4 Sifat Hewani yang Harus Dijadikan Kurban! Kisah #Masnawi

buku-masnawi-5-hewan-dan-ismail

Bertindaklah seperti Ibrahim, bunuhlah keempat hewan yang menghalang-halangi perjalanan (batin)-mu. Penggal kepala mereka, sebelumereka merenggut kesadaranmu.

Hewan pertama yang harus kau sembelih adalah Bebek. “Bebek Keserakahan” yang tidak pernah puas, tidak pernah berhenti mencari. Di darat maupun di dalam air, dia mencari makan terus. Kerongkongannya seakan tidak berujung.

Hewan kedua adalah Ayam—“Ayam Napsu”, napsu yang bisa menjatuhkan manusia, napsu yang menjadi sebab kejatuhan Adam.

Ketiga adalah Merak. Dia senang pamer. Untuk mencuri perhatian orang dia akan melakukan apa saja. Dialah “Merak Keangkuhan” yéng harus kamu sembelih.

Dan yang keempat adalah Gagak—“Gagak Keinginan”. Keinginan untuk hidup terus, harapan untuk keabadian. Dia tidak peduli apakah hidupnya bermakna atau tidak. Dia tidak sadar bahwa sepanjang hidup yang dimakannya hanyalah kotoran. Dia tidak pernah ber-“keinginan untuk bebas dari kodratnya sebagai gagak.

 

Kita semua memiliki sifat-sifat hewan ini. Ada yang sadar. Ada yang tidak sadar. Lalu, di antara mereka yang sadar pun ada yang berupaya untuk melampauinya, ada yang tidak. Dan di antara mereka yang berupaya, ada yang berhasil, ada pula yang tidak berhasil.

Anda tidak bisa melampaui sifat-sifat hewani di dalam diri, dengan cara menyembelih hewan. Yang harus disembelih bukan hewan yang anda beli dari pasar. Yang harus disembelih adalah sifat-sifat hewani di dalam diri. Tidak gampang. Cukup sulit. Itu sebabnya kita mencari jalan gampang. Beli hewan dan menyembelihnya. Boleh-boleh saja. Tetapi, itu bukan cara untuk membebaskan diri dari sifat hewani.

Banyak yang beranggapan bahwa kisah ini sekadar khayalan Rumi. Betul, dia berkhayal tentang kesadaran. Sementara kita hidup dalam khayalan.

Khayalan Rumi yang satu ini, sungguh indah dan mampu membangunkan kita dari tidur panjang. Dengarkan teguran Rumi kepada Merak yang angkuh:

cover-buku-masnawi-5

Bulumu yang indah, itu saja yang engkau pikirkan. Bagaimana dengan kakimu yang kurus dan jelek? Pernahkah engkau melihat ke bawah?

 

Karena sifat hewani yang satu ini, kesadaran seorang wali pun bisa merosot. Terbiasa disanjung, dihormati, dia pun bisa angkuh.

Rumi masih berkhayal:

 

Ada juga seekor Merak yang sadar. Dia mencabuti sendiri bulunya, dibiarkan rontok. “Karena bulu ini, aku menjadi angkuh. Kalau tidak berbulu, aku tak akan angkuh lagi,” pikirnya.

Seorang suci menegurnya: ”Apa yang sedang kamu lakukan? Bulumu itu merupakan anugerah Tuhan. Dan engkau menyia-nyiakannya? Demikiankah caramu untuk melampaui keangkuhan. Engkau berpikir terlalu banyak, padahal pikiran tidak pernah membantu.

Tidak perlu mencabut bulu; tidak perlu menyiksa diri, karena dirimu adalah ciptaan-Nya. Dan engkau tak akan perah memahami Sang Pencipta, kecuali lewat ciptaan-Nya. Bebaskan dirimu dari ’keterikatan’ pada bulu. (Dan engkau akan terbebaskan dari rasa angkuh).”

 

Bukan hewan, tetapi sifat hewani yang harus disembelih. Rumi juga menyadari betul, betapa alaminya sifat-sifat hewani ini.

 

Karena itu, dianjurkannya perang suci. Ya, perang suci untuk mengendalikan napsu. Apabila tidak ada napsu di dalam dirimu, tidak akan ada perintah untuk mengendalikannya.

Sang Raja memberi perintah: “Jauhilah”, karena, memang ada keinginan-keinginan yang perlu dijauhi. Ada perintah: “Makanlah”. Kemudian ada pula perintah: “Jangan berlebihan”. Sepertinya dua hal yang berbeda, padahal tidak demikian. Dua-duanya saling berkaitan. Muncul dualitas karena matamu juling, karena penglihatanmu tidak jernih.

Api cinta mampu membakar segala macam dualitas, sehingga yang tersisa hanyalah Dia. Apabila engkau masih juga melihat “dua”, ketahuilah bahwa yang membara di dalam dirimu adalah “api napsu birahi”. Bukan “Api Cinta Ilahi”.

 

Perintah Sang Raja, Perintah Allah pun seringkali terasa saling bertentangan. Yang satu begini, yang satu begitu. Tetapi, seorang Rumi tidak pernah melihat pertentangan. Yang dilihatnya hanyalah persatuan, kesatuan.

ltu sebabnya Rumi tidak melihat “bulu Merak” sebagai musuh. Pemberian Allah tidak patut dimusuhi. Bahkan tidak bisa dimusuhi.

Rumi melanjutkan kisahnya:

 

Ditegur oleh orang suci itu, si Merak mulai menangis. Dan, sang penegur pun merasa bersalah: “Mungkin teguranku sangat keras, sehingga Merak ini gelisah, sampai menangis,” pikir dia.

 

Demikianlah kasih seorang murshid terhadap muridnya. Si murid berbuat salah, terpaksa ditegur. Tetapi setelah itu, sang murshid sendiri merasa tidak enak. Cintakasih dia, kepedulian dia terhadap murid melebihi cinta, kasih dan kepedulian seribu ibu kandung.

Ternyata Merak di dalam kisah ini bukanlah Merak biasa. Dia mewakili “batin” seorang murid yang sudah matang, sudah siap, dan tinggal lepas landas. Sesaat lagi dia akan terbang bebas…

 

Buku ini sering merampas kebebasanku. Karena buluku ini, aku diburu terus. Setiap orang ingin menangkapku. Biarlah aku tampak jelek, tanpa bulu. Dcmikian, aku tidak akan dikejar-kejar lagi,” kata Merak.

 

Kerhasilan dan kecerdasan bagaikan bulu Merak. Bisa menjadi perangkap, sehingga kesadaran manusia merosot lagi.

 

“Selain itu, aku juga belum berhasil melampaui rasa angkuh. Ke-‘aku’-anku masih utuh. Aku masih belum cukup sadar. Keyakinanku masih setengah-setengah. Bagiku bulu ini sangat berbahaya. Lebih balk kubuang saja.”

 

Kisah ini perlu direnungkan: Nasihat orang suci tidak salah. Dalil Merak pun tidak salah. Dua-duanya betul, benar. Kita ambil satu contoh saja: “kedudukan”. Entah kedudukan Presiden, Wakil Presiden, Ketua MPR atau Ketua DPR. Selama calon ketua masih “terikat” dengan kedudukan, hendaknya dia menolak kedudukan, karena keterikatan itu akan membuat dirinya sangat tidak efisien. Demi kedudukan, dia akan berbuat apa saja. Politik dagang sapi lahir dari keterikatan, dari keinginan untuk mempertahankan kedudukan.

Walau diminta oleh sekelompok masyarakat atau bahkan oleh seluruh rakyat, dia harus tetap jujur dengan dirinya sendiri. Dia harus melakukan introspeksi diri. Bila dia pernah “mengharapkan”, ”mendambakan” posisi itu, lebih baik tidak diterimanya.

Apa guna kedudukan tinggi yang bisa menjatuhkan jiwa? Seorang “ketua” tak akan pernah mencalonkan diri. Dan yang mencalonkan diri jelas tidak pantas menjadi “ketua”. Dia masih terikat dengan kedudukan.

Terimalah kedudukan yang ditawarkan kepada anda, bila anda sudah tidak terikat dengan kedudukan itu. Anda menerima jabatan itu sebagai amanah, sesuatu yang diamanatkan kepada anda, sesuatu yang bisa ditarik kembali setiap saat, sesuatu yang tak akan anda tangisi kehilangannya.

Jangan lupa “keterikatan” itu sendiri masih merupakan sifat hewani. Begitu pula dengan harapan dan keinginan. Siapkah kita menyembelih sifat-sifat hewani itu?

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

Mind akan selalu ada. Tidak bisa tidak ada. Kecuali sudah melebur dan menyatu dengan semesta, di mana badan pun sudah tidak ada lagi. Selama badan masih ada, fisik masih ada, mind akan selalu ada. Meditasi hanya “mengandangkan mind”. Dan pengandangan mind itu pun sudah merupakan keberhasilan yang luar biasa. Dari buku Masnawi Buku Kedua

Sudahkah kita mulai latihan meditasi? Latihan mengandangkan mind?

oec2elearning-banner-2

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: