Bharata: Kau-hina dan Kau-sakiti tidak Memengaruhi Aku! #SrimadBhagavatam

Para Suci yang lahir di keluarga Yogi

“(Jika ia sudah tidak terikat dengan kebendaan), maka ia ‘mengalami’ kelahiran dalam keluarga para Yogi. Kelahiran seperti itu, sungguh tidak mudah diperoleh.”

“Tidak” atau “belum” mencapai kesempurnaan dalam Yoga, berarti, saat meninggalkan badan, Jiwa masih terikat dengan alam benda, dengan kebendaan. Maka yang terjadi ialah seperti yang dijelaskan dalam ayat sebelumnya – “lahir dalam keluarga saleh dan sejahtera.” Penjelasan Bhagavad Gita 6:42  dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Kita masih ingat dalam kisah sebelumnya bahwa Raja Bharata sudah tidak terikat dengan kebendaan. Walaupun demikian, saat ajal menjemput dia belum mencapai kesempurnaan karena terlampau mencintai anak kijang, sehingga dia lahir sebagai kijang. Akan tetapi umur sang kijang sangat pendek, dan Bharata lahir lagi di tengah keluarga Yogi. Setelah ayahnya meninggal dia bekerja keras di ladang sampai sekelompok perampok membawanya ke kuil untuk dikorbankan kepada Dewi Bhadra Kali. Justru para perampoklah yang dibunuh sang dewi dan Bharata selamat.

 

Ujung kelahiran dan kematian Barata

“Ketika seorang bijak menyadari segala sesuatu sebagai perwujudan-Ku, perwujudan Tuhan; kemudian dengan kesadaran demikian, ia memuja-Ku – maka ketahuilah bahwa ia telah mencapai ujung kelahiran dan kematiannya. Inilah kehidupannya yang terakhir. Seorang seperti itu sungguh sukar ditemukan.” Penjelasan Bhagavad Gita 7:19 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Pada suatu ketika seorang raja bernama Rahugana sedang bepergian di sepanjang tepi sungai Iksumati. Ia adalah seorang raja kerajaan Sindhu dan Sauvira. Ia sedang ditandu dan merasa perlu menambah tenaga seorang lagi untuk mengangkat tandunya. Sang raja melihat Bharata yang bertubuh tegap sedang duduk di tepi sungai dan ditawarinya untuk menjadi pengangkat tandunya. Bharata walau seorang brahmana, tetapi mau melakukan pekerjaan apa saja, sehingga dia pun menyanggupinya.

Akan tetapi, setelah berjalan beberapa lama, sang raja merasa ada yang aneh dengan langkah dari para pemanggul tandunya. Ternyata Bharata selalu memperhatikan tanah yang akan diinjaknya, apakah ada cacing atau serangga atau hewan lainnya. Setelah merasa aman dia baru melangkahkan kakinya. Para pembantu berkata pada sang raja bahwa itu bukanlah kesalahan mereka, langkah sang pendatang baru tidak selaras dengan langkah mereka.

 

Bharata yang tidak takut hukuman dan bahkan tidak takut kematian

Ia yang menganggap Jiwa ini sebagai pembunuh; dan yang menganggapnya terbunuh—kedua-duanya tidak memahami Hakikat Jiwa yang tidak pernah membunuh, maupun terbunuh.” Bhagavad Gita 2:19

“Ia (Jiwa) tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati. Tak-Terlahirkan, Kekal-Abadi, Langgeng, dan Hyang Mengawali segalanya. Asal usul segala sesuatu, Hyang Ada sejak awal, dan tidak ikut punah ketika raga mengalami kepunahan, kemusnahan, kematian, terbunuh.” Penjelasan Bhagavad Gita 2:20 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sang raja marah, ia berpikir bahwa ia dalah manusia agung yang harus dituruti perintahnya dan menganggap orang lain lebih rendah derajatnya dan mestinya mereka menurut, karena akan dibayar mahal olehnya. Sang raja berkata kepada Bharata, “Kamu bertindak seperti mayat berjalan, kamu tidak mengindahkan perintahku. Aku harus memberi pelajaran kepadamu. Aku akan menghukum keangkuhanmu!”

Bharata sudah mencapai kesadaran Jiwa (soul awareness). Jiwa tidak pernah mati, maka jika tubuhnya akan dihukum oleh sang raja, dirinya tetap tenang. Bharata tersenyum kepada sang raja dan berkata, “Aku kau anggap tidak melakukan pekerjaan yang diberikan kepadaku dengan baik.  Dan, kamu menganggap dengan kemarahanmu aku akan takut atau hatiku akan tersakiti. Haruskah aku bercerita kepadamu, bahwa kau menganggap badanku ini nyata dan beban yang kupanggul adalah nyata? Aku Sejati berada dalam diriku dan tak ada hubungan dengan badanku. Menghina dan menyakiti diriku tidak memengaruhi Aku Sejati. Kau menganggap tubuhku, pikiran dan perasaanku sebagai diriku. Tetapi aku tahu bahwa kau salah. Aku Sejati tidak terpengaruh oleh ucapanmu.”

 

“Dalam bahasa Sanskerta, ada sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan: Atman. Kalian tahu dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, Atman adalah badannya. Bagi yang berada pada lapisan kesadaran energi, Atman adalah energinya. Bagi orang yang berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikiran. Ada lagi yang menganggap “rasa” atau lapisan emosi sebagai Self – Atma. Lapisan ini sudah jauh lebih halus, jauh lebih lembut dari lapisan-lapisan sebelumnya sebagai materi. Bagi dia, ‘Cinta’, ‘Rasa’ adalah kekuatan sejati – energi murni. Lalu ada yang menganggap lapisan intelijensia sebagai Self – Atma. Rasa pun telah mereka lampaui. Bagi dia, badan, energi, pikiran, rasa – semuanya masih bersifat ‘materi’. Bagi dia ‘kesadaran’ itu sendiri merupakan ‘kekuatan’ – energi. Seorang Buddha mengatakan bahwa semua lapisan tadi masih bersifat ‘materi’. Bagi seorang Buddha, Self atau Atma yang identik dengan lapisan-lapisan yang masih bisa dijelaskan harus terlampaui. Bagi dia, ketidakadaan atau kasunyatan adalah kebenaran sejati.” (Krishna, Anand. (2000). Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bharata melanjutkan, “Kau mengatakan aku seperti mayat yang berjalan. Wahai raja, proses kelahiran dan kematian tidak membatasi Aku. Perbedaan antara seorang raja dan seorang pembantu muncul karena perasaan dualitas.”

 

Raja Rahugana bertemu dengan Guru Pemandu Rohani

“Para Master tidak dapat dipaksakan kehadirannya dalam kehidupan Anda. Begitu Anda siap, ia akan muncul dalam kehidupan Anda. Para master tidak datang dari mana-mana, mereka tidak pergi ke mana-mana. Master seperti ini merupakan suatu kejadian dalam hidup Anda. Apabila Anda menemukan seorang Master seperti itu dalam kehidupan Anda, peristiwa itu mungkin saja peristiwa yang terbesar dan terpenting dalam hidup Anda.

“Para Master tidak senang disebut Master. Mereka lebih senang dipanggil sahabat. Para Master tidak pernah menciptakan jarak antara dirinya dan Anda. Para Master merupakan keharuman bunga yang menyerbaki kehidupan Anda! Sekali lagi, Anda tidak dapat memperoleh alamatnya dari iklan-iklan koran. Anda harus sabar menanti, dan Ia akan terjadi, akan muncul dalam kehidupan Anda.

“Jika Anda bertemu dengan seorang Master, hidup Anda akan segera berubah. Suatu ruang yang gelap selama 40 tahun dapat menjadi terang dalam sekejap oleh sebatang lilin, tidak memerlukan 40 tahun untuk meneranginya. Pertemuan Anda dengan seorang Master akan membuat Anda gembira; hari pertemuan menjadi hari perayaan! Anda akan menari dan menyanyi karena kegirangan. Anda baru akan tahu bahwa seorang Master tidak pernah memperbudak orang lain. Ia telah menguasai dirinya; ia tidak ingin menguasai Anda. Pertemuan dcngan seorang Master justru akan mempercepat kebebasan Anda, mempermudah proses ketidaktergantungan Anda.” (Krishna, Anand. (2002). Kehidupan Panduan untuk Meniti Jalan ke dalam Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Raja Rahugana termenung lama dan dapat memahami kebenaran yang diucapkan oleh Bharata, dia jatuh terduduk dan bersujud pada Bharata dengan berlinang air mata, “Keangkuhanku telah kau binasakan. Aku adalah raja dari Sindhu dan Sauvira akan mencari Rishi Kapila untuk belajar Brahmavidya, akan tetapi kau adalah Kapila sendiri yang datang menyelamatkan aku!”

Raja Rahugana sudah mempersiapkan dirinya untuk mencari kebenaran dalam hidupnya. Sang raja bepergian jauh untuk menemui Rishi Kapila ingin belajar tentang Pengetahuan Sejati. Keberadaan mempersiapkan pertemuan sang raja dengan Bharata, sang master yang sudah cerah dan sedang melanjutkan perjalanan menuju ke arah tujuan sejati. Beruntunglah seseorang yang bertemu dengan para Master yang sedang melanjutkan perjalanan terakhirnya di dunia ini.

 

Kendalikan Pikiran Dahulu

Jika gugusan pikiran dan perasaan belum terkendali, maka hawa nafsu pun tidak dapat dikendalikan. Seorang boleh bersumpah telah atau akan “menahan nafsu” — jika pikiran/perasaannya belum terkendali, sumpahnya tidak berarti apa-apa.

Semuanya ini langkah-langkah yang bersifat sangat teknis, dan menjelaskan alasan kegagalan kita selama ini. Mau langsung mengingat Tuhan, berjapa, berzikir; mau langsung mengendalikan nafsu — tidak bisa. Mesti mengikuti tahapan-tahapan sebagaimana dijelaskan di sini.

Penjelasan Krsna membuktikan bila ia memahami betul kinerja mind dan psikologi manusia. Ia tahu persis bagaimana seorang manusia dapat mengalami kedamaian sejati dan kebahagiaan total. Ia bukanlah seorang ahli yang asal-asalan atau asal-bunyi.

Kedamaian sejati dan kebahagiaan abadi tidak bisa diperoleh dari hal-hal duniawi yang bersifat tidak abadi. Pengalaman itu hanya dapat diperoleh jika seseorang berada dalam kesadaran-abadi, dalam keabadian. Ketika Jiwa menyadari hakikatnya sebagai percikan dari Jiwa Agung. Penjelasan Bhagavad Gita 6:126 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Bharata kemudian menjelaskan Brahmavidya dengan penuh kasih sayang, “Adalah pikiran manusia yang menyebabkan dia terperosok ke dalam rawa samsara atau yang menyebabkan dia menemukan kebebasan. Pikiran manakala diarahkan ke arah Tuhan, maka tidak ada ketakutan lagi. Kebijaksanan yang diperoleh ini tidak dapat diganti dengan tapa. Bukan pula diganti dengan menyelenggarakan upacara ritual tanpa cacat.  Tidak dapat ditukar dengan memberi makan 1.000 orang. Tidak juga dengan derma yang dilakukan oleh para Grihastha. Menyanyikan veda berkelanjutan dan pemujaan kepada para dewa pun tak dapat memperoleh kebijaksanaan tersebut. Hanya dengan jatuh di kaki seorang suci,  menyerahkan diri kepada seorang Guru yang tak terpengaruh lagi terhadap kelahiran dan kematian, seorang manusia dapat mencapai keselamatan.”

Bharata mengajarkan pengetahuan sejati, kemudian memberkati Raja Rahugana dan melanjutkan pengembaraannya di atas permukaan bumi sampai tugas sucinya di atas dunia selesai.

 

Catatan:

Meditasi tak bisa diajarkan. Seorang master hanya bisa menunjukkan jalan menuju meditasi. Meditasi adalah sebuah “kejadian”, tetapi kita bisa mempercepatnya dengan mempersiapkan lahan yang akan menunjang terjadinya meditasi. Dan lahan itu adalah hati seseorang, jiwa seseorang. Teknik-teknik meditasi yang diberikan oleh seorang master adalah alat untuk membersihkan lahan di dalam diri Anda. Tetapi, sebelum Anda benar-benar menggunakannya, mereka bisa saja kelihatan sama bagi Anda. Dari buku Soul Quest

Sudahkah kita mengikuti latihan meditasi seperti yang ditunjukkan Master?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: