Berbuatlah Baik pada Semua Orang, Agar Ada yang Mendoakanmu! #Masnawi

Beberapa orang menghadap Nabi Muhammad dan menyampaikan keluhan mereka tentang Bilal, ”Dia tidak pantas menjadi mu’adzdzin. Ucapan dia banyak yang salah. Wahai Rasul Allah, carilah orang yang tepat.”

Sang Nabi balik menegur mereka, “Jangan sampai aku membuka rahasia kalian. Ucapan dia yang salah lebih baik daripada kata-kata yang kalian ucapkan.”

 

Yang penting adalah ketulusan hati dan kesungguhan jiwa. Tanpa itu, doa bukan doa lagi. Rumi mengatakan sesuatu yang sangat indah:

 

Bilamana nafasmu masih bau, datangilah mereka yang bernafas wangi. Mohonlah bantuan mereka, agar mereka bisa rnendoakan kamu. Allah pernah mengatakan kepada Musa, “Untuk mendapatkan perlindungan dari Aku, berdoalah dengan mulut yang tidak pernah berbuat salah.”

Musa sangat jujur, “Tuhan, aku tidak memiliki mulut seperti itu.”

“Kalau begitu, gunakan mulut orang lain. Berbuatlah baik terhadap setiap orang. Sehingga mereka bisa mendoakan kamu,” demikian Allah berfirman.

 

Ini yang saya sebut “applied spirituality”. Tanpa memandang bulu, tanpa pilih kasih, berbuatlah baik terhadap setiap orang. Sehingga mereka bisa mendoakan kamu. Atau bersihkan mulutmu dari kebohongan, ketidakjujuran dan kepalsuan, baru berdoa. Tampaknya Musa diberi pilihan. Kalau mau berdoa sendiri, mulutnya harus bersih. Atau berbuat baik terhadap orang lain, sehingga merekalah yang memanjatkan doa untuknya.

Sesungguhnya, tidak ada pilihan bagi Musa. Untuk berdoa sendiri, terlebih dahulu dia harus membersihkan dirinya. Dan orang yang dirinya bersih, akan selalu berbuat baik. Dia tidak bisa berbuat jahat. Maka hilangkanlah kehendak berbuat jahat dengan kehendak berbuat baik.

Di lain pihak, orang yang selalu berbuat baik, dengan sendirinya akan mengalami perubahan-diri, perbaikan-diri. Mungkin agak lama, perjalanannya agak panjang, tetapi kebaikan yang dia buat itu akan memper-“baik”-i dirinya.

Kita tidak punya pilihan. Doa yang Dia terima, haruslah berasal dari kebaikan. Entah kebaikan diri atau kebaikan yang kita lakukan terhadap diri orang lain.

Rumi memberikan contoh lain:

Tengah malam, ketika seorang pencinta Allah sedang mengulangi Nama Allah, Iblis menggodanya, “Sudah cukup lama engkau memanggil Dia. Adakah jawaban dari Allah?”

Orang itu tergoda. Semangatnya mengendur dan tertidur. Malam itu dia bertemu dengan Nabi Khidir dalam mimpi, “Kenapa kamu berhenti mengulangi Nama-Nya? Kenapa tertidur?”

“Karena tidak ada tanggapan dari Dia,” demikian jawab orang itu dalam mimpi.

“Lupakah engkau bahwa Nama Allah itu sendiri sudah merupakan bukti Keberadaan-Nya? Kepasrahan dan kerinduanmu ketika mengulangi Nama-Nya, adalah Utusan Dia bagi kamu.Setiap kali engkau mengucapkan ‘Ya Allah’ dengan kasih dan kesadaran, Dia menjawabmu berulang kali, ‘Di sinilah Aku, di sinilah Aku, di sinilah Aku.”

“Berbahagialah orang yang bisa menyebut Nama-Nya dengan kasih dan kesadaran. Allah memberikan segala sesuatu kepada Fir’aun, tetapi tidak memberkahinya dengan kasih dan kesadaran. Sehingga dia lupa daratan dan terlupakan pula Nama Allah.”

 

Kalau kita masih ingat Tuhan, jangan pikir hal itu karena daya-upaya kita. Jangan pikir kita sudah berijtihad untuk mengingat Nama-Nya. Tidak demikian. Yang membuat kita bisa mengingat Dia, Dia juga! Tanpa benih kasih dan kesadaran yang Dia tanamkan di dalam jiwa, kita tidak akan bisa mengingat Nama-Nya.

Jangan tergoda oleh “iblis pikiran” yang selalu berorientasi pada hasil. Iblis, setan, pikiran, mind—apa pun nama yang Anda berikan kepada dia memang ahli dalam hal hitung-menghitung. Modal yang ditanam harus membawakan basil. Dan harus cepat. “Iblis Pikiran” tidak pernah sabar. Kodratnya memang demikian, tidak bisa sabar. Dan karena tidak bisa sabar maka dia jauh dari Tuhan Yang Mahasabar Ada-Nya— Al-Shabur.

“Bersabarlah, karena Kesabaran anda sudah membuktikan kedekatan Anda dengan Tuhan. Ulangi Asma Allah, dengan kasih, dengan kesadaran, tanpa motivasi, tanpa mengharapkan imbalan. Dan dalam kesadaran itu, dalam kasih itu, Anda akan merasakan kehadiran-Nya.

Rumi juga mengatakan:

 

Bersabarlah, karena kesabaran adalah kunci kebahagiaan. Tidak ada kebahagiaan tanpa kesadaran dan kebijaksanaan. Sesungguhnya, kesabaran merupakan kaki-tangan kebijaksanaan.  Bersikaplah bijaksana terhadap segala sesuatu termasuk terhadap makanan. Jangan mengisi perutmu dengan apa saja.

Memang banyak godaan. Dari setiap penjuru engkau mendapatkan panggilan, “Kemarilah saudaraku, aku akan menuntun kamu, kita akan jalan bersama.” Ketahuilah, bahwa suara-suara itu berasal dari ketidaksabaran.

 

Ketidaksabaran berarti tidak dari Allah. Mereka yang sedang berjualan agama di pinggir jalan sangat tidak sabar. Ketika saya menegur seorang “penjual”, dia menjawab saya dengan penuh “keyakinan”, “Kalau saya berhasil menyelamatkan 100 jiwa, pintu surga akan terbuka lebar bagi saya. Tetapi di balik keyakinan itu, ketidaksabarannya pun terasa betul. Dia sedang buru-buru, mengejar waktu. Pendek kata, tidak sabar!

Ditanya, “Kenapa buru-buru mau masuk surga?” jawaban dia sederhana sekali, ”Kita sudah berada di akhir zaman. Ini sudah ujung-ujungnya. Akan terjadi malapetaka kehancuran dan entah apa lagi. Yang terselamatkan hanyalah mereka yang sudah berada di surga.” Surga dia sepertinya salah satu planet di luar angkasa. Tawaran dia memang sangat menggiurkan. Bayangkan, kalau mau ke planet sana pakai pesawat, berapa biayanya? Kalau lewat dia, gratis! Banyak juga yang kemudian mau di-“selamat”-kan oleh dia, lewat dia.

Mau pergi ke mana? Bukankah Tuhan tidak bisa “ditempatkan”? Yang menggoda kita untuk mencari Tuhan “ke mana-mana” adalah “pikiran”—Si Iblis. Dialah yang membuat kita tidak sabar. Sekarang kita mau apa? Mendengarkan suara dia atau merasakan Kehadiran Allah?

Rumi melanjutkan:

 

Dunia dengan segala isinya akan selalu menggoda, “Nikmatilah semua ini.” Bilamana engkau bijaksana, maka engkau tidak akan tergoda. Engkau diberi umpan. Lalu, demi umpan itu engkau kehilangan nyawa. Untuk apa?

 

Dalam kisah berikutnya, Rumi akan menegaskan kembali perkara umpan ini. Bagaimana kita mengejar umpan, sampai kehilangan nyawa. Untuk sementara, kesimpulan Rumi harus direnungkan kembali. Kesabaran, Kasih, dan Kesadaran, trio ini yang harus menyertai doa kita.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Ketiga Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Kebijaksanaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

Sesungguhnya, dalam Laku Meditasi—dalam kesadaran meditatif, rohani, atau spiritual—kita semua dipersatukan. Warna kulit, bahasa, ras, suku, dan kepercayaan kita boleh beda; penampilan kita, fisik kita, bahkan cara pikir kita boleh beda; tetapi dalam kesadaran rohani, kita semua dipersatukan oleh Kebutuhan kita akan Kebahagiaan Sejati, yang mana adalah satu dan sama pula. Dari buku Soul Awareness

Sudahkah kita tidak membeda-bedakan warna kulit, bahasa, ras, kepercayaan dan sebagainya?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: