Kisah Puranjana: Sangkan Paraning Dumadi, Asal Tujuan Kejadian #SrimadBhagavatam

buku-bhagavatam-puranjana-kematian

 

Setan, demon, atau asura adalah suatu keadaan yang tidak selaras, tidak seirama dengan irama alam. Asura berarti tidak berirama, tanpa irama. Irama Alam adalah memberi, berbagi, mencintai, melindungi, empati – semua ini adalah irama alam. Gotong royong adalah irama alam. Dan, kebalikan semuanya itu membuat manusia tidak seirama dengan alam. Mereka yang seirama dengan alam adalah sura – kebalikannya adalah asura.

Jadi, Anda, saya, kita semua memiliki potensi ganda ini, mau menjadi seirama, selaras dengan semesta atau tidak selaras. Mau menjadi Sura atau Asura – pilihan di tangan kita!

Krsna menyebut mereka yang tidak seirama—mereka yang bersifat asura—sebagai orang bodoh. Dunia ini penuh dengan orang-orang bodoh. Mereka hidup tanpa mengetahui arah. Mereka tidak tahu tujuan hidup itu apa. Mereka pikir makan, minum, tidur, seks, kekuasaan, harta-benda, itulah kehidupan. Mereka “tampak” bahagia, tapi sesungguhnya hampa. Mereka kosong.

Hingga usia 35-40 tahun, mungkin mereka tidak mengerti arti kebahagiaan, dan menerjemahkan “kenyamanan” sebagai “kebahagiaan”. Setelah usia 35-40 tahun, umumnya mereka  baru tersadarkan bahwa Kenyamanan tidak sama dengan Kebahagiaan. Namun, saat itu pun mereka masih belum tahu cara untuk meraih kebahagiaan sejati. Adalah suatu berkah jika seorang yang sudah berusia 35-40 tahun masih sempat tersadarkan akan kesalahannya, dan mulai mencari kebahagiaan sejati. Biasanya, mereka hidup sebagai layangan yang putus – tanpa arah – bergantung pada arus angin. Demikian satu masa kehidupan tersia-siakan.

Dibutuhkan energi yang luar biasa untuk menarik diri dari pengaruh maya. Dan, energi sedahsyat itu adalah energi seorang pemuda, seorang pemudi di bawah usia 30-35 tahun. Energi semasa itu, energi hingga usia itu adalah energi keberanian, kepahlawanan. Energi yang membuat seorang berani mengambil resiko itu, tidak bertahan lama. Gunakan energi itu sekarang, dan saat ini juga, sebelum ia meredup! Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Puranjana suka berburu, membunuh binatang kesenangan hanya untuk kepuasan. Suatu kali Puranjana berburu tanpa istri. Berburu tanpa memakai pikiran hanya memuaskan nafsu. Pikiran dianggap membatasi nafsunya. Binatang yang dibunuhnya menjadi semakin banyak. Sampai akhirnya Puranjana jenuh pulang ke istana dan mandi, membersihkan diri. Hanya melulu mengikuti nafsu tanpa berpikir membuatnya merasa jenuh dan mulai membersihkan nafsunya dan kembali kepada pikirannya.

Puranjani, pikiran yang merasa diabaikan suaminya pergi menyepi. Akhirnya Puranjana sadar dan selalu berdua dengan pikirannya. Dikisahkan mereka mempunyai 1100 anak laki-laki dan 110 anak perempuan. Kehidupan berkeluarga tanpa disadari telah menghabiskan usia, mengurus anak-anak sampai dewasa, tanpa terasa manusia sudah sampai berusia paruh baya.

Tanpa disadari raja perampok Candavega dengan 360 pasangan prajuritnya selalu berupaya menjarah diri kita. Candavega adalah waktu setahun dengan 360 hari yang terdiri dari siang hari dan malam hari menjarah perlengkapan dan kesenangan indra. Setelah usia 50 tahun kita baru merasa sebagian tubuh kita telah dijarah waktu. Dalam Srimad Bhagavatam disebutkan jatah hidup manusia 100 tahun, setelah mencapai 50 tahun tubuh sudah terasa mulai rapuh.

Pada waktu itulah Jara, usia tua dan Bhaya, kecemasan mulai menghantui manusia. Pengawal manusia ular berkepala lima mulai berkurang kekuatannya, lima prana dalam tubuh manusia mulai melemah. Biasanya seorang raja yang sadar makna kehidupan, istananya diserahkan kepada putra mahkota dan dia menjalani vanaprashta, pergi ke hutan hanya berfokus pada Gusti Pangeran mempersiapkan kematian.

Dikisahkan Balatentara Yavana, Kecemasan menyerang 9 gerbang manusia, dan mana yang lebih lemah diserang lebih dahulu. Demikian, perampok Candavega semakin menjarah manusia sampai datangnya Prajvara, demam menjelang kematian. Bila seeorang belum full time job memikirkan spiritual, bila masih saja disibukkan dengan urusan keluarga, pada saat menjelang ajal yang dipikirkan pun masih keluarganya.

Prajvara, demam menjelang kematian dikisahkan membakar istana, semua anak-cucu dibakar. Bagian-bagian tubuh, angota tubuh, otot, darah adalah anak-cucu yang dihancurkan Prajvara. Masih juga Puranjana enggan keluar maka dia dipukul keluar. Dikisahkan badan halus yang dikiaskan sebagai ular menyelamatkan diri keluar dari tubuh karena kepanasan. Tenggorokan sering mampet. Menyebut nama Krishna atau Gusti Pangeran atau Allah atau Om sudah sulit sekali.

Dikisahkan Puranjana sebelum meninggal hanya berpikir tentang istri dan anak cucunya. Maka dia dipastikan akan lahir lagi sebagai bayi perempuan yang dalam hal ini adalah Putri Vaidharbi. Karena tumpukan kebaikan Puranjana dia lahir sebagai putri Raja Vidharba dan kawin dengan Raja Bijak Malayadhvaja Pandya. Bandingkan dengan kematian Raja Malayadhvaja Pandya yang sudah melakukan Vanaprahta dan menjadi Sanyasi dan berfokus pada Gusti Pangeran. Sebelum ajal sang raja hanya memikirkan Gusti Pangeran saja. Seorang politisi atau nasionalis akan melanjutkan profesinya bila menjelang ajal yang dipikir hanya bangsanya. Kalau tumpukan kebaikannya besar maka dia akan sukses melanjutkan obsesinya.

Sebelum lahir lagi, Puranjana yang suka membunuh binatang ditunggu oleh para binatang yang dibunuhnya. Dia akan merasakan kesakitan seperti sakitnya para binatang yang dibunuhnya.

Seseorang yang telah sadar seperti Vaidharbi akan ditemui Avijnata, brahmana yang mengingatkan makna kehidupan agar dia dapat mempersiapkan diri menghadapi kematiannya.

Kesimpulannya seseorang harus sadar akan tindakannya, setelah paruh baya meninggalkan tugas pekerjaan yang biasa dilakukannya untuk melakukan bhakti, pelayanan kepada sesama dan hanya berfokus pada Gusti Pangeran.

 

Sangkan Paraning Dumadi, Asal Tujuan Kejadian

“Kita semua ‘terbuat’ dari zat yang sama, substansi kita sama: Ruh. Namun, ketika ‘keluar’ dari Ruh, kita memperoleh kemampuan untuk berpikir secara terpisah. Kemampuan itu memberi kebebasan, sekaligus membuka kemungkinan bagi terjadinya kesalahan. Jika kita tidak menyadari hubungan kita dengan sumber, dengan Ruh, dengan Allah Bapa, maka terjadilah kesalahan. Awalnya, pikiran kita yang salah, kemudian perbuatan. Tanpa kesadaran akan hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, pandangan kita menjadi terbatas, sempit. Kita tidak bisa melihat kebenaran secara utuh sehingga kesimpulan kita sudah pasti salah. Merosotnya kualitas hidup, kekuatan diri, dan intelijensia atau kebijaksanaan kita selalu dalam proporsi yang persis sama dengan kemerosotan kesadaran yang kita alami. Dan, dengan kemerosotan kesadaran yang dimaksud adalah kealpaan kita akan hubungan dengan Sumber Hyang Tunggal, Roh, Allah Bapa Hyang Maha Bijak, Kehidupan Abadi. Yesus menemukan dunia dalam keadaan sakit parah karena merosotnya kesadaran manusia. Kemerosotan itu pula yang menyebabkan manusia mengejar kenikmatan indrawi secara berlebihan; menimbulkan rasa takut dan khawatir; kemudian, tenggelam dalam lautan penuh derita.” (Krishna, Anand. (2010). A NEW CHRIST, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing. Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

cover-buku-a-new-christ

 

Kita semua adalah Puranjana yang menjadi satu dengan Avijnata, kemudian mengembara dalam berbagai bentuk sampai akhirnya menjadi manusia. Lupa diri sejati kita, kita hanya mengejar kenikmatan indrawi sehingga terjadi kemerosotan kesadaran.

Puranjana harus lahir lagi sebagai Vaidharbi yang lembut yang patuh pada Sang Guru yang mewujud sebagai Raja Pandhya. Setelah itu baru bisa bertemu lagi dengan Avijnata Sang Gusti Pangeran.

Hanya 2 atau 3 tulisan tentang Kisah Puranjana, dari perpisahan dari Sang Gusti sampai tujuan Gusti lagi. Leluhur kita mempunyai istilah “sangkan paraning dumadi”, asal dan tujuan kejadian. Akan tetapi dalam praktek kita semua sudah menjadi Puranjana dalam berkali-kali kehidupan dan belum lahir lagi menjadi Vaidharbi yang lembut patuh pada Sang Guru sampai bertemu kembali dengan Sang Gusti……

Rishi Narada menguraikan ilmu Brahmavidya kepada raja Prachinabarhisat bahwa satu-satunya cara yang telah membantu manusia untuk belajar tentang Kebenaran adalah bhakti kepada Narayana, Gusti Pangeran. Narayana, Gusti Pangeran adalah segalanya, Ia adalah tempat perlindungan dari semua penderitaan. Bhakti kepada Gusti Pangeran membuat pikiran terlepas dari objek duniawi sehingga dapat menyadari jati diri. Atman, jiwa  sejatinya tidak berbeda dengan Paramatman, Jiwa Yang Agung (Puranjana yang sejatinya tidak berbeda dengan Avijnata).

Silakan ikuti penjelasan 1 putri dan 7 putra Vaidharbi pada kisah selanjutnya…….

 

Catatan:

Mengalihkan kesadaran pada diri sendiri. Inilah Meditasi. Selanjutnya, kendalikan napasmu, karena dengan terkendalinya napas, pikiranmu akan terkendali. Buku Sutasoma

Sudahkah kita mulai latihan meditasi?

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: