Rajarishi: Raja Penguasa dengan Kesalehan Brahmana #SrimadBhagavatam

 

buku-bhagavatam-rajarishi-di-candi-cetho-dg-tulisan

Sampai dengan saat ini kita sudah membaca Srimad Bhagavatam tentang para bhakta yang mencapai Narayana dengan melakoni Sanyasi. Kemudian kita juga diberi kisah tentang para raja yang setelah memerintah dengan bijaksana selama beberapa masa meletakkan jabatan, mengangkat pengganti dan menjalankan Vanaprashtha, fokus pada Narayana untuk mencapai penyatuan. Berikut adalah kisah tentang sebuah konsep Rajarishi, seorang penguasa atau pejabat yang memperoleh pencerahan selama menjalankan tugasnya.

Yesus benar-benar mengatakan bahwa kedatangan Dia adalah untuk sesuatu yang jauh lebih berarti. la datang untuk memisahkan kita dari segala sesuatu yang membelenggu diri kita selama ini. Yang harus kita tinggalkan bukanlah istri, bukan keluarga, tetapi rasa kepemilikan kita, keterikatan kita terhadap mereka. Nikmatilah dunia ini. Berkeluargalah, jika Anda inginkan. Tetapi jangan terikat pada sesuatu. Sadarlah bahwa semuanya itu hanya sementara. Jangan mengembangkan rasa kepemilikan terhadap benda-benda duniawi, karena semua itu tidak kekal. Nikmati semuanya, tanpa keterikatan, tanpa rasa kepemilikan. (Krishna, Anand. (2004). Sabda Pencerahan, Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Raja Priyavrata

Bila Narayana pernah lahir sebagai Rishi Kapila untuk mengajarkan Samkhya, kemudian lahir sebagai Maharaja Prithu, kini Narayana akan lahir sebagai Raja Rishi. Raja yang memerintah dunia tanpa keterikatan duniawi.

Raja Svayambhu Manu putra Brahma mempunyai 3 putri dan 2 putra. Ketiga putrinya adalah Devahuti yang menjadi istriRishi Kardama, Prasuti yang menjadi istri Daksha Prajapati dan Akuti istri Rishi Ruci. Kita sudah membaca kisah keturunan mereka yang menjadi para petapa suci.

Putra kedua Uttanapada menurunkan Raja Dhruva dan anak keturunannya sampai Raja Prachinabarhisat, selanjutnya Pracetasa yang melahirkan Daksha yang merupakan inkarnasi Daksha Prajapati yang selanjutnya bergi ke hutan bertapa.

Pada saat itu usia manusia sangat panjang, Svayambhu Manu yang masih hidup melihat dunia akan kacau tanpa pemimpin. Adalah putra sulung Svayambhu Manu, Priyavrata yang sudah sejak kecil belajar pada Rishi Narada yang tidak mau menjadi raja, sehingga yang menjadi raja adalah adiknya Uttanapada. Priyavrata pergi ke hutan dan bertapa.

Karena dunia akan kacau tanpa seorang raja, maka Svayambhu Manu berupaya membujuk Priyavrata agar menjadi raja tapi gagal. Akhirnya Svayambhu Manu mengajak Brahma untuk membujuk Priyavrata yang saat itu sedang berbicara dengan Rishi Narada.

Brahma berkata, “Cucuku Priyavrata, dengarkanlah dengan seksama perkataanku. Tuhan memerintahkan manusia agar patuh terhadap-Nya. Tuhan yang dipatuhi oleh kita semua menghendaki kau sebagai raja. Tubuh ini diberikan oleh Tuhan kepada kita untuk suatu tujuan. Masing-masing kita telah diciptakan untuk suatu tujuan. Lihatlah sapi jantan yang membajak tanah. Mereka mengenakan tali yang diikatkan pada hidung mereka. Ikatan tali menunjukkan bahwa dia harus patuh terhadap pengendalinya, tanpa ikatan tali dia tidak dapat mengerjakan pekerjaan yang berharga. Tanpa mengikuti tali yang digerakkan oleh majikannya, ia tidak punya kekuatan untuk membajak sawah. Demikian juga manusia, dikendalikan untuk melakukan pekerjaan yang telah Dia pilih.”

Brahma melanjutkan, “Bagaimanapun juga, jika manusia bergerak mengikuti kehendak-Nya tanpa keterikatan terhadap dunia, maka ia adalah seorang ‘jeevanmukta’. Ia bergerak dalam dunia manusia selama Tuhan menghendakinya. Manusia seperti itu akan memandang kesenangan dan penderitaan seperti seseorang yang melihat mimpi setelah bangun tidur. Manusia seperti ini tidak akan mendapatkan ‘vasana’, kesan-kesan dalam pikiran yang menyebabkan kelahiran selanjutnya. Semua tindakannya dilakukan tanpa pamrih.”

Priyavrata akhirnya menjadi raja dengan kesalehan Brahmana. Ia memimpin negeri tanpa keterikatan. Ia hanya menjalankan tugas suci Tuhan memimpin negeri. Seorang rajarishi.

 

Raja Nabhi

Priyavrata menjadi raja yang tidak terikat dengan duniawi. Ia menikahi Barhismati, putri Visvakarma, yang melahirkan sepuluh putra dan seorang putri. Agnitra adalah putra sulung. Ketiga adik Agnitra menjadi sanyasi di usia yang sangat muda. Agnitra dan enam putranya yang lain diminta menjadi raja di tujuh pulau. Putri Priyavatra bernama Ojasvati yang dinikahkan dengan Rishi Sukra dan mempunyai putri bernama Dewayani. Manakala waktu telah sampai Priyavatra meninggalkan istana pergi melanjutkan bertapa sampai saatnya mencapai Narayana.

Raja Agnitra putra Priyavrata mempuyai putra yang bernama Nabhi. Nabhi adalah seorang raja yang sangat saleh dan belum berputra. Para brahmana kemudian melakukan ritual agar Raja Nabhi mempunyai putra.

Gusti Pangeran, Narayana dikisahkan mempunyai kasih yang tidak terbatas. Dia tidak terkait dengan arca maupun tempat yang disebut suci. Tetapi karena kasih-Nya, Dia memberkati mereka yang memuja lewat arca atau yang lainnya yang digunakan para bhakta untuk  membangkitkan rasa manembah. Arca adalah alat untuk membangkitkan rasa devosi. Begitu pula halnya dengan tempat yang disucikan mereka. Bagi Dia yang penting bukan ritual, akan tetapi devosi bhaktanya.

Dikisahkan Narayana hadir sendiri saat ritual yang dilakukan Nabhi beserta para Brahmana. Para brahmana malu saat Nabhi minta Narayana untuk lahir menjadi putra sang raja. Bertemu Gusti Pangeran semestinya yang diminta bukan materi, bukan duniaiwi tetapi kebebasan, moksa. Para Brahmana tidak melihat keyakinan, trust dalam diri Raja Nabhi. Trust melampaui logika, statistik, kebiasaan, kecenderungan. Narayana bersedia memenuhi permintaan Raja Nabhi.

 

Maharaja Rsabha

“Aku tinggal di dalam istana yang mewah ini, tetapi selalu ingat kematian. Aku tahu persis bahwa kapan saja ajalku bisa tiba. Itu sebabnya aku selalu sadar. Aku tidak pernah tertidur lelap. Aku menikmati hidup mewah ini, tetapi aku tidak pernah lupa bahwa pada suatu ketika, semuanya ini akan berakhir. Badan ini pun akan berakhir. Semuanya ini ibarat impian. Keberadaannya hanya untuk sesaat.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Narayana lahir dengan nama Rsabha. Setelah Rsabha dewasa dinobatkan sebagai raja dan Nabhi mengasingkan diri ke Badarikashrama untuk fokus memuja Gusti sampai maut menjemputnya. Rsabha menikah dengan Jayanti putri dari Indra, dan menjadi ayah dari seratus putra. Anak sulungnya bernama Bharata dan negeri yang diperintahnya dikenal sebagai Bharatavarsa.

Rsabha, wujud Narayana untuk menunjukkan kepada manusia bahwa manusia bisa menjadi raja dikelilingi oleh kemewahan dan kekuasaan, hidup dengan wanita cantik dan banyak anak. Hidup sebagai seorang ghrihastha yang sempurna tetapi hidup secara sanyasi.

Rsabha mengajarkan kepada putra-putranya, “Putra-putraku, tubuh ini diberikan kepada kita bukan untuk menikmati hal-hal duniawi seperti binatang. Tetapi untuk maksud yang lebih tinggi, kemurnian pikiran. Karena beberapa tindakan yang dilakukan di kehidupan sebelumnya, maka manusia diberikan badan. Selama badan ada dan selama pikiran belum sadar maka kamu akan berada dalam badan. Avidya, ketidaktahuan menjadikan manusia masuk ke dalam perangkap karma. Aku dan milikku adalah dua musuh utama manusia.

Dengarkan cerita tentang Tuhan, Kisah Keilahian. Peliharalah persahabatan dengan seorang pemuja Tuhan. Jangan benci kepada seorang manusia pun, sebab semua orang adalah gambaran tentang Tuhan. Biasakan sendiri dengan dengan diri kalian, kapan saja untuk mendapatkan keheningan yang dapat membantumu berpikir tentang Tuhan. Lakukan tugasmu dengan baik . Adalah penting bahwa seorang Guru membimbing seorang siswa, murid. Dan bagi seorang putra tidak ada guru yang lebih besar daripada ayahnya. Adalah tugas seorang ayah membimbing putranya dan seorang raja untuk membimbing rakyatnya.

Rsabha kemudian menobatkan Bharata sebagai raja dan ia pergi meninggalkan negerinya. Ia mengembara ke seluruh dunia menyebarkan ilmunya hingga kebebasannya datang.”

Kebesaran Rsabha tidak terjelaskan. Namun, orang tidak dapat mengenali keilahian-Nya. Sepenuhnya ia memisahkan diri dari badan halusnya. Badan fisiknya terus berkelana untuk menghabiskan waktunya. Rsabha tidak peduli dilecehkan orang, karena yang dilecehkan adalah tubuhnya, sedangkan dia sendiri adalah terikat dengan Tuhan. Ini adalah sebuah cara untuk meninggalkan raga yang tidak dipahami masyarakat. Pada suatu hari saat berkelana di Pengunungan Kutaka, terjadi kebakaran hutan dan api tersebut juga membakar Rsabha.

Silakan ikuti Kisah Raja Bharata, leluhur Pandawa dan Korawa pada Catatan berikutnya:

Catatan:

Carilah tempat yang nyaman, di mana Anda tidak akan diganggu selama 20-30 menit. Gunakan musik lembut untuk mengantar Anda ke alam meditasi. Duduk santai diatas lantai yang beralas. Pejamkan mata dan perhatikan napas—tiba-tiba terjadi peralihan kesadaran. Anda mulai menyadari diri sendiri. Kesadaran tidak mengalir ke luar, tetapi mengalir ke dalam. Tarik napas pelan-pelan lewat hidung, keluarkan pelan-pelan lewat hidung pula.

Sewaktu menarik napas, bayangkan Anda sedang menarik semesta dengan segala isinya—ke dalam diri—tarik napas panjang, sedalam mungkin…….. Sewaktu membuang napas, bayangkan Anda sedang mengembalikan segala-galanya kepada semesta—hembuskan napas sepenuhnya, sampai diri Anda terasa kosong, hampa…. dari buku Tetap Waras Di Jaman Edan

oec2elearning-banner-2

16507904_607845372736503_4157403851028120712_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: