Pandai Besi Perlu Praktek Tak Hanya Teori, Peningkatan Kesadaran pun Demikian #Masnawi

Sang Nabi pernah bersabda: ”Dalam perjalanan hidup ini, tak ada teman sesetia tindakanmu sendiri….”

 

Perbuatan baik, kebajikan, akan menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan hati. Perbuatan buruk, kejahatan, akan menjadi teman seperjalanan yang tidak menyenangkan hati.

Inilah hukum sebab akibat. Setiap sebab menghasilkan akibat. Tidak ada yang bisa lolos dari hukum ini.

 

Bagaimana engkau dapat berbuat baik, tanpa bimbingan seorang Murshid? Sebelum berbuat baik, engkau harus tahu kebaikan itu apa. Kebajikan itu apa. Dan pengetahuan itu haruslah diperoleh dari seorang Murshid.

Pertama pengetahuan, kemudian perbuatan. Setelah itu baru akan ada hasil. Ada perbuatan yang berbuah setelah berapa lama. Ada pula yang berbuah setelah kematian.

Carilah seorang ahli di bidangnya. Seorang ahli yang berhati baik dan tulus.

 

Seorang Murshid hendaknya tidak sekadar ”tahu” kebaikan itu apa. Dia haruslah seorang ”pelaku” kebaikan. Ditambah lagi oleh Rumi, dia harus berhati baik dan tulus, sehingga tidak “menyimpan-nyimpan” pengetahuannya, sehingga proses “transfer of technology” berjalan mulus. Ya, bukan sekadar ”transfer of knowledge”, tetapi ”transfer of technology”.

“Pengetahuan” tentang kebajikan tidak cukup. Bagaimana berbuat baik—itu yang harus anda pelajari dari seorang Murshid. Seperti dalam hal “membantu” seseorang, bantuan yang kita berikan haruslah kepada orang yang tepat dan pada saat yang tepat.

Uang receh yang kita berikan kepada fakir miskin bukanlah bantuan. Sama sekali tidak membantu mereka, uang receh itu malah membuat mereka malas. Saya dengar ada seorang pengemis yang bisa mengumpulkan uang jutaan rupiah setiap bulan. Lalu untuk apa bekerja?

Perbuatan itu hanya ”memuaskan” ego kita masing-masing. Kita merasa sudah berbuat baik. Dan lewat kebaikan-kebaikan semacam itu, kita berharap akan memperoleh Izin Masuk Sorga.

 

Kebajikan bagaikan “seni”. Harus dipelajari, dikuasai. Baru dilakoni. Yang bisa menari adalah seorang penari. Yang bisa melukis adalah seorang pelukis. Yang bisa berbuat baik adalah orang baik.

Dan sebagaimana anda belajar menari dari seorang penari ahli, sebagaimana anda belajar melukis dari seorang pelukis ahli, begitu juga belajarlah berbuat baik dari seorang Murshid yang senantiasa berbuat baik.

Carilah kerang yang mengandung mutiara. Carilah seorang tukang yang memiliki keahlian.

Dan bila sudah bertemu dengan seorang dengan seorang ahli dibidangnya. Janganlah engkau memperhatikan jubahnya. Jubah seorang pandai-besi akan selalu kotor. Justru jubah yang kotor itu membuktikan keahliannya.

Pengetahuan tentang besi tidak cukup. Seorang pandai-besi harus bisa bekerja dengan besi. Oleh karena itu, mau tak mau jubahnya memang harus kotor. Jangan terjebak oleh penampilannya. Jangan rneremehkan dia karena penampilannya.

Mau kamu apa? Bila sekadar mau tahu tentang besi cukup dengan teori. Bila ingin menjadi pandai-besi, harus lewat praktek.

Bersahabatlah dengan seorang Shaykh dan engkau akan memperoleh sesuatu yang tak dapat diperoleh lewat tulisan dan ucapan. Sesuatu yang berasal dari jiwa, bersifat rohani. Sesuatu yang harus diberikan oleh jiwa Sang Shaykh dan diterima oleh jiwamu.

 

Sebenarnya, seorang Shaykh tidak mengajarkan apa-apa. Dia bagaikan cermin. Lewat dia, kita bisa bercermin diri.

Bersahabat dengan seorang Shaykh, berarti bercermin diri setiap saat. Melakukan introspeksi diri dari detik ke detik. Alhasil:

Terjadilah pencerahan (illumination—terj. Nicholson) dan perluasan jiwa (expansion heart—terj. Nicholson).

                Dalam bahasa saya, terjadilah peningkatan kesadaran. Dan:

 

Engkau menyadari bahwa selama ini apa yang engkau cari di luar sesungguhnya berada di dalam dirimu. Engkau mencari susu di luar, padahal dalam diri ada sungai susu.

Wahai kali, sadarilah hubunganmu dengan Laut! Selama ini, apakah tidak terjadi perluasan jiwa di dalam dirimu? Sadarkah engkau akan kejadian itu? Dapatkah engkau melihatnya?

 

Rumi mengajak kita untuk “menjadi baik”. Untuk menyadari “kebaikan diri”, sehingga perbuatan kita menjadi baik dengan sendiri. Selama ini kita melupakan kebaikan diri. Dan perbuatan kita dalam keadaan “lupa” itu menjadi tidak baik. Tidak perlu melawan yang tidak baik. Tidak perlu membuang energi untuk itu. Cara yang paling mudah adalah mengubah “keadaan lupa” menjadi “keadaan ingat”.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

Setiap Orang Ingin Bahagia, sebagaimana Aku Ingin Bahagia. Nah, kesadaran itulah yang mesti diupayakan. Kesadaran itulah yang mengantar kita pada wilayah rohani, spiritual. Atau, sebaliknya, dengan berada dalam wilayah rohani atau spiritual, dengan adanya soul awareness, kita menjadi sadar akan saling keterkaitan kita; akan kesatuan dan persatuan kita dengan makhluk-makhluk seantero alam.

Untuk itulah dibutuhkan meditasi. Meditasi sebagai Latihan, sebagai Laku, sekaligus sebagai Gaya Hidup. Gaya Hidup penuh empati, penuh kepedulian, penuh kasih. Dari buku Soul Awareness

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: