Archive for April, 2017

Bercermin pada Nabi Nuh #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on April 30, 2017 by triwidodo

Dikisahkan bahwa Nabi Nuh memperoleh Perintah Allah untuk mengingatkan  umatnya, supaya kembalz pada jalan yang lurus. Mereka tidak mempercayainya. Malah  menertawakan dia. Padahal, Nabi Nuh sudah memberikan peringatan keras:

 

“Ketahuilah bahwa ‘aku’ sudah mati. Sekarang, Yang ada hanyalah Dia. Yang bernapas lewat aku adalah Dia.”

Nuh bagaikan singa dalam wujud rubah. Ketika dia rneraung, suaranya terdengar jelas.

“Janganlah ragu-ragu. Jangan menyangsikan kebenaran kata-kata yang kuucapkan, karena ucapanku berasal dari Dia yang berada di balik ‘kerudung badan’.”

 

Setiap nabi, setiap mesias, setiap avatar, setiap buddha adalah singa berbadan rubah. Kita semua mendengarkan suara raungnya. Tetapi tertipu oleh apa yang terlihat dengan kasat mata, “Ah masa…. No, no, no, no—dia bukan singa. Dia hanyalah seekor rubah.”

Kita bisa merasakan Kehadiran Allah di balik bangunan yang terbuat dari batu, tetapi tidak bisa merasakan-Nya di balik badan yang terbuat dari darah dan daging. Aneh! Diajak bicara sedikit, kita langsung berang, “Itu kan sama seperti menduakan AIlah!”

Edan, siapa yang bisa menduakan Allah? Jika mata anda sakit dan segala sesuatu terlihat dua, ya salah anda sendiri. Jangan menyalahkan orang lain. Allah tidak bisa diduakan.

Yang dua, yang lain—sesungguhnya tidak ada. Yang Ada hanyalah Dia! Kekuatan dan kekuasaan di balik peringatan Nuh—juga berasal dari Dia. Dia, Dia, Dia…!

Sayang, tidak ada yang mengindahkan peringatannya. Nasib para Nuh selalu sama. Setiap Nuh yang masih “hidup” akan kita sia-siakan. Dan setiap Nuh yang sudah “mati” akan kita sanjung.

Rumi mengatakan bahwa yang bisa melihat keilahian di balik “kerudung badan” para Nuh hanyalah mereka yang berjiwa bersih …….

Sebersih cermin—tanpa cacat, tanpa noda, tanpa bayangan, sehingga “Ia Yang Tak Terlihat” dapat terbayangkan!

Para Sufi, para Darvish memiliki jiwa sebersih itu. Oleh karenanya, para Sultan jaman dahulu menemparkan mereka di baris pertama.

Bukan para prajurit dan petinggi negara, bukan pula para hakim dan penasihat — tetapi para Sufi yang berada di baris pertama. Lewat merekalah, para Sultan bercermin diri.

 

Cermin jiwa mereka bersih, tanpanoda. Mereka tidak pernah berbohong. Para prajurit dan petinggi negara bisa berbohong. Para hakim dan penasihat bisa bersikap ABS—Asal Bapak Senang. Para Sufi tidak bisa. Jika anda melihat kejelekan dalam diri seorang Sufi, ketahuilah bahwa kejelekan itu berasal dari dalam diri anda sendiri. Anda sedang bercermin diri. Dan yang terbayang hanyalah noda-noda pada wajah Anda.

Anda tidak bisa “menerima” nasihat seorang Nuh—kenapa? Karena, sesungguhnya Anda tidak bisa “menerima” diri sendiri. Anda tidak “mempercayai” seorang Nabi – kenapa? Karena, sesungguhnya anda belum cukup “percaya” diri.

Nabi Nuh tidak berada di luar diri, tetapi dalam diri Anda sendiri. Peringatan yang Anda peroleh bukan dari luar, tetapi dari dalam. Anda tidak melihat Nabi Nuh yang ada dalam diri. Anda tidak mendengarkan peringatannya. Kenapa? Karena, Anda menempatkan para prajnrit, petinggi negara, hakim dan penasihat di depan. Nabi Nuh Anda dudukkan di samping, atau bahkan di belakang.

Anda sedang bercermin diri lewat “prajurit kekuasaan”. Anda sedang bercermin diri lewat “petinggi keangkuhan”. Lewat “hakim dualitas” dan lewat  “penasihat pikiran”. “Aku berkuasa, aku hebat. Aku tidak pernah salah…”—begitu sibuknya anda dengan pikiran, sehingga peringatan Nuh tidak pernah terdengar.

Seorang Sultan akan menempatkan Nuh di baris paling depan. Dan seorang Sultan berarti seorang Svami, seorang Master, seorang “Lord”—ia yang telah menguasai panca inderanya dan telah melampaui  pikirannya.

Nabi Nuh dalam kisah ini, mewakili Kesadaran Tinggi dalam diri Anda. Setelah menguasai panca indera dan telah melampaui pikiran, Kesadaran Tinggi itulah yang menjadi penuntun Anda.

Rumi melanjutkan uraiannya dengan memberikan contoh Nabi Yusuf:

 

Seorang sahabat lama mendatangi beliau dan menghadiahkan sebuah cermin, “Engkau tidak membutuhkan sesuatu. Lalu, hadiah apa yang harus kupersembahkan, kecuali cermin yang kecil ini, sehingga kau dapat bercermin diri dan dapat melihat Cahaya yang menyinari dirimu?”

 

Bersahabatlah dengan para Sufi. Dengan mereka yang berjiwa bersih, karena hanya lewat merekalah Anda bisa bercermin diri!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Prahlada: Kombinasi Ayah Buas dan Ibu Saleh, Menjadi Pengabdi Gusti #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on April 28, 2017 by triwidodo

Pendidikan yang tepat bagi putra Hiranyakasipu

Sesungguhnya “benih” jiwa adalah murni, suci, dan memuat “programming” dasar yang sama. Kemungkinan yang sama. Potensi yang sama. Analogi ini mesti dipahami secara cerdas. Ayat ini sama sekali tidak berpretensi bahwa benih “seorang ayah” selalu baik. Dan jika seorang anak lahir menjadi Kaurava, maka seluruh kesalahannya adalah di pihak ibu yang melahirkan. Tidak, tidak demikian.

Ayat ini menjelaskan sesuatu yang sangat ilmiah — bahwasanya seluruh programming dasar ada di dalam benih seorang ayah — ini tidak dapat diubah. Ketika benih itu membuahi indung telur seorang ibu, maka hasilnya adalah “programming dasar” ayah plus energi ibu. Kromosom X dari ibu mengandung energi penggerak; dan kromosom Y dari ayah mengandung berbagai informasi. BG 14:4

Demikian, setiap anak yang lahir mewarisi Sifat, Informasi, dan Potensi yang terdapat dalam benih. Tidak pula berarti benih seorang pembunuh “sudah pasti” melahirkan seorang pembunuh. Tidak. Jangan lupa, anak yang lahir tidak hanya rnewarisi salah satu sifat dari benih ayahnya –misalnya, kecenderungan untuk membunuh. Ia juga mewarisi segala informasi yang lain. Ia pun mewarisi potensi-potensi yang tidak terbatas. Sebab itu pendidikan yang tepat dan baik dapat menggali dan memunculkan potensi terbaik. Penjelasan Bhagavad Gita 14:4 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Hiranyakasipu mempunyai empat orang putra. Dikisahkan bahwa Kayadhu, istri Hiranyakasipu adalah istri yang saleh. Dia memahami karakter yang tidak baik dari suaminya. Akan tetapi Kayadhu menganggap bahwa hal itu terjadi  karena potensi kebaikan Hiranyakasipu di-“off”-kan tertutup dendam dan keserakahan. Kayadhu berdoa agar dalam diri putra keempatnya potensi kebaikan dari ayahnya yang “on”. Oleh karena itu dia betul-betul menjaga kesalehan ketika dia mulai hamil anak keempat. Kayadhu hanya makan makanan baik, hanya melakukan tindakan yang baik, dan selalu berdoa dan memberi persembahan yang baik. Kayadhu punya kemauan yang keras. Dia punya pengetahuan berasal dari intelijensia bahwa bayi dalam kandungan akan terpengaruh tindakan ibunya. Bukan hanya jenis makanan yang dikonsumsi ibunya, akan tetapi pikiran, ucapan, dan tindakan ibunya akan menjadi pelajaran awal yang akan mewarnai  bayi yang dikandungnya.

Dikisahkan bahwa sewaktu Hiranyakasipu bertapa, Indra datang ke kerajaan para Asura dan membunuh banyak anak-anak asura. Lebih baik dibunuh selagi anak-anak sebelum dewasa dan berbuat kejahatan, mengacaukan dunia. Melihat Kayadhu hamil, maka dia disandera Indra di kediaman para dewa. Indra bermaksud menunggui kelahiran putra Hiranyakasipu, kemudian anaknya akan dibunuh dan ibunya akan dikembalikan ke kerajaan asura setelah melahirkan putra tersebut.

Kayadhu begitu yakin pada kebijaksanaan Gusti Pangeran. Dan, datanglah Rishi Narada menjelaskan kepada Indra bahwa calon putra Kayadhu adalah wujud Ilahi yang akan menyelesaikan urusan ayahnya. Indra patuh pada sang rishi, dan Kayadhu diminta tinggal di tempat Narada sampai Hiranyakasipu selesai bertapa. Setiap hari Kayadhu yang lagi hamil selalu mendengarkan nyanyian Ilahi yang didendangkan Rishi Narada dengan alat musik vina-nya. Jadi sejak dalam kandungan sang janin telah mendengarkan nyanyian pujian ilahi yang dilakukan Rishi Narada.

Kedekatan dengan seorang Master, dan keterbukaan diri seorang ibu yang hamil, membuka pintu rahmat. Dan, lahirlah Prahlada yang sudah bijak sejak masih dalam kandungan. “Blessing in disguise”, penyanderaan Indra justru membawa berkah. Di awal-awal kelahiran Prahrada pada saat otaknya berkembang sangat pesat, pengaruh seorang Master seperti Rishi Narada adalah sangat besar.

 

Prahlada tidak sepaham dengan pendirian Hiranyakasipu, ayahandanya

SIFAT DAIVI DAN SIFAT ASURI ATAU DAITYA. Daiva berarti “Yang Berkilau, Bercahaya”. Karakter Daiva adalah Sura, “Selaras dengan Alam, dengan Kodrat manusia”. Sementara itu Daitya atau Asura adalah Karakter yang “Tidak Selaras dengan Kodrat Manusia, dengan Alam”.

Karakter Daivi atau Sura membantu kita dalam hal peningkatan kesadaran. Karakter Daitya atau Asuri menahan kita ke bawah, membuat kita terikat dengan dunia benda.

Umumnya Daiva atau Sura dikaitkan dengan kemuliaan, dan Daitya atau Asura dengan ketidakmuliaan. Dari perspektif kita, dari sudut pandang kita memang demikian. Maka, kita diharapkan mengenal kedua-duanya, sehingga dapat memilah dan memilih apa yang menunjang Jiwa. Yakni, karakter atau kecenderungan Daiva atau Sura.

Namun, bagi Gusti Pangeran, dari perspektif Tuhan — kedua karakter atau kecenderungan sifat itu sama pentingnya. Tanpa sifat Daitya atau Asura, tanpa adanya Jiwa-Jiwa yang dalam ketidaktahuannya, mengikat diri dengan dunia benda, Teater Tuhan akan tutup. Keterikatan itulah yang membuat dunia kita ramai dan bising. Tanpa keterikatan, panggung sandiwara sudah pasti  kosong. Pengantar Bhagavad gita Bagian 16 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sejak kecil Prahlada putra Hiranyakasipu sudah bersifat Daivi, karena pengaruh ibu yang baik dan hasil pendidikan Rishi Narada di lingkungan para dewa. Sebaliknya, Hiranyakasipu, sang ayah sifat Asura atau Daitya yang agresif dan serakah nampak begitu jelasnya.

Seorang maharaja penguasa Tiga Dunia yang ditakuti seluruh makhluk menghadapi anak kandung bungsunya yang pemahamannya berlawanan dengan dirinya. Kalau orang lain bisa langsung dibunuhnya, akan tetapi ini adalah putra bungsunya, dengan galau sang maharaja tetap berupaya mengubah pendirian sang putra lewat guru bagi sang putra. Guru Prahlada, Chanda dan Amarka adalah putra-putra Rishi Sukracharya.

Pada suatu hari Prahlada kecil berkata kepada sang ayah, “Ayahanda, aku sudah melihat semua orang terjerat jaring duka-cita, karena khayalan tentang adanya ‘aku’ dan ‘milikku’. Apakah kita dapat memiliki angin? Apakah kita dapat menyimpan sinar matahari? Apakah kita dapat mengurung sinar bulan di dalam kamar kita? Kita dapat menahan udara segar dan angin sepoi-sepoi . Kita dapat berjemur di bawah sinar matahari atau menikmati cahaya purnama, tetapi tidak sekali-kali bisa memiliki, apalagi memonopoli mereka. Aku akan meninggalkan semuanya sehingga aku bisa menemui Dia, asal dan tujuan hidup dari semua makhluk. Beban keterikatan pada dunia inilah yang menghalangiku untuk menemui-Nya.” Kata-kata Prahlada menyinggung perasaan Hiranyakasipu yang ingin memiliki dan memonopoli segalanya. Hiranyakasipu sangat marah dan kemudian meminta guru Prahlada mengajarnya dengan lebih keras. Prahlada diajar ilmu pengetahuan asura dan apabila salah akan dipukul oleh gurunya.

Beberapa bulan kemudian, Prahlada berkata pada sang ayah, “Ayah aku telah memahami sembilan jenis pengabdian: Shravanam (mendengarkan), Smaranam (mengingat berulang-ulang), Kirtanam (menyanyi lagu pujian), Archanam (ibadah), Vandanam (menghormati), Padasevanam (melayani semua ciptaannya), Dasyam (patuh dan melayani), Sakhya (persahabatan) dan Atmanivedanam (menyerahkan tubuh, pikiran dan segala sesuatu).”

Hiranyakasipu sangat bangga dan berkata, “Sempurna anakku, bila kau melakukan salah satu saja hal tersebut untuk melayani aku, maka kau sudah memuaskan aku.”

Prahlada berkata, “Tetapi ayah, ini adalah cara untuk memuja Narayana yang meliputi diri kita semua.” Hiranyakshipu menjadi marah. Hiranyakahsipu hanya mengasihi putranya kalau sang putra patuh kepadanya.

Para guru Prahlada menyampaikan bahwa mereka tidak memberi pelajaran kepada Prahlada hal demikian, tetapi dia hanya mengikuti pikirannya sendiri, sehingga mereka kewalahan. Hiranyakasipu melakukan tindakan kekerasan dengan memukulkan gagang lembingnya berkali-kali kepada Prahlada, tetapi dia tidak terluka.

Kagum juga sang ayah atas kesaktian Prahlada, maka Prahlada disuruh berbaring dan diinjak-injak kawanan gajah liar. Ternyata Prahlada tidak mati. Dan, kemudian Prahlada dimasukkan lubang berisi ular-ular berbisa. Ternyata Prahlada tidak terpengaruh oleh gigitan ular. Sampai Hiranyaksipu putus asa sekaligus berbangga hati atas kesaktian sang putra. Alangkah bahagianya bila sang putra patuh terhadapnya dan melawan Narayana, musuh besarnya.

Guru Prahlada kemudian berjanji sekali lagi pada sang raja untuk mengajar Prahlada bersama anak-anak asura yang lain semoga Prahlada bisa berubah setelah belajar bersama teman-teman sebayanya.

Pada suatu saat, kedua guru Prahlada sedang pergi dan Prahlada mengajak teman-temannya menyanyikan lagu pujian terhadap Narayana.

Silakan simak kelanjutan kisah berikutnya pada kategori Bhagavatam

Hiranyakasipu: Tercapainya Ambisi Menjadi Penguasa Tiga Dunia #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on April 23, 2017 by triwidodo

Intensitas perasaan dan ingatan kepada Gusti Pangeran

Saat Anda benar-benar mengingat seseorang, semua yang berada di sekeliling Anda bisa memberikan kenangan akan orang tersebut. Orang tersebut bisa jadi yang Anda cintai atau benci. Ini tak ada hubungannya dengan cinta dan benci; ini lebih kepada intensitas perasaan dan ingatan.

Para Sufi dan mistik para kekasih Tuhan, melihat wajah-Nya di mana-mana. Mereka mengingat Tuhan melalui cinta dan intensitas perasaan yang berperan di sini.

Bagaimana dengan mereka yang mengingat Tuhan dengan cara penyesalan dan kebencian mendalam? Mungkin, bahkan bagi orang-orang ini, mereka melihat juga wajah Tuhan di mana-mana. Sekali lagi, intensitas perasaan yang berperan di sini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). Si Goblok, Catatan Perjalanan Orang Gila. Koperasi Global Anand Krishna)

Demikianlah dua penjaga istana Vaikunta, tempat tinggal Sri Vishnu yang lahir ke dunia menjadi musuh Sri Vishnu dengan intensitas yang luar biasa. Mereka sepanjang waktu hanyalah mengingat Sri Vishnu, musuh mereka di dunia………..

Yudistira bertanya pada Rishi Narada, mengapa Sisupala, raja Cedi yang menghina Krishna pada saat upacara Rajasuya dibunuh dengan Cakra Krishna, akan tetapi cahaya dari badan Sisupala menuju kaki Krishna dan memperoleh keselamatan pada kaki-Nya?

Rishi Narada menjawab bahwa memang banyak bhakta Gusti Pangeran yang belum mampu meninggal seperti yang dialami oleh Sisupala musuh Sri Krshna. Selanjutnya Rishi Narada bercerita tentang kisah dua penjaga istana Sri Vishnu yang lahir menjadi Hiranyaksa dan Hiranyakasipu, kemudian lahir menjadi Ravana dan Kumbakarna dan terakhir lehir menjadi Sisupala dan Datavakra.

Silakan baca ulang:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/12/28/hiranyaksha-dan-hiranyakashipu-kelahiran-sifat-raksasa-akibat-nafsu-srimadbhagavatam/

 

Tekad Hiranyakasipu menjadi Penguasa Tiga Dunia

“Lawan yang satu telah kutaklukkan, yang lain pun akan kutaklukkan. Aku menguasai segala-galanya. Aku memiliki kekuasaan tertinggi. Segala-galanya tersedia untuk kunikmati. Aku memiliki segala kekuatan. Aku sakti, aku berhasil, aku bahagia.” Bhagavad Gita 16:14

Kurang lebih afirmasi-afirmasi seperti inilah yang diajarkan para motivator sejak awal abad ke-20, dengan sedikit improvisasi dalam tata-bahasa dan gaya penyampaian.

BAGI KRSNA, PERNYATAAN-PERNYATAAN SEPERTI INI adalah bersifat syaitani. Semuanya memengaruhi niat kita, sehingga kita menjadi sombong; “Aku sudah mencapai ketinggian langit kesekian, kau baru langit kesekian.” Penjelasan Bhagavad Gita 16:14 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Hiranyakasipu memang angkuh, akan tetapi berbeda dengan para pengikut motivator masa kini yang cenderung mengkhayal, Hiranyakasipu berkarya dengan penuh percaya diri. Bekerja keras sesuai dengan potensi dan keahlian dirinya. Itulah yang membawa keberhasilan. Bukan ambisi, bukan afirmasi-afirmasi belaka………….

Dikisahkan Diti putra Daksha kawin dengan Rishi Kasyapa putra Marici dan mempunyai dua putra, Hiranyaksa dan Hiranyakasipu. Hiranyaksa mati di tangan Avatara Varaha yang merupakan wujud Narayana untuk mengangkat bumi dari dasar samudra.

Hiranyakasipu sangat marah atas terbunuhnya saudaranya. Hiranyakasipu kemudian meminta para asura untuk menghancurkan tempat Narayana bersemayam. Di mana pun para brahmana berkumpul untuk mengadakan upacara yajna, upacara persembahan untuk Narayana dibubarkan agar Narayana tak bisa hadir di dunia. Para asura juga diminta untuk menghancurkan dharma, karena Narayana selalu hadir pada perbuatan dharma. Para brahmana pemuja Narayana dibunuh dan dikejar-kejar para asura sehingga merasa cemas dan ketakutan. Semua tempat pemujaan Narayana diluluhlantakkan. Bukan hanya di zaman ini, sejak zaman Satya Yuga penghancuran tempat-tempat pemujaan sudah pernah terjadi………

Untuk mengalahkan Narayana, Hiranyakasipu melakukan tapa keras selama bertahun-tahun untuk memuaskan Brahma. Hiranyakasipu memahami bahwa Brahma dengan tapa kerasnya mampu menciptakan alam semesta  dan dia yakin apabila dia bertapa dengan keras maka dia akan dapat menjadi Brahma. Dia akan membuat dunia sendiri, di mana para asura menjadi dewa dan kejahatan akan dianggap sebagai kesucian.

 

Permohonan Hiranyakasipu kepada Brahma

AMBISI, HARAPAN, EKSPEKTASI – sebutan apa pun yang kita berikan kepada “cara berpikir” seperti ini, sekalipun dibungkus rapi dengan kertas sampul positive thinking — landasannya adalah lobha, keserakahan.

Dan keserakahan membawa bencana. Keserakahan membuat kita menjadi keras, kaku, alot, dan berdarah-dingin. Kita akan menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri, untuk mendapatkan kedudukan, pujian, penghargaan, apa saja.

lalu, apakah ambisi itu tidak boleh? Perkaranya bukanlah boleh atau tidak. Perkaranya adalah bahwa ambisi adalah cocok bagi mereka yang bersifat syaitani; mereka yang belum mengenal nilai-nilai hidup dan kehidupan yang lcbih tinggi, mereka yang masih bodoh. Penjelasan Bhagavad gita 16:13 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Brahma datang kepada Hiranyakasipu yang sedang bertapa dan berkata bahwa dia senang dengan tapa kerasnya dan bertanya apa yang diminta Hiranyaksipu kepadanya. Hiranyakasipu hanya minta satu hal yaitu agar dia dapat hidup abadi. Brahma mengatakan bahwa dia sendiri tidak abadi.

Hiranyakasipu yang sangat cerdas minta kepada Brahma, bahwa tidak ada satu pun makhluk ciptaan Brahma yang dapat membunuhnya. Tidak ada hewan atau manusia yang dapat membunuhnya. Dia minta dia tidak akan mati di dalam rumah atau di luar rumah dan juga tidak bisa mati sepanjang siang dan sepanjang malam. Tidak mati di bumi atau di langit. Tidak ada satu pun senjata yang dapat membunuhnya.

Brahma mengabulkan permintaan Hiranyakasipu dan kemudian lenyap dari pandangan Hiranyakasipu.

Hiranyakasipu dengan kesaktiannya kemudian menaklukkan tiga dunia. Dunia para dewa yang dipimpin Indra dikalahkannya. Dunia yang dikuasai Varuna dan Yama pun ditaklukkannya. Bahkan dunia yang menjadi kekuasaan Kubera pun menjadi wilayah taklukannya.

 

Setelah ambisi tercapai apakah tidak ada masalah yang membuat stres?

Lihatlah keadaan mereka yang selama ini percaya pada kekuatan ambisi. Kendati sudah menjadi kaya-raya, apakah mereka bahagia? Sudah menduduki posisi tinggi, apakah mereka tenang? Sudah berhasil meraih penghargaan, apakah rnereka tentram? Sudah memiliki tabungan di Swiss, apakah mereka damai?

Sehatkah orang nomor satu di belahan dunia mana saja? Seberapa besar tingkat stres yang dideritanya? Penjelasan Bhagavad gita 16:13 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Para dewa datang kepada Gusti Pangeran Narayana dan Narayana menghibur mereka dan mengatakan agar mereka menyerahkan segalanya kepada-Nya. Narayana berkata bahwa Hiranyakasipu akan mempunyai seorang anak yang berbhakti kepada Narayana. Manakala seorang bhakta seperti dia dilukai oleh seorang asura maka Dia akan mewujud di dunia.

Hiranyakasipu telah menjadi penguasa Tiga Dunia, apakah dia bahagia? Anak bungsu tersayang justru menjadi bhakta Narayana? Bagaimana rasa dongkol dan stresnya? Silakan ikuti kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya…………..

Duta Besar Kerajaan Tuhan Penghubung Negeri-Nya dengan Negeri Kita #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , , , on April 21, 2017 by triwidodo

Dia yang mengetahui “Jalan” disebut Pir atau Pemandu. Jika kamu bertemu dengan seorang Pir, ikutilah dia tanpa keraguan, karena dia “tahu”!

Awam bagaikan kegelapan malam. Pir adalah Bulan yang meneranginya. Pir juga berarti “Tua”. Seorang Pir menjadi “Tua” karena Kebenaran, bukan karena Waktu.

Saya memberikan julukan Pir kepada Husamuddin, “keberuntungan”-ku yang masih muda, karena, walaupun tampak muda, sesungguhnya dia tua……….

 

Husamuddin adalah seorang murid yang relatif baru—baru bergabung dengan Rumi. Tetapi, Rumi tidak menilainya berdasarkan “waktu”. Rumi menilainya berdasarkan “kebenaran” —”kesadaran”.

Karena itu pula, Rumi menyebutnya “keberuntunganku”. Seorang murshid bagaikan pedagang yang membuka usaha dengan tujuan jelas: mencari keuntungan. Tetapi keuntungan yang dicarinya bukanlah keuntungan materi. Keuntungan seorang murshid adalah jumlah orang yang meningkat kesadarannya. Berapa orang yang setidaknya menjadi sesadar dia. Makin besar untungnya, jika di antara mereka ada yang menjadi “lebih” sadar dari dia.

 

Anggur tua dinilai lebih tinggi. Begitu pula dengan para Pir. Carilah seorang Pir yang sangat tua. Tua karena kcbenaran, karena kesadaran, bukan karena waktu.

Jika kamu sudah menemukannya, jadikan dia Pemandumu. Dengan adanya seorang Pemandu, perjalananmu akan menjadi lebih nyaman dan terarah.

Ingat, perjalanan ini baru pertama kali kamu tempuh. jangan sok berani. Indahkan panduan Sang Pemandu!

 

Bagi seorang murshid, murid adalah sahabat. Murshid “tahu diri” betul. Pada dasamya, tidak ada perbedaan antara mereka. Seorang murid adalah masa lalu seorang murshid. Dan seorang murshid adalah masa depan seorang murid. Beda “kesadaran” sedikit. Itu saja.

Yang seringkali “lupa daratan” adalah para murid. Disebut “sahabat”, mereka menjadi sombong. “Sekarang aku bisa jalan sendiri. ”—pikir dia. Ternyata apa? Baru berjalan sebentar sudah babak-belur. Tetapi karena kesombongannya, karena keangkuhannya, dia tidak akan mengaku salah. Walaupun sudah “tersesat”, dia akan tetap melanjutkan perjalanannya.

Rumi menasihati mereka:

 

Seperti seekor keledai yang tergiur oleh rerumputan dan berhenti di pinggir jalan, begitu pula kenikmatan duniawi bisa menyibukkanmu, sampai lupa menempuh perjalanan yang harus kau tempuh. Pada saat-saat seperti itu, hanya seorang pemandu yang bisa menyadarkan dirimu.

“Banyak orang berupaya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan lewat ritus-ritus keagamaan.” kata Nabi Muhammad kepada Ali, sambil menasihatinya, “Dekatkan dirimu dengan para pengabdi Allah yang terpilih dan bijak, maka kau akan lebih awal sampai di tujuan.”

Nabi Muhammad melanjutkan, “Ali, engkau adalah seorang Pemberani yang bernyali. Kendati demikian, jangan terlalu percaya pada ‘nyali’. Turutilah nasihat seorang Pemandu yang bisa menemanimu dalam perjalanan ini. Turuti nasihat seorang Pemandu, sebagaimana Musa menuruti nasihat Khidir.

“Jangan menyangsikan kebijakannya, seperti Musa menyangsikan kebijakan Khidir. Jangan sampai Pemandumu meninggalkan kamu, seperti Musa ditinggalkan oleh Khidir.”

“Tangan seorang Pir bagaikan Tangan Tuhan. Jangan meragukan hal ini. Jangan kira ada yang pernah sampai di tujuan tanpa bantuan para Pir. Kalaupun ada yang berjalan sendiri dan sampai di tujuan, hal itu disebabkan oleh doa para Pir yang senantiasa melindungi dirinya.”

Para Pir para Wali, para Nabi—apa pun sebutannya—adalah wakil Keberadaan di atas bumi, seperti para Duta Besar yang mewakili negerinya. Dia berperan sebagai penghubung antara negeri yang mengut us dan negeri di mana dia ditempatkan.

Setelah menyelesaikan masa baktinya, seorang Duta Besar akan pulang ke negerinya, dan digantikan oleh Duta Besar yang baru. Demikian, berjalan terus. Kecuali, terjadi konflik dan pemutusan hubungan  diplomatik.

Untungnya, Tuhan tidak pemah memutuskan “hubungan” dengan dunia kita.  Itu sebabnya, dari jaman ke jaman, ada saja utusan yang Dia kirimkan. Jika anda alergi terhadap istilah “nabi” dan hanya ingin menggunakan untuk pribadi-pribadi tertentu, tidak apa. Gunakan istilah “wali”, “pir”, “pemandu”, “pelayan”, “petugas”—apa saja! Tidak menjadi soal.

Negara-Negara Persemakmuran (The Commonwealth Countries), bekas jajahan Inggris tidak mengenal istilah “Duta Besar” di antara mereka. Mereka menggunakan istilah “High Commissioner”. Tidak menjadi soal. High Commissioner atau Ambassa dor  atau Duta Besar atau apa saja, ketahuilah bahwa yang mereka wakili, satu dan sama.

Sering kali, seorang Duta Besar tidak akan turun tangan sendiri untuk memberi informasi tentang negerinya. Dia akan menggunakan media cetak dan media elektronik untuk menyampaikan berbagai informasi. Lalu berkat informasi yang dia sampaikan itu, anda tertarik untuk mengunjungi negerinya. Langsung membeli tiket dan jalan sendiri.

Tampaknya, anda tidak menggunakan jasa kedutaan. Apalagi kalau negeri itu tidak mengharuskan anda memiliki visa. Tetapi, sesungguhnya ketertarikan anda terhadap negeri itu sudah membuktikan adanya “tangan” Sang Duta Besar yang sedang bekerja di balik layar.

Jadi kalau anda berjalan sendiri dan sampai di tujuan dengan selamat, itu pun berkat bantuan para Pir. Demikian menurut Rumi……..

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Obsesi Diti: Melahirkan Putra Pembunuh Indra #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on April 19, 2017 by triwidodo

Sri Ramakrishna Paramhansa selalu mengingatkan kita supaya berhati-hati dengan kamini dan kanchan. Ini adalah sebuah pepatah kuno. Kamini berarti “apa saja yang menggairahkan”, sekarang sering diterjemahkan sebagai wanita. Dan kanchan berarti “sesuatu yang menyilaukan”. Persis seperti kamini, kanchan pun sekarang sering disalahartikan sebagai “uang” dan “emas”. Padahal maksudnya bukan uang atau emas saja.

Nasihat Sri Ramakrishna Paramhansa, berhati-hatilah terhadap segala sesuatu yang “menggairahkan” dan “menyilaukan”, mesti dipahami secara bijak. Segala sesuatu yang memicu kegairahan di dalam diri saya adalah kamini bagi saya. Dan segala sesuatu yang membuat saya menjadi angkuh, arogan, sombong adalah kanchan bagi saya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Rishi Kasyapa mempunyai beberapa istri, dan pada suatu saat istrinya yang sangat jelita Diti selalu melayaninya dengan baik. Apa pun yang diinginkannya dipenuhi dengan penuh kasih. Terketuklah hati sang rishi. Dan, lupalah sang rishi bahwa dia harus berhati-hati dengan apa yang menggairahkan baginya. Begitu tersentuhnya hati sang rishi sampai suatu saat mengatakan kepada Diti bahwa apa pun yang diminta Diti akan dipenuhinya. Pada saat Diti minta kepadanya, dia kaget karena Diti memohon agar anak yang akan dilahirkannya kelak tidak bisa mati, seperti para dewa dan menjadi pembunuh Dewa Indra, sang kemenakannya yang menjadi raja para dewa.

Diti dan Aditi adalah 2 putri dari 13 putri Daksha yang kawin dengan Rishi Kasyapa. Diti menurunkan para pemimpin asura, sedangkan Aditi menurunkan para dewa. Ada saatnya Diti sangat sedih saat melihat banyaknya para asura yang dibunuh oleh Indra dan para dewa, sehingga dia dendam kepada Indra. Diti memiliki obsesi agar dapat menurunkan putra yang dapat membunuh Indra.

Selanjutnya Diti selalu bertindak menyenangkan hati Rishi Kasyapa, sehingga pada suatu hari Kasyapa berjanji akan memenuhi apa pun yang diminta oleh Diti. Diti kemudian menyampaikan keinginan untuk mempunyai putra yang tidak mati seperti para dewa dan dapat membunuh Indra. Rishi Kasyapa kalah janji, dan bagaimana pun dia tetap akan memenuhi janjinya.

Sadhana Diti untuk mencapai tujuan

Mantra adalah upaya untuk membangunkan, membangkitkan Inner Feeling, Rasa Terdalam, Bhaava, Bhaavanaa….

Kenapa pikiran dan perasaan mesti melayangkan “undangan mantra” kepada rasa terdalam dan menyerahkan kekuasaan, jika tidak ada keuntungannya bagi mereka? Para resi menjelaskan, menjawab pertanyaan itu secara tegas dan jelas sekali, “Ada.” Ada keuntungannya bagi pikiran dan perasaan. Kehadiran rasa terdalam sangat menguntungkan. Jika Anda menjadi pemilik saham maka sky is the limit. Anda berhak dan berkuasa untuk ikut merencanakan pengembangan lanjutan sesuai dengan visi Anda. Anda punya hak suara…………

Mantra adalah alat yang mesti di-“guna”-kan, dipakai – jika tidak digunakan, tidak dipakai, tidak ada upaya dari diri kita sendiri untuk memanfaatkannya – maka ia menjadi mubazir. Tidak berguna sama sekali. Setiap orang mesti menggunakannya sendiri tidak bisa diwakilkan oleh orang lain untuk memperoleh manfaat darinya.  Kita tidak bisa membayar seorang pendeta, rahib, atau ulama untuk melakukan pengulangan mantra demi kita. Kita mesti melakukannya sendiri……….. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern. Azka)

 

Rishi Kasyapa menyesal, janjinya kepada Diti ternyata membuat masalah besar dan dia menjadi semakin terikat dengan dunia, karena harus mempertanggungjawabkan tindakannya. Rishi Kasyapa memilihkan mantra yang harus dilakukan bersama sadhana yang berat bagi Diti agar obsesinya tercapai.

Rishi Kasyapa berkata, “kuberikan mantra yang harus dilakukan bersama dengan tapa brata selama 1 tahun. Bila kau berhasil, kau akan memperoleh putra yang dapat membunuh Indra. Akan tetapi bila kau gagal, maka putramu akan menjadi sahabat Indra. Syarat yang harus dilakoni Diti antara lain: tidak melakukan kekerasan kepada makhluk lain; tidak mengutuk; tidak berdusta; tidak memotong kuku dan rambut; tidak menyentuh tulang dan tegkorak; ketika mandi tidak berendam; tidak marah; tidak mengenakan baju yang tidak dicuci bersih; tidak memakai karangan bungan yang pernah dipakai sebelumnya; saat makan tidak menyisakan makanan; tidak makan prasadam bagi Kali (tidak makan daging); setelah makan tidak pergi keluar sebelum membersihkan mulut, tangan dan kaki; dan masih banyak sekali syarat-syarat lainnya………”

Tidak lama kemudian Diti hamil. Dan, luar biasa…….. Diti sangat teguh dengan sadhana-nya: melakukan tapa brata dan membaca mantra hari demi hari dengan sempurna.

Adalah Indra mengetahui kemarahan Diti dan dia juga tahu bahwa Diti sedang melakukan tapa brata yang keras untuk melahirkan putra yang dapat membunuhnya. Indra adalah seorang dewa, akan tetapi dia tetap merasakan ketakutan menghadapi ancaman kematian. Selanjutnya, setiap hari Indra datang membawa buah-buahan, bunga dan rumput persembahan dan diberikannya pada Diti, sang bibi. Bahkan Indra selalu membawakan air suci untuk keperluan ritual Diti. Kewanitaan Diti tersentuh oleh perhatian Indra, sang kemenakannya. Tanpa terasa kemarahan Diti terhadap Indra sudah jauh berkurang. Indra sendiri selama hampir setahun mulai paham kesusahan seorang ibu, kala anaknya dibunuh olehnya.

Pada suatu hari, Diti sangat kelelahan, karena dalam keadaan hamil dan bertapa brata dengan keras selama berbulan-bulan. Diti tertidur sebelum mandi dan lupa melakukan salah satu ritual.

Indra segera memanfaatkan kelalaian ini, dengan kemampuannya dia segera masuk ke dalam kandungan Diti. Indra melihat calon bayi yang bersinar keemasan. Kemudian Indra mengambil vajranya dan memotongnya menjadi tujuh bagian. Potongan-potongan mulai berteriak dan Indra berkata, “Ma Ruda”, jangan menangis. Kemudian masing-masing potongan tersebut dipotongnya masing-masing tujuh bagian. Semua potongan berubah menjadi bayi kecil yang berkata, “Indra! Mengapa kamu melakukan hal ini, bukankah kami adalah saudara-saudaramu. Kami semua selama berada dalam kandungan makan sari makanan dari buah-buahan yang kau berikan kepada ibuku. Sebagian air suci yang diminum ibuku yang diperoleh darimu telah menjadi bagian dari tubuh kami.”

Indra menjawab, “Jangan takut saudara-saudaraku, aku melakukan ini agar kalian menjadi saudara-saudaraku. Kalian akan menjadi satu denganku. Kalian bukan Daitya, asura, akan tetapi kalian akan tinggal di istana para dewa dan kalian akan disebut Marut.”

 

Perubahan karakter Diti akibat Mantra

Bahasa Sanskerta itu bukan bahasa lisan tetapi bahasa program. Bahasa yang dibuat untuk berhubungan dengan dewa. Dalam hal ini dewa bukan makhluk abadi akan tetapi frekuensi yang lebih tinggi. Semuanya frekuensi lebih tinggi disebut dewa. Dan masing-masing frekuensi ada namanya. Kadang kita menyebut sebagai makhluk surgawi, tetapi ini adalah nama-nama dari frekuensi yang lebih tinggi.

Ketika mengucapkan kata dengan bahasa Sanskerta, setiap huruf dalam bahasa Sanskerta terhubung dengan frekuensi yang lebih tinggi. Ke otak, kata tersebut terhubung dengan beberapa bagian dari otak kita. Setiap huruf tertentu merangsang bagian tertentu dari otak kita. Setiap kata yang diucapkan dalam mulut kita dengan totalitas, otak kita dirangsang dan saat otak dirangsang maka seluruh tubuh juga dirangsang. Untuk membaca mantra tidak perlu belajar Sanskerta, cukup membaca mantra dasar misalnya gayatri mantra. Sumber: terjemahan bebas dari conversation Anand Krishna and Kali Ma in meditation, Spreaker

 

Laku sadhana Diti melakukan laku suci dan membaca mantra secara repetitif-intensif hampir satu tahun menampakkan hasilnya. Bayi dalam kandungannya tidak bisa mati, walau dipotong dengan vajra. Laku sadhana tersebut juga membuat Diti menjadi lebih bijak dan emosinya terkendali. Diti mulai bisa menerima peristiwa apa pun yang dihadapinya. Demikianlah kebijaksanaan Rishi Kasyapa untuk membawa Diti ke jalan suci.

Diti bangun dari tidur dan menemukan bahwa anak-anaknya telah dilahirkan. Mereka bersinar keemasan dan berada di sisi Indra. Diti berkata, “Indra , aku tengah melakukan tapa brata yang keras untuk mendapatkan putra yang dapat membunuh kamu. Bagaimana bisa aku mempunyai 49 putra? Sampaikan apa yang telah terjadi?”

Indra berkata, “Ampuni aku bibi. Dengan keinginan melindungi diri dari kemarahanmu, aku masuk ke dalam kandunganmu dan mencoba membunuh anak yang akan lahir. Akan tetapi, walaupun dipotong-potong oleh vajraku, anak itu tidak mati, bahkan setiap potongan menjadi anak tersendiri. Aku melakukan hal ini hanya terdorong naluri untuk mempertahankan kehidupanku. Para putramu hidup dan aku tidak bisa membunuh mereka, mereka tidak bisa mati.”

Kemarahan Diti terhadap Indra sudah menguap dan dia berkata, “Adalah takdir yang menjadikan aku lengah dalam menjalankan tapa brataku. Aku sangat hati-hati, melakukan dengan penuh keseksamaan, akan tetapi hari ini aku melakukan kesalahan. Itu juga bukan kecerobohanku, hanyalah maya Narayana yang menyebabkan itu terjadi. Anak-anakku telah diberi keabadian oleh mantra pemberian suamiku, itulah sebabnya vajra-mu tidak berdaya. Sekarang kamu sudah selamat dan aku juga beruntung bahwa anak-anakku tidak bisa mati.”

 

Indra masih menunggu lanjutan kata-kata Diti dengan penuh kecemasan, dia takut apabila Diti mengeluarkan kutukan bagi dirinya. Kutukan dari seorang wanita yang baik justru lebih berbahaya dari kematian. Indra sangat cemas, karena tidak tahu apa yang terjadi dalam diri bibinya.

Dalam ketidaktahuan tentang misteri kehidupan, Indra menjadi sadar bahwa selama ini dia tidak pernah peduli dengan kematian para asura. Apakah ini juga merupakan peran yang diberikan-Nya kepada dirinya? Indra juga tidak tahu setelah tugas dia berakhir dia akan menjadi apa, dia tahu dia hidup hanya untuk satu manvantara yang berarti satu zaman dengan salah satu Manu dan kemudian akan digantikan oleh Indra lainnya.

Diti kemudian melanjutkan perkataannya, “Semua kehendak Gusti Pangeran tidak pernah dapat digagalkan. Ambillah para putraku bersamamu dan mereka akan menjadi saudara-saudaramu. Kamu adalah seorang dewa dan mereka juga akan menjadi dewa, walau mereka keturunan Diti.”

Indra dan para Marut lega mendengar akhir dari skenario Narayana. Mereka semua melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya, meninggalkan kehendak pribadi mereka.

Kesempatan Bertobat pun Ada Masa Kadaluarsanya, Jangan Terlewatkan! #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on April 17, 2017 by triwidodo

Onta betina milik Salih sering minum air dari mata air yang dimiliki oleh warga Thamud. Mereka berang dan gusar, padahal air yang diminumnya adalah pemberian Allah. Pada suatu hari mereka membunuh onta itu.

Salih ibarat seorang nabi, seorang wali. Onta dia adalah badannya. Jika badan terbunuh, jiwa tidak ikut mati. Seorang nabi, seorang wali tidak pernah menderita. Yang bisa menderita hanyalah badan mereka. Seperti tiram, jika terbentur dengan batu karang, mutiara di dalamnya tetap aman.

 

Tetapi setiap sebab membawa akibat. Anda tidak bisa menghindarinya. Mereka yang tidak mengetahui hukum ini akan bicara tentang ganjaran dan hukuman, padahal ganjaran dan hukuman hanyalah manifestasi luanran dari hukum sebab-akibat.

Salih tahu persis tentang hukum sebab-akibat. Dan dia memberitahu kepada para warga Thamud:

 

Kalian akan mendapatkan musibah. Sebagai pertanda, dalam tiga hari mendatang wajah kalian akan berubah warna. Hari pertama, wajah kalian akan menjadi kuning. Hari kedua, merah. Dan hari ketiga, hitam.”

“Untuk menghindarinya hanya ada satu jalan. Anak onta betina yang kalian bunuh telah Iari ke pegunungan. Cobalah mencari dia dan membawanya kembali. Jika berhasil, kalian akan terhindari dari musibah.”

Dikisahkan bahwa tak seorang pun berhasil menangkap dan membawa kembali anak onta.

 

Menangkap dan membawa kembali anak onta berarti  “bertobat”. Dan “bertobat” jangan diartikan sebagai pengakuan dosa, tetapi sebagai tekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Lewat kisah ini, Rumi ingin menjelaskan bahwa untuk “bertobat” pun ada masanya, ada kalanya. Jika terlewatkan, bertobat seberapa pun tidak akan membantu. Seperti belokan “U-Turn” di Jalan Raya. Kalau sudah terlewat, harus mengambil “U-Turn” berikutnya.

Untuk bisa membelok, untuk bisa bertobat pun anda membutuhkan kesadaran. Sambil mengemudi kendaraan hidup ini, waspadalah selalu. Boleh mendengarkan musik, boleh bicara dengan teman yang duduk di sebelah, boleh memikirkan sesuatu, tetapi jangan sampai melupakan tujuan. Jangan sampai melewati belokan. Kalau terlewati, ya terpaksa jalan terus sampai menemukan belokan berikut.

Apa yang dikatakan oleh Salih menjadi kenyataan. Pada hari ketiga datanglah bencana yang membumihanguskan rumah dan harta para  warga Thamud.

Mereka menyadari kesalahan diri dan memohon pengampunan serta perlindungan dari Allah. Menyaksikan penderitaan mereka, Salih merasa kasihan. Dia mendatangi dan menghibur mereka:

“Melihat penderitaan kalian, saya berdoa dan mendengarkan suara Allah, ‘Jadilah penghibur bagi mereka yang sedang menderita.’”

“Saya menjawab Allah, ‘Hiburan harus berasal dari cinta kasih dan kegirangan hati. Sementara ini, hatiku masih penuh dengan luka pemberian mereka.”

“Maha Besar Allah, Maha Suci Allah… Dia menanggapi keluhan saya, ‘Saya akan mengobati luka-lukarnu. Dengan cinta kasih dan kegirangan hati, pergilah untuk menghibur mereka.”

“Itulah sebab aku berada di tengah kalian. Sebelumnya, pikiranku memang sempat berontak, ‘Apa gunanya menghibur mereka yang telah melukai harimu?”

“Setelah luka-lukaku diobati Allah, maka sekarang tidak ada pemberontakan lagi. Aku datang ke sini untuk menghibur kalian. Untuk memberitahu bahwa di balik setiap kejadian ada hikmahnya. Belajarlah dari kesalahan-kesalahan masa lalu, sehingga tidak mengulanginya lagi di masa-masa menclatang.

“Sering kali racun juga bisa menjadi obat. Malapetaka dan musibah yang menimpa kalian harus kalian anggap sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit jiwa yang kalian derita selama ini.”

 

Penyakit keangkuhan, penyakit keterikatan, penyakit keserakahan—sekian banyak virus ketidaksadaran tengah menggerogoti jiwa kita. Malapetaka dan musibah bagaikan racun untuk mematikan kawanan virus tersebut. Maha Besar Allah, Maha Suci Allah!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Kutukan Sati Istri Mahadeva: Alur Kisah Seorang Panembah #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on April 15, 2017 by triwidodo

Kesadaran Jiwa Raja Citraketu

Apa yang terjadi, perubahan yang terjadi pada badanku, pikiran serta perasaanku, status sosial serta ekonomi – semuanya tidak serta-merta mengubah-“ku”. Ketika kau menyadari hal itu, maka kau terbebaskan dari belenggu “aku” yang kecil dan bersifat individual. Kau berhadapan dengan Sang Aku Sejati, Aatmaa. Ketika “aku” menyadari hal itu, maka “aku” pun terbebaskan dari belenggu – dan pada saat itu juga Sang Aku Sejati “terungkap” dengan sendirinya! Wow, setiap orang yang terbebaskan dari individualitas – menemukan Sang Aku yang satu dan sama. Luar biasa! Maka, para rsi merumuskan: “Itulah Kebenaran Hakiki”. Itulah Satya, Al Haqq. (Krishna, Anand. (2007). Panca Aksara, Membangkitkan Keagamaan Dalam Diri Manusia. Jakarta: Pustaka Bali Post)

 

Karena berkah Gusti Pangeran yang mendatangkan Rishi Angirasa menemui Raja Citraketu, obsesi sang raja untuk memperoleh putra tercapai. Kematian sang putra meluluh-lantakkan kebahagiaan sang raja. Kedatangan Rishi Narada bersama Rishi Angirasa menemui sang raja yang tenggelam dalam kesedihan, dan kemudian menghidupkan sang putra menjadi pemicu pencerahan sang raja. Sang raja menjadi paham bahwa dirinya adalah percikan Gusti, kebahagiaan duniawi tidak ada yang abadi.

Setelah mendengar nasihat mendiang sang putra, terjadi loncatan kesadaran dalam diri sang raja. selanjutnya pembacaan mantra pemberian Rishi Narada dan pertemuan dengan Adisesa membuat sang raja mencapai Kesadaran Jiwa. Dia hanya menjalani sisa hidupnya dengan penuh kesadaran sampai maut datang menjemput. Apakah maut langsung menjemput? Apakah ada peristiwa besar yang dapat dicatat dan dikisahkan dalam buku Srimad Bhagavatam, yang membuat para bhakta, para panembah semakin cinta pada Sang Gusti?

 

Kutukan Sati istri Mahadeva kepada sang raja

Bagi saya, istilah “kutuk” ini memiliki beberapa sisi. Kutukan manusia bisa mencelakan,  bisa juga tidak. Seseorang mengharapkan agar saya celaka. Kebetulan saja, jika saya mendapatkan musihah, saya akan berpikir, “Sialan, saya ini kena kutukan dia.” Jika tidak terjadi sesuatu, kutukan yang  sama akan saya anggap enteng, “Kutukan tinggal kutukan. Semuanya di tangan Tuhan.  Buktinya, nggak kena kan?!”

Berarti, kutukan manusia “tidak berarti” sama sekali. Bisa kena, bisa tidak. Kalau “kena” pun belum tentu “kena” — karena bisa saja kebetulan. Sebaliknya, kalau “tidak kena” juga belum tentu “tidak kena” karena bisa saja “belum kena”!

Di lain pihak, “kutukan” Allah tidak bisa  disamakan dengan “kutukan” manusia. Bila  Allah “hendak” mencelakakan, tanpa kutukan pun, bisa celaka. Untuk apa “mengutuk”? Adakah seorang ibu yang mengutuk anaknya? Setidaknya, saya tidak pernah mendengar satu pun kejadian seperti itu. Adakah orangtua yang mengharapkan  agar anaknya celaka? Sepertinya helum ada kasus seperti itu. Lalu, jika mereka yang menjadi “perantara” bagi kelahiran saya tidak bisa melakukan hal seperti itu, apalagi Allah yang menyebabkan terjadinya kelahiran!

Istilah “Kutukan Allah” harus diartikan kembali. Kutukan Allah adalah “upaya” Allah untuk mengembalikan kita pada jalan yang lurus. Kutukan Allah bagaikan teguran bagi kita yang tersesat. Kutukan Allah adalah pertanda Kasih serta Kepeduliannya terhadap kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Pada suatu ketika Raja Citraketu naik kereta pemberian Narayana lewat gunung Kailasa tempat tinggal Mahadeva, dia melihat Mahadeva yang bersinar sedang memangku istrinya dikelilingi oleh para rishi dan semua pengikutnya.

Raja Citraketu berkata, “Ini merupakan suatu kejutan, Mahadeva yang dijunjung tinggi  manusia karena kebijaksanaannya sedang bercinta dengan isterinya di muka umum.”

Sang Mahadeva hanya tersenyum mendengar perkataan sang raja. Tak seorang pun dari tamu dan muridnya yang berbicara.

Tetapi Sati, istrinya tidak bisa menerima kekasaran tamunya dan menggerutu, “Manusia ini merasa sangat besar, menguasai Brahmavidya, pengetahuan keilahian, dan sedang berpikir untuk memberikan pelajaran etika kepada orang seperti kami.” Sati melanjutkan dengan perkataan lebih keras, “Kamu menganggap semua yang hadir di sini, termasuk Rishi Narada, Rishi Brigu bodoh dan tidak mengetahui etika. Kukutuk kamu agar lahir sebagai asura karena keangkuhanmu.”

 

Menerima apa pun peran yang diberikan Gusti Pangeran

Lampaui dualitas; berperilaku mulia; menyembah Sang Jiwa Agung dengan segenap Jiwa dan raga; dan, keluar dari siklus kelahiran dan kematian. Inilah roadmap untuk mencapai moksa, nirvana — Kebebasan Mutlak! Penjelasan Bhagavad Gita 7:28 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Ia akan menjalankan sisa masa kehidupannya – selama batere kehidupannya masih tersisa – sebagai Jivana-Mukta, seorang yang telah mencapai moksa – kebebasan mutlak selagi masih hidup. Ia hidup di tengah kita sebagaai mercusuar, untuk menunjukkan jalan kepada setiap orang yang masih tersesat di tengah lautan samsara, lautan kehidupan. Penjelasan Bhagavad Gita 7:19 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Raja Citraketu turun dari kereta dan bersimpuh di depan Sati dengan segala kerendahan hati. “Bunda Dunia, aku menerima kutukanmu. Apa yang ditetapkan para dewa, apa yang diucapkan sebagai kutukan, pada kenyataannya adalah sebagai akibat dari perbuatan diri pada masa yang  lalu. Manusia terperangkap dalam maya, dan tidak mengetahui bagaimana melepaskan diri dari jeratan kelahiran dan kematian yang tak berkesudahan. Jiwa menjauhi putaran ini. Paramatma menciptakan makhluk bersama mayanya. Ia yang memberi keterikatan, Ia pula yang membebaskan dari keterikatan. Ia tidak pernah terlibat. Ia tak pernah mencintai atau membenci orang. Ia tak punya saudara atau teman. Segalanya nampak mirip baginya. Rasa kebalikannya juga tak ada. Dia berada di luar dualitas. Bagaimana mungkin suatu kemarahan menemukan suatu tempat di dalam-Nya? Tidak Bunda, aku tidak marah karena Bunda mengutuk aku. Tidak juga aku minta Bunda menarik kutukan. Jika kata-kataku menyakiti hatimu aku mohon maaf.”

Setelah memberikan penghormatan, Raja Citraketu melanjutkan perjalanan dengan senyuman di wajahnya. Semua yang hadir masih ternganga oleh kata-kata sang raja. Mahadeva membalas senyuman dan berkata pelan kepada sang dewi, “Sekarang apakah kau tidak melihat keagungan seorang bhakta Narayana? Tidak ada apa pun yang akan memengaruhi dia. Surga, neraka, kutukan, berkat semua sama bagi bhakta Narayana.”

“Lihatlah, keadaan menjadi sangat hening. Semua yang hadir sedang menahan napas, angin pun menahan diri untuk tidak bertiup, matahari tetap bersembunyi di balik awan, induk burung pun menunda terbang menikmati tindakan agung salah seorang makhluknya.”

Mahadeva melanjutkan, “Ia akan menemukan kedamaian di mana saja. Lihatlah kedamaian pada wajah Raja Citraketu yang telah kauhukum. Dia bisa saja membalas kutukanmu tetapi hal tersebut tidak dia lakukan.” Kemarahan sang dewi pun berkurang.

Silakan baca ulang bagaimana Raja Citraketu bisa mencapai Pencerahan pada Tautan:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/04/11/kematian-orang-tercinta-sebagai-pemicu-pencerahan-srimadbhagavatam/

 

Lahir sebagai asura, Vrtrasura

Umumnya, Tidak Ada Devolusi, yang ada hanyalah evolusi. Manusia tidak akan lahir kembali sebagai binatang. Tetapi, ya, ada saja pengecualian. Dalam keadaan tertentu, seseorang yang telah mencapai kesadaran cukup tinggi bisa memilih untuk lahir kembali sebagai binatang—hanya demi mempelajari suatu mata pelajaran tertentu.

Barangkali mata pelajaran tentang compassion, tentang bagaimana menyayangi sesama, bagaimana merendahkan diri dan tidak angkuh, dengan memilih wujud hewan. Sebab, sebagai hewan ia bisa belajar dalam waktu singkat. Ia tidak perlu menghabiskan waktu panjang. Sebagai hewan, cukup bila ia hidup 6—7 tahun, sebagai manusia bisa 70-80 tahun.

Sekali lagi, ini merupakan pengecualian. Justru terjadi, bisa terjadi pada 0rang-orang yang sudah berkesadaran. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Umumnya tidak ada devolusi, akan tetapi seorang raja bijak bisa lahir kembali sebagai asura sesuai peran yang diberikan Gusti Pangeran. Sebagai asura pun hanya sebentar, maju perang dan mati guna meninggalkan pesan serta kisah yang menggugah para dewa, para asura serta para pembaca Srimad Bhagavatam. Inikah rencana Sang Gusti Pangeran?

Karena kutukan Sati, Raja Citraketu dilahirkan kembali pada saat Tvasta mengadakan upacara persembahan untuk membalas Indra yang telah membunuh Visvarupa, putranya. Raja Citraketu lahir sebagai Vrtrasura yang memimpin para asura berperang melawan Indra yang memimpin para dewa.