Archive for March, 2017

Keangkuhan Indra Sang Pemimpin Menjerumuskan Dewa ke dalam Derita #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on March 31, 2017 by triwidodo

Keangkuhan Indra

Keterikatan kita dengan dunia benda memenjarakan kita dalam sangkar ini. Padahal Jiwa bebas adanya. Ia tidak perlu “menyangkarkan” diri dalam dunia benda ini. Sayang, karena keterikataannya dengan kebendaan ilusif, ia memenjarakan dirinya dalam sangkar dunia benda ciptaannya sendiri. Apa yang sesungguhnya adalah medan laga diubahnya menjadi sangkar. Ia membuat sangkar ini dengan bahan-bahan campuran, seperti keakuan, kepemilikan, harta-kekayaan, ketenaran, kedudukan, hubungan keluarga, dan sebagainya……………

Melewati setiap pengalamaan sebagai saksi – Berarti, dalam keadaan suka tidak menjadi angkuh, dan dalam keadaan duka, tidak berkecil hati. Semuanya hanyalah keadaan-keadaan sesaat yang mesti dilewati.

Kesalahan kita selama ini adalah kita menciptakan sangkar suka, sangkar keberhasilan, sangkar ketenaran, dan sebagainya. Kemudian kita menempatkan diri kita – Jiwa yang sesungguhnya bebas – di dalam sangkar tersebut. Kita tidak sadar bila sangkar “serba suka” tersebut tidak bisa dibuat tanpa jeruji-jeruji menyilang dan kebalikan “serba suka”. Jeruji-jeruji ini adalah jeruji-jeruji “serba duka” yang membatasi gerak-gerik Jiwa. Bahkan merampas kebebasannya.

Setiap membuat sangkar suka, kita mengundang pengalaman duka. Tiada sangkar keterikatan yang tidak menghasilkan pengalaman kecewa, sakit-hati, dan sebagainya. Janganlah menciptakan sangkar. Penjelasan Bhagavad Gita 14:7 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Keberhasilan Indra menjadi Raja Dewa yang sukses membuatnya menjadi angkuh. Indra lupa bahwa keangkuhan adalah sangkar. Indra lengah bila bila sangkar “suka” tersebut tidak bisa dibuat tanpa jeruji-jeruji menyilang dan kebalikannya yaitu “duka”. Setiap membuat sangkar suka, kita mengundang pengalaman duka. Tiada sangkar keterikatan yang tidak menghasilkan pengalaman kecewa, sakit-hati, dan sebagainya.

Indra sedang duduk bersama Saci, istrinya menikmati nyanyian merdu para gandarva dan tarian para apsara. Para dewa dari 4 penjuru duduk menghormati keberhasilan Indra sebagai raja para dewa. Pada saat itu Rishi Brhaspati, guru para dewa datang ke tempat itu dan Indra dininabobokkan keangkuhan, ia tidak bangun menyapa gurunya. Brhaspati merasa tidak berhasil mendidik muridnya sehingga sang murid menjadi angkuh dan sang guru segera meninggalkan istana.

Kesadaran Indra datang terlambat, dan kemudian Indra mencari gurunya. Sang Rishi Brhaspati tidak berhasil ditemuinya bahkan sang guru tidak berada di ashramnya.

 

Para Asura Memanfaatkan Ketiadaan Guru Para Dewa untuk Menyerang Para Dewa

Dasar hukum segala hukum ialah hukum sebab-akibat. Hukum Alam. Jika kita berbuat baik, tidak mungkin mendapatkan hasil yang tidak baik.jika saat ini kita sedang mengalami suatu keadaan yang kita anggap “kurang baik” – maka kemungkinan besar hal itu merupakan hasil dari perbuatan kita di masa lalu, atau kita belum bisa melihat gambar yang seutuhnya.

Di balik pengalaman yang terasa tidak baik itu, bisa saja tersembunyi kebaikan. Di atas segala-galanya, saat kita sedang mengalami sesuatu yang tidak baik, jangan lupa berbuat lebih banyak kebaikan, supaya masa depan kita bebas dari pengalaman-pengalaman yang menyengsarakan. Penjelasan Bhagavad Gita 6:40 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Kabar ketiadaan Rishi Brhaspati menyebar begitu cepat, para asura murid dari Sukracharya segera menyerang istana para dewa. Dan tanpa seorang guru yang bijak, Indra beserta para dewa dikalahkan.

Para dewa kemudian berlindung kepada Brahma yang kemudian menyarankan agar Indra minta Visvarupa, putra Tvasta, untuk membantu mereka. Visvarupa merupakan keturunan asura yang menjadi seorang brahmana.

Indra dan para dewa kemudian mendatangi Visvarupa yang lebih muda dibanding dengan Indra untuk membantu mereka. Visvarupa mengatakan bahwa peran guru tidak baik bagi asura seperti dirinya, karena dapat meningkatkan egonya yang sedang diupayakan dilampauinya. Akan tetapi, memenuhi permintaan orang yang membutuhkan pertolongan adalah sebuah dharma.

Akhirnya Visvarupa menyanggupi permintaan Indra untuk membantu para dewa. Visvarupa memberikan Indra  baju pelindung besi yang kuat bernama “Narayana Kavacha”. Para dewa juga diajari membaca mantra suci kavacha, “Om Namo Narayanaya”. Setiap bagian tubuh, diliputi pikiran dan perasaan yang terfokus terhadap Narayana, sehingga jiwanya dilindungi oleh Narayana. Dengan baju pelindung besi tersebut, maka Indra dan para dewa dapat mengusir para asura dari istana para dewa.

 

Terburu Nafsu

Zaman Kali – zaman besi ini – ditandai dengan percepatan, chaos, kekacauan – dan hasilnya, orang-orang tidak bisa diam. Mereka selalu dalam keadaan yang terburu-buru, tanpa menyadari kemana tujuan mereka. Keterburu-buruan yang menggila ini, situasi “sibuk untuk hal yang sia-sia” ini harus dihentikan. Kita perlu berpikir jernih, dan maju ke depan dengan pikiran jernih, mengetahui dengan pasti kemana tujuan kita, kemana kita pergi. Dikutip dari salah satu Nasehat Bapak Anand Krishna

Bukan hanya di zaman kali, di awal zaman pun Indra juga melakukan hal yang terburu-buru. Kisah ini merupakan pelajaran bagi kita untuk berpikir jernih sebelum bertindak, jangan hanya didorong ketergesaan.

 

Visvarupa adalah salah seorang asura, maka dalam melakukan yajna, persembahan selain mempersembahkan kepada dewa, dia pun secara sembunyi-sembunyi menyampaikan persembahan kepada asura.

Indra yang takut kalah dari para asura, mengetahui hal tersebut, langsung emosional dan membunuh Visvarupa. Tak berapa lama Indra sadar telah membunuh brahmana yang telah menolong para dewa. Indra kemudian berbagi kesalahan membunuh brahmana kepada tanah, air, pohon dan wanita. Oleh karena itu sebagian tanah menjadi gurun, sebagian pohon mengeluarkan getah yang tak boleh diminum, sebagian air berupa gelembung yang tidak dapat dimanfaatkan, dan wanita tak boleh disentuh saat periode datang bulannya.

.

Kemarahan Tvasta, Ayahanda Visvarupa

Tvasta sangat marah melihat anaknya dibunuh oleh Indra dan melakukan upacara ritual untuk membunuh Indra. Kebetulan mantra yang diucapkan kurang tepat karena panjangnya mantra, sehingga yang dihasilkan bukan “musuh tak-terkalahkan Indra” tetapi asura perkasa bernama Vṛtrasura, yang menganggap Indra sebagai salah satu musuhnya.

Sebagaimana dijelaskan dalam kisah-kisah sebelumnya, saat membuat anak, akan banyak jiwa individu yang ingin lahir yang genetiknya sesuai dengan genetik calon orangtua, sehingga kita perlu berdoa agar jiwa pilihanlah yang masuk dan lahir menjadi anak yang baik. Demikian pula, karena Tvasta doanya terlalu panjang dan ada yang kurang tepat, maka asura yang dihasilkan dalam acara ritual tersebut, memang merupakan asura perkasa, akan tetapi tujuan utama sang asura adalah menyatu dengan Narayana, Sang Gusti Pangeran, walaupun dia akan menjadi lawan setimpal Indra.

Vrtrasura sangat menakutkan para dewa. Vrtra bersenjata trisula dan  tak dapat dibunuh oleh senjata kayu maupun logam, sehingga para dewa memohon perlindungan langsung kepada Gusti Pangeran Narayana. Para dewa yakin Gusti Pangeran Narayana selalu menolong para panembahnya.

Advertisements

Aisha dan Nabi tentang Hujan Berkah #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , , on March 28, 2017 by triwidodo

 

Suatu ketika, Mustafa (Nabi Muhammad) mengantar jenazah seorang sahabatnya ke pemakaman.

 

Setiap kali anda melayat, ikut  mempersiapkan jenazah untuk dikubur atau dikremasikan, bahkan hanya mengunjungi makam saja—bisa terjadi peningkatan kesadaran dalam diri anda. Melihat “maut” dari dekat, bisa mendekatkan diri anda dengan Tuhan. Karena, di balik “kematian badan” adalah ”Keabadian Jiwa”. Saat-saat seperti itu bisa membuat anda menjadi sangat meditatif. Asal anda membuka diri.

Rumi mengisahkan bahwa, hari itu Sang Nabi sangat reseptif.  Dan dia dapat mendengarkan apa yang tidak terdengar oleh telinga kita:

 

Jenazah yang dikuburkan ibarat biji yang ditanam, biji yang akan tumbuh menjadi pohon. Kemudian datanglah musim dingin dan pepohonan pun mengalami kematian. Tetapi hanya untuk  sesaat saja, karena musim semi kembali membangkitkan mereka.

Pulang dari tempat pemakaman, Sang Nabi berbagi rasa dengan isterinya, Aisha. Sementara itu, Aisha sibuk memperhatikan pakaian Nabi.

“Apa yang sedang kau lihat?” tanya Nabi.

“Tadi turun hujan lebat. Aneh, pakaianmu tidak basah.” jawab Siddiqa (Ia yang Jujur/Setia Aisha.

“Kain apa yang kau gunakan untuk menutup kepalamu?” tanya Nabi sekali lagi.

“Kain mantelmu, Rasul Allah.”

Itu sebabnya, Allah mengijinkanmu untuk melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. Hujan yang turun tadi tidak berasal dari awan dan langit yang terlihat oleh mata kasat. Masih ada langit lain dan awan lain yang bisa menurunkan  hujan yang lain pula,” jawab Nabi.

 

Hujan Berkah, Hujan Rahmat…….

Hari itu, Nabi Muhammad basah-kuyup. Dan, terjadilah peningkatan kesadaran yang luar biasa. Bajunya tidak basah. Sorbannya tetap kering. Karena hujan yang turun hari itu bukan “hujan air”. Hujan yang turun hari itu adalah “hujan cahaya” — Hujan Nur! Dan yang menjadi sasaran “hutan cahaya” adalah Jiwa, batin. Yang basah kuyup hari itu adalah Jiwa Sang Nabi, batin Nahi Muhammad.

Hujan hari itu bersifat sangat pribadi. Turun untuk Muhammad dan mengguyuri  batinnya, membasahi jiwanya. Dan tidak ada seorang pun melihatnya, kecuali Aisha. Lalu kenapa dia bisa melihatnya? Karena dia mengenakan mantel Sang Nabi sebagai penutup kepala.

”Mantel” Nahi Muhammad, “Kain” yang digunakan oleh Sang Nabi bisa diterjemahkan secara lahiriah, harfiah, bisa juga secara batiniah.

Pemahaman lahiriah dulu…

Dikisahkan bahwa hanya dengan menjamah jubah Nabi Isa banyak penderita kusta menjadi sembuh. Ini bukan dongeng . Bukan pula “hak prerogatif” Nabi Isa atau seorang Nabi. Kisah-kisah seperti ini bisa ditemukan dalam setiap tradisi dan setiap budaya. Bahkan sampai saat ini juga! Kadang-kadang seorang master, seorang murshid akan memberikan pakaian bekasnya kepada seorang murid. Dan pakaian bekas itu memancarkan energi Sang Master sampai puluhan tahun. Kadang-kadang sampai ratusan tahun. Tidak ada sesuatu yang “gaib” dan ”mistik”— semua ini hanyalah permainan energi. Pakaian bekas anda dan saya pun akan memancarkan energi. Hanya saja kualitas energinya seperti apa? Dan daya pancarnya sampai berapa hari?

Aisha sungguh heruntung. Dia bisa mengenakan “mantel” Nabi Muhammad sebagai penutup kepala. jelas, dia bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. Dia bisa merasakan sesuatu yang tidak dirasakan  oleh orang lain.

Pemahaman batiniah…

“Kain” Nabi Muhammad, “Mantel” Nabi muhammad berarti ”sesuatu yang dipakai” oleh Nabi Muhammad. Sesuatu yang “menutupi badan” Sang Nabi. Jika anda melangkah lebih jauh lagi, atau lehih dalam lagi,  yang dimalesudkan adalah “sesuatu” yang berada di luar ”badan”. Sesuatu yang melampaui “kesadaran lahiriah” — berarti “Batin Nabi Muhammad”.

Dalam diri seorang Muhammad, “Kesadaran Batiniah” berada pada permukaan. Demikian pula dengan para Murshid dan para wali lainnya. Dalam diri kita, “batiniah” masih berada jauh di bawah, di dalam. Tertutup oleh kesadaran lahiriah.

Aisha begitu dekat dengan Muhammad, sehingga kesadaran batiniah Sang Nabi  “menulari” dia.

Berada dekat seorang nabi, seorang murshid, sudah cukup. Para nabi, para buddha, para avatar, para mesias adalah carrier virus kesadaran. Kalau mau sadar; dekatilah mereka. Tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Biarkan diri anda ketularan virus kesadaran. Yang dibutuhkan hanyalah kesiapan diri anda. Kemauan untuk ditulari. Itu saja!

Rumi melanjutkan:

Hakim Sanai pernah mengatakan, “Langit batiniah berlapis-lapis dan berada jauh di atas langit yang terlihat oleh mata kasat. Dalam perjalanan batin, ada dataran tinggi, ada pula dataran rendah. Ada gunung, ada juga laut.”

Akan tetapi, Langit Batiniah hanya terlihat oleh mereka yang terpilih. Kebanyakan orang tidak melihatnya, bahkan malah meragukannya.

 

Hakim Sanai sedang menjelaskan kesadaran manusia yang berlapis-lapis. Serta perjalanan panjang melewati setiap lapisan. Baik “dataran rendah alam bawah sadar” atau subconscious mind, maupun “dataran tinggi alam kesadaran supra” atau superconscious mind—dua-duanya harus dilewati.

Tetapi, perjalanan ini, menurut Hakim Sanai, hanyalah bagi mereka yang terpilih. Apa maksud Sang Hakim? Di langit “sana” pun ada KKN—K0lusi, Korupsi dan Nepotisme?

Orang Yahudi menganggap dirinya ”the chosen one”—yang terpilih. Karena itu, bangsa-bangsa lain dianggapnya “sempalan” bangsa Yahudi. “Produk” Allah dengan predikat “Kualitas-A” adalah bangsa Yahudi. Yang lain-lain, “Kualitas-B” dan “C”— bahkan “D” dan “E”

Pemahaman Hakim Sanai tentang “Yang Terpilih” tidak demikian. Pengertian Hakim Sanai tentang “Yang terpilih” adalah lulus ujian”. Yang lulus “tes masuk”. Yang diterima untuk suatu pekerjaan, setelah hasil interview menunjukkan bahwa orang itu layak untuk pekerjaan yang akan diberikan kepadanya.

Sebelum terpilih, ada ijtihad—ada upaya yang harus anda lakukan. Ada “kualifikasi minimal” yang harus anda capai.

Dan kualifikasi minimalnya hanya satu —bahwasanya anda berjalan. Bahawasanya anda meniti jalan ke dalam diri. Bahwasanya anda tidak lari di tempat.

Kembali pada hujan berkah, Rumi melanjutkan:

 

Petuah Para Suci bagaikan hujan pembawa berkah, pembawa kehidupan yang sangat menguntungkan. Setelah mendengarkannya, jika tidak terjadi apa-apa pada diri seseorang, dia ibarat pohon kering yang sudah mati. Hujan pembawa berkah sudah turun, angin kehidupan sudah meniupi dia, tetapi dia masih tetap kering juga.

Nabi mengatakan, “Bila darang musim semi, jangan mcnutupi diri. Biarkan tiupan angin menyegarkan batinmu. Tetapi, bila datang musim gugur, tutupilah dirimu rapat-rapat, karena angin musim gugur bisa melayukan jiwamu.”

Para ahli tafsir menafsirkan kata-kata ini secara harfiah. Mereka memperhatikan yang tersurat dan tidak mengetahui apa yang tersirat. Mereka melihat gunung, tetapi tidak bisa melihat tambang (emas) di dalam kandungannya.

Kesadaran lahiriah dan keinginan yang tak kunjung habis—itulah angin musim gugur. Sebaliknya, kesadaran batiniah dan kemampuan untuk memilah (mana yang tepat, mana yang tidak) adalah angin musim semi.

Wejangan Para Susi bagaikan tiupan angin musim semi. Jangan mempersoalkan bahsa mereka. Keras atau pelan, kasar atau lembut —dua-duanya sama, mampu membebaskan kamu dari kesadaran hewani.

Dialog antara Nabi Muhammad dan Aisha masih berlanjut:

 

“Wahai Rasul Allah, apa maksudmu?” tanya Aisha.

“Dengarkan Siddiqa, engkau yang berhati tulus. Hujan berkah hari ini turun untuk melarutkan duka lama yang terpendam dalam hati anak-cucu Adam.”

“Dunia ini ada, karena ketidaksadaran mereka, karena mereka telah melupakan Tuhan. Bila mereka sadar dan kembali mengingat Tuhan, dunia ini akan Ienyap.”

“Matahari kesadaran bisa melelehkan es ketidaksadaran. Kesadaran sesedikit apa pun sudah cukup untuk mengatasi hawa napsu, rasa iri dan sebagainya. Dan bila kesadaran lebih meluas lagi, kebaikan dan keburukan akan lenyap.”

 

Hari itu, Sang Nabi menemukan sesuatu yang indah sekali: bahwasanya kelahiran dan kematian bergulir terus, bahwasanya kehidupan mengalir terus.

Beliau juga menyadari sepenuhnya bahwa lahiriah dan batiniah merupakan dua sisi kehidupan. Yang hidup dalam kesadaran, telah memasuki alam batin. Yang hidup tanpa kesadaran masih berada dalam alam badan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Ajamila: Wejangan Yama Sang Dewa Kematian #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on March 26, 2017 by triwidodo

Pendelegasian Wewenang Para Dewa

Dalam Pemerintahan Alam Raya – ada pendelegasian kekuasaan dan wewenang yang jauh lebih demokratis. Para dewa atau malaikat bekerja secara independen. Namun, mereka sadar betul bila kekuasaan mereka, termasuk independensi mereka – semuanya berasal dari Gusti Pangeran. Mereka tidak bisa, tidak perlu bertindak semena-mena, dengan menggunakan dalih  “kewenangan” dan “kekuasaan”. Penjelasan Bhagavad Gita 9:23 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Dewa adalah makhluk-makhluk yang tinggal dan hidup dalam cahaya. Ucapan serta perbuatan mereka tergerak oleh nurani. Mereka adalah makhluk-makhluk bersanubari. Mereka masih mampu mendengarkan suara hati. Dan, mereka dapat ditemukan di mana-mana. Tidak perlu mencari mereka di langit, di surga, di kahyangan. Banyak para dewa di antara kita. Banyak para dewa yang sengaja berada di tengah kita untuk memandu kita.

Mereka tidak “datang” ke dunia karena urusan karma. Mereka “datang” untuk memandu Jiwa-Jiwa yang membutuhkan panduan mereka.

Para resi yang mampu “melihat” dan merasakan kehadiran mereka, walau berwujud seperti manusia biasa, menemukan cara termudah untuk mengetahui mereka dan memperoleh panduan bimbingan mereka.

Cara tersebut adalah Mantra-Yoga. Dengan suara-suara tertentu, getaran-getaran tertentu – ditambah dengan kekuatan niat yang mulia, hati yang bersih – kita dapat mengadakan hubungan seluler, bahkan menciptakan hot-line dengan mereka.

Sebagian orang menganggap hubungan seperti ini sebagai bentuk kurang percaya pada Gusti Pangeran. “Kenapa mesti mengakses mereka? kenapa tidak berhubungan dengan Tuhan langsung. Kenapa mesti menduakan Tuhan?”

Banyak pembantu di rumah orangtua kita, jika kita membutuhkan sesuatu yang dapat diperoleh dari pembantu, lewat pembantu – mestikah kita menyusahkan orangtua?

Banyak pekerjaan, banyak tugas yang memang sudah dipercayakan kepada para pembantu. Mantra-Yoga hanyalah membuat kita mengakses para Dewa, para Pembantu, para Lightworkers – ada yang berwujud dan ada yang tidak – itu saja.

Setelah terjadinya akses, setelah terjadinya hubungan – tanpa diminta pun, mereka senantiasa siap-sedia untuk melayani segala kebutuhan, segala keperluan Jiwa untuk mencapai tujuannya.

Kendati demikian, dengan segala efisiensinya – para dewa pun, sesungguhnya tidak sepenuhnya memahami Misteri Gusti Pangeran. Mereka pun masih berandai-andai. Mereka pun senantiasa mengingatkan kita. Penjelasan Bhagavad Gita 10:14 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Utusan Narayana menyampaikan (seperti tersebut dalam Garuda Purana), “Api akan melakukan tugasnya, terlepas apakah ditangani oleh anak kecil yang tidak tahu kekuatannya ataupun oleh orang dewasa yang paham akan kekuatannya. Jika tumpukan jerami atau rumput kering dibakar, baik oleh seorang pria tua yang paham tentang kekuatan api ataupun oleh seorang anak yang tidak paham, tumpukan jerami atau rumput kering akan terbakar menjadi abu. Demikian pula, Ajamila mungkin tahu atau mungkin tidak tahu kekuatan melantunkan mantra Narayana, tetapi jika dia menyebut Narayana, Nama Gusti,  ia akan menjadi bebas dari segala kesalahan.”

Dalam Garuda Purana disampaikan bahkan jika seseorang dalam kondisi tidak berdaya, ataupun tidak berkeinginan untuk melakukannya, sama halnya seperti singa yang mengaum, semua hewan akan lari ketakutan.

Utusan Narayana melanjutkan, “Bagaimanapun juga, menyerahkan diri pada Gusti Pangeran Narayana dapat menghancurkan semua kejahatan. Seperti titik api yang walaupun tidak sengaja untuk membakar, karena kain terkena percikan api tersebut, maka kain tetap terbakar juga. Jika kalian tidak yakin tentang hal ini, tanyakanlah pada Yamaraja!”

 

Wejangan Yamaraja, Sang Dewa Kematian

Para Utusan Yama terpaksa mengalah kepada para Utusan Narayana, kemudian mereka menghadap Dewa Yama dan protes mengapa baru sekali ini terjadi ada seorang jahat tidak boleh dihukum karena dihalang-halangi oleh Utusan Narayana.

Mereka protes, mengapa hanya gara-gara sebelum mati Ajamila mengucap Narayana, Nama Gusti, Nama Ilahi dan oleh karenanya dia harus diselamatkan.

 

Dewa Yama berkata, “Aku mempunyai kuasa agung atas hidup manusia dan untuk menghukum mereka. Akan tetapi, ada atasanku yang harus kupatuhi yaitu Narayana. Kalian lihat potongan kain yang ditenun dari benang-benang. Demikian juga seluruh alam ini ditenun oleh Narayana. Ia adalah kekuatan yang mencipta, memelihara, dan mendaur-ulang alam semesta. Seperti sapi jantan yang dikendalikan oleh tali kendali lewat lubang hidungnya, demikian pula dunia dan seluruh kehidupan dikendalikan oleh tali Veda. Semua dewa termasuk saya bisa dikatakan belum mampu menyadari kemuliaan Tuhan, Narayana.”

Dewa Yama melanjutkan, “Manusia tidak dapat memahami sifat alami di dalam diri-Nya.  Manusia dibungkus maya sehingga tidak menyadari Atman di dalam dirinya. Ada sangat sedikit orang yang sudah memahami hukum yang diletakkan oleh Gusti Pangeran. Aku adalah salah satunya dan yang lainnya adalah Brahma, Narada, Sanathkumara, Kapila, Manu, Prahlada, Janaka dan Suka putra Vyasa.

Nama Gusti Pangeran manakala disebut secara konstan  oleh manusia  adalah jalan paling gampang menuju Dia. Aku menyampaikan ini pada kalian, agar jangan mendekat pada orang yang selalu menyebut Nama Gusti pangeran, Narayana. Korbanmu adalah para manusia yang terlibat dalam kesenangan dunia. Para manusia yang terperangkap pada jaring maya, yang ditenun oleh istri, anak, kekayaan, kekuasaan dan kesenangan duniawi belaka.”

 

Datangnya Kembali Kesadaran Ajamila

Bagi Einstein, segala sesuatu dalam alam ini tunduk pada hukum-hukum fisika. Semuanya teratur, in perfect order.

Tapi bagi para pendukung teori kuantum, di balik segala sesuatu yang teratur itu ada hukum Iain, yaitu hukum ketidakteraturan, hukum probabilitas, hukum kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas, hukum kuantum yang memungkinkan terjadinya lompatan kuantum.

Tanpa ketidakteraturan, permainan semesta menjadi hambar. Keteraturan membuat permainan sangat tidak menarik. Segalanya sudah bisa diprediksi sejak awal. Lalu, permainan pun bukan menjadi permainan lagi. Permainan pun menjadi sesuatu yang sangat serius. Nah, teori kuantum inilah yang memungkinkan terjadinya ketidakteraturan—rnemungkinkan permainan petak-umpet, cilukba!

Berkah, anugerah, grace tidak mengikuti Hukum Keteraturan. Turunnya hujan berkah, yang lebih sering secara tiba-tiba, mendadak, tanpa babibu, tanpa pemberitahuan, adalah bukti adanya Hukum Ketidakteraturan! Dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) halaman 126

 

Dalam keadaan setengah sadar, Ajamila mendengar adu argumentasi antara Utusan Narayana dan Utusan Yama, dan Ajamila menjadi sadar. “Terima kasih Gusti, atas anugerah-Mu aku telah memanggil Nama Gusti, sehingga aku terselamatkan.”

Ajamila kemudian meninggalkan semuanya pergi ke tepi Sungai Gangga mendekati para suci dan akhirnya pada suatu saat dapat mencapai-Nya.

 

Memanfaatkan Hukum Konsistensi dan Ketidakkonsistenan Alam

Ketidakkonsistenan Kemuliaan itulah yang menjadi berkah bagi kita semua. Untuk memahami hal ini, kita mengambil Hukum Karma sebagai contoh. Konsistensi berarti, tiada harapan bagi siapa pun juga untuk keluar dari Lingkaran Ke1ahiran-Kematian. Berarti, kita berputar terus dalam Lingkaran tersebut. Inkonsistensi berarti berkah, berarti adanya kemungkinan moksa, nirvana, liberation, kebebasan mutlak dari lingkaran tersebut.

Melampaui dualitas yang membingungkan berarti kita memahami baik konsistensi maupun inkonsistensi hidup ini. Konsistensi dan Inkonsistensi — dua-duanya mesti dijadikan alat untuk membantu kita. Berubahlah, jadilah lebih baik dengan menggunakan Alat Inkonsistensi. Kemudian, mempertahankan segala kebaikan yang telah dicapai dengan menggunakan Alat Konsistensi. Kita mesti pintar-pintar menggunakan kedua alat tersebut. Penjelasan Bhagavad Gita 10:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Pandai Besi Perlu Praktek Tak Hanya Teori, Peningkatan Kesadaran pun Demikian #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on March 24, 2017 by triwidodo

Sang Nabi pernah bersabda: ”Dalam perjalanan hidup ini, tak ada teman sesetia tindakanmu sendiri….”

 

Perbuatan baik, kebajikan, akan menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan hati. Perbuatan buruk, kejahatan, akan menjadi teman seperjalanan yang tidak menyenangkan hati.

Inilah hukum sebab akibat. Setiap sebab menghasilkan akibat. Tidak ada yang bisa lolos dari hukum ini.

 

Bagaimana engkau dapat berbuat baik, tanpa bimbingan seorang Murshid? Sebelum berbuat baik, engkau harus tahu kebaikan itu apa. Kebajikan itu apa. Dan pengetahuan itu haruslah diperoleh dari seorang Murshid.

Pertama pengetahuan, kemudian perbuatan. Setelah itu baru akan ada hasil. Ada perbuatan yang berbuah setelah berapa lama. Ada pula yang berbuah setelah kematian.

Carilah seorang ahli di bidangnya. Seorang ahli yang berhati baik dan tulus.

 

Seorang Murshid hendaknya tidak sekadar ”tahu” kebaikan itu apa. Dia haruslah seorang ”pelaku” kebaikan. Ditambah lagi oleh Rumi, dia harus berhati baik dan tulus, sehingga tidak “menyimpan-nyimpan” pengetahuannya, sehingga proses “transfer of technology” berjalan mulus. Ya, bukan sekadar ”transfer of knowledge”, tetapi ”transfer of technology”.

“Pengetahuan” tentang kebajikan tidak cukup. Bagaimana berbuat baik—itu yang harus anda pelajari dari seorang Murshid. Seperti dalam hal “membantu” seseorang, bantuan yang kita berikan haruslah kepada orang yang tepat dan pada saat yang tepat.

Uang receh yang kita berikan kepada fakir miskin bukanlah bantuan. Sama sekali tidak membantu mereka, uang receh itu malah membuat mereka malas. Saya dengar ada seorang pengemis yang bisa mengumpulkan uang jutaan rupiah setiap bulan. Lalu untuk apa bekerja?

Perbuatan itu hanya ”memuaskan” ego kita masing-masing. Kita merasa sudah berbuat baik. Dan lewat kebaikan-kebaikan semacam itu, kita berharap akan memperoleh Izin Masuk Sorga.

 

Kebajikan bagaikan “seni”. Harus dipelajari, dikuasai. Baru dilakoni. Yang bisa menari adalah seorang penari. Yang bisa melukis adalah seorang pelukis. Yang bisa berbuat baik adalah orang baik.

Dan sebagaimana anda belajar menari dari seorang penari ahli, sebagaimana anda belajar melukis dari seorang pelukis ahli, begitu juga belajarlah berbuat baik dari seorang Murshid yang senantiasa berbuat baik.

Carilah kerang yang mengandung mutiara. Carilah seorang tukang yang memiliki keahlian.

Dan bila sudah bertemu dengan seorang dengan seorang ahli dibidangnya. Janganlah engkau memperhatikan jubahnya. Jubah seorang pandai-besi akan selalu kotor. Justru jubah yang kotor itu membuktikan keahliannya.

Pengetahuan tentang besi tidak cukup. Seorang pandai-besi harus bisa bekerja dengan besi. Oleh karena itu, mau tak mau jubahnya memang harus kotor. Jangan terjebak oleh penampilannya. Jangan rneremehkan dia karena penampilannya.

Mau kamu apa? Bila sekadar mau tahu tentang besi cukup dengan teori. Bila ingin menjadi pandai-besi, harus lewat praktek.

Bersahabatlah dengan seorang Shaykh dan engkau akan memperoleh sesuatu yang tak dapat diperoleh lewat tulisan dan ucapan. Sesuatu yang berasal dari jiwa, bersifat rohani. Sesuatu yang harus diberikan oleh jiwa Sang Shaykh dan diterima oleh jiwamu.

 

Sebenarnya, seorang Shaykh tidak mengajarkan apa-apa. Dia bagaikan cermin. Lewat dia, kita bisa bercermin diri.

Bersahabat dengan seorang Shaykh, berarti bercermin diri setiap saat. Melakukan introspeksi diri dari detik ke detik. Alhasil:

Terjadilah pencerahan (illumination—terj. Nicholson) dan perluasan jiwa (expansion heart—terj. Nicholson).

                Dalam bahasa saya, terjadilah peningkatan kesadaran. Dan:

 

Engkau menyadari bahwa selama ini apa yang engkau cari di luar sesungguhnya berada di dalam dirimu. Engkau mencari susu di luar, padahal dalam diri ada sungai susu.

Wahai kali, sadarilah hubunganmu dengan Laut! Selama ini, apakah tidak terjadi perluasan jiwa di dalam dirimu? Sadarkah engkau akan kejadian itu? Dapatkah engkau melihatnya?

 

Rumi mengajak kita untuk “menjadi baik”. Untuk menyadari “kebaikan diri”, sehingga perbuatan kita menjadi baik dengan sendiri. Selama ini kita melupakan kebaikan diri. Dan perbuatan kita dalam keadaan “lupa” itu menjadi tidak baik. Tidak perlu melawan yang tidak baik. Tidak perlu membuang energi untuk itu. Cara yang paling mudah adalah mengubah “keadaan lupa” menjadi “keadaan ingat”.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

Setiap Orang Ingin Bahagia, sebagaimana Aku Ingin Bahagia. Nah, kesadaran itulah yang mesti diupayakan. Kesadaran itulah yang mengantar kita pada wilayah rohani, spiritual. Atau, sebaliknya, dengan berada dalam wilayah rohani atau spiritual, dengan adanya soul awareness, kita menjadi sadar akan saling keterkaitan kita; akan kesatuan dan persatuan kita dengan makhluk-makhluk seantero alam.

Untuk itulah dibutuhkan meditasi. Meditasi sebagai Latihan, sebagai Laku, sekaligus sebagai Gaya Hidup. Gaya Hidup penuh empati, penuh kepedulian, penuh kasih. Dari buku Soul Awareness

Ajamila: Menyebut Nama Tuhan Menjelang Kematian Kisah #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on March 22, 2017 by triwidodo

Mengapa banyak Kepercayaan/Keyakinan menyarankan agar menyebut Nama Tuhan, Allah, Rama, Om menjelang kematian? Berikut salah satu kisah tersebut dalam buku Srimad Bhagavatam

 

Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Nah, implikasi dari pemahaman ini jauh melebihi bayangan kita. Jika semuanya berada di bawah pengawasan-Nya, Roda Samsara, Alam Semesta pun berputar karena dan atas kehendak-Nya – maka, tidak ada lagi sesuatu yang bisa disebut kecelakaan…

Tidak ada pula kebetulan – Kebetulan saya berada di tempat yang salah, maka saya terlibat dalam buku tembak antara dua geng – dan ikut kena tembakan. Saya luka. Tidak ada kebetulan seperti itu. Ingat, Dia adaalah Hyang Maha Mengawasi – sang Pengawas Agung.

Pengalaman suka dan duka terjadi karena perbuataan kita sendiri. Karena keterikatan kita sendiri. Ya, kita bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang menimpa diri kita. Dia- Gusti Pangeran – senantiasa mengawasi supaya semuanya berjalan lancar sesuai dengan hukum-hukum alam yang ada atas kehendak-Nya pula! Penjelasan Bhagavad Gita 9:10 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Demikianlah Rishi Suka putra Vyasa menyampaikan kisah tentang cara termudah untuk melepaskan diri dari jerat duniawi yang membuat manusia terikat dalam maya yang menyebabkan kelahiran dan kematian tak berkesudahan. Rishi Suka berkata, “Mengucap nama Gusti Narayana dengan tulus akan menyelamatkan manusia dari semua mara bahaya.”

 

Waspada terhadap kebiasaan lama yang sudah di-delete tapi masih bisa di-retrieve

Adalah seorang Brahmana bernama Ajamila di negeri Kanyakubja. Dilahirkan di keluarga brahmana dan menjalankan hidup sebagai brahmana yang taat di waktu muda, pada suatu saat Ajamila melihat seorang wanita nakal yang sedang berhubungan seks. Dalam Yoga Sutra Patanjali I.18 ini yang disebut adanya kesan-kesan dari masa lalu, sesa atau sisa dari purva samskara yang diumpamakan sebagai file yang sudah di-delete, tapi belum musnah, masih ada di hard-disk, masih bisa di-retrieve.

Ajamila kehilangan semua kebaikannya. Dia hidup bersama dengan wanita nakal tersebut. Kemudian, karena menuruti pasangannya, Ajamila menjadi tamak, kejam, suka menipu sehingga dibenci oleh semua orang. Waktu pun berlalu dan Ajamila menjadi tua, sekitar 80 tahunan, mempunyai sepuluh putra dari wanita pasangannya tersebut dan yang termuda diberi nama Narayana.

Sesuai budaya Veda, biasanya kehidupan seks sewajarnya antara usia 25 tahun sampai setengah baya. Setelah itu para perumahtangga mulai mengikuti vanaprastha, berkarya dengan fokus penuh kepada Gusti Pangeran.

Ajamila pada saat usia 80 tahunan belum fokus pada Gusti Pangeran tetapi sangat terikat dengan putra bungsunya yang diberi nama Narayana. Yang ada dalam pikiran Ajamila hanya sang putra. Saat akan makan di panggil putranya, “Narayana makan dahulu!”. “Narayana minum susu dahulu!” Demikianlah dalam setiap tindakan Ajamila selalu ingat Narayana, sang putra bungsunya. Bahkan sampai dekat kematiannya yang diingatnya hanyalah Narayana. Kala ajal sudah di depan mata, dipanggillah sang putra kesayangannya, “Narayana kemarilah! Narayana! Dan Ajamila pingsan menjelang saat kematiannya.

 

Menyebut Nama Gusti Pangeran menjelang ajal

Sewaktu Ajamila menyebut, “Narayana kemarilah!”, maka para Utusan Narayana mendengar ucapannya dan segera mendatanginya. Mereka melihat para Utusan Yama sedang menyeret jiwa Ajamila keluar dari badannya. Segera para Utusan Narayana mencegah tindakan tersebut yang membuat para Utusan Yama menjadi marah, “Siapakah yang berani mencegah Utusan Yama yang sedang melaksanakan tugasnya? Dari mana kalian datang? Kenapa kalian menghentikan kami?”

Para Utusan Narayana tersenyum dan berkata, “Jika kalian adalah Utusan Yama yang akan menegakkan dharma, katakanlah ukuran apa yang kalian untuk menghukum seorang manusia”.

Para Utusan Yama berkata, “Apa pun yang ditetapkan oleh Veda adalah dharma. Dharma dapat disebut napas Narayana. Apa yang tidak sesuai dengan Veda disebut adharma. Dharma adalah Narayana sendiri. Mereka yang tidak mengikuti dharma akan dihukum oleh Yama. Tindakan baik mendapat hadiah, tindakan buruk dihukum. Masa depan kelahiran manusia ditentukan oleh tindakannya dalam kehidupan ini. Nasib manusia pada kelahiran kini ditentukan oleh tindakannya dalam kelahiran-kelahiran sebelumnya. Musim semi adalah lanjutan dari musim sebelumnya. Bertempat tinggal dalam kota Samyami, Yamaraja memutuskan kelahiran berikutnya dari manusia menurut tindakannya pada kelahiran ini. Seluruh elemen alami: tanah, air, api ,angin dan ruang sebagai saksi dari semua tindakan manusia. Demikian juga matahari, bulan, waktu, dan dharma pun sebagai saksi, sehingga manusia tidak bisa mengelak atas segala perbuatannya. Manusia berada dalam avidya, ketidaktahuannya, tidak memperhatikan ketidakabadian tubuh. Dia berpikir bahwa badan ini satu-satunya yang ia punyai dan bahwa kelahiran ini adalah satu-satunya kelahiran yang ia punyai. Ia tidak berpikir tentang kelahiran sebelumnya dan kelahiran yang akan datang. Seperti kepompong yang ditutupi oleh sutera yang dibuatnya, manusia menutup “atman”-nya dari hasil karmanya sendiri. Ia tidak pernah bisa melepaskan dirinya.”

Para utusan Yama melanjutkan, “Ajamila adalah brahmana yang baik dan berada pada jalan dharma. Akan tetapi, pada saat mencari rumput guna upacara persembahan, dia melihat seorang pemabuk sedang bercinta dengan seorang wanita nakal. Selanjutnya Ajamila lupa tentang dharma, dia hidup bersama wanita tersebut dan mempunyai sepuluh putra dengannya. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya dia mulai mencuri, menipu dan kejahatan lainnya demi memenuhi keinginan wanita tersebut. Oleh karena itu, pada saat dia meninggal, kami akan membawanya ke Dewa Yama untuk mengadakan perhitungan tentang kebaikan dan keburukannya!”

 

Para utusan Narayana berkata, “Perkataan kalian benar, akan tetapi pada saat terakhir dia menyebut nama Narayana dengan kesungguhan hatinya. Kalian menyampaikan bahwa dharma dapat disebut sebagai napas Narayana. Apa yang tidak menurut Veda disebut adharma. Dharma adalah Narayana sendiri. Manakala Narayana, nama Tuhan disebut, Dia tidak akan meninggalkan bhakta-Nya. Kalian akan menyatakan bahwa Ajamila memanggil Narayana sebagai nama anaknya. Akan tetapi, seperti obat yang sangat kuat walau tidak dimasukkan mulut dengan sengaja, karena telah tertelan dia tetap berkhasiat juga.”

 

Kekuatan Penyebutan Nama Gusti Pangeran

Kisah yang tertulis dalam buku Srimad Bhagavatam ini bukan merupakan sebuah kebetulan, tetapi mengungkapkan bahwa menyebut Nama Gusti Pangeran sangat dahsyat dampaknya.

Kemungkinan peristiwa Ajamila terjadi pada kita sangat-sangat kecil. Esensinya adalah bagaimana dalam menjalani kehidupan, agar kita selalu ingat Gusti Pangeran. Berikut penjelasan Bhagavad Gita 8:5 tentang hal tersebut:

 

PEMUSATAN KESADARAN PADA-NYA mesti dilakukan mulai sekarang dan saat ini juga – sehingga saat ajal tiba kesadaran kita tidak ke mana-mana; tetap terpusatkan pada-Nya.

Hola menafsirkan ayat ini sesuai dengan pemahamannya yang kerdil, maka putra-putrinya diberi nama sesuai dengan Nama-Nama Mulia Sang Gusti Pangeran, sebut saja Krishna, Rama, dan sebagainya dan seterusnya. Pikirannya sederhana, “Saat mati, saya pasti memikirkan mereka, maka jika saya memanggil siapa saja di antara mereka, dan tiba-tiba plak – mati! Ya, pasti masuk surga.”

Menyatu dengan Gusti Pangeran adalah keadaan melampaui surga – tapi, bagi Hola surga adalah yang tertinggi – mau bilang apa?

Saat Yama, Dewa Maut datang menjemput — melihat bayangannya, Hola cepat-cepat memanggil anak sulungnya, “Krishna, cepat kemari…” Krishna datang, sayang napas masih belum berhenti. Tidak mau rugi dan kecolongan, Hola memanggil anaknya yang kedua, “Rama!” Rama pun datang, tapi Hola belum mampus!

Kemudian anak ketiga, keempat . . keduabelas — semua hadir, Hola masih bernapas! Melihat semuanya mengelilingi ranjangnya — Hola gelisah, “Kalian semua di sini, siapa menjaga toko kita

di bawah?” Dan, plak, mampus – mati!

HOLA TIDAK BISA MENIPU DEWA MAUT! Anda dan saya pun tidak bisa. Jika mau menyatu dengan-Nya, maka mulailah dari saat ini berupaya dengan sepenuh hati, pikiran, dan raga untuk selalu berada dalam kesadaran Jiwa. Tidak bisa beralih pada kesadaran Jiwa saat ajal tiba, jika sepanjang hidup kesadaran kita terpusatkan pada dunia benda.

Dunia benda ibarat kantor – tempat kerja. Silakan bekerja dan pulang ke rumah. Jangan menjadi workaholic dan tidur di kantor. Pisahkan urusan kantor dari urusan rumah.

Kantor adalah dunia benda. Rumah kita, rumah sejati kita adalah Istana Gusti Pangeran. Selesaikan tugas kewajiban, dan kembalilah pada-Nya. Masak terikat dengan kantor? Untuk apa berkantor, untuk apa bekerja? Bukankah supaya bisa menggunakan hasil dari jerih-payah kita untuk menikmati hidup? Kehidupan sejati ada di istana Gusti Pangeran, bukan di gubuk-dunia ini! Dalam pengertian, kehidupan sejati ada dalam Kesadaran Jiwa, bukan dalam kesadaran alam benda. Penjelasan Bhagavad Gita Bhagavad Gita 8:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Silakan ikuti debat antara Utusan Yama melawan Utusan Narayana dan bagaimana tanggapan Dewa Yama saat mendengar laporan para utusannya pada kisah berikutnya……..

Berbuatlah Baik pada Semua Orang, Agar Ada yang Mendoakanmu! #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on March 20, 2017 by triwidodo

Beberapa orang menghadap Nabi Muhammad dan menyampaikan keluhan mereka tentang Bilal, ”Dia tidak pantas menjadi mu’adzdzin. Ucapan dia banyak yang salah. Wahai Rasul Allah, carilah orang yang tepat.”

Sang Nabi balik menegur mereka, “Jangan sampai aku membuka rahasia kalian. Ucapan dia yang salah lebih baik daripada kata-kata yang kalian ucapkan.”

 

Yang penting adalah ketulusan hati dan kesungguhan jiwa. Tanpa itu, doa bukan doa lagi. Rumi mengatakan sesuatu yang sangat indah:

 

Bilamana nafasmu masih bau, datangilah mereka yang bernafas wangi. Mohonlah bantuan mereka, agar mereka bisa rnendoakan kamu. Allah pernah mengatakan kepada Musa, “Untuk mendapatkan perlindungan dari Aku, berdoalah dengan mulut yang tidak pernah berbuat salah.”

Musa sangat jujur, “Tuhan, aku tidak memiliki mulut seperti itu.”

“Kalau begitu, gunakan mulut orang lain. Berbuatlah baik terhadap setiap orang. Sehingga mereka bisa mendoakan kamu,” demikian Allah berfirman.

 

Ini yang saya sebut “applied spirituality”. Tanpa memandang bulu, tanpa pilih kasih, berbuatlah baik terhadap setiap orang. Sehingga mereka bisa mendoakan kamu. Atau bersihkan mulutmu dari kebohongan, ketidakjujuran dan kepalsuan, baru berdoa. Tampaknya Musa diberi pilihan. Kalau mau berdoa sendiri, mulutnya harus bersih. Atau berbuat baik terhadap orang lain, sehingga merekalah yang memanjatkan doa untuknya.

Sesungguhnya, tidak ada pilihan bagi Musa. Untuk berdoa sendiri, terlebih dahulu dia harus membersihkan dirinya. Dan orang yang dirinya bersih, akan selalu berbuat baik. Dia tidak bisa berbuat jahat. Maka hilangkanlah kehendak berbuat jahat dengan kehendak berbuat baik.

Di lain pihak, orang yang selalu berbuat baik, dengan sendirinya akan mengalami perubahan-diri, perbaikan-diri. Mungkin agak lama, perjalanannya agak panjang, tetapi kebaikan yang dia buat itu akan memper-“baik”-i dirinya.

Kita tidak punya pilihan. Doa yang Dia terima, haruslah berasal dari kebaikan. Entah kebaikan diri atau kebaikan yang kita lakukan terhadap diri orang lain.

Rumi memberikan contoh lain:

Tengah malam, ketika seorang pencinta Allah sedang mengulangi Nama Allah, Iblis menggodanya, “Sudah cukup lama engkau memanggil Dia. Adakah jawaban dari Allah?”

Orang itu tergoda. Semangatnya mengendur dan tertidur. Malam itu dia bertemu dengan Nabi Khidir dalam mimpi, “Kenapa kamu berhenti mengulangi Nama-Nya? Kenapa tertidur?”

“Karena tidak ada tanggapan dari Dia,” demikian jawab orang itu dalam mimpi.

“Lupakah engkau bahwa Nama Allah itu sendiri sudah merupakan bukti Keberadaan-Nya? Kepasrahan dan kerinduanmu ketika mengulangi Nama-Nya, adalah Utusan Dia bagi kamu.Setiap kali engkau mengucapkan ‘Ya Allah’ dengan kasih dan kesadaran, Dia menjawabmu berulang kali, ‘Di sinilah Aku, di sinilah Aku, di sinilah Aku.”

“Berbahagialah orang yang bisa menyebut Nama-Nya dengan kasih dan kesadaran. Allah memberikan segala sesuatu kepada Fir’aun, tetapi tidak memberkahinya dengan kasih dan kesadaran. Sehingga dia lupa daratan dan terlupakan pula Nama Allah.”

 

Kalau kita masih ingat Tuhan, jangan pikir hal itu karena daya-upaya kita. Jangan pikir kita sudah berijtihad untuk mengingat Nama-Nya. Tidak demikian. Yang membuat kita bisa mengingat Dia, Dia juga! Tanpa benih kasih dan kesadaran yang Dia tanamkan di dalam jiwa, kita tidak akan bisa mengingat Nama-Nya.

Jangan tergoda oleh “iblis pikiran” yang selalu berorientasi pada hasil. Iblis, setan, pikiran, mind—apa pun nama yang Anda berikan kepada dia memang ahli dalam hal hitung-menghitung. Modal yang ditanam harus membawakan basil. Dan harus cepat. “Iblis Pikiran” tidak pernah sabar. Kodratnya memang demikian, tidak bisa sabar. Dan karena tidak bisa sabar maka dia jauh dari Tuhan Yang Mahasabar Ada-Nya— Al-Shabur.

“Bersabarlah, karena Kesabaran anda sudah membuktikan kedekatan Anda dengan Tuhan. Ulangi Asma Allah, dengan kasih, dengan kesadaran, tanpa motivasi, tanpa mengharapkan imbalan. Dan dalam kesadaran itu, dalam kasih itu, Anda akan merasakan kehadiran-Nya.

Rumi juga mengatakan:

 

Bersabarlah, karena kesabaran adalah kunci kebahagiaan. Tidak ada kebahagiaan tanpa kesadaran dan kebijaksanaan. Sesungguhnya, kesabaran merupakan kaki-tangan kebijaksanaan.  Bersikaplah bijaksana terhadap segala sesuatu termasuk terhadap makanan. Jangan mengisi perutmu dengan apa saja.

Memang banyak godaan. Dari setiap penjuru engkau mendapatkan panggilan, “Kemarilah saudaraku, aku akan menuntun kamu, kita akan jalan bersama.” Ketahuilah, bahwa suara-suara itu berasal dari ketidaksabaran.

 

Ketidaksabaran berarti tidak dari Allah. Mereka yang sedang berjualan agama di pinggir jalan sangat tidak sabar. Ketika saya menegur seorang “penjual”, dia menjawab saya dengan penuh “keyakinan”, “Kalau saya berhasil menyelamatkan 100 jiwa, pintu surga akan terbuka lebar bagi saya. Tetapi di balik keyakinan itu, ketidaksabarannya pun terasa betul. Dia sedang buru-buru, mengejar waktu. Pendek kata, tidak sabar!

Ditanya, “Kenapa buru-buru mau masuk surga?” jawaban dia sederhana sekali, ”Kita sudah berada di akhir zaman. Ini sudah ujung-ujungnya. Akan terjadi malapetaka kehancuran dan entah apa lagi. Yang terselamatkan hanyalah mereka yang sudah berada di surga.” Surga dia sepertinya salah satu planet di luar angkasa. Tawaran dia memang sangat menggiurkan. Bayangkan, kalau mau ke planet sana pakai pesawat, berapa biayanya? Kalau lewat dia, gratis! Banyak juga yang kemudian mau di-“selamat”-kan oleh dia, lewat dia.

Mau pergi ke mana? Bukankah Tuhan tidak bisa “ditempatkan”? Yang menggoda kita untuk mencari Tuhan “ke mana-mana” adalah “pikiran”—Si Iblis. Dialah yang membuat kita tidak sabar. Sekarang kita mau apa? Mendengarkan suara dia atau merasakan Kehadiran Allah?

Rumi melanjutkan:

 

Dunia dengan segala isinya akan selalu menggoda, “Nikmatilah semua ini.” Bilamana engkau bijaksana, maka engkau tidak akan tergoda. Engkau diberi umpan. Lalu, demi umpan itu engkau kehilangan nyawa. Untuk apa?

 

Dalam kisah berikutnya, Rumi akan menegaskan kembali perkara umpan ini. Bagaimana kita mengejar umpan, sampai kehilangan nyawa. Untuk sementara, kesimpulan Rumi harus direnungkan kembali. Kesabaran, Kasih, dan Kesadaran, trio ini yang harus menyertai doa kita.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Ketiga Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Kebijaksanaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

Sesungguhnya, dalam Laku Meditasi—dalam kesadaran meditatif, rohani, atau spiritual—kita semua dipersatukan. Warna kulit, bahasa, ras, suku, dan kepercayaan kita boleh beda; penampilan kita, fisik kita, bahkan cara pikir kita boleh beda; tetapi dalam kesadaran rohani, kita semua dipersatukan oleh Kebutuhan kita akan Kebahagiaan Sejati, yang mana adalah satu dan sama pula. Dari buku Soul Awareness

Sudahkah kita tidak membeda-bedakan warna kulit, bahasa, ras, kepercayaan dan sebagainya?

 

Bharata: Kau-hina dan Kau-sakiti tidak Memengaruhi Aku! #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on March 18, 2017 by triwidodo

Para Suci yang lahir di keluarga Yogi

“(Jika ia sudah tidak terikat dengan kebendaan), maka ia ‘mengalami’ kelahiran dalam keluarga para Yogi. Kelahiran seperti itu, sungguh tidak mudah diperoleh.”

“Tidak” atau “belum” mencapai kesempurnaan dalam Yoga, berarti, saat meninggalkan badan, Jiwa masih terikat dengan alam benda, dengan kebendaan. Maka yang terjadi ialah seperti yang dijelaskan dalam ayat sebelumnya – “lahir dalam keluarga saleh dan sejahtera.” Penjelasan Bhagavad Gita 6:42  dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Kita masih ingat dalam kisah sebelumnya bahwa Raja Bharata sudah tidak terikat dengan kebendaan. Walaupun demikian, saat ajal menjemput dia belum mencapai kesempurnaan karena terlampau mencintai anak kijang, sehingga dia lahir sebagai kijang. Akan tetapi umur sang kijang sangat pendek, dan Bharata lahir lagi di tengah keluarga Yogi. Setelah ayahnya meninggal dia bekerja keras di ladang sampai sekelompok perampok membawanya ke kuil untuk dikorbankan kepada Dewi Bhadra Kali. Justru para perampoklah yang dibunuh sang dewi dan Bharata selamat.

 

Ujung kelahiran dan kematian Barata

“Ketika seorang bijak menyadari segala sesuatu sebagai perwujudan-Ku, perwujudan Tuhan; kemudian dengan kesadaran demikian, ia memuja-Ku – maka ketahuilah bahwa ia telah mencapai ujung kelahiran dan kematiannya. Inilah kehidupannya yang terakhir. Seorang seperti itu sungguh sukar ditemukan.” Penjelasan Bhagavad Gita 7:19 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Pada suatu ketika seorang raja bernama Rahugana sedang bepergian di sepanjang tepi sungai Iksumati. Ia adalah seorang raja kerajaan Sindhu dan Sauvira. Ia sedang ditandu dan merasa perlu menambah tenaga seorang lagi untuk mengangkat tandunya. Sang raja melihat Bharata yang bertubuh tegap sedang duduk di tepi sungai dan ditawarinya untuk menjadi pengangkat tandunya. Bharata walau seorang brahmana, tetapi mau melakukan pekerjaan apa saja, sehingga dia pun menyanggupinya.

Akan tetapi, setelah berjalan beberapa lama, sang raja merasa ada yang aneh dengan langkah dari para pemanggul tandunya. Ternyata Bharata selalu memperhatikan tanah yang akan diinjaknya, apakah ada cacing atau serangga atau hewan lainnya. Setelah merasa aman dia baru melangkahkan kakinya. Para pembantu berkata pada sang raja bahwa itu bukanlah kesalahan mereka, langkah sang pendatang baru tidak selaras dengan langkah mereka.

 

Bharata yang tidak takut hukuman dan bahkan tidak takut kematian

Ia yang menganggap Jiwa ini sebagai pembunuh; dan yang menganggapnya terbunuh—kedua-duanya tidak memahami Hakikat Jiwa yang tidak pernah membunuh, maupun terbunuh.” Bhagavad Gita 2:19

“Ia (Jiwa) tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati. Tak-Terlahirkan, Kekal-Abadi, Langgeng, dan Hyang Mengawali segalanya. Asal usul segala sesuatu, Hyang Ada sejak awal, dan tidak ikut punah ketika raga mengalami kepunahan, kemusnahan, kematian, terbunuh.” Penjelasan Bhagavad Gita 2:20 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sang raja marah, ia berpikir bahwa ia dalah manusia agung yang harus dituruti perintahnya dan menganggap orang lain lebih rendah derajatnya dan mestinya mereka menurut, karena akan dibayar mahal olehnya. Sang raja berkata kepada Bharata, “Kamu bertindak seperti mayat berjalan, kamu tidak mengindahkan perintahku. Aku harus memberi pelajaran kepadamu. Aku akan menghukum keangkuhanmu!”

Bharata sudah mencapai kesadaran Jiwa (soul awareness). Jiwa tidak pernah mati, maka jika tubuhnya akan dihukum oleh sang raja, dirinya tetap tenang. Bharata tersenyum kepada sang raja dan berkata, “Aku kau anggap tidak melakukan pekerjaan yang diberikan kepadaku dengan baik.  Dan, kamu menganggap dengan kemarahanmu aku akan takut atau hatiku akan tersakiti. Haruskah aku bercerita kepadamu, bahwa kau menganggap badanku ini nyata dan beban yang kupanggul adalah nyata? Aku Sejati berada dalam diriku dan tak ada hubungan dengan badanku. Menghina dan menyakiti diriku tidak memengaruhi Aku Sejati. Kau menganggap tubuhku, pikiran dan perasaanku sebagai diriku. Tetapi aku tahu bahwa kau salah. Aku Sejati tidak terpengaruh oleh ucapanmu.”

 

“Dalam bahasa Sanskerta, ada sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan: Atman. Kalian tahu dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, Atman adalah badannya. Bagi yang berada pada lapisan kesadaran energi, Atman adalah energinya. Bagi orang yang berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikiran. Ada lagi yang menganggap “rasa” atau lapisan emosi sebagai Self – Atma. Lapisan ini sudah jauh lebih halus, jauh lebih lembut dari lapisan-lapisan sebelumnya sebagai materi. Bagi dia, ‘Cinta’, ‘Rasa’ adalah kekuatan sejati – energi murni. Lalu ada yang menganggap lapisan intelijensia sebagai Self – Atma. Rasa pun telah mereka lampaui. Bagi dia, badan, energi, pikiran, rasa – semuanya masih bersifat ‘materi’. Bagi dia ‘kesadaran’ itu sendiri merupakan ‘kekuatan’ – energi. Seorang Buddha mengatakan bahwa semua lapisan tadi masih bersifat ‘materi’. Bagi seorang Buddha, Self atau Atma yang identik dengan lapisan-lapisan yang masih bisa dijelaskan harus terlampaui. Bagi dia, ketidakadaan atau kasunyatan adalah kebenaran sejati.” (Krishna, Anand. (2000). Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bharata melanjutkan, “Kau mengatakan aku seperti mayat yang berjalan. Wahai raja, proses kelahiran dan kematian tidak membatasi Aku. Perbedaan antara seorang raja dan seorang pembantu muncul karena perasaan dualitas.”

 

Raja Rahugana bertemu dengan Guru Pemandu Rohani

“Para Master tidak dapat dipaksakan kehadirannya dalam kehidupan Anda. Begitu Anda siap, ia akan muncul dalam kehidupan Anda. Para master tidak datang dari mana-mana, mereka tidak pergi ke mana-mana. Master seperti ini merupakan suatu kejadian dalam hidup Anda. Apabila Anda menemukan seorang Master seperti itu dalam kehidupan Anda, peristiwa itu mungkin saja peristiwa yang terbesar dan terpenting dalam hidup Anda.

“Para Master tidak senang disebut Master. Mereka lebih senang dipanggil sahabat. Para Master tidak pernah menciptakan jarak antara dirinya dan Anda. Para Master merupakan keharuman bunga yang menyerbaki kehidupan Anda! Sekali lagi, Anda tidak dapat memperoleh alamatnya dari iklan-iklan koran. Anda harus sabar menanti, dan Ia akan terjadi, akan muncul dalam kehidupan Anda.

“Jika Anda bertemu dengan seorang Master, hidup Anda akan segera berubah. Suatu ruang yang gelap selama 40 tahun dapat menjadi terang dalam sekejap oleh sebatang lilin, tidak memerlukan 40 tahun untuk meneranginya. Pertemuan Anda dengan seorang Master akan membuat Anda gembira; hari pertemuan menjadi hari perayaan! Anda akan menari dan menyanyi karena kegirangan. Anda baru akan tahu bahwa seorang Master tidak pernah memperbudak orang lain. Ia telah menguasai dirinya; ia tidak ingin menguasai Anda. Pertemuan dcngan seorang Master justru akan mempercepat kebebasan Anda, mempermudah proses ketidaktergantungan Anda.” (Krishna, Anand. (2002). Kehidupan Panduan untuk Meniti Jalan ke dalam Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Raja Rahugana termenung lama dan dapat memahami kebenaran yang diucapkan oleh Bharata, dia jatuh terduduk dan bersujud pada Bharata dengan berlinang air mata, “Keangkuhanku telah kau binasakan. Aku adalah raja dari Sindhu dan Sauvira akan mencari Rishi Kapila untuk belajar Brahmavidya, akan tetapi kau adalah Kapila sendiri yang datang menyelamatkan aku!”

Raja Rahugana sudah mempersiapkan dirinya untuk mencari kebenaran dalam hidupnya. Sang raja bepergian jauh untuk menemui Rishi Kapila ingin belajar tentang Pengetahuan Sejati. Keberadaan mempersiapkan pertemuan sang raja dengan Bharata, sang master yang sudah cerah dan sedang melanjutkan perjalanan menuju ke arah tujuan sejati. Beruntunglah seseorang yang bertemu dengan para Master yang sedang melanjutkan perjalanan terakhirnya di dunia ini.

 

Kendalikan Pikiran Dahulu

Jika gugusan pikiran dan perasaan belum terkendali, maka hawa nafsu pun tidak dapat dikendalikan. Seorang boleh bersumpah telah atau akan “menahan nafsu” — jika pikiran/perasaannya belum terkendali, sumpahnya tidak berarti apa-apa.

Semuanya ini langkah-langkah yang bersifat sangat teknis, dan menjelaskan alasan kegagalan kita selama ini. Mau langsung mengingat Tuhan, berjapa, berzikir; mau langsung mengendalikan nafsu — tidak bisa. Mesti mengikuti tahapan-tahapan sebagaimana dijelaskan di sini.

Penjelasan Krsna membuktikan bila ia memahami betul kinerja mind dan psikologi manusia. Ia tahu persis bagaimana seorang manusia dapat mengalami kedamaian sejati dan kebahagiaan total. Ia bukanlah seorang ahli yang asal-asalan atau asal-bunyi.

Kedamaian sejati dan kebahagiaan abadi tidak bisa diperoleh dari hal-hal duniawi yang bersifat tidak abadi. Pengalaman itu hanya dapat diperoleh jika seseorang berada dalam kesadaran-abadi, dalam keabadian. Ketika Jiwa menyadari hakikatnya sebagai percikan dari Jiwa Agung. Penjelasan Bhagavad Gita 6:126 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Bharata kemudian menjelaskan Brahmavidya dengan penuh kasih sayang, “Adalah pikiran manusia yang menyebabkan dia terperosok ke dalam rawa samsara atau yang menyebabkan dia menemukan kebebasan. Pikiran manakala diarahkan ke arah Tuhan, maka tidak ada ketakutan lagi. Kebijaksanan yang diperoleh ini tidak dapat diganti dengan tapa. Bukan pula diganti dengan menyelenggarakan upacara ritual tanpa cacat.  Tidak dapat ditukar dengan memberi makan 1.000 orang. Tidak juga dengan derma yang dilakukan oleh para Grihastha. Menyanyikan veda berkelanjutan dan pemujaan kepada para dewa pun tak dapat memperoleh kebijaksanaan tersebut. Hanya dengan jatuh di kaki seorang suci,  menyerahkan diri kepada seorang Guru yang tak terpengaruh lagi terhadap kelahiran dan kematian, seorang manusia dapat mencapai keselamatan.”

Bharata mengajarkan pengetahuan sejati, kemudian memberkati Raja Rahugana dan melanjutkan pengembaraannya di atas permukaan bumi sampai tugas sucinya di atas dunia selesai.

 

Catatan:

Meditasi tak bisa diajarkan. Seorang master hanya bisa menunjukkan jalan menuju meditasi. Meditasi adalah sebuah “kejadian”, tetapi kita bisa mempercepatnya dengan mempersiapkan lahan yang akan menunjang terjadinya meditasi. Dan lahan itu adalah hati seseorang, jiwa seseorang. Teknik-teknik meditasi yang diberikan oleh seorang master adalah alat untuk membersihkan lahan di dalam diri Anda. Tetapi, sebelum Anda benar-benar menggunakannya, mereka bisa saja kelihatan sama bagi Anda. Dari buku Soul Quest

Sudahkah kita mengikuti latihan meditasi seperti yang ditunjukkan Master?