Bharata: #Reinkarnasi Raja Bijak sebagai Rusa #SrimadBhagavatam

buku-bhagavatam-bharata-dan-rusa

“Apa pun yang terpikirkan saat ajal tiba, saat seseorang meninggalkan badannya, wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), itu pula yang dicapainya setelah meninggalkan badan. Sebab, pikiran terakhir adalah sama seperti apa yang terpikir olehnya secara trus-menerus sepanjang hidup.” Bhagavad Gita 8:6 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Raja Bharata yang bijaksana

 

Raja Bharata adalah putra sulung Raja Rsabha. Dia memerintah kerajaan dengan bijak dan dicintai oleh rakyatnya. Kerajaannya dikenal sebagai Bharatavarsa. Bharatavarsa mengalami zaman keemasan di bawah pemerintahan sang raja. Raja Bharata adalah seorang panembah Gusti Narayana. Sang raja melihat seluruh rakyatnya dan bahkan semua makhluk sebagai proyeksi dari Gusti narayana. Di dalam hatinya hanya ada sang Gusti tidak ada yang lainnya.

Bharata adalah raja besar dan bahkan Pandava dan Kaurava pun merupakan anak keturunan Raja Bharata. Akan tetapi bagaimana nasib seorang raja bijaksana di akhir hidupnya? Kisah ini akan memberikan gambaran perlunya hidup berkesadaran sampai datangnya kematian.

Setelah memerintah sampai ribuan tahun dengan bijaksana, Bharata menobatkan putranya sebagai pengganti dirinya, dan sang raja mengasingkan diri ke Haridvar di Ashram Pulaha. Bharata hidup sendirian dalam kedamaian, sepanjang hari hanya manembah kepada Gusti Narayana dan tidak ada rasa keterikatan terhadap duniawi.

 

Memelihara Anak Rusa

 

Pada suatu ketika saat Bharata akan melakukan meditasi pagi di tepi Sungai Mahanadi, dia melihat seekor rusa betina yang sedang hamil tengah membungkukkan kepalanya untuk minum air sungai. Tiba-tiba terdengar raungan singa yang sangat keras yang membuat sang rusa kaget ketakutan dan meloncat ke dalam sungai, menuju tepi seberang. Sang rusa betina sampai seberang dalam keadaan lemah lunglai. Anaknya lahir prematur dan sang rusa betina meninggal. Bharata dengan penuh kasih menggendong anak rusa, dan membawanya ke ashram dan memberinya susu.

Pada awalnya Bharata mengasihi anak rusa sebagaimana dia mengasihi semua makhluk. Akan tetapi rupanya semakin hari Bharata semakin terikat dengan sang anak rusa. Dia mengasihinya sebagaimana seorang ibu yang mengasihi putranya. Bharata lupa bahwa hewan itu mempunyai keterbatasan, pikiran dan rasanya terbatas tidak seperti manusia. Bagi Bharata itu tindakan benar, akan tetapi bagi sang hewan yang juga merasakan kasih sayangnya, dengan segala wujud dan bawaan hewaninya mungkin dia menjadi tidak alami lagi.

Dikisahkan Bharata sampai melupakan kegiatan rutinnya untuk manembah kepada Narayana. Hari demi hari berlalu, bharata semakin tua dan yang dipikirkan hanya anak rusa. Sesaat menjelang ajal yang dipikirkan pun hanya sang anak rusa. Keinginan Bharata yang terakhir—sebelum meninggalkan badan fana—menjadi benih bagi kelahiran berikutnya. Akhirnya bharata meninggal dan dilahirkan lagi sebagai rusa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Lahir sebagai rusa sebelum kelahiran kembali sebagai manusia

 

Umumnya, Tidak Ada Devolusi, yang ada hanyalah evolusi. Manusia tidak akan lahir kembali sebagai binatang. Tetapi, ya, ada saja pengecualian. Dalam keadaan tertentu, seseorang yang telah mencapai kesadaran cukup tinggi bisa memilih untuk lahir kembali sebagai binatang—hanya demi mempelajari suatu mata pelajaran tertentu.

Barangkali mata pelajaran tentang compassion, tentang bagaimana menyayangi sesama, bagaimana merendahkan diri dan tidak angkuh, dengan memilih wujud hewan. Sebab, sebagai hewan ia bisa belajar dalam waktu singkat. Ia tidak perlu menghabiskan waktu panjang. Sebagai hewan, cukup bila ia hidup 6—7 tahun, sebagai manusia bisa 70-80 tahun.

Sekali lagi, ini merupakan pengecualian. Justru terjadi, bisa terjadi pada 0rang-orang yang sudah berkesadaran. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Begitu banyak tumpukan kebaikan Bharata, sehingga walau lahir sebagai rusa dia sadar tujuan hidupnya. Dia harus menjalani kehidupan sebagai rusa untuk menghayati kehidupan hewan, dan melanjutkan perjalanan spiritualnya. Sang rusa memilih hidup di sekitar ashram para rishi. Setiap malam mendengarkan doa, mantra dan lagu-lagu pujian. Hidup sang rusa spesial ini hanya terfokus pada Gusti Narayana.

Pada saatnya nanti, kita akan membaca kisah-kisah hewan yang datang ke Brindavan untuk bertemu Sri Krishna. Para hewan tersebut adalah makhluk-makhluk suci yang disebutkan karena kesalahan tindakan lahir menjadi hewan. Setelah bertemu Krishna dan dibunuh mereka kembali menjadi makhluk-makhluk suci. Mereka menjadi hewan sebagai pelajaran terakhir sebelum kembali menjadi makhluk suci.

Dikisahkan sang rusa meninggal dan lahir lagi sebagai putra seorang Brahmana, Rishi Angirasa. Brahmarishi Angirasa mempunyai 9 orang putra dari istri pertamanya dan dari istri keduanya mempunyai seorang putri dan seorang putra yaitu Bharata. Bharata lahir dikenal sebagai anak yang bodoh maka dia dikenal sebagai Jada Bharata, Bharata yang bodoh.

 

Biarkan hewan hidup alami

 

Kita mungkin berpikir bahwa kita mencintai hewan peliharaan kita. Ketika anjing kita menjilat kita, kita mungkin menyalahartikan itu sebagai cintanya pada kita. Tidak mungkin, anjing dan hewan-hewan lain harus berevolusi lebih lanjut untuk mengetahui apa itu cinta.

Hewan bisa menjadi terikat dengan kita karena kita memberi mereka makan; kita memperhatikan mereka. Namun, menjadikan mereka sebagai peliharaan sama sekali tidak membantu evolusi mereka.

HEWAN PELIHARAAN MANA PUN TIDAK HIDUP SEBAGAIMANA MESTINYA. Ia melakoni hidup yang tidak utuh sebagai hewan yang mesti “tampak” riang. Ia harus mempelajari “cara-cara aneh” untuk menyenangkan tuannya, karena hanyalah ketika sang tuan senang maka ia memperoleh makanan ekstra atau belaian “sensasional”.

Mereka yang mempelajari perilaku hewan mengatakan bahwa semua hewan peliharaan, terutama anjing sangat sering memikirkan tentang “sanggama” — bersetubuh dengan tuan mereka. Inilah versi cinta ala para hewan peliharaan. Mereka yang memiliki pandangan sama tentang cinta mungkin menganggap ini sangat “alami”. Ya, alami bagi para hewan. Ya, alami sebagai insting hewani. Tetapi kita — sebagai hewan yang disebut manusia – dianugerahi dengan lapisan tambahan pada otak, Neo-Cortex, yang seharusnya memungkinkan kita mendefinisikan kata “cinta” dengan cara yang berbeda, dengan gaya yang berbeda. Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

 

Catatan:

Berada dalam alam meditasi Anda akan lebih sadar, dan waspada. Begitu keluar dari alam meditasi, kendati sebentar saja, Anda akan terperangkap lagi. Itu sebabnya, para master menganjurkan good company-pergaulan yang bisa menunjang evolusi batin. Dari buku Masnawi Satu

Sudahkah pergaulan kita menunjang evolusi batin?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: