Kisah Puranjana: Evolusi Manusia Melalui Banyak Wujud #SrimadBhagavatam

buku-bhagavatam-puranjana-evolusi-dna

Lahir Kembali

“Sesaat sebelum Jiwa berpisah dari Badan – Sesaat sebelum perpisahan itu betul-betul terjadi, mulailah pertunjukan kolosal – film tentang hidup kita. Saat itu terjadi penyesalan, muncul keterikatan, dan sebagainya. Dan, apa yang terjadi saat itu menjadi benih bagi kehidupan berikut.” Dikutip dari Penjelasan Bhagavad Gita 8:10 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Menjelang ajal Raja Puranjana mengingat akan Puranjani, istrinya dan anak keturunannya. Dia cemas akan nasib istri dan anak keturunannya. Karena sebelum ajal yang dipikirkan adalah istrinya, maka dia dilahirkan lagi sebagai wanita, Vaidharbi, putri Raja Vidharba. Berkat kebaikan-kebaikan masa lalunya, Puranjana lahir menjadi Vaidharbi, putri raja dan kawin dengan Raja Malayadhvaja Pandya yang saleh dan bijaksana. Vaidharbi dan Pandya mempunyai anak putri satu orang dan putra tujuh orang.

 

Masa Vanaprashta

“Masa Vanaprastha selambat-lambatnya pada usia 60 tahun, para orangtua yang telah menyelesaikan tugas dan kewajiban terhadap anak-anak mereka, mesti meninggalkan rumah untuk bermukim di vana, wana, atau hutan untuk selanjutnya ‘sepenuhnya’ mendalami laku spiritual. Ya, dalam masa Vanaprastha, laku spiritual menjadi full time job. Tidak lagi mengurusi dunia dan kebendaan, tetapi mengurusi diri, mengurusi jiwa, dan melayani sesama manusia, sesama makhluk secara purnawaktu.

“Para Vanaprasthi atau pelaku Vanaprastha Ashram boleh juga bergabung dengan salah satu ashram dalam arti padepokan yang di masa lalu berada di tengah hutan.

“Vanaprastha Ashram mesti dimaknai kembali… Vanaprastha dalam konteks modern mesti diterjemahkan sebagai pelepasan diri dari ketergantungan pada materi. Materi masih dibutuhkan untuk bertahan hidup. Namun, ya sebatas itu saja, untuk bertahan hidup, dan sisanya untuk berbagi kehidupan. Tidak lagi mengejar kemewahan. Kenyamanan boleh saja, tetapi tidak lagi mengejar kenikmatan hidup berlebihan. Untuk itu seseorang boleh masuk hutan, pindah ke kampung kelahirannya dan melayani warga sekampung yang barangkali membutuhkan pelayanan, atau bergabung dengan suatu lembaga spiritual secara purnawaktu dan mengabdikan dirinya, apa saja yang memungkinkan. Intinya, ia tidak lagi mengurusi benda dan kebendaan, dan hidup dalam pengertian simple living, bukan impoverish living atau menjadi miskin dan bergantung pada belas kasihan orang lain.”  (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

cover-buku-sanyas-dharma

Setelah mencapai usia paruh baya, Pandhya, sang raja menyerahkan tahtanya kepada putra mahkota dan menjalani kehidupan Vanaprashta di hutan dan menjadi sanyasi dengan hanya terfokus kepada Gusti Pangeran. Vaidharbi mengikuti suaminya, berdua menjadi sanyasi di hutan hanya fokus kepasa Gusti Pangeran. Sebuah peningkatan kesadaran. Bila sebelumnya sebagai Puranjana hanya menghabiskan usia dengan kesenangan, kini sebagai Vaidharbi yang sadar tubuhnya melemah karena usia, dia mengikuti sang suami hidup berfokus pada Gusti Pangeran.

Raja Pandya hanya berfokus pada Gusti Pangeran sampai saat Dewa Yama menjemputnya. Vaidarbhi menangis sedih. Memang seharusnya demikian. Sang suami adalah Guru Spiritualnya. Ketika tubuh fana dari Guru berakhir, murid-muridnya harus menangis, persis seperti Vaidharbi menangis ketika sang raja meninggal. Namun, murid dan Guru tidak pernah bisa dipisahkan, karena Guru selalu menjaga hubungan dengan murid selama murid tersebut patuh melakoni instruksi dari Gurunya. Selama Guru hadir secara fisik, murid harus melayani tubuh fisik dari Guru, dan ketika Guru tidak lagi ada secara fisik, murid harus melakoni instruksi dari Guru.

Kala Vaidarbhi sedang menyiapkan ritual pembakaran suami dan dirinya, seorang brahmana datang dan bertanya, “Kamu ingat saya?” Puranjana yang sudah lahir sebagai Vaidharbi mulai ingat siapa brahmana yang menyapa dirinya. Brahmana tersebut berkata, “Saya adalah sahabatmu yang paling dekat, Avijnata. Pada waktu itu kau meninggalkan aku mencari tempat yang sesuai seleramu, dan akhirnya kau tertarik masuk Kota Bhogavati, kamu melupakan alam keilahian. Beruntung, kamu lahir lagi, mempunyai suami yang taat kepada Gusti Pangeran yang dapat memengaruhi dirimu sehingga kesadaranmu meningkat dan bisa bertemu kembali dengan-Ku. Sejatinya kau bukan Puranjana, bukan pula Vaidharbi, kau adalah proyeksi dari-Ku. Pikiranmu membuat kau semakin menjauh dari-Ku”

Raja Prachinabarhisat larut dalam kisah Narada dan Narada melanjutkan………

 

Makna Puranjana

“Aku mati sebagai mineral dan menjelma sebagai tumbuhan, aku mati sebagai tumbuhan dan lahir kembali sebagai binatang. Aku mati sebagai binatang dan kini manusia. Kenapa aku harus takut ? Maut  tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.

“Sekali lagi, Aku masih harus mati sebagai manusia. Dan lahir di alam para malaikat. Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat, Aku masih harus mati lagi, Karena, kecuali Tuhan, Tidak ada sesuatu yang kekal abadi. Setelah kelahiranku sebagai malaikat, Aku masih akan menjelma lagi dalam bentuk yang tak kupahami. Ah, biarkan diriku lenyap, Memasuki kekosongan, kasunyataan. Karena hanya dalam kasunyatan itu  terdengar nyanyian mulai;

“Kepada Nya, kita semua akan kembali” (Jalaluddin Rumi) Terjemahan Puisi Jalaluddin Rumi tersebut menjelaskan tentang reinkarnasi dalam buku (Krishna, Anand. (2002). Kematian, Panduan Untuk Menghadapinya Dengan Senyuman. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

buku-bhagavatam-puranjana-kota-9-gerbang

Puranjana adalah penghuni kota, penghuni tempat, penguasa raga, yang menghidupi tubuh. Setiap makhluk adalah Puranjana. Raja dari tubuhnya. Karena ketidaktahuan maka dia menganggap wujudnya sebagai identitasnya, menuruti indra, melayani indra, mencari kepuasan dari indra.

Puranjana mengembara, mencari kota (tubuh) yang tepat sesuai seleranya. Ia melakukan perjalanan pada seluruh ciptaan, disebut 8.400.000 species hidup dan trilyunan planet penciptaan. Puranjana berpindah-pindah tubuh mencari tubuh yang sesuai dengan seleranya. Ini  adalah perjalanan evolusi yang sangat panjang yang dicatat dalam genetika dari mineral, tanaman, hewan sampai manusia. Perhatikan puisi Rumi di atas.

Dalam buku Genom, Kisah Species Manusia oleh Matt Ridley terbitan Gramedia 2005, disebutkan bahwa Genom Manusia – seperangkat lengkap gen manusia – hadir dalam paket berisi dua puluh tiga pasangan kromosom yang terpisah-pisah. Penulis Buku tersebut membayangkan genom manusia sebagai semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya – berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species  kita serta nenek moyangnya sejak pertama kehidupan di jagad raya. Genom telah menjadi semacam otobiografi untuk species kita yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini berisi 23 Bab, tiap Bab berisi beberapa ribu Gen. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku dengan tebal 400-an halaman.

Puranjana mengembara dalam berbagai jenis tubuh guna memenuhi upaya untuk menikmati indra. Sampailah pengembaraan Puranjana ke kota bernama Bhogavati, kota kesenangan”. Kota tersebut mempunyai sembilan gerbang untuk memenuhi kebutuhan penduduk kota. Sembilan gerbang adalah 9 lubang tubuh manusia: 2 mata, 2 telinga, 2 lubang hidung, 1 mulut, 1 dubur, dan 1 lubang kemaluan. Puranjana akhirnya menghuni tubuh manusia. Ular berkepala 5 adalah 5 praana.

Etheric body terbuat dari 5 energi

Etheric-Body ini terbuat dari 5 Praana. Praana, di sini, lebih tepat bila diterjemahkan sebagai kekuatan, energi. Yang pertama disebut Praana juga. Inilah Energi Murni di dalam diri manusia. Setiap kali Anda menarik napas dan membuang napas, terciptalah energi. Energi ini disebut Prana. Kedua disebut Samana. Tetap dihasilkan oleh napas, tetapi khusus untuk membantu pencernaan. Lalu, sebagai hasil pencernaan terciptalah Ojas atau Tejas…..Ketiga adalah Vyana, energi yang membantu Ojas dan Tejas hasil pencernaan, serta prana hasil napas , menyebar ke seluruh badan. Sarana yang digunakannya adalah pembuluh darah dan jaringan saraf….. Keempat adalah Apana, yaitu energi yang mendesak kotoran-kotoran di dalam Udana badan agar keluar. Ketika Anda membuang napas misalnya, CO2 membutuhkan dorongan Apana untuk keluar lewat hidung atau mulut. Ketika Anda membuang air besar atau air kecil, atau bahkan mengeluarkan kentut, yang berperan adalah Apana…. Kelima Udana, yaitu energi yang mendesak soul atau roh keluar dari badan. adalah energi yang paling penting. Sebab energi Prana dan lain-lain bisa berjalan sendiri, bisa berkembang sendiri. Sebaliknya, energi Udana harus dikembangkan. Bila tidak, saat kematian kita akan menderita. Sulit bagi roh untuk keluar dari badan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sepuluh penjaga adalah panca indra dan 5 organnya: yang melihat dan mata, yang mendengar dan telinga, yang meraba dan kulit, yang mengecap dan lidah, yang membaui dan hidung. Puranjani sang gadis cantik adalah pikiran kita.

Puranjana merasa nyaman dalam tubuh manusia dan kawin dengan pikiran. Puranjana lupa dan merasa dia adalah pikiran. Merasa aku adalah pikiranku. Karena maya lupa sejarah panjang dia bukan pikiran, bukan tubuh dia adalah penghuni tubuh.

Silakan ikuti penjelasan cara kematian Puranjana dan bagaimana cara mati yang baik, apa yang dilakukan sebelum ajal tiba dalam lanjutan kisah ini:

 

Catatan:

Bagaimana cara menyadari bahwa aku adalah penghuni tubuh ini? Aku bukan tubuhku, aku bukan pikiranku?

Silakan latihan meditasi secara rutin agar kita dapat berpikir jernih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: