7 Laku Puranjana Baru Setelah Bertemu Guru #SrimadBhagavatam

 

buku-bhagavatam-rishi-narada-akhir-puranjana

Puranjana adalah manusia setelah berevolusi melalui banyak wujud. Puranjana lama mati dan lahir lagi sebagai Putri Vaidharbi yang kawin dengan Raja Pandhya, Sang Guru. Ini adalah kisah putra-putri Vaidharbi, Laku Vaidharbi, Laku Puranjana Baru setelah bertemu Sang Guru.

 

“Dengan setiap napas yang kau tarik, ucapkan nama-Nya. Dan, dengan setiap napas yang kau embuskan, pujilah kebesaran dan kemuliaan-Nya. Seorang panembah mengubah irama napasnya menjadi irama ilahi. Seluruh hidupnya menjadi sebuah lagu indah yang menyanyikan keangungan-Nya.

Bagi seorang panembah sejati tiada lagi perpisahan antara jam kerja, jam libur, jam keluarga, setiap menit, setiap detik adalah saat untuk menyembah. Seorang panembah mengubah seluruh hidupnya menjadi suatu persembahan. Ia melakukan segala sesuatu dengan semangat panembahan, persembahan. Ia menjalani hidup dengan penuh kesadaran.

Panembahan bukanlah pekerjaan mereka yang belum sadar. Mereka yang belum, atau tidak sadar, tidak dapat menjalani hidup seperti itu. Mereka masih menghitung untung-rugi, sementara seorang Panembah sudah tidak peduli akan hal itu.”  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

cover-buku-ultimate-learning

Putri dan putra Vaidharbi adalah sebuah kiasan. Demikian Rishi Narada melanjutkan nasihatnya kepada Raja Prachinabarhisat, “Dengarkan cerita tentang Narayana dan berpikir tentang Dia siang dan malam, keduanya pasti melenyapkan kesengsaraan  yang disebut siklus kelahiran dan kematian. Vaidharbi yang kawin dengan Raja Pandya mempunyai satu putri dan tujuh putra. Putri itu adalah Asa, harapan untuk mendengarkan kisah Tuhan. Ketujuh putra adalah Sravana, Kirtana, Smarana, Padasevana, Archana, Vandana, dan Dasya. Berkumpul dengan seorang pemuja Narayana (Asa) akan membuat kamu akan mengambil tujuh jalan memuja Dia (7 saudara Asa).”

Dimulai dengan Shravana (mendengarkan cerita tentang Tuhan), Kirtana (mengucapkan syair berulang-ulang), Smarana (mengingat-Nya berulang-ulang dalam pikiran), Padasevana (berserah diri pada kaki-Nya), Archana (memuja-Nya sebagai persembahan), Vandana (hormat kepada-Nya) dan Dasya (melayani-Nya).

 

Apabila orang melakukan hal tersebut maka pikirannya akan terarahkan kepada Tuhan. Dan, Atman, Jiwa akan menyadari Paramatman, Tuhan sehingga Puranjana menjadi satu dengan Avijnata.

  1. Sravana, mendengarkan cerita tentang Tuhan berarti mendengar dengan penuh perhatian terhadap kisah-kisah Ilahi. Dengan Sravana pikiran akan terfokus pada Tuhan. Srimad Bhagavatam menyatakan, “Telinga yang belum mendengarkan nama dan kemuliaan Tuhan lebih buruk dari anjing, babi, unta, atau keledai”.
  2. Kirtana, mengucapkan syair berulang-ulang berarti menyanyikan merdu dan mengagungkan lagu-lagu Ilahi. Nyanyian penuh rasa secara terus-menerus ini akan mengisi pikiran dengan Tuhan. Srimad Bhagavatam menyatakan, bahwa “lidah yang tidak menyanyikan Leela (permainan) Ilahi adalah sebagai seperti lidah katak bernyanyi.”
  3. Smarana, mengingat-Nya berulang-ulang dalam pikiran berarti melakukan zikir nama Tuhan yang menyenangkan dan leela Tuhan tanpa penyimpangan dalam pikiran-Nya. Pikiran benar-benar ditarik dari objek duniawi, dan pikiran selain Tuhan itu diusir keluar dari pikiran. Bhagavad Gita menyatakan, “Wahai Partha, dia yang terus-menerus mengingat Aku”.
  4. Padasevana, berserah diri pada kaki-Nya berarti melayani dan menyembah kaki Ilahi. Tentang kaki Ilahi, Chhandogyopanishad mengatakan, “semua makhluk adalah kakinya. Jadi, melayani semua makhluk dapat dianggap sebagai melayani kaki padma Tuhan”.
  5. Archana, memuja-Nya sebagai persembahan berarti melakukan persembahan bagi Tuhan. Ibadah ini juga dapat dilakukan dengan memusatkan pikiran pada setiap wujud Ilahi. Dalam Bhagavad Gita dinyatakan, “Barangsiapa mempersembahkan Tuhan dengan penuh pengabdian, daun, bunga, buah atau air, Dia akan menerima itu semua”.
  6. Vandana, hormat kepada-Nya berarti penghormatan pada Tuhan dan kepada setiap wujud Tuhan. Dikatakan dalam Srimad Bhagavatam bahwa: “Ruang, udara, api, air, bumi, bintang, pohon, sungai, lautan dan semua makhluk merupakan wujud Tuhan, maka seorang pemuja akan bersujud menerima mereka sebagai Ilahi”. Dengan mengetahui bahwa Tuhan bersemayam dalam segala sesuatu, seseorang harus menunjukkan hormat dengan penuh keyakinan, kasih, dan pengabdian.
  7. Dasya, melayani-Nya berarti penyerahan diri sebagai hamba-Nya. Seseorang yang menerima dirinya sebagai hamba Tuhan akan melayani-Nya dan mematuhi petunjuk-Nya. Dalam semua tindakan ia merasa bahwa ia melayani Tuhan dan melaksanakan perintah-Nya dengan keyakinan penuh serta pengabdian dalam dirinya. Dia juga melayani semua makhluk sebagai wujud dari Tuhan.

Bila tujuh cara sudah dilakukan manusia akan sampai pada Sakhya, suka dan tidak suka sesuai kehendak-Nya dan Nivedana, menganggap dirinya sebagai persembahan.

 

Raja Prachinabarhis memohon, “Wahai Rsi Narada, mohon dijelaskan perihal Jiwa yang tidak menyadari ancaman yang sedang menyergapnya, karena kelengahannya dalam menikmati dunia.”

 

Jangan Lengah Saat Menikmati Dunia

Saat malaikat maut datang untuk menjemput kita; saat Dewa Yama mengetuk pintu rumah kita — coba berusaha untuk menghindarinya untuk satu detik saja. Tidak bisa. Saat itu tidak ada alasan sibuk. Siapkah kita untuk itu? Jika tidak mau menderita saat itu, tidak mau beraduh-aduh, maka  perjalanan batin kita mesti dimulai saat ini juga.

Perjalanan batin tidak beda dari perjalanan hidup. Tidak ada dua jalan yang mesti ditempuh. Perjalanan batin adalah perjalanan hidup biasa sehari-hari, tapi dengan warna batiniah, di mana kemuliaan – bukan kesenangan sesaat – yang menjadi warna hidup.

Perjalanan batin adalah hidup berkesadaran, yang tidak mementingkan kepentingan diri, keluarga maupun kelompok tertentu. Tapi, memperhatikan kepentingan tetangga, masyarakat, sesama warga dunia, yang dengan sendirinya kepentingan diri ikut terurusi. Itu saja. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk menunda peralihan kesadaran seperti itu, tentunya jika kita ingin meraih kebahagiaan sejati, yang disebut tujuan hidup tertinggi oleh Krsna. Penjelasan Bhagavad Gita 9:33 (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Rishi Narada tersenyum dan merasa berbahagia, “Baik, akan kuambil contoh yang berbeda. Ada seekor rusa beserta pasangannya sedang asyik melahap rumput di taman rumput luas dan subur. Bau bunga yang harum di taman tersebut membuat mereka merasa sangat bahagia. Mereka berpikir tak ada satu hal pun yang akan merusak kebahagiaan mereka. Tetapi sepasang rusa tersebut tak sadar akan bahaya adanya serigala yang berada tak jauh di depannya yang siap menerkamnya sewaktu-waktu. Mereka juga tak pernah sadar bahwa di belakang mereka juga ada seorang pemburu yang sudah membidikkan anak panahnya kepada diri mereka.

Kesenangan dunia adalah seperti wangi bunga dalam taman tersebut. Pria dan wanita  menjelajah dalam taman tersebut mencari kesenangan. Sementara sang kala, waktu dalam wujud serigala siap menerkamnya dari depan. Sedangkan di belakang mereka ada berbagai penyakit  dalam wujud anak panah dari si pemburu yang sudah dibidikkan ke arah mereka.

Aku menceritakan kisah Raja Puranjana, agar kamu menyadari bahwa berbuat baik saja belum mengarahkan kamu kepada Kebenaran Sejati. Kamu tidak perlu mengejar perbuatan baik saja. Kamu perlu menyadari Tuhan, dan kenyamanan dunia akan diberikan kepadamu sebagai hasil hukum sebab-akibat dari tindakanmu. Berkumpul dengan para sadhu akan membuat kamu mempunyai rasa cinta terhadap kisah ilahi. Manakala kamu menempuh tujuh jalan, maka kamu akan mencapai langkah terakhir yaitu penyerahan diri.”

 

Raja Prachinabarhisat langsung bersujud mencium kaki Rishi Narada dan membasahi kaki sang rishi dengan air matanya, “Terima kasih wahai Rishi Narada, kisah tersebut telah membuka hati nurani hamba.”

Narada berkata, “Wahai Raja, kisah ini adalah Brahmavidya, pengetahuan tentang keilahian.”

Catatan:

Kṛṣṇa Menjelaskan Tahapan-Tahapan Meditasi, yang tidak lain adalah hidup berkesadaran. Hidup dengan memanfaatkan buddhi – pikiran dan perasaan yang telah tercerahkan. Untuk itu, tahap awalnya adalah ketenangan, ketenteraman, rileks! Kṛṣṇa sudah menjelaskan cara-cara untuk meraih ketenangan, ketenteraman. Yaitu, dengan pengendalian-diri, pengendalian hawa-nafsu, kepuasan serta keseimbangan diri, dan sebagainya. Setelah seluruh tahapan itu dilalui, rileks! Bhagavad Gita 4:18

Sudahkah kita mulai latihan meditasi?

oec1elearning-banner

16507904_607845372736503_4157403851028120712_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: