Rishi Dadhici: Pengorbanan Nyawa demi Penegakan Dharma #SrimadBhagavatam

Pencerahan menuntut pengorbanan; “aku” yang kecil ini harus melebur, menyatu dengan “Aku” Semesta. Niat kita, hasrat kita, kesiapan diri kita merupakan modal utama. Apabila Anda siap terjun ke dalam api penyucian, Ia Yang Maha Esa akan mempersiapkan api itu bagi Anda. Apabila Anda siap meleburkan ego Anda, Ia Yang Maha Kuasa pun siap untuk menerima Anda. Allah, Tuhan, Widhi menggunakan berbagai cara untuk menguji kesiapan diri Anda.

Semesta ini bagaikan universitas terbuka, di mana Anda sedang menjalani program, sedang mempelajari seni kehidupan. Bukan hanya mereka yang menyenangkan hati Anda, tetapi juga mereka yang melukai jiwa Anda, yang mencaci Anda, yang memaki Anda, sebenarnya diutus oleh Kebenaran untuk menguji kesiapan diri Anda.

Pasangan Anda, istri Anda, suami Anda, orang tua dan anak dan cucu Anda, atasan dan bawahan Anda, mereka semua adalah dosen-dosen pengajar. Mereka yang melacurkan diri demi kepingan emas dan mereka yang melacurkan jiwa demi ketenaran dan kedudukan, mereka semua adalah guru Anda. Anjing jalanan dan cacing-cacing di got, lembah yang dalam, bukit yang tinggi dan lautan yang luas, semuanya sedang mengajarkan sesuatu. (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Petunjuk Narayana

Gusti Pangeran memberi jalan kepada para bhaktanya yang sedang menderita dan memohon pertolongan-Nya. Narayana minta para dewa mendatangi Rishi Dadhici, untuk minta tulang sang rishi sebagai senjata untuk mengalahkan Vrtrasura. Dalam kisah yang lalu kita tahu bahwa Vrtrasura tak dapat dibunuh oleh senjata logam atau kayu, sehingga penegakan dharma berada dalam keadaan kritis.

Rishi Dadhici adalah putra Rishi Atharvana dengan istri Chitti, putri dari Kardama. Rishi Dadhici telah mengajarkan Brahmavidya kepada Dewa Asvin kembar, sehingga sang rishi memperoleh anugerah hidup keabadian pemberian Dewa Asvin kembar. Rishi Dadhici-lah yang telah mengajarkan mantra baju pelindung besi “Narayana Kavacha” kepada Tvasta. Tvasta kemudian memberikan kepada Visvarupa dan Visvarupa memberikan kepada Indra. Rishi Dadhici sangat kuat bertapa dan selalu membaca mantra kavacha, sehingga tulangnya menjadi sangat kuat. Rishi Dadhici sangat menghormati Shiva, sehingga ketika dia tahu Shiva tidak diundang dalam upacara persembahan oleh Daksha, dia adalah rishi pertama yang menolak undangan Daksha. Narayana memberi nasihat kepada para dewa agar minta sang rishi merelakan tulangnya dijadikan senjata Indra untuk melawan Vrtrasura.

Adab yang berlaku dalam memohon sesuatu kepada seseorang adalah menjelaskan permasalahan yang dihadapi dan mohon bantuan. Selanjutnya orang yang dimintai bantuan akan menjelaskan masalah yang dihadapinya apabila memberikan bantuan tersebut. Dengan demikian maka mereka dapat memahami kondisi masing-masing dan mencoba mencari solusi bersama.

 

Dilema Rishi Dadhici

Win-win berarti kau menang, aku pun ikut menang. Prinsip pengorbanan lebih hebat daripada win-win, karena untuk memenangkan, kamu tak apa bila kau mesti berkorban. Semangat dan kerelaan untuk berkorban adalah penting. Walau semangat itu sendiri sudah cukup untuk memastikan bahwa pihak yang berkorban pun tidak pernah merugi, tidak pernah kalah. Pengorbanan itu sendiri adalah kemenangan. Ia berhasil menguasai nafsunya yang selalu ingin menang sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Para dewa bersimpuh di hadapan Rishi Dadhici, “Paduka Rishi adalah manusia agung penuh rasa kasih kepada mereka yang sedang menderita. Hanya jika seseorang tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri maka dia akan mohon bantuan. Kami sadar bahwa permohonan kami tidak pantas dan terasa sangat kejam, tetapi  menurut Gusti Pangeran Narayana, hanya hal ini yang dapat menyelamatkan para dewa.”

Rishi Dadhici segera menutup mata, larut dalam keheningan, dan beberapa saat kemudian menghela napas panjang, “Kematian adalah hal yang paling tidak disukai, bahkan bagi manusia yang paling tenang sekalipun. Sekalipun Gusti Pangeran Narayana sendiri yang memintanya, manusia mengalami kesulitan untuk menyerahkannya. Apalagi bagiku yang telah menerima anugerah keabadian.”

 

Pengorbanan Rishi Dadhici

Dalam diri kita ada benih dari Jiwa Agung yang berada dalam tubuh yang berasal Alam Benda. Tubuh kita adalah medan laga atau ruang kerja bagi Jiwa. Persoalannya adalah ketika benih ini bertunas, berkembang, dan menjadi “sesuatu” — maka, apakah sesuatu itu mengidentifikasikan dirinya dengan Alam Kebendaan, Rahim yang melahirkannya, yakni Materi, atau dengan benih Jiwa Agung atau Spirit, Roh? BG 14:3

Jiwa tidak pernah punah – ia kekal abadi adanya. Namun, karena keterikatannya dengan badan, indra, dan alam kebendaan, ia “merasakan” pengalaman kelahiran, kematian, dan perubahan-perubahan lainnya. Alam benda tidak bisa mengikat Jiwa, kecuali ia “bersedia” untuk diikat. Berarti, keterikatan Jiwa dengan alam benda tidak bisa terjadi kecuali seizin Jiwa itu sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 14:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Rishi Dadhici telah mempunyai pikiran yang sangat jernih. Sang Rishi paham dalam dirinya terjadi pertemuan antara benih Sang Jiwa Agung dan bertemu dengan Rahim Alam Benda. Semuanya tergantung kita apakah akan mengikuti keinginan alami kebendaan yang ingin memperoleh kenikmatan termasuk keabadian duniawi, padahal tidak ada alam benda atau materi yang bersifat abadi. Ataukah sadar bahwa sumber kebahagiaan abadi yang tak pernah berubah adalah Jiwa Agung itu sendiri, walau harus mengorbankan tubuh materi kita?

Sang Rishi berkata dengan penuh kedalaman makna: “Aku sudah tidak memikirkan kepentingan pribadiku lagi. Kalau Gusti Pangeran berkenan menggunakan tulangku untuk menyelamatkan dharma, aku rela menyerahkan tulangku ini!”

Rishi Dadhici menitikkan air mata penuh haru atas petunjuk Gusti Pangeran, hatinya hanya tertuju pada Narayana, “Apa yang dapat kami persembahkan Gusti? Pada hakikatnya segalanya adalah milik Gusti. Biarlah tulang yang diamanahkan pada diriku ini memberi andil bagi kebajikan. Aku rela, aku ikhlas…Gusti.” Indra dan seluruh dewa terharu, dan itu memercikkan semangat mereka untuk menegakkan dharma, semoga pengorbanan sang rishi tidak sia-sia.

Dinding-dinding, lantai dan atap bergetar, suara Rishi Dadhici disimpan oleh mereka.  Peristiwa agung tersebut direkam oleh alam. Ternyata ada manusia yang berjiwa begitu agung. Ucapan Rishi Dadhici adalah ucapan Dia yang bersemayam dalam hati sang rishi. Rishi Dadhici melakukan yoga dan memfokuskan semua pikirannya kepada Narayana. Selanjutnya jiwanya meninggalkan raga mencapai Narayana.  Visvakarma, arsitek para dewa, membentuk tulang kuat Dadhici sebagai Vajra, senjata Indra.

 

Pengorbanan para Kekasih Gusti

Kita melihat contoh nyata Gusti Yesus yang rela dipaku di tiang salib demi dharma. Sri Krishna rela bertindak penuh mara bahaya sebagai sais kereta perang Arjuna. Siddharta Gautama rela meninggalkan istana mewah, kekuasaan dan keluarganya. Sekarang kita baru saja membaca kisah Rishi Dadhici yang rela mati agar tulangnya digunakan sebagai senjata penegak dharma.

Orang yang paling kami hormati rela dilecehkan di sidang pengadilan dan di penjara walau sebelumnya sudah divonis bebas oleh hakim yang berintegritas mulia. Sengaja diberi kesempatan untuk pergi ke luar negeri tetapi tidak digunakan demi kasihnya terhadap sesama.

Mereka semua adalah orang sudah memahami bahwa dalam diri mereka ada pertemuan antara benih Sang Jiwa Agung dengan tubuh materi yang berasal dari alam kebendaan. Dan mereka semua telah mencapai Kesadaran Jiwa, Soul Awareness dan tidak terpengaruh lagi oleh pasang-surutnya pengaruh materi…… Siapkah kita?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: