Sufi Pengembara yang Lengah dalam Memilih Teman #Masnawi

Seorang Sufi Pengembara bersinggah di salah satu tempat peristirahatan yang diperuntukkan bagi para sufi. Sebelumnya, di tempat itu sudah ada beberapa sufi lain yang amat sangat miskin.

Begitu miskinnya mereka, sehingga begitu melihat keledai milik Si Pengembara mereka langsung membuat rencana untuk menjualnya. Bahkan, masih sempat-sempatnya mereka mencari pembenaran dari pepatah para pujangga, yaitu “Dalam keadaan lapar dan tidak ada pilihan lain, bangkai pun dapat dimakan.” Kedatangan Si Pengembara mereka anggap sebagai berkah dari Allah.

Begitulah, setelah Si Pengembara meninggalkan keledainya dalam kandang, mereka langsung membawanya keluar dan menjualnya. Lalu, dengan uang yang mereka peroleh mereka membeli makanan dan barang-barang kebutuhan lainnya.

Sepanjang malam mereka berpesta, berdansa. Si Pengembara pun bergabung dengan mereka. Dia tidak tahu kalau keledainya sudah terjual. Dia juga tidak sadar bahwa para sufi yang dia datangi masih “lapar”. Mereka masih belum mencicipi “Kasih Allah”, sehingga perut mereka masih kosong. Dan mereka masih membutuhkan “makanan duniawi”.

Salah seorang di antara mereka mulai menyanyi, “Keledainya sudah tidak ada, keledainya sudah tidak ada………”

Rasa girang mereka memang disebabkan oleh “terjualnya keledai milik pengembara”, sehingga malam itu mereka bisa berpesta.

Si Pengembara yang masih juga belum sadar bahwa yang sedang dinyanyikan adalah “keledainya” malah ikut menyanyi, “Keledainya sudah tidak ada, keledainya sudah tidak ada…….”

Pesta mereka berlangsung sampai larut malam. Keleahan, akhirnya mereka berbaring dan tertidur. Esoknya, para sufi yang menjual keledai Si Pengembara bangun lebih pagi dan dengan diam-diam meninggalkan tempat perisrirahatan itu.

Ketika Si Pengembara terjaga, dia kaget melihat tempat peristirahatan sudah kosong. Sunyi, sepi. Tidak ada orang lain, kecuali dirinya dan seorang petugas. Lebih kaget lagi, ketika dia menemukan kandang yang kosong — keledainya raib!

“Apa yang terjadi dengan keledaiku? Bukankah engkau petugas yang bertanggung jawab atas tempat ini?”

“Lho, koq aneh? Bukankah engkau yang menyuruh mereka untuk menjualnya?”

“Menjualnya? Keledaiku dijual?”

“Ya…”

“Dan engkau membiarkan mereka menjual keledaiku? Kenapa engkau tidak memberitahuku?”

“Aku memang ingin memberitahu, tetapi begitu memasuki aula pertemuan, aku mendengar nyanyian kalian, ‘Keledainya sudah tidak ada, keledainya sudah tidak ada.’ Engkau pun ikut menyanyi bersama mereka. Aku pikir, engkau mengizinkan mereka untuk menjualnya.”

Mau bilang apa? Si Sufi Pengembara itu baru menyadari kesalahannya. Karena ikut-ikutan menyanyi, tanpa memahami apa yang mereka nyanyikan, dia kehilangan keledai.

 

Sufi Pengembara dalam kisah ini adalah seseorang yang sudah sadar. “Keledai Pikiran”-nya terkendali. Dia mengandangkannya sendiri. No problem whatsoever! Lalu salah dia apa? Salah dia hanya satu—dia bersahabat dengan para munafik bertopeng sufi.

Dan orang-orang munafik ini amat sangat pandai, licik. Mereka bisa mengutip ayat-ayat suci untuk membenarkan kemunafikan mereka. Mereka hanya berkedok sufi, berkedok darvish. Mereka tidak tahu apa arti “darvish”.

“Darvish” berarti “dia yang sedang mencari ‘dar’ atau pintu”. Seorang pencari pintu—itulah darvish. Pintu yang mereka cari bukanlah pintu biasa; bukanlah pintu rumah anda dan rumah saya; bukanlah pintu rumah petinggi negara dan konglomerat. Pintu yang mereka cari adalah Pintu Bait Allah!

Dan Bait Allah yang sedang mereka cari bukanlah bangunan yang terbuat dari semen dan hatu. Bait Allah yang rnereka cari terbuat dari Cahaya Murni. Bait Allah yang mereka cari tidak berada di luar diri, tetapi di dalam diril Lewat “Pintu Rasa”, lewat “Pintu Kasih” mereka memasuki Bait Allah di dalam diri.

 

Seorang darvish menari dan menyanyi, karena telah menemukan Bait Allah di dalam dirinya. Dia tidak akan menari dan menyanyi karena “keledai pikiran”-nya terjual dan bisa menghasilkan uang untuk urusan perut.

Sufi Pengembara dalam kisah ini sesungguhnya seorang darvish. Kendati demikian, dia pun rnasih bisa kecolongan. Kenapa? Karena, dia bersahabat dengan para munafik; dengan mereka yang berkedok darvish, bertopeng sufi.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: