Ajamila: Wejangan Yama Sang Dewa Kematian #SrimadBhagavatam

Pendelegasian Wewenang Para Dewa

Dalam Pemerintahan Alam Raya – ada pendelegasian kekuasaan dan wewenang yang jauh lebih demokratis. Para dewa atau malaikat bekerja secara independen. Namun, mereka sadar betul bila kekuasaan mereka, termasuk independensi mereka – semuanya berasal dari Gusti Pangeran. Mereka tidak bisa, tidak perlu bertindak semena-mena, dengan menggunakan dalih  “kewenangan” dan “kekuasaan”. Penjelasan Bhagavad Gita 9:23 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Dewa adalah makhluk-makhluk yang tinggal dan hidup dalam cahaya. Ucapan serta perbuatan mereka tergerak oleh nurani. Mereka adalah makhluk-makhluk bersanubari. Mereka masih mampu mendengarkan suara hati. Dan, mereka dapat ditemukan di mana-mana. Tidak perlu mencari mereka di langit, di surga, di kahyangan. Banyak para dewa di antara kita. Banyak para dewa yang sengaja berada di tengah kita untuk memandu kita.

Mereka tidak “datang” ke dunia karena urusan karma. Mereka “datang” untuk memandu Jiwa-Jiwa yang membutuhkan panduan mereka.

Para resi yang mampu “melihat” dan merasakan kehadiran mereka, walau berwujud seperti manusia biasa, menemukan cara termudah untuk mengetahui mereka dan memperoleh panduan bimbingan mereka.

Cara tersebut adalah Mantra-Yoga. Dengan suara-suara tertentu, getaran-getaran tertentu – ditambah dengan kekuatan niat yang mulia, hati yang bersih – kita dapat mengadakan hubungan seluler, bahkan menciptakan hot-line dengan mereka.

Sebagian orang menganggap hubungan seperti ini sebagai bentuk kurang percaya pada Gusti Pangeran. “Kenapa mesti mengakses mereka? kenapa tidak berhubungan dengan Tuhan langsung. Kenapa mesti menduakan Tuhan?”

Banyak pembantu di rumah orangtua kita, jika kita membutuhkan sesuatu yang dapat diperoleh dari pembantu, lewat pembantu – mestikah kita menyusahkan orangtua?

Banyak pekerjaan, banyak tugas yang memang sudah dipercayakan kepada para pembantu. Mantra-Yoga hanyalah membuat kita mengakses para Dewa, para Pembantu, para Lightworkers – ada yang berwujud dan ada yang tidak – itu saja.

Setelah terjadinya akses, setelah terjadinya hubungan – tanpa diminta pun, mereka senantiasa siap-sedia untuk melayani segala kebutuhan, segala keperluan Jiwa untuk mencapai tujuannya.

Kendati demikian, dengan segala efisiensinya – para dewa pun, sesungguhnya tidak sepenuhnya memahami Misteri Gusti Pangeran. Mereka pun masih berandai-andai. Mereka pun senantiasa mengingatkan kita. Penjelasan Bhagavad Gita 10:14 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Utusan Narayana menyampaikan (seperti tersebut dalam Garuda Purana), “Api akan melakukan tugasnya, terlepas apakah ditangani oleh anak kecil yang tidak tahu kekuatannya ataupun oleh orang dewasa yang paham akan kekuatannya. Jika tumpukan jerami atau rumput kering dibakar, baik oleh seorang pria tua yang paham tentang kekuatan api ataupun oleh seorang anak yang tidak paham, tumpukan jerami atau rumput kering akan terbakar menjadi abu. Demikian pula, Ajamila mungkin tahu atau mungkin tidak tahu kekuatan melantunkan mantra Narayana, tetapi jika dia menyebut Narayana, Nama Gusti,  ia akan menjadi bebas dari segala kesalahan.”

Dalam Garuda Purana disampaikan bahkan jika seseorang dalam kondisi tidak berdaya, ataupun tidak berkeinginan untuk melakukannya, sama halnya seperti singa yang mengaum, semua hewan akan lari ketakutan.

Utusan Narayana melanjutkan, “Bagaimanapun juga, menyerahkan diri pada Gusti Pangeran Narayana dapat menghancurkan semua kejahatan. Seperti titik api yang walaupun tidak sengaja untuk membakar, karena kain terkena percikan api tersebut, maka kain tetap terbakar juga. Jika kalian tidak yakin tentang hal ini, tanyakanlah pada Yamaraja!”

 

Wejangan Yamaraja, Sang Dewa Kematian

Para Utusan Yama terpaksa mengalah kepada para Utusan Narayana, kemudian mereka menghadap Dewa Yama dan protes mengapa baru sekali ini terjadi ada seorang jahat tidak boleh dihukum karena dihalang-halangi oleh Utusan Narayana.

Mereka protes, mengapa hanya gara-gara sebelum mati Ajamila mengucap Narayana, Nama Gusti, Nama Ilahi dan oleh karenanya dia harus diselamatkan.

 

Dewa Yama berkata, “Aku mempunyai kuasa agung atas hidup manusia dan untuk menghukum mereka. Akan tetapi, ada atasanku yang harus kupatuhi yaitu Narayana. Kalian lihat potongan kain yang ditenun dari benang-benang. Demikian juga seluruh alam ini ditenun oleh Narayana. Ia adalah kekuatan yang mencipta, memelihara, dan mendaur-ulang alam semesta. Seperti sapi jantan yang dikendalikan oleh tali kendali lewat lubang hidungnya, demikian pula dunia dan seluruh kehidupan dikendalikan oleh tali Veda. Semua dewa termasuk saya bisa dikatakan belum mampu menyadari kemuliaan Tuhan, Narayana.”

Dewa Yama melanjutkan, “Manusia tidak dapat memahami sifat alami di dalam diri-Nya.  Manusia dibungkus maya sehingga tidak menyadari Atman di dalam dirinya. Ada sangat sedikit orang yang sudah memahami hukum yang diletakkan oleh Gusti Pangeran. Aku adalah salah satunya dan yang lainnya adalah Brahma, Narada, Sanathkumara, Kapila, Manu, Prahlada, Janaka dan Suka putra Vyasa.

Nama Gusti Pangeran manakala disebut secara konstan  oleh manusia  adalah jalan paling gampang menuju Dia. Aku menyampaikan ini pada kalian, agar jangan mendekat pada orang yang selalu menyebut Nama Gusti pangeran, Narayana. Korbanmu adalah para manusia yang terlibat dalam kesenangan dunia. Para manusia yang terperangkap pada jaring maya, yang ditenun oleh istri, anak, kekayaan, kekuasaan dan kesenangan duniawi belaka.”

 

Datangnya Kembali Kesadaran Ajamila

Bagi Einstein, segala sesuatu dalam alam ini tunduk pada hukum-hukum fisika. Semuanya teratur, in perfect order.

Tapi bagi para pendukung teori kuantum, di balik segala sesuatu yang teratur itu ada hukum Iain, yaitu hukum ketidakteraturan, hukum probabilitas, hukum kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas, hukum kuantum yang memungkinkan terjadinya lompatan kuantum.

Tanpa ketidakteraturan, permainan semesta menjadi hambar. Keteraturan membuat permainan sangat tidak menarik. Segalanya sudah bisa diprediksi sejak awal. Lalu, permainan pun bukan menjadi permainan lagi. Permainan pun menjadi sesuatu yang sangat serius. Nah, teori kuantum inilah yang memungkinkan terjadinya ketidakteraturan—rnemungkinkan permainan petak-umpet, cilukba!

Berkah, anugerah, grace tidak mengikuti Hukum Keteraturan. Turunnya hujan berkah, yang lebih sering secara tiba-tiba, mendadak, tanpa babibu, tanpa pemberitahuan, adalah bukti adanya Hukum Ketidakteraturan! Dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) halaman 126

 

Dalam keadaan setengah sadar, Ajamila mendengar adu argumentasi antara Utusan Narayana dan Utusan Yama, dan Ajamila menjadi sadar. “Terima kasih Gusti, atas anugerah-Mu aku telah memanggil Nama Gusti, sehingga aku terselamatkan.”

Ajamila kemudian meninggalkan semuanya pergi ke tepi Sungai Gangga mendekati para suci dan akhirnya pada suatu saat dapat mencapai-Nya.

 

Memanfaatkan Hukum Konsistensi dan Ketidakkonsistenan Alam

Ketidakkonsistenan Kemuliaan itulah yang menjadi berkah bagi kita semua. Untuk memahami hal ini, kita mengambil Hukum Karma sebagai contoh. Konsistensi berarti, tiada harapan bagi siapa pun juga untuk keluar dari Lingkaran Ke1ahiran-Kematian. Berarti, kita berputar terus dalam Lingkaran tersebut. Inkonsistensi berarti berkah, berarti adanya kemungkinan moksa, nirvana, liberation, kebebasan mutlak dari lingkaran tersebut.

Melampaui dualitas yang membingungkan berarti kita memahami baik konsistensi maupun inkonsistensi hidup ini. Konsistensi dan Inkonsistensi — dua-duanya mesti dijadikan alat untuk membantu kita. Berubahlah, jadilah lebih baik dengan menggunakan Alat Inkonsistensi. Kemudian, mempertahankan segala kebaikan yang telah dicapai dengan menggunakan Alat Konsistensi. Kita mesti pintar-pintar menggunakan kedua alat tersebut. Penjelasan Bhagavad Gita 10:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: