Ajarkan Aku Bahasa Hewan! Kisah #Masnawi

buku-masnawi-3-musa-bahasa-hewan

Seorang pemuda mendesak Nabi Musa, “Ajarkan aku bahasa hewan, ya Rasul Allah. Lewat bahasa mereka, mungkin aku bisa memahami  sesuatu yang bersifat batiniah. Karena, bahasa manusia hanya mengurusi keperluan lahiriah.”

 

Rumi sedang menyindir kita. Sindirannya halus, tetapi tegas—Jelas. Selama ini kita memang sibuk mengurusi keperluan dan keinginan lahiriah. Kalaupun bicara agama, masih sepenuhnya terkait dengan hal-hal yang bersifat lahiriah. Berdoa untuk memperoleh jodoh. Melakukan perjalanan suci karena baru naik pangkat. Ya, begitulah! Rumi kegerahan dan dia meminjam mulut pemuda dalam kisah ini untuk mengomeli kita…

 

Nabi Musa menjawab, “Janganlah engkau berkeinginan macam-macam. (Pencarianmu selama ini salah). Kesadaran rohani, pengalaman batiniah, hanya dapat diperoleh dengan menyelami) Tuhan. Tidak bisa diperoleh lewat bacaan maupun wejangan.”

 

Jawaban Nabi Musa tepat sekali. Pencarian pemuda itu memang salah. Dia mencari pengalaman batin lewat “bacaan dan wejangan”. Lewat buku, tulisan, ceramah, ungkapan, dun lain sebagainya. Jelas dia tidak akan mendapatkannya. Pengalaman batin harus diperoleh dengan menyelami batin itu sendiri. Apabila Tuhan dapat dia rasakan lebih dekat daripada urat leher, apabila kerajaan-Nya berada di dalam diri kita, apabila Dia meliputi segala-galanya, maka untuk “bertemu” dengan Dia, kita harus berhenti berkeliaran di luar diri.

Baik bahasa manusia maupun bahasa hewan, dua-duanya menjauhkan kita dari  diri sendiri. Bahasa merupakan sarana komunikasi. Dan untuk berkomunikasi, anda membutuhkan seorang “lawan”. Kalau tidak ada, mau berkomunikasi dengan siapa?

Ketika anda melakukan perenungan atau berkomunikasi dengan diri sendiri, sesungguhnya anda menciptakan “lawan” di dalam diri. Ada “sesuatu” yang sedang bicara dengan “yang lain”. Katakan ada “pikiran” dan ada “suara hati”. Ada “dua”, padahal anda “satu”!

Untuk berkomunikasi dengan “pihak luar” bahasa jelas dibutuhkan. Tetapi untuk berhubungan dengan “diri sendiri”, apakah bahasa masih dibutuhkan juga? Mereka yang telah menyelami alam meditasi tahu persis bahwa “hubungan dengan diri” justru terjadi ketika “bahasa dan kata-kata” sudah terlampaui, terlepaskan. Bahasa dan kata-kata justru selalu menghalang-halangi hubungan tersebut.

Kisah ini sungguh indah:

 

Pemuda itu masih saja mendesak Musa. Sang Nabi pun berpikir dalam hati, “Apabila saya mengajarinya, akan berbahaya bagi diri dia sendiri. Apabila saya tidak mengajarinya, dia akan bersedih hati. Ya Allah, Ya Rabb, apa yang harus saya lakukan?”

Tuhan menjawab, “Kabulkan perrnintaannya. Karena kami tidak pernah menolak permohonan seseorang.”

“Tetapi dia sendiri akan menyesali permintaannya itu….,” kata Musa.

cover-buku-masnawi-3

                Kekuatan, kedudukan dun kekuasaan justru bisa mencelakakan manusia. Bilamana dia tidak mampu menahan diri, bilamana dia tidak bisa menjaga keseimbangan diri, maka kesadarannya akan pasti merosot. Demikian penjelasan Rumi.

Lebih lanjut, Sang Maulana juga menegaskan bahwa mereka yang sedang mengejar semua itu sesungguhnya diperbudak oleh hawa nafsu dan keinginan yang liar. Mereka terperangkap dalam kesadaran lahiriah.

Dalam bahasa Rumi, mereka sudah terbiasa makan tanah, sehingga diberi manisan mereka tidak akan menghargainya. Bahkan tidak dapat mencernanya.

Melanjutkan kisah ini:

 

Tuhan menjawab, “(Bagaimanapun juga), kabulkan permohonannya. Beri dia kesempatan untuk memilih, mana yang baik dan mana yang tidak baik (bagi dirinya). Beri dia pedang dan biarlah dia sendiri yang menentukan mau membela mereka yang lemah atau justru menindas mereka dengan pedang itu!”

Walau sudah dijinkan oleh Tuhan, Musa masih saja berupaya agar pemuda itu mengurungkan niatnya, “Apa yang kau minta itu bisa rnencelakakan dirimu. Lebih baik lupakan saja.”

Si pemuda berpikir sebentar, lalu menanggapi Nabi, “Begini Nabi, ajarkan saya dua bahasa saja. Bahasa anjing yang menjaga pintu dan bahasa unggas yang berada di dalarn rumahku.”

“Baiklah, engkau akan memahami bahasa mereka.” Akhirnya Musa menyerah juga.

 

Pemuda dalam kisah ini mewakili saya dan anda—mewakili kita semua. Awalnya keren banget, dia mau belajar bahasa hewan untuk mendalami batin. Alasan belaka. Ternyata apa? Dia hanya ingin memahami bahasa anjing penjaga pintu dan bahasa unggas yang setiap saat bisa disembelih dan dimakan.

Anjing mewakili keamanan, keselamatan, kenyamanan. Kalau ada anjing penjaga rumah, anda bisa tidur nyenyak. Kemudian unggas, binatang yang satu ini mewakili umpan bagi pancaindra. Setiap indra sedang mencari kepuasan. Selalu, setiap saat. Mereka membutuhkan “unggas” yang bisa dipelihara di dalam rumah, sekaligus disembelih dan dimakan kapan saja. Yang sedang kita cari memang dua binatang itu. Yang sibuk kita pelajari memang bahasa mereka.

Musa tahu bahwa kedua “bahasa” tersebut tidak pernah membantu manusia. Bahkan yang namanya “bahasa” tidak pernah membantu mannsia. Setidaknya untuk menyelami diri, untuk meniti jalan ke dalam diri, bahasa justru menjadi penghalang. Tetapi, apa boleh buat? Pemuda itu ngotot…..

Dengarkan lanjutan kisah ini:

 

Esoknya, dia mendengar anjing dan unggas meributkan sepotong roti. Si anjing mengeluh, “Kamu kan bisa makan biji-bijian, padi, apa pun. Biarkan aku yang makan roti ini.”

Unggas menjawab, “Jangan ribut, Kang.Besok pagi, si kuda tua milik majikan kita itu akan mati. Kamu bisa berpesta pora. Roti ini untuk aku saja.”

Maka si anjing mengalah. Dan Sang Majikan bersyukur telah mendengar pembicaraan rnereka. Hari itu juga dia menjual kudanya. “Biar si pembeli yang rugi, kenapa aku?” Pikir dia.

Esoknya, si anjing mengeluh, “Eh unggas, kamu pembohong. Katanya kuda tua itu akan mati.”

“Memang mati. Tetapi apa boleh buat, kemarin sudah dijual oleh majikan kita. Jadi, ya mati di rumah majikannya yang baru. Tetapi jangan khawatir, Kang. Besok si keledai akan mati.” Si unggas memberi harapan baru.

Sang majikan yang mendengar hal itu, langsung menjual keledainya. Biar mati di rumah pemiliknya yang baru. Maka esoknya si anjing mengeluh kembali.

“Jangan menyalahkan aku, Kang. Keledai pun mati, tetapi di rumah pemiliknya yang baru. Begini, besok pagi si budak akan mati. Nah, keluarganya pasti membagikan makanan kepada fakir miskin dan anjing-anjing sekampung,” kata unggas.

Si majikan tidak mau rugi, maka budak itu pun berpindah tangan (Untuk pertama kali, saya harus menggunakan istilah budak. Selama ini, saya menggunakan istilah “pembantu”, padahal yang dimaksudkan adalah budak. Khusus untuk kisah ini, terpaksa saya menggunakan  istilah “budak” karena “pembantu” tidak bisa dijual—a.k.).

Esoknya, si anjing marah besar, “Koq begini jadinya!”

Si unggas menjawab, “Jangan khawatir, kali ini tidak salah lagi, yang mati majikan kita. Nah, besok pagi anaknya pasti memberi korban. Pasti menyembelih sapi. Kamu berpesta, deh…”

Mendengar ramalan tentang kematiannya, si majikan berkeringatan. Seluruh badan basah kuyup. Berlari-lari dia mcndatangi kemah Musa, “Nabi, lindungilah aku.”

“Lindungi kamu? Bukannya kamu sudah cukup pintar untuk melindungi diri? Selama ini kamu sudah berhasil melindungi diri kerugian,” kata Musa.

“Maafkan aku, Nabi.” Dan pemuda itu mulai menangis terisak-isak.

“Anak panah yang sudah dilepaskan tidak bisa kembali lagi. Saya hanya bisa berdoa agar imanmu dan keyakinanmu menyertai kamu.”

Belum selesai mcndengar jawaban Sang Nabi pemuda itu merasa mual. Seperti ingin muntah. Dibantu oleh mereka yang mengantarnya, dia pulang ke rurnah. Pikir dia, rasa mual itu disebabkan oleh salah makan. Dan kalau sudah muntah, rasa mualnya akan hilang. Dia masih tidak sadar bahwa ajalnya sudah dekat.

Esok harinya Musa berdoa, “Ya Allah, Ya Rabb. Biarkan iman dia, keyakinan dia menyertai dia. Lindungilah dia.”

Tuhan menanggapi doa yang berasal dari hati yang tulus itu, “Musa, jika engkau menghendakinya, akan Kubangkitkan kembali jasadnya yang sudah tak bernyawa.”

“Tidak, Tuhanku. Tidak. Apa gunanya kebangkitan dalam dunia ini, dunia yang sedang menuju kematian? Bangkitkan dia dalam alam yang bercahaya itu….”

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n

Demi keamanan, keselamatan dan kenyamanan diri, manusia melakukan apa sajaa. Orang lain merugi, tak apa. Asal kita untung terus. Tetapi sampai kapan? Selama untung-rugi dikaitkan dengan hidup-mati, maka apa pun yang dia lakukan, kematian tak bisa dihindari.

Sementara itu, kebahagiaan yang kita kejar juga tidak membahagiakan”. Kita pikir dengan mengikuti kemauan pancaindra kita akan bahagia. Tidak terpikir bahwa kemauan pancaindra tidak pernah habis. Keinginannya bertambah terus. Kendaraan yang dulu membahagiakan anda,  sekarang tidak memhahagiakan lagi. Anda ingin memiliki yang lebih mahal, yang lebih mewah. Rumah idaman yang anda anggap sorga, ternyata bukan sorga juga. Anda ingin memiliki sorga yang lebih besar, lebih mewah.

Dan yang jelas, alamatnya harus berbeda. Alamat lama di bilangan Sunter sudah tidak membahagiakan lagi. Sorga anda harus beralamat Simprug.

Kita sudah terbiasa hidup dalam kegelapan. Dalam bahasa Rumi, seperti tikus yang selaln mencari lorong-lorong gelap. Lahir dalam kegelapan, hidup dalam kegelapan, akhirnya mati pun dalarn kegelapan. Apa arti hidup seperti itu? Mungkin di antara kita masih ada yang bisa bertanya demikian. Dia masih cukup sadar. Dia tahu bahwa ada hidup lain. Mayoritas tidak bertanya demikian. Bagi mereka, kegelapan itulah arti hidup. Arti apa lagi? Niat seorang Musa pun akan mereka ragukan, “Cahaya apa yang sedang kau bicarakan? Ah, kamu berkhayal saja. Inilah kehidupan. Dari dulu orangtuaku hidup dalam lorong ini. Orangtua mereka pun hidup dalam lorong yang sama. Demikian yang sudah berjalan selama berabad-abad. Jangan menyesatkan kami. Inilah tradisi kami, kepercayaan kami.”

Semoga anda dan saya, kita, tidak sekelompok dengan mereka!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Ketiga Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Kebijaksanaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: