Ajamila: Menyebut Nama Tuhan Menjelang Kematian Kisah #SrimadBhagavatam

Mengapa banyak Kepercayaan/Keyakinan menyarankan agar menyebut Nama Tuhan, Allah, Rama, Om menjelang kematian? Berikut salah satu kisah tersebut dalam buku Srimad Bhagavatam

 

Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Nah, implikasi dari pemahaman ini jauh melebihi bayangan kita. Jika semuanya berada di bawah pengawasan-Nya, Roda Samsara, Alam Semesta pun berputar karena dan atas kehendak-Nya – maka, tidak ada lagi sesuatu yang bisa disebut kecelakaan…

Tidak ada pula kebetulan – Kebetulan saya berada di tempat yang salah, maka saya terlibat dalam buku tembak antara dua geng – dan ikut kena tembakan. Saya luka. Tidak ada kebetulan seperti itu. Ingat, Dia adaalah Hyang Maha Mengawasi – sang Pengawas Agung.

Pengalaman suka dan duka terjadi karena perbuataan kita sendiri. Karena keterikatan kita sendiri. Ya, kita bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang menimpa diri kita. Dia- Gusti Pangeran – senantiasa mengawasi supaya semuanya berjalan lancar sesuai dengan hukum-hukum alam yang ada atas kehendak-Nya pula! Penjelasan Bhagavad Gita 9:10 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Demikianlah Rishi Suka putra Vyasa menyampaikan kisah tentang cara termudah untuk melepaskan diri dari jerat duniawi yang membuat manusia terikat dalam maya yang menyebabkan kelahiran dan kematian tak berkesudahan. Rishi Suka berkata, “Mengucap nama Gusti Narayana dengan tulus akan menyelamatkan manusia dari semua mara bahaya.”

 

Waspada terhadap kebiasaan lama yang sudah di-delete tapi masih bisa di-retrieve

Adalah seorang Brahmana bernama Ajamila di negeri Kanyakubja. Dilahirkan di keluarga brahmana dan menjalankan hidup sebagai brahmana yang taat di waktu muda, pada suatu saat Ajamila melihat seorang wanita nakal yang sedang berhubungan seks. Dalam Yoga Sutra Patanjali I.18 ini yang disebut adanya kesan-kesan dari masa lalu, sesa atau sisa dari purva samskara yang diumpamakan sebagai file yang sudah di-delete, tapi belum musnah, masih ada di hard-disk, masih bisa di-retrieve.

Ajamila kehilangan semua kebaikannya. Dia hidup bersama dengan wanita nakal tersebut. Kemudian, karena menuruti pasangannya, Ajamila menjadi tamak, kejam, suka menipu sehingga dibenci oleh semua orang. Waktu pun berlalu dan Ajamila menjadi tua, sekitar 80 tahunan, mempunyai sepuluh putra dari wanita pasangannya tersebut dan yang termuda diberi nama Narayana.

Sesuai budaya Veda, biasanya kehidupan seks sewajarnya antara usia 25 tahun sampai setengah baya. Setelah itu para perumahtangga mulai mengikuti vanaprastha, berkarya dengan fokus penuh kepada Gusti Pangeran.

Ajamila pada saat usia 80 tahunan belum fokus pada Gusti Pangeran tetapi sangat terikat dengan putra bungsunya yang diberi nama Narayana. Yang ada dalam pikiran Ajamila hanya sang putra. Saat akan makan di panggil putranya, “Narayana makan dahulu!”. “Narayana minum susu dahulu!” Demikianlah dalam setiap tindakan Ajamila selalu ingat Narayana, sang putra bungsunya. Bahkan sampai dekat kematiannya yang diingatnya hanyalah Narayana. Kala ajal sudah di depan mata, dipanggillah sang putra kesayangannya, “Narayana kemarilah! Narayana! Dan Ajamila pingsan menjelang saat kematiannya.

 

Menyebut Nama Gusti Pangeran menjelang ajal

Sewaktu Ajamila menyebut, “Narayana kemarilah!”, maka para Utusan Narayana mendengar ucapannya dan segera mendatanginya. Mereka melihat para Utusan Yama sedang menyeret jiwa Ajamila keluar dari badannya. Segera para Utusan Narayana mencegah tindakan tersebut yang membuat para Utusan Yama menjadi marah, “Siapakah yang berani mencegah Utusan Yama yang sedang melaksanakan tugasnya? Dari mana kalian datang? Kenapa kalian menghentikan kami?”

Para Utusan Narayana tersenyum dan berkata, “Jika kalian adalah Utusan Yama yang akan menegakkan dharma, katakanlah ukuran apa yang kalian untuk menghukum seorang manusia”.

Para Utusan Yama berkata, “Apa pun yang ditetapkan oleh Veda adalah dharma. Dharma dapat disebut napas Narayana. Apa yang tidak sesuai dengan Veda disebut adharma. Dharma adalah Narayana sendiri. Mereka yang tidak mengikuti dharma akan dihukum oleh Yama. Tindakan baik mendapat hadiah, tindakan buruk dihukum. Masa depan kelahiran manusia ditentukan oleh tindakannya dalam kehidupan ini. Nasib manusia pada kelahiran kini ditentukan oleh tindakannya dalam kelahiran-kelahiran sebelumnya. Musim semi adalah lanjutan dari musim sebelumnya. Bertempat tinggal dalam kota Samyami, Yamaraja memutuskan kelahiran berikutnya dari manusia menurut tindakannya pada kelahiran ini. Seluruh elemen alami: tanah, air, api ,angin dan ruang sebagai saksi dari semua tindakan manusia. Demikian juga matahari, bulan, waktu, dan dharma pun sebagai saksi, sehingga manusia tidak bisa mengelak atas segala perbuatannya. Manusia berada dalam avidya, ketidaktahuannya, tidak memperhatikan ketidakabadian tubuh. Dia berpikir bahwa badan ini satu-satunya yang ia punyai dan bahwa kelahiran ini adalah satu-satunya kelahiran yang ia punyai. Ia tidak berpikir tentang kelahiran sebelumnya dan kelahiran yang akan datang. Seperti kepompong yang ditutupi oleh sutera yang dibuatnya, manusia menutup “atman”-nya dari hasil karmanya sendiri. Ia tidak pernah bisa melepaskan dirinya.”

Para utusan Yama melanjutkan, “Ajamila adalah brahmana yang baik dan berada pada jalan dharma. Akan tetapi, pada saat mencari rumput guna upacara persembahan, dia melihat seorang pemabuk sedang bercinta dengan seorang wanita nakal. Selanjutnya Ajamila lupa tentang dharma, dia hidup bersama wanita tersebut dan mempunyai sepuluh putra dengannya. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya dia mulai mencuri, menipu dan kejahatan lainnya demi memenuhi keinginan wanita tersebut. Oleh karena itu, pada saat dia meninggal, kami akan membawanya ke Dewa Yama untuk mengadakan perhitungan tentang kebaikan dan keburukannya!”

 

Para utusan Narayana berkata, “Perkataan kalian benar, akan tetapi pada saat terakhir dia menyebut nama Narayana dengan kesungguhan hatinya. Kalian menyampaikan bahwa dharma dapat disebut sebagai napas Narayana. Apa yang tidak menurut Veda disebut adharma. Dharma adalah Narayana sendiri. Manakala Narayana, nama Tuhan disebut, Dia tidak akan meninggalkan bhakta-Nya. Kalian akan menyatakan bahwa Ajamila memanggil Narayana sebagai nama anaknya. Akan tetapi, seperti obat yang sangat kuat walau tidak dimasukkan mulut dengan sengaja, karena telah tertelan dia tetap berkhasiat juga.”

 

Kekuatan Penyebutan Nama Gusti Pangeran

Kisah yang tertulis dalam buku Srimad Bhagavatam ini bukan merupakan sebuah kebetulan, tetapi mengungkapkan bahwa menyebut Nama Gusti Pangeran sangat dahsyat dampaknya.

Kemungkinan peristiwa Ajamila terjadi pada kita sangat-sangat kecil. Esensinya adalah bagaimana dalam menjalani kehidupan, agar kita selalu ingat Gusti Pangeran. Berikut penjelasan Bhagavad Gita 8:5 tentang hal tersebut:

 

PEMUSATAN KESADARAN PADA-NYA mesti dilakukan mulai sekarang dan saat ini juga – sehingga saat ajal tiba kesadaran kita tidak ke mana-mana; tetap terpusatkan pada-Nya.

Hola menafsirkan ayat ini sesuai dengan pemahamannya yang kerdil, maka putra-putrinya diberi nama sesuai dengan Nama-Nama Mulia Sang Gusti Pangeran, sebut saja Krishna, Rama, dan sebagainya dan seterusnya. Pikirannya sederhana, “Saat mati, saya pasti memikirkan mereka, maka jika saya memanggil siapa saja di antara mereka, dan tiba-tiba plak – mati! Ya, pasti masuk surga.”

Menyatu dengan Gusti Pangeran adalah keadaan melampaui surga – tapi, bagi Hola surga adalah yang tertinggi – mau bilang apa?

Saat Yama, Dewa Maut datang menjemput — melihat bayangannya, Hola cepat-cepat memanggil anak sulungnya, “Krishna, cepat kemari…” Krishna datang, sayang napas masih belum berhenti. Tidak mau rugi dan kecolongan, Hola memanggil anaknya yang kedua, “Rama!” Rama pun datang, tapi Hola belum mampus!

Kemudian anak ketiga, keempat . . keduabelas — semua hadir, Hola masih bernapas! Melihat semuanya mengelilingi ranjangnya — Hola gelisah, “Kalian semua di sini, siapa menjaga toko kita

di bawah?” Dan, plak, mampus – mati!

HOLA TIDAK BISA MENIPU DEWA MAUT! Anda dan saya pun tidak bisa. Jika mau menyatu dengan-Nya, maka mulailah dari saat ini berupaya dengan sepenuh hati, pikiran, dan raga untuk selalu berada dalam kesadaran Jiwa. Tidak bisa beralih pada kesadaran Jiwa saat ajal tiba, jika sepanjang hidup kesadaran kita terpusatkan pada dunia benda.

Dunia benda ibarat kantor – tempat kerja. Silakan bekerja dan pulang ke rumah. Jangan menjadi workaholic dan tidur di kantor. Pisahkan urusan kantor dari urusan rumah.

Kantor adalah dunia benda. Rumah kita, rumah sejati kita adalah Istana Gusti Pangeran. Selesaikan tugas kewajiban, dan kembalilah pada-Nya. Masak terikat dengan kantor? Untuk apa berkantor, untuk apa bekerja? Bukankah supaya bisa menggunakan hasil dari jerih-payah kita untuk menikmati hidup? Kehidupan sejati ada di istana Gusti Pangeran, bukan di gubuk-dunia ini! Dalam pengertian, kehidupan sejati ada dalam Kesadaran Jiwa, bukan dalam kesadaran alam benda. Penjelasan Bhagavad Gita Bhagavad Gita 8:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Silakan ikuti debat antara Utusan Yama melawan Utusan Narayana dan bagaimana tanggapan Dewa Yama saat mendengar laporan para utusannya pada kisah berikutnya……..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: