Keangkuhan Indra Sang Pemimpin Menjerumuskan Dewa ke dalam Derita #SrimadBhagavatam

Keangkuhan Indra

Keterikatan kita dengan dunia benda memenjarakan kita dalam sangkar ini. Padahal Jiwa bebas adanya. Ia tidak perlu “menyangkarkan” diri dalam dunia benda ini. Sayang, karena keterikataannya dengan kebendaan ilusif, ia memenjarakan dirinya dalam sangkar dunia benda ciptaannya sendiri. Apa yang sesungguhnya adalah medan laga diubahnya menjadi sangkar. Ia membuat sangkar ini dengan bahan-bahan campuran, seperti keakuan, kepemilikan, harta-kekayaan, ketenaran, kedudukan, hubungan keluarga, dan sebagainya……………

Melewati setiap pengalamaan sebagai saksi – Berarti, dalam keadaan suka tidak menjadi angkuh, dan dalam keadaan duka, tidak berkecil hati. Semuanya hanyalah keadaan-keadaan sesaat yang mesti dilewati.

Kesalahan kita selama ini adalah kita menciptakan sangkar suka, sangkar keberhasilan, sangkar ketenaran, dan sebagainya. Kemudian kita menempatkan diri kita – Jiwa yang sesungguhnya bebas – di dalam sangkar tersebut. Kita tidak sadar bila sangkar “serba suka” tersebut tidak bisa dibuat tanpa jeruji-jeruji menyilang dan kebalikan “serba suka”. Jeruji-jeruji ini adalah jeruji-jeruji “serba duka” yang membatasi gerak-gerik Jiwa. Bahkan merampas kebebasannya.

Setiap membuat sangkar suka, kita mengundang pengalaman duka. Tiada sangkar keterikatan yang tidak menghasilkan pengalaman kecewa, sakit-hati, dan sebagainya. Janganlah menciptakan sangkar. Penjelasan Bhagavad Gita 14:7 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Keberhasilan Indra menjadi Raja Dewa yang sukses membuatnya menjadi angkuh. Indra lupa bahwa keangkuhan adalah sangkar. Indra lengah bila bila sangkar “suka” tersebut tidak bisa dibuat tanpa jeruji-jeruji menyilang dan kebalikannya yaitu “duka”. Setiap membuat sangkar suka, kita mengundang pengalaman duka. Tiada sangkar keterikatan yang tidak menghasilkan pengalaman kecewa, sakit-hati, dan sebagainya.

Indra sedang duduk bersama Saci, istrinya menikmati nyanyian merdu para gandarva dan tarian para apsara. Para dewa dari 4 penjuru duduk menghormati keberhasilan Indra sebagai raja para dewa. Pada saat itu Rishi Brhaspati, guru para dewa datang ke tempat itu dan Indra dininabobokkan keangkuhan, ia tidak bangun menyapa gurunya. Brhaspati merasa tidak berhasil mendidik muridnya sehingga sang murid menjadi angkuh dan sang guru segera meninggalkan istana.

Kesadaran Indra datang terlambat, dan kemudian Indra mencari gurunya. Sang Rishi Brhaspati tidak berhasil ditemuinya bahkan sang guru tidak berada di ashramnya.

 

Para Asura Memanfaatkan Ketiadaan Guru Para Dewa untuk Menyerang Para Dewa

Dasar hukum segala hukum ialah hukum sebab-akibat. Hukum Alam. Jika kita berbuat baik, tidak mungkin mendapatkan hasil yang tidak baik.jika saat ini kita sedang mengalami suatu keadaan yang kita anggap “kurang baik” – maka kemungkinan besar hal itu merupakan hasil dari perbuatan kita di masa lalu, atau kita belum bisa melihat gambar yang seutuhnya.

Di balik pengalaman yang terasa tidak baik itu, bisa saja tersembunyi kebaikan. Di atas segala-galanya, saat kita sedang mengalami sesuatu yang tidak baik, jangan lupa berbuat lebih banyak kebaikan, supaya masa depan kita bebas dari pengalaman-pengalaman yang menyengsarakan. Penjelasan Bhagavad Gita 6:40 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Kabar ketiadaan Rishi Brhaspati menyebar begitu cepat, para asura murid dari Sukracharya segera menyerang istana para dewa. Dan tanpa seorang guru yang bijak, Indra beserta para dewa dikalahkan.

Para dewa kemudian berlindung kepada Brahma yang kemudian menyarankan agar Indra minta Visvarupa, putra Tvasta, untuk membantu mereka. Visvarupa merupakan keturunan asura yang menjadi seorang brahmana.

Indra dan para dewa kemudian mendatangi Visvarupa yang lebih muda dibanding dengan Indra untuk membantu mereka. Visvarupa mengatakan bahwa peran guru tidak baik bagi asura seperti dirinya, karena dapat meningkatkan egonya yang sedang diupayakan dilampauinya. Akan tetapi, memenuhi permintaan orang yang membutuhkan pertolongan adalah sebuah dharma.

Akhirnya Visvarupa menyanggupi permintaan Indra untuk membantu para dewa. Visvarupa memberikan Indra  baju pelindung besi yang kuat bernama “Narayana Kavacha”. Para dewa juga diajari membaca mantra suci kavacha, “Om Namo Narayanaya”. Setiap bagian tubuh, diliputi pikiran dan perasaan yang terfokus terhadap Narayana, sehingga jiwanya dilindungi oleh Narayana. Dengan baju pelindung besi tersebut, maka Indra dan para dewa dapat mengusir para asura dari istana para dewa.

 

Terburu Nafsu

Zaman Kali – zaman besi ini – ditandai dengan percepatan, chaos, kekacauan – dan hasilnya, orang-orang tidak bisa diam. Mereka selalu dalam keadaan yang terburu-buru, tanpa menyadari kemana tujuan mereka. Keterburu-buruan yang menggila ini, situasi “sibuk untuk hal yang sia-sia” ini harus dihentikan. Kita perlu berpikir jernih, dan maju ke depan dengan pikiran jernih, mengetahui dengan pasti kemana tujuan kita, kemana kita pergi. Dikutip dari salah satu Nasehat Bapak Anand Krishna

Bukan hanya di zaman kali, di awal zaman pun Indra juga melakukan hal yang terburu-buru. Kisah ini merupakan pelajaran bagi kita untuk berpikir jernih sebelum bertindak, jangan hanya didorong ketergesaan.

 

Visvarupa adalah salah seorang asura, maka dalam melakukan yajna, persembahan selain mempersembahkan kepada dewa, dia pun secara sembunyi-sembunyi menyampaikan persembahan kepada asura.

Indra yang takut kalah dari para asura, mengetahui hal tersebut, langsung emosional dan membunuh Visvarupa. Tak berapa lama Indra sadar telah membunuh brahmana yang telah menolong para dewa. Indra kemudian berbagi kesalahan membunuh brahmana kepada tanah, air, pohon dan wanita. Oleh karena itu sebagian tanah menjadi gurun, sebagian pohon mengeluarkan getah yang tak boleh diminum, sebagian air berupa gelembung yang tidak dapat dimanfaatkan, dan wanita tak boleh disentuh saat periode datang bulannya.

.

Kemarahan Tvasta, Ayahanda Visvarupa

Tvasta sangat marah melihat anaknya dibunuh oleh Indra dan melakukan upacara ritual untuk membunuh Indra. Kebetulan mantra yang diucapkan kurang tepat karena panjangnya mantra, sehingga yang dihasilkan bukan “musuh tak-terkalahkan Indra” tetapi asura perkasa bernama Vṛtrasura, yang menganggap Indra sebagai salah satu musuhnya.

Sebagaimana dijelaskan dalam kisah-kisah sebelumnya, saat membuat anak, akan banyak jiwa individu yang ingin lahir yang genetiknya sesuai dengan genetik calon orangtua, sehingga kita perlu berdoa agar jiwa pilihanlah yang masuk dan lahir menjadi anak yang baik. Demikian pula, karena Tvasta doanya terlalu panjang dan ada yang kurang tepat, maka asura yang dihasilkan dalam acara ritual tersebut, memang merupakan asura perkasa, akan tetapi tujuan utama sang asura adalah menyatu dengan Narayana, Sang Gusti Pangeran, walaupun dia akan menjadi lawan setimpal Indra.

Vrtrasura sangat menakutkan para dewa. Vrtra bersenjata trisula dan  tak dapat dibunuh oleh senjata kayu maupun logam, sehingga para dewa memohon perlindungan langsung kepada Gusti Pangeran Narayana. Para dewa yakin Gusti Pangeran Narayana selalu menolong para panembahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: