Air bagi Badan, Doa bagi Jiwa untuk Pembersihan Diri #Masnawi

Keyakinan seseorang terbukti oleh doa, puasa, perjalanan serta perang suci yang dilakukaannya. Dan sifat dan pola pikir seseorang terbukti oleh amal jariah yang dilakukannya, oleh rasa iri yang telah dilampauinya.

 

Ada juga yang beramal saleh, karena terdorong oleh rasa iri. “Si Fulan menyumbang satu juta, aku harus menyumbang lebih dari dia.” Kemudian kita membanjiri “satu tempat” dengan pemberian yang “tidak pada tempatnya.”

 

Pemberianmu kepada orang lain, menjadi saksi akan kemurah-hatianmu: “Seorang Pemberi tak akan pernah merampas hak orang.”

Puasamu menjadi saksi akan pengendalian dirimu: “Makanan yang halal saja dapat dia hindari, apalagi hal-hal yang diharamkan.”

Ya, mereka akan menjadi saksi—asal engkau tidak melakukan semua itu demi kepentingan diri, tidak untuk pamer.

Bagaimana dengan merelea yang berpuasa, beramal saleh, tetapi masih senang pamer? Rumi mengatakan:

 

Dengan guyuran berkah-Nya, Tuhan akan membersihkan jiwa mereka!

 

Maha Suci Allah, Maha Besar Allah, sedemikian besar-Nya Kasih-Mu, sehingga tak akan tersisa satu pun jiwa yang tidak terselamatkan.

Rumi mengajak kita untuk merenungkan Kesucian dan Kebesaran Allah:

 

Setelah membersihkan badan manusia, air menjadi kotor. Kemudian, air yang kotor itu dipertemukan dengan laut, dan dia bersih kembali. Beberapa lama kemudian air yang sama digunakan kembali untuk membersihkan badan.

Bertanyalah kepada air itu: “Di manakah engkau selama ini?”

“Aku berada di laut yang jernih dan bersih. Tadinya aku kotor, dan laut itu membersihkan diriku. Sekarang aku memiliki sifat sama seperti laut. Kotoranmu dapat kubersihkan. Nanti apabila aku kotor kembali, aku akan cepat-cepat kembali ke laut. Kembali ke ‘pusat pembersihan’ itu. Di sana akan kutanggalkan bajuku yang lama, yang kotor. Dan memperoleh baju baru yang bersih.”

 

Proses ini berjalan terus, tidak pernah berhenti. Sekotor-kotornya baju kita, sudah pasti dibersihkan kembali. Demikian besarnya Kasih-Mu—Ya Allah, Ya Rabb……

Rumi juga melihat perumpamaan ini dari sisi lain:

 

Jiwa para suci, para wali, bagaikan air yang membersihkan kotoran diri manusia. Setiap kali tercemar sedikit, mereka akan kembali ke Pusat, berpaling kepada Allah, dan berdoa untuk “pemulihan kembali”.

 

Air bagi badan, Doa bagi jiwa. Dua-duanya membersihkan. Yang satu membersihkan badan, yang lain membersihkan jiwa. Pertanyaannya: selama ini kita berdoa untuk apa? Untuk membersihkan jiwa atau untuk kepentingan-kepentingan lain? Setiap orang harus jujur dengan dirinya sendiri dan menjawab sendiri pertanyaan ini. Anda berdoa untuk “memulihkan kesehatan jiwa” ata sekadar untuk “kenikmatan indra”? Entah, kenikmatan indera itu ber-label “jodoh”, “keturunan”, “rezeki”, “pangkat” atau apa saja.

Banyak cara dan metode untuk memulihkan kembali kesehatan jiwa, tetapi intinya satu dan sama: “doa”. Dan doa berarti “kepasrahan”. Doa berarti “melepaskan pikiran”. Doa berarti “melampaui keakuan”. Berdoa berarti “berserah diri”.

Doa bukanlah sekadar gerakan badan, tetapi gerakan jiwa. Dengarkan Rumi:

 

Ketika badan sedang melakukan gerakan-gerakan itu, jiwa melayang untuk melakukan perjalanan rohani. Itu sebabnya, kembali dari sana dia mengucapkan “Salam”.

(Ritus-ritus) ini bagaikan air. Ya, air hangat untuk menyegarkan badanmu yang kegerahan.

 

Asal kita tidak lupa tujua! Penyegaran badan, pembersihan jiwa—itulah tujuan ritus-ritus keagamaan. Bila hal itu tidak terjadi, ritus-ritus tersebut akan kehilangan maknanya. Ritus-ritus keagamaan adalah sarana untuk untuk mencapai tujuan akhir tersebut.

 

“Kesehatan” berasal dari Tuhan, tetapi untuk menikmatinya, engkau butuh makan. Begitu pula, “Keindahan” berasal dari Tuhan, tetapi untuk menghargainya, engkau harus melihat “sesuatu” yang indah.

Sampai pada suatu ketika engkau bisa melihat Cahaya yang ada di dalam dirimu sendiri; tanpa tirai penutup, sebagaimana Musa pernah melihat-Nya.

Sesungguhnya air kotor yang menjadi bersih itu menjadi saksi akan Kemurahan Tuhan bahwasanya dia telah diberkahi oleh Allah.

 

Menjadi saksi bagi nabi bukanlah demi kepentingan nabi. Kenabiannya tidak tergantung pada kesaksian kita. Kenabiannya disaksikan oleh alam semesta. Kenabiannya adalah bukti nyata akan Kebesaran Allah.

Menjadi saksi bagi nabi berarti menjadi saksi bagi “diri sendiri”: ”Adakah sifat-sifat Rasul Allah di dalam diriku?” Bila ya, hendaknya kita mengembangkan terus sifat-sifat itu. Bila tidak, sudah saatnya kita memperbaiki diri.

Jangan lupa, kata Rumi:

 

Ucapanmu, tindakanmu, menjadi saksi bagi sifat dasarmu. Sebagaimana penyakit dalam seseorang dapat diketahui dengan memeriksa air-seninya, begitu pula sifat dasar seseorang dapat diketahui dari ucapan serta tindakannya.

 

Cepat-cepat, Rumi juga mengingatkan kita:

 

Tetapi para “Tabib Rohani”, para “Wali”, para “Murshid” tidak membutuhkan kesaksian apa pun untuk mengetahui isi hatimu. Mereka bisa menembus jiwamu. Dan dengan sangat mudah bisa tahu segala sesuatu tentang dirimu.

Mereka bagaikan “Pelita Berjalan”. Setiap jalan yang mereka lewati menjadi terang. Mereka tidak membutuhkan kesaksian orang. Keberadaam mereka justru menjadi saksi nyata akan Keberadaan dan Kebesaran Tuhan.

Jangan pula engkau meminta kesaksiannya. Sebenarnya, kesaksian itu apa sih? Mengungkapkan apa yang belum terungkapkan—itulah kesaksian. Mengungkapkan Kebenaran Sejati, Kebenaran Rohani di dalam diri manusia—itulah kesaksian.

 

Ucapan dan tindakan kita bisa berubah, tetapi Kebenaran Sejati yang sudah terungkapkan oleh para murshid tak akan pernah berubah.

Rumi juga mengingatkan kembali bahwa ritus-ritus keagamaan dilakukan untuk pembersihan jiwa; untuk mengungkapkan Kebenaran Sejati yang selama ini “terpendam” di dalam diri kita—yang mungkin masih berupa benih, belum berbuah, belum berkembang.

Ritus-ritus tersebut akan kehilangan makna, apabila dilakukan hanya karena “kewajiban”, atau karena takut “hukuman”.

Bahasa Masnawi sungguh keras dan tegas. Saya harus menyadur penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh Rumi. Hal-hal yang bersifat spesifik dan merupakan kritiknya terhadap “tradisi tertentu” harus saya ubah menjadi kritik umum.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: