Prachinabarhisat: Ritual Pengorbanan Mahal yang Tak Berkesudahan? #SrimadBhagavatam

 

buku-bhagavatam-prachina-barhisat

“Banyak pendukung dari ritual-ritual rumit menganggap ritual-ritual tersebut sebagai tujuan. Mereka lupa memandang ritual sebagai sarana. Ritual menggosok gigi setiap pagi dan/atau malam bermaksud untuk menjaga kesehatan kita. Bahkan bukan sekadar kesehatan gigi dan gusi semata, tapi kesehatan keseluruhan tubuh kita. Dengan demikian, menggosok gigi bukanlah segala-galanya. Jika kita sadar akan maksudnya – yaitu untuk menjaga kesehatan – maka kita juga harus makan yang tepat, berolahraga, dan sebagainya.

“Ritual—ritual dan bentuk-bentuk luaran dari ibadah bisa diibaratkan sebagai kegiatan menggosok gigi. Mulia, tetapi seseorang tetap harus practical juga. Kita tidak bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggosok gigi. Di samping itu, sebagaimana telah dibahas sebelumnya — menggosok gigi saja, ritual luaran saja tidak cukup. Oleh karena itu, risalah ini membahas tentang panduan-panduan yama, niyama, dan dharma yang harus dipatuhi.” Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

cover-buku-yoga-sastra

Raja Bahirshat adalah cucu Vijitashva, cucu buyut dari Prithu sebagai raja penerus anak keturunan Prithu Yang Agung. Raja Bahirsat terkenal dengan sebutan Prachinabarhisat, karena mengadakan ritual yajna yang mahal yang sangat panjang, sambung-menyambung. Raja Prachinabarhisat berputera 10 orang yang kesemuanya dikenal sebagai Pracetasa dan kesepuluh putra tersebut diminta bertapa di dasar samudera untuk memperoleh anak keturunan yang baik. Raja Prachinabarhisat terobsesi oleh upacara ritual yajna. Begitu selesai satu upacara dia melanjutkan lagi dengan upacara ritual berikutnya. Demikian ritual demi ritual dilakukannya sepanjang waktu. Rishi Narada memahami bahwa pada dasarnya sang raja adalah raja baik, akan tetapi tidak dapat mengendalikan obsesi ritual berkelanjutan.

Rishi Narada menemui sang raja dan menyampaikan bahwa sang raja telah berupaya melepaskan keterikatan terhadap istri, anak, kekayaan dan kekuasaan. Tidak salah. Akan tetapi sang rishi mengingatkan bahwa sang raja telah terikat dengan ritual. Dan, tidak bisa melepaskan diri dengan ritual tersebut. Prachinabarhis sadar bahwa apa yang diucapkan Rishi Narada adalah benar dan kemudian mohon petunjuk sang rishi lebih lanjut.

Dengan kekuatan yoganya Rishi Narada memperlihatkan ribuan sapi yang telah dibunuh untuk keperluan ritual dan mengatakan bahwa sapi-sapi tersebut menantikan kematian sang raja untuk membalas dendam. Sang raja pucat pasi dan baru sadar bahwa dia telah berbuat kesalahan melakukan ritual dengan membunuh ribuan sapi. Selanjutnya Rishi Narada menyampaikan kisah Raja Puranjana……..

 

Kisah Raja Puranjana

Ketersesatan adalah ketika kita keluar dari rel, keluar jalur demi kenikmatan indra, dan kenyamanan fisik. Padahal kenyamanan tubuh dan kenikmatan indra hanyalah kebahagiaan palsu nan semu —sesaat. Kembalilah pada jalur – berada di jalur kebenaran inilah kita baru bisa mencapai tujuan kehidupan — Kebebasan Mutlak, Moksa – Kebahagiaan Sejati, Ananda! Penjelasan Bhagavad Gita 17:27

Ketidakbenaran atau kepalsuan — asad — adalah memercayai alam kebendaan sebagai sumber kebahagiaan, kemudian membiarkan diri kita terbelenggu olehnya. Keterikatan pada kebendaan adalah ungkapan asad — ketidakbenaran.

Kepalsuan hanyalah mengantar kita pada alam bayang-bayang, ilusif, di mana segala sesuatu sedang berubah bentuk, tidak ada yang permanen. Tidak ada kepastian. Dari ketidakpastian, kita tidak bisa memperoleh kebahagiaan sejati. Sebab itu, bebaskan diri kita dari ketidakpastian, dari belenggu-belenggu kepalsuan yang menjerat kita. Ketika kita bebas dari keterikatan pada alam benda – maka saat itu juga, kita meraih Kebahagiaan Sejati.

Sesungguhnya Kebebasan Mutlak itulah Kebahagiaan Sejati. Moksa dan Ananda adalah dua sisi kepingan uang logam yang sama. Kebahagiaan Sejati tidak dapat dipisahkan dari Kebebasan Mutlak. Bagi seseorang yang berada di balik jeruji keterikatan penjara dunia alam benda, tiada kebahagiaan melebihi kebebasan dari tempat dan keadaan yang memenjarakan dirinya. Inilah Kesadaran Jiwa, kesadaran yang membebaskan dan membahagiakan. Penjelasan Bhagavad Gita 17:28

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

buku-bhagavatam-puranjana-kota-9-gerbang

Dikisahkan pada suatu ketika, ada seorang raja terkenal bernama Puranjana. Dia mempunyai sahabat bernama Avijnata, ‘yang tak diketahui’. Mereka selalu tak terpisahkan, sampai suatu kali Puranjana berkeinginan untuk mencari tempat tinggal yang sesuai dengan seleranya. Avijnata memperingatkan Puranjana, untuk apa berpisah dengan dia? Akan tetapi Puranjana merasa bahwa keputusan yang dia ambil benar.

Puranjana berkeliling dunia mencari tempat yang cocok baginya. Tapi tidak ada satupun yang membuatnya krasan. Pada akhirnya, Puranjana menemukan sebuah kota bernama Bhogavati, kota kesenangan”. Kota tersebut mempunyai sembilan gerbang untuk memenuhi kebutuhan penduduk kota. Kota tersebut juga dijaga oleh sepuluh penjaga dan seekor ular raksasa berkepala lima. Kota tersebut dihuni seorang putri yang amat menawan bernama Puranjani. Tak sabar Puranjana bertanya tentang asal-usul sang putri yang dijawab bahwa dia tidak tahu orang tuanya siapa. Dia hanya tahu bahwa dia telah berada di kota tersebut. Mereka yang berada di sekeliling dirinya adalah sahabat-sahabatnya, mereka menjaga dirinya di kala dia sedang tidur. Sang putri mengucapkan selamat datang ke kotanya dan berkata bahwa tamunya akan mendapat banyak harta dan  kenikmatan di dalam kota. Akhirnya, Puranjana bersedia tinggal di kota tersebut dan putri tersebut dipinangnya sebagai istri. Puranjana lupa akan waktu dan larut dalam keasyikan hidup di kota Bhogavati bersama istrinya.

 

Puranjana mempunyai kesukaan untuk berburu dan biasanya istrinya diajak serta. Pada suatu ketika istrinya ditinggal di kota dan dia berburu sendirian. Semakin banyak hewan buruan yang dibununhnya. Setelah jenuh, Puranjana pulang mandi yang bersih dan mencari sang istri yang tidak menyambutnya, dan mengasingkan diri di tempat yang sepi. Istrinya bertanya, mengapa sang raja hanya mencari kesenangan diri dan melupakan dia? Sang raja sadar dan selanjutnya patuh terhadap istrinya. Dan, kemudian mereka selalu berduaan saja siang dan malam. Mereka lupa waktu sehingga dikaruniai seratus sepuluh putri dan seribu seratus putra. Putri dan putra mereka, semuanya kawin dan menurunkan keturunan. Sang raja terlibat dalam upacara ritual pengorbanan hewan tak berdosa saat kelahiran dan saat perkawinan putra-putrinya. Kesibukan mengurus putra dan putri membuat Puranjana kehilangan separuh umurnya, dia sudah menjadi pria separuh baya.

Raja Puranjana asyik dengan kenikmatan dunia yang didapatkan di kota Bhogavati dan lengah bahwa ada pemimpin perampok bernama Chandavega yang selalu menunggu kesempatan menghancurkan kotanya. Chandavega mempunyai tiga ratus enam puluh pasang pengawal yang kuat yang terdiri dari 360 pria berkulit putih dan 360 wanita yang berkulit hitam. Mereka selalu berupaya menjarah milik Puranjana.

Ada juga musuh dari Kota Bhogavati, yaitu Sang Kala, waktu yang mempunyai putri bernama Jara, Usia Tua dia juga disebut Durbhaga, nasib jelek. Jara ingin mempunyai suami, akan tetapi tak ada seorang pun yang berminat dengannya. Jara minta Rishi Narada menjadi suaminya, akan tetapi ditolak sehingga Rishi Narada dikutuk tidak pernah menetap lama, selalu bepergian. Jara kemudian mendatangi Raja Yavana, yang juga dikenal sebagai Bhaya, kecemasan. Bhaya menasihatinya bahwa tidak ada seorang pun yang mencintai Jara, usia tua. Bhaya punya saudara bernama Prajvara, demam sebelum kematian. Dan, Jara diminta kawin dengan Prajvara dan mendatangi semua manusia dengan mengendap-endap. Bila Jara dan Prajvara sudah menguasai seseorang, maka Bhaya, kecemasan akan mendatangi orang tersebut, sampai Dewa Yama mengambil nyawanya.

Keamanan kota Bhogavati memang dijaga ular perkasa berkepala lima, tetapi dengan berjalannya sang waktu, sang ular penjaga pun semakin tua dan lemah. Puranjana sadar, pada suatu hari akan tiba saatnya kotanya jatuh dan dikuasai Chandavega. Saat usia paruh baya, ular perkasa sudah melemah. Sang raja bingung, karena tidak pernah berpikir bahwa pada suatu saat kotanya akan hancur juga. Dia mulai muak terhadap kenikmatan duniawi dalam kotanya. Istri dan anak keturunannya  pun tidak peduli tentang ancaman nyata yang akan tiba. Rasa jenuh menghantui dirinya.

Puranjana sadar tatkala Chandavega sudah menguasai kotanya, sedang Jara, usia tua dan Prajvara, demam sebelum kematian, dan Bhaya, kecemasan sudah berada dalam bilik kamarnya. Dalam keadaan depresi Dewa Kematian sudah menjemputnya…………. Sebelum ajal tiba, yang dipikir oleh Puranjana adalah bagaimana nanti nasib istrinya dan juga anak keturunannya.

Silakan simak penjelasan tentang Bhogavati, Puranjani, Chandavega dalam kisah selanjutnya……

 

Catatan:

Lawan kata dari Yoga adalah Bhoga. Jika Yoga berarti disiplin diri, pengendalian diri, Bhoga berarti sebaliknya, yakni hidup tanpa disiplin, membiarkan diri terkendali alam benda dan kebendaan; membiarkan indra lepas kendali dan mencari mangsa, mencari kenikmatan sesaat yang tidak berarti (malah bisa membahayakan, mencelakakan diri dan orang lain). Itulah Bhoga. Yoga Sutra Patanjali.

Sudahkah kita hidup dengan disiplin? Menjalankan Yoga Sadhana (Paket Laku Yoga) secara rutin?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: