Aisha dan Nabi tentang Hujan Berkah #Masnawi

 

Suatu ketika, Mustafa (Nabi Muhammad) mengantar jenazah seorang sahabatnya ke pemakaman.

 

Setiap kali anda melayat, ikut  mempersiapkan jenazah untuk dikubur atau dikremasikan, bahkan hanya mengunjungi makam saja—bisa terjadi peningkatan kesadaran dalam diri anda. Melihat “maut” dari dekat, bisa mendekatkan diri anda dengan Tuhan. Karena, di balik “kematian badan” adalah ”Keabadian Jiwa”. Saat-saat seperti itu bisa membuat anda menjadi sangat meditatif. Asal anda membuka diri.

Rumi mengisahkan bahwa, hari itu Sang Nabi sangat reseptif.  Dan dia dapat mendengarkan apa yang tidak terdengar oleh telinga kita:

 

Jenazah yang dikuburkan ibarat biji yang ditanam, biji yang akan tumbuh menjadi pohon. Kemudian datanglah musim dingin dan pepohonan pun mengalami kematian. Tetapi hanya untuk  sesaat saja, karena musim semi kembali membangkitkan mereka.

Pulang dari tempat pemakaman, Sang Nabi berbagi rasa dengan isterinya, Aisha. Sementara itu, Aisha sibuk memperhatikan pakaian Nabi.

“Apa yang sedang kau lihat?” tanya Nabi.

“Tadi turun hujan lebat. Aneh, pakaianmu tidak basah.” jawab Siddiqa (Ia yang Jujur/Setia Aisha.

“Kain apa yang kau gunakan untuk menutup kepalamu?” tanya Nabi sekali lagi.

“Kain mantelmu, Rasul Allah.”

Itu sebabnya, Allah mengijinkanmu untuk melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. Hujan yang turun tadi tidak berasal dari awan dan langit yang terlihat oleh mata kasat. Masih ada langit lain dan awan lain yang bisa menurunkan  hujan yang lain pula,” jawab Nabi.

 

Hujan Berkah, Hujan Rahmat…….

Hari itu, Nabi Muhammad basah-kuyup. Dan, terjadilah peningkatan kesadaran yang luar biasa. Bajunya tidak basah. Sorbannya tetap kering. Karena hujan yang turun hari itu bukan “hujan air”. Hujan yang turun hari itu adalah “hujan cahaya” — Hujan Nur! Dan yang menjadi sasaran “hutan cahaya” adalah Jiwa, batin. Yang basah kuyup hari itu adalah Jiwa Sang Nabi, batin Nahi Muhammad.

Hujan hari itu bersifat sangat pribadi. Turun untuk Muhammad dan mengguyuri  batinnya, membasahi jiwanya. Dan tidak ada seorang pun melihatnya, kecuali Aisha. Lalu kenapa dia bisa melihatnya? Karena dia mengenakan mantel Sang Nabi sebagai penutup kepala.

”Mantel” Nahi Muhammad, “Kain” yang digunakan oleh Sang Nabi bisa diterjemahkan secara lahiriah, harfiah, bisa juga secara batiniah.

Pemahaman lahiriah dulu…

Dikisahkan bahwa hanya dengan menjamah jubah Nabi Isa banyak penderita kusta menjadi sembuh. Ini bukan dongeng . Bukan pula “hak prerogatif” Nabi Isa atau seorang Nabi. Kisah-kisah seperti ini bisa ditemukan dalam setiap tradisi dan setiap budaya. Bahkan sampai saat ini juga! Kadang-kadang seorang master, seorang murshid akan memberikan pakaian bekasnya kepada seorang murid. Dan pakaian bekas itu memancarkan energi Sang Master sampai puluhan tahun. Kadang-kadang sampai ratusan tahun. Tidak ada sesuatu yang “gaib” dan ”mistik”— semua ini hanyalah permainan energi. Pakaian bekas anda dan saya pun akan memancarkan energi. Hanya saja kualitas energinya seperti apa? Dan daya pancarnya sampai berapa hari?

Aisha sungguh heruntung. Dia bisa mengenakan “mantel” Nabi Muhammad sebagai penutup kepala. jelas, dia bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. Dia bisa merasakan sesuatu yang tidak dirasakan  oleh orang lain.

Pemahaman batiniah…

“Kain” Nabi Muhammad, “Mantel” Nabi muhammad berarti ”sesuatu yang dipakai” oleh Nabi Muhammad. Sesuatu yang “menutupi badan” Sang Nabi. Jika anda melangkah lebih jauh lagi, atau lehih dalam lagi,  yang dimalesudkan adalah “sesuatu” yang berada di luar ”badan”. Sesuatu yang melampaui “kesadaran lahiriah” — berarti “Batin Nabi Muhammad”.

Dalam diri seorang Muhammad, “Kesadaran Batiniah” berada pada permukaan. Demikian pula dengan para Murshid dan para wali lainnya. Dalam diri kita, “batiniah” masih berada jauh di bawah, di dalam. Tertutup oleh kesadaran lahiriah.

Aisha begitu dekat dengan Muhammad, sehingga kesadaran batiniah Sang Nabi  “menulari” dia.

Berada dekat seorang nabi, seorang murshid, sudah cukup. Para nabi, para buddha, para avatar, para mesias adalah carrier virus kesadaran. Kalau mau sadar; dekatilah mereka. Tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Biarkan diri anda ketularan virus kesadaran. Yang dibutuhkan hanyalah kesiapan diri anda. Kemauan untuk ditulari. Itu saja!

Rumi melanjutkan:

Hakim Sanai pernah mengatakan, “Langit batiniah berlapis-lapis dan berada jauh di atas langit yang terlihat oleh mata kasat. Dalam perjalanan batin, ada dataran tinggi, ada pula dataran rendah. Ada gunung, ada juga laut.”

Akan tetapi, Langit Batiniah hanya terlihat oleh mereka yang terpilih. Kebanyakan orang tidak melihatnya, bahkan malah meragukannya.

 

Hakim Sanai sedang menjelaskan kesadaran manusia yang berlapis-lapis. Serta perjalanan panjang melewati setiap lapisan. Baik “dataran rendah alam bawah sadar” atau subconscious mind, maupun “dataran tinggi alam kesadaran supra” atau superconscious mind—dua-duanya harus dilewati.

Tetapi, perjalanan ini, menurut Hakim Sanai, hanyalah bagi mereka yang terpilih. Apa maksud Sang Hakim? Di langit “sana” pun ada KKN—K0lusi, Korupsi dan Nepotisme?

Orang Yahudi menganggap dirinya ”the chosen one”—yang terpilih. Karena itu, bangsa-bangsa lain dianggapnya “sempalan” bangsa Yahudi. “Produk” Allah dengan predikat “Kualitas-A” adalah bangsa Yahudi. Yang lain-lain, “Kualitas-B” dan “C”— bahkan “D” dan “E”

Pemahaman Hakim Sanai tentang “Yang Terpilih” tidak demikian. Pengertian Hakim Sanai tentang “Yang terpilih” adalah lulus ujian”. Yang lulus “tes masuk”. Yang diterima untuk suatu pekerjaan, setelah hasil interview menunjukkan bahwa orang itu layak untuk pekerjaan yang akan diberikan kepadanya.

Sebelum terpilih, ada ijtihad—ada upaya yang harus anda lakukan. Ada “kualifikasi minimal” yang harus anda capai.

Dan kualifikasi minimalnya hanya satu —bahwasanya anda berjalan. Bahawasanya anda meniti jalan ke dalam diri. Bahwasanya anda tidak lari di tempat.

Kembali pada hujan berkah, Rumi melanjutkan:

 

Petuah Para Suci bagaikan hujan pembawa berkah, pembawa kehidupan yang sangat menguntungkan. Setelah mendengarkannya, jika tidak terjadi apa-apa pada diri seseorang, dia ibarat pohon kering yang sudah mati. Hujan pembawa berkah sudah turun, angin kehidupan sudah meniupi dia, tetapi dia masih tetap kering juga.

Nabi mengatakan, “Bila darang musim semi, jangan mcnutupi diri. Biarkan tiupan angin menyegarkan batinmu. Tetapi, bila datang musim gugur, tutupilah dirimu rapat-rapat, karena angin musim gugur bisa melayukan jiwamu.”

Para ahli tafsir menafsirkan kata-kata ini secara harfiah. Mereka memperhatikan yang tersurat dan tidak mengetahui apa yang tersirat. Mereka melihat gunung, tetapi tidak bisa melihat tambang (emas) di dalam kandungannya.

Kesadaran lahiriah dan keinginan yang tak kunjung habis—itulah angin musim gugur. Sebaliknya, kesadaran batiniah dan kemampuan untuk memilah (mana yang tepat, mana yang tidak) adalah angin musim semi.

Wejangan Para Susi bagaikan tiupan angin musim semi. Jangan mempersoalkan bahsa mereka. Keras atau pelan, kasar atau lembut —dua-duanya sama, mampu membebaskan kamu dari kesadaran hewani.

Dialog antara Nabi Muhammad dan Aisha masih berlanjut:

 

“Wahai Rasul Allah, apa maksudmu?” tanya Aisha.

“Dengarkan Siddiqa, engkau yang berhati tulus. Hujan berkah hari ini turun untuk melarutkan duka lama yang terpendam dalam hati anak-cucu Adam.”

“Dunia ini ada, karena ketidaksadaran mereka, karena mereka telah melupakan Tuhan. Bila mereka sadar dan kembali mengingat Tuhan, dunia ini akan Ienyap.”

“Matahari kesadaran bisa melelehkan es ketidaksadaran. Kesadaran sesedikit apa pun sudah cukup untuk mengatasi hawa napsu, rasa iri dan sebagainya. Dan bila kesadaran lebih meluas lagi, kebaikan dan keburukan akan lenyap.”

 

Hari itu, Sang Nabi menemukan sesuatu yang indah sekali: bahwasanya kelahiran dan kematian bergulir terus, bahwasanya kehidupan mengalir terus.

Beliau juga menyadari sepenuhnya bahwa lahiriah dan batiniah merupakan dua sisi kehidupan. Yang hidup dalam kesadaran, telah memasuki alam batin. Yang hidup tanpa kesadaran masih berada dalam alam badan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: