Orang yang Tidak Menangisi Kematian Anaknya #KisahMasnawi

buku-masnawi-3-menangisi-anak-mati

Pernah ada seorang Syaikh yang konon tidak menangisi kematian putranya. Maka salah seorang anggota keluarga berkomentar: “Jiwamu sungguh keras. Sekeras batu. Sehingga wafatnya seorang anak pun tidak kau tangisi. Sikapmu begitu dingin. Padahal kita semua mengharapkan kelembutan serta kehangatan kasihmu.”

 

Mereka mengaitkan air mata dengan kelembutan dan kehangatan kasih. Mereka pemerhati wujud, pemuja berhala.  Mereka menganggap nyata apa yang terlihat oleh mata kasat. Mereka belum mampu melihat kebenaran di balik wujud.

Rumi memberi contoh dari kehidupan Nabi Muhammad:

 

Sang Nabi pernah berjanji bahwa dia tidak akan meninggalkan mereka yang tersesat. Pada saat perhitungan nanti, dia akan berupaya keras untuk membela mereka. Karena yang saleh, yang taat dan sudah berada pada jalur yang benar, tidak membutuhkan pembelaan. Mereka bisa membela diri sendiri.

Yang membutuhkan pembelaan justru mereka yang berada pada jalur yang salah, yang tersesat. Beban mereka sungguh berat. Dan ia yang berbeban berat tidak bisa meringankan beban orang lain. Tapi, kata Nabi, “Kami tidak terbebani.” Allah telah membebaskan dirinya dari segala beban. Allah telah memuliakan, mengagungkan, meninggikan namanya. Oleh karena itu, dia bisa membantu orang lain. Dia bisa meringankan beban mereka.

Seorang Syaikh adalah seorang “pir” atau orang tua yang sudah putih rambutnya. Banyak yang mengartikan kalimat ini secara harfiah. Jelas salah.

Rambut berarti “keakuan”. Apabila masih “hitam”, berarti masih tebal. Apabila sudah “putih”, berarti sudah menipis. Ada orang yang rambutnya masih hitam, tetapi keakuannya sudah lenyap, dia seorang Pir. Ada orang yang rambutnya sudah putih, tetapi keakuannya masih utuh, dia belum bisa disebut Pir.

Ia yang sudah lenyap keakuannya, sudah lenyap keterikatannya, baru bisa disebut Syaikh.

Rumi tidak berhenti untuk menjelaskan apa kaitan riwayat nabi dengan definisi syaikh yang baru saja diberikannya.

Kaitannya jelas sekali.

Muhammad tidak fanatik!

Seorang nabi tidak bisa fanatik. Seorang Mesias, seorang Avatar, seorang Buddha, seorang Rasul, seorang Pir, seorang Syaikh, seorang Sufi, seorang Master, seorang Murshid, tidak bisa fanatik. Kalau fanatik, ya dia belum apa-apa.

Begitu lembutnya jiwa Muhammad, sehingga dia tidak lagi membedakan antara yang tersesat dan yang saleh. Bahkan dia akan maju ke depan membela mereka yang tersesat. Yang saleh, yang taat pada ajarannya tidak perlu dibela lagi. Mereka sudah sadar. Tetapi bagaimana dengan mereka yang tidak saleh, yang tidak taat, bahkan menghujat dia, mengejek dia? Muhammad tidak membedakan antara apa yang Anda sebut “muslim” dan “nonmuslim”. Dia adalah Nabi dunia. Bukan hanya Nabi Anda yang hidup dalam kotak sempit dan menganggapnya dunia. Dia adalah berkah bagi umat manusia. Bukan berkah bagi sekelompok manusia yang arogan, egois, dan atas nama fundamentalisme, selalu menganggap dirinya benar. Dia datang untuk menerangi alam semesta. Bukan hanya untuk menerangi lorong Anda yang sempit.

Begitu lembutnya Muhammad – Sang Nabi. Begitu manis kasihnya. Begitu besar jiwanya. Begitu hangat hatinya. Lihat apa yang telah Anda lakukan. Atas nama Islam dan dengan menggunakan simbol-simbol agama, Anda memenggal kepala orang. Anda membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Lalu Anda mencari-cari pembenaran dari sunnah Nabi, dari hadis Nabi. Sungguh memalukan!

Karena tidak fanatik, maka seorang Nabi juga tidak terikat dengan salah satu kelompok. Dia tidak membedakan kelompok “A” dari kelompok “B”. Kasihnya bagaikan Cahaya Matahari – tidak membedakan pekarangan rumah kumuh dari pekarangan istana. Bagi dia semua sama.

Setelah menjelaskan arti kata Syaikh, Rumi melanjutkan kisahnya:

Syaikh itu menanggapi komentar anggota keluarganya, “Tidak sahabat. Hatiku tidak keras. Jiwaku lembut. Kadang melihat seekor anjing dibatui, batinku meleleh. Bertemu dengan mereka yang tidak percaya, aku menangis. Aku mengasihani mereka.”

“Lalu kenapa tidak menagisi putra kita? Menangisi nasib orang lain, tetapi tidak menangisi anak sendiri……” Istri Syaikh yang selama itu membisu, akhirnya ikut bicara juga.

“Justru karena itu aku tidak menangis. Lain musim semi, lain musim gugur. Ada yang badannya hidup, tetapi jiwanya mati. Ada yang badannya tidak hidup, tetapi jiwanya hidup. Mana yang harus kutangisi? Aku melihat jelas apa yang tidak terlihat oleh kalian. Oleh karena itu reaksiku pun lain. Caraku menanggapi suatu keadaan berbeda,” jawab sang syaikh.

 

Putra Syaikh dalam kisah ini mewakili setiap “murid” yang saleh , yang taat, yang mengindahkan petunjuk sang mursyid. Kematian dia harus dirayakan. Dia sudah terbebaskan dari beban badan. Dia akan menyatu kembali dengan semesta. Untuk apa ditangisi?

Yang harus ditangisi justru mereka yang tidak taat, tidak mengindahkan petunjuk mursyid. Satu masa kehidupan terlewatkan begitu saja!”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Ketiga Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Kebijaksanaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama).

Catatan:

Rumi sedang mengajak anda untuk memasuki alam meditasi, dimana “kata-kata”, “ucapan” justru bisa menjadi penghalang……….. Diam-diam saja. Karena, setiap kata,setiap ucapan akan menciptakan “kabut keangkuhan”. Dan “cermin kesadaran” pun akan berkabut kembali. Anda tidak akan bisa melihat wajah anda yang sebenarnya, yang hakiki. Anda tidak akan bisa menemukan jati diri. Hindari kata-kata. Hindari banyak bicara. Seorang penyelam meditasi tahu persis apa yang dimaksudkan oleh sang Maulana. Dia menyadari bahaya yang disebabakan oleh “banyak bicara”. Dari buku Masnawi Satu

Sudahkah kita mulai latihan meditasi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: