Imaginasi Kata atau Realita? Bonsai atau Sesungguhnya? #Masnawi

Kata-kata bisa menjadi awal bagi sesuatu, bisa mengawali sesuatu. Kata-kata juga bisa mengakhiri sesuatu. Kemudian “keberadaan” apa yang diawali dan diakhiri oleh kata-kata akan sangat tergantung pada kata-kata itu sendiri.

Bagaimana Anda bisa menjelaskan manusia, dunia dan alam semesta? Sebelum ada kata-kata, sebelum anda belajar “berkata”, berbicara, semuanya sudah ada. Anda tidak mengawalinya. Anda juga tidak mengakhiri. Bahkan “keberadaan” anda sendiri tidak tergantung pada kata-kata yang anda ucapkan.

Keberadaan tidak tergantung pada kata-kata. Dan hal ini pula yang ingin Rumi sampaikan kepada murid kesayangannya. Kepada Husamuddin:

 

Apabila mereka tidak menutup diri terhadap Kebenaran, dan mampu memahami serta menghayatinya, bahasa lain yang akan kugunakan untuk menyampaikan (buku kelima Masnawi) ini.

 

Kebenaran bagaikan pohon Beringin yang lebat. Supaya bisa tumbuh di dalam pot dan dapat kita pasang di atas meja kerja, pohon itu harus di-“bonsai”. Kebenaran yang disampaikan lewat kata-kata seperti bonsai pohon Beringin. Sama-sama Beringin, tapi tidak “sama”. Yang satu tumbuh sesuai dengan kodratnya. Yang satu lagi, tidak.

Itu sebabnya, jiwa mereka yang hanya percaya pada kata-kata tidak tumbuh sesuai dengan kodratnya. Mereka mandeg (percaya pada kata-kata). Kemudian, mereka me-“mutlak”-kan kebenaran bonsai yang kecil itu. Mereka menutup diri terhadap Beringin yang ada di alun-alun. Atau bahkan ada di depan rumah mereka sendiri.

Seorang Rumi “datang” untuk berbagi rasa. Untuk menyampaikan sesuatu yang sungguh berharga : “Lihatlah, di depan rumahmu ada pohon beringin yang lebat, rindang.” Kita malah berang, “Beringin ada di dalam rumah-‘ku’. Beringin apa lagi yang sedang kau bicarakan? Engkau menduakan kebenaran.” Ke-”aku”-an kita terusik. Dan kita menolak Rumi, kita menolak seorang wali. Kita tidak sadar bahwa:

Adakah orang buta yang bisa bicara tentang matahari? Ia yang bicara tentang matahari membuktikan ”kemelekan” dirinya. Uraiannya sudah cukup bukti bahwa dirinya bisa melihat matahari.

Rumi menyadari betul bahwa dunia ini penuh dengan orang buta. Penuh dengan mereka yang enggan membuka mata. Ya sudah, tidak perlu buka mata. Setidaknya berjemuranlah di luar. Sampai kapan mau mengurung diri di dalam kamar yang sumpek? Engkau membutuhkan cahaya matahari.

Baik, engkau tidak dapat meminum keseluruhan” hujan yang turun. Setidaknya janganlah menolak air.

 

Seringkali kita apriori terhadap si ”pembawa” air. Kita malah menginterogasi dia: “Siapa kamu? Agamamu apa? Asal-usulmu dari mana? Apa urusanmu menawarkan air kepadaku?”

Sudah haus, tenggorokan sudah kering, sudah sekarat, mati tidak hidup tidak, ketika ada yang menawarkan air, kita malah meragukan itikad baiknya. Kita lupa bahwa air kehidupan tidak dipasangi label agama oleh Tuhan.

Rupanya Rumi sering juga menghadapi situasi seperti itu:

 

Kata-kata ini mungkin tak berarti bagimu. Engkau menganggapnya kulit tanpa isi, tetapi banyak orang yang menganggapnya berisi. Bagi mereka kata-kata ini bermakna sekali.

Dia yang tidak mencintai kegelapan seperti tikus pasti menghargai Cahaya. Hormatilah cahaya (kebenaran), sehingga cahaya itu sendiri menjadi obat mujarab dan mengobati matamu yang sakit.

 

Brengsek, kata Rumi mata kita sakit… Sok benar dia, sepertinya dia saja yang tidak sakit. Apa buktinya?

Sudah beribadah, sudah beramal saleh, tetapi masih gelisah. Masih tidak tenang. Jiwa pun masih bergejolak. Semua ini membuktikan bahwa kita masih sakit. Kita masih buta; masih belum bisa menatap matahari kebenaran.

Kata-kata Rumi, nasihat serta tegurannya patut didengarkan…

 

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

Ketika anda melakukan perenungan atau berkomunikasi dengan diri sendiri, sesungguhnya anda menciptakan “lawan” di dalam diri. Ada “sesuatu” yang sedang bicara dengan “yang lain”. Katakan ada “pikiran” dan ada “suara hati”. Ada “dua”, padahal anda “satu”!

Untuk berkomunikasi dengan “pihak luar” bahasa jelas dibutuhkan. Tetapi untuk berhubungan dengan “diri sendiri”, apakah bahasa masih dibutuhkan juga? Mereka yang telah menyelami alam meditasi tahu persis bahwa “hubungan dengan diri” justru terjadi ketika “bahasa dan kata-kata” sudah terlampaui, terlepaskan. Bahasa dan kata-kata justru selalu menghalang-halangi hubungan tersebut. Dari buku Masnawi tiga

Sudahkah kita mulai latihan meditasi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: