagamaan murid Yesus yang tolol itu! Jangan-jangan keagamaan kita tak lebih dari sekadar alat dagangan, atau mata dagangan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

Yoga, Meditasi, Laku Spiritual Bukan sekali dibaca, sekali dipelajari — selesai. Tapi, mesti diulang-ulang — dihayati, dan dilakoni dalam keseharian hidup. Seperti yang telah kita baca sebelumnya, Krsna menyebutnya Abhyasa — dilakoni secara terus-menerus, secara intensif dan repetitif. Dengan cara itulah kita baru memperoleh manfaatnya. Penjelasan Bhagavad Gita 8:8

Sudahkah kita menghayati dan melakoni Yoga, Meditasi, Laku Spiritual dalam keseharian hidup?

Advertisements

One Response to “Mohon Diajari Cara Menghidupkan Orang Mati #Kisah Masnawi”

  1. Ni Made Adnyani Says:

    Reblogged this on Ni Made Adnyani and commented:
    Yang penting adalah kesadaran jiwa nya. Bisa kah kita menyadarinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: