Vrtrasura: Rela Mati Sesuai Skenario Gusti #SrimadBhagavatam

Keberanian dan kekesatriaan Vrtrasura dalam pertempuran

Kalah-menang, juara-tidak juara tidaklah penting bagi Kṛṣṇa. Bagi Kṛṣṇa dharma, kewajiban mulia seorang satria adalah yang paling utama dan paling penting. Dan, tuntutan kewajiban seorang satria adalah berperang melawan ketidakadilan, kezaliman, kebatilan. Seorang satria tidak bisa, tidak boleh membiarkan kezaliman merajalela. Ia mesti melawannya. Meletakkan senjata di tengah medan perang, keengganan menghadapi tantangan di tengah krisis – adalah sikap yang tidak terpuji. Penjelasan Bhagavad Gita 2:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Vrtra bersama pasukan asura menerjang para pasukan para dewa. Bagi Vrtra, Indra sudah bertindak tidak benar dengan membunuh Visvarupa putra Tvasta yang bahkan telah membantu para dewa. Vrtra lahir untuk melawan ketidakbenaran yang dilakukan oleh Indra.

Pertempuran antara Indra beserta para dewa melawan Vrtra besrta para asura berlangsung sangat seru. Para dewa tidak mempan dilukai oleh senjata asura, seperti manusia baik yang tahan dan tidak terluka oleh kata-kata para manusia picik. Para dewa unggul dalam pertempuran dan para asura melarikan diri dari pertempuran.

Melihat penurunan moril anak buahnya Vrtra berteriak dengan keras, “Kematian adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Sekali kamu dilahirkan, maka kamu pasti mati. Inti masalahnya seperti itu, kematian mendukung kebenaran dan nama baik membawa akibat yang baik di kehidupan kemudian. Keinginan banyak orang adalah mati dalam keadaan yoga, akan tetapi pada waktu kalian melarikan diri dari perang, kematian bisa mendatangi kalian selagi berada dalam keadaan memalukan. Pada keadaan demikian fokus terakhir sebelum kematian adalah melarikan diri, sehingga kalian akan lahir lagi sebagai seorang pengecut. Pilihan mati dalam yoga atau mati dalam keadaan berperang tidak mungkin diperoleh semua orang. Kalian tidak perlu takut terhadap kematian! Mari bertempur!”

 

Kesadaran Vrtrasura tetap terjaga di saat pertempuran

Jiwa adalah penonton – Mereka yang sedang beraksi di atas panggung adalah badan, gugusan pikiran serta perasaan, indra, inteligensia. Dirinya sedang menonton! Maka adegan apa saja dapat menghibur dirinya. Terjadinya kematian di atas panggung, mengikuti skenario Sang Sutradara atau Penulis Naskah, tidak mencelakakan dirinya.

Terjadinya banjir, badai, topan — tidak mengganggu kenikmatan yang diperolehnya sebagai penonton. Jiwa yang demikian itu — Jiwa yang menyadari perannya, sifat aslinya sebagai Jiwa —terbebaskan dari segala duka. Bahkan dari segala dualitas suka dan duka. Ia meraih kebahagiaan tertinggi! Ia seperti seseorang yang sedang bermain game. Gambar-gambar yang muncul di monitor atau layar teve adalah proyeksi dari console yang pengendalinya ada di tangan dia sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 6:20 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Melihat para asura tidak memperhatikan kata-katanya dan tetap lari secara pengecut, Vrtrasura kemudian maju menyerang dan berkata, “Para dewa jangan melawan para asura yang ketakutan, lawanlah aku!” dan Vrtra mengeluarkan raungan perkasa yang menggetarkan nyali para dewa. Indra melemparkan tongkat kebesarannya yang dapat ditangkap Vrtra yang kemudian digunakan untuk melukai gajah Airavata yang dinaiki Indra, sehingga gajah tersebut terluka dan mundur. Melihat Indra tidak memakai senjata, maka Vrtra pun melepaskan tongkatnya.

Vrtra berkata, “Kamu telah membunuh saudaraku, Brahmana Visvarupa dan aku ingin membalaskan kematiannya. Wahai Indra, mengapa kamu tidak memakai senjata vajramu. Vajra dibuat dari tulang Rishi Dadhici dan mengikuti saran dari Gusti Narayana sendiri. Aku tahu di mana saja ada Gusti Pangeran akan ada kemenangan. Apakah kau ragu dengan vajra-mu? Vajra-mu telah diberkati Gusti, maka kau pasti akan berhasil membunuhku. Selama ini aku berpikir tentang Gusti dan tidak ada yang lain. Jika aku terbunuh, aku hanya menyerahkan tubuh penuh dosa ini. Aku tidak berduka!”

“Kalau memang Gusti Pangeran menghendaki aku mati lewat senjata vajra, aku ikhlas! Tujuan hidupku hanyalah untuk Gusti Pangeran. Kalau Gusti Pangeran berkehendak, aku siap! Terjadinya kematianku di atas panggung dunia, mengikuti skenario Sang Sutradara atau Penulis Naskah, tidak mencelakakan diriku. Aku bukan pelaku aku adalah saksi, penonton, aku adalah percikan Sang Jiwa Agung!”

 

Indra dan para dewa tertegun mendengar kata-kata Vrtra yang nampak menguasai Brahmavidya, pengetahuan keilahian dan mempraktikkannya dengan tanpa rasa takut. Indra dan para dewa kembali mendengar ucapan Vritra, “Bagiku , aku ingin mempersembahkan diriku pada Narayana, dan manakala aku terbunuh aku akan melepaskan tubuh yang hanya merupakan suatu wujud perbudakan. Aku akan mencapai apa yang para yogi mencapainya melalui tapa mereka. Gusti Pangeran manakala mencintai para bhaktanya, Dia tidak akan memberi kekayaan dari tiga dunia kepadanya. Ia mengetahui bahwa kekayaan adalah penyebab kebencian, ketakutan, keangkuhan, pertengkaran dan ketidakbahagiaan. Gusti memberi kebebasan kepada para bhakta-Nya. Kesadaran seperti itu jarang dimiliki oleh seorang yang kaya.”

 

Doa Vrtrasura menghadapi pertempuran hidup atau mati

Dalam keadaan bertempur dan siap menghadapi kematian pun Vrtra tetap berbagi kesadaran kepada anak buah dan musuh-musuhnya. Vrtra berdoa, “Gusti, buat aku menjadi  panembah-Mu. Buatlah pikiranku hanya terfokus kepada-Mu. Biarkan nyanyianku bersama suaraku hanya untuk memuji kebesaran-Mu. Biarkan tubuhku melaksanakan kehendak-Mu. Aku hanya ingin Gusti. Tidak ada sepercik keinginanku untuk menjadi Brahma atau Dhruva. Aku tidak ingin menjadi raja di tiga dunia. Aku tidak ingin moksa. Aku tidak ingin ketrampilan yoga. Gusti aku merindukanmu seperti anak burung merindukan induknya. Aku ditangkap dalam pusaran yang disebut kelahiran. Tolong berikan aku kebebasan. Beri aku kesempatan untuk mencintai-Mu, karena itu adalah jalan yang pasti untuk mencapai-Mu. Oleh karena selubung maya yang Kau-lemparkan kepadaku, aku terikat kasih sayang dengan tubuhku, istriku, anak-anakku, rumahku dan kepemilikanku yang lain. Tolong tarik selubung ini dan bantu aku mematahkan keterikatanku pada dunia ini!”

 

Kejernihan pandangan Vrtrasura

Jika Jiwa menyadari hakikat dirinya sebagai percikan Jiwa Agung, maka ia tidak lagi mengidentifikasikan dirinya dengan indra, badan, gugusan pikiran serta perasaan dan sebagainya.

Selama masih berbadan – kita, Jiwa mudah terjebak dalam identitas-identitas diri yang palsu sebagai badan. Ini yang menyebabkan kita sering larut dalam pengalaman-pengalaman dualitas seperti suka-duka, panas-dingin, dan sebagainya. Kesadaran yang salah ini mesti ditanggalkan ketika Jiwa masih memiliki badan. Karena jika hal ini tidak terjadi, maka setelah “kematian”, ia akan terjebak dalam identitas palsu yang lain, yaitu identitas diri sebagai badan halus atau “roh” yang tetap saja memiliki gugusan pikiran serta perasaan dengan segala variannya, termasuk obsesi, memori, impian, dan lain sebagainya.

Saat itu, menjadi sangat susah bagi Jiwa untuk membebaskan diri dari identitas mental dan emosional tersebut. Namun, jika saat masih berbadan, ia sudah dapat mengatasi kesadaran jasmani dan indrawi, maka saat kematian, ia dengan mudah membebaskan diri dari kesadaran mental dan emosional. Penjelasan Bhagavad Gita 6:31 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Indra dan Vrtra bertempur dan salah satu tangan Vrtra yang memegang trisula terpotong. Dengan tangan lainnya Vrtra memukul dengan tongkat besinya yang membuat gajah Airavata kaget dan vajra Indra terlepas. Malu pada dirinya, Indra tidak segera mengambil vajranya.

Vrtra berkata,  “Indra kenapa kamu ragu? Pungutlah vajramu! Kemenangan dan kekalahan, Indra, sehari-hari terjadi dalam kehidupan seseorang. Orang tidak bisa menang selamanya. Semua ada di tangan Gusti yang mengendalikan dunia. Orang bodoh tidak mengetahui kebenaran dan menganggap badan adalah akhir dan tujuan eksistensi kita. Indra, tanganku telah kau potong, akan tetapi permainan ini belum berakhir, tidak ada yang pasti, semuanya hanya merupakan spekulasi. Semua tergantung pada dawai-dawai yang digerakkan oleh Yang Maha Kuasa. Mari kita lepaskan dari hasil akhir, atau pengakuan para dewa. Mari kita menjalankan tugas kita untuk bertempur. Mari kita lanjutkan pertarungan.”

Indra berkata, “Aku kagum akan pada keagunganmu. Pikiranmu jauh dari hal-hal duniawi. Kamu adalah seorang siddha, kamu sudah melampaui maya yang memperdaya semua manusia. Kamu tidak mempunyai sifat asurika apa pun dalam dirimu. Kamu adalah orang satvik murni tidak seperti asura yang mengedepankan sifat rajas. Pikiranmu telah hilang di dalam Gusti Pangeran. Aku memberikan hormat pada keagunganmu.”

Mereka berperang sampai tangan lain Vrtra terpotong dan kemudian Indra ditelan oleh Vrtra. Indra dapat selamat dan berhasil membunuh Vrtra. Semua dewa dan asura melihat nyawa Vrtra melayang menuju kaki Narayana.

Sebuah kisah Bhagavan Vyasa yang membuka diri manusia, bahwa spiritualitas pun dapat dimiliki oleh seorang asura yang pada umumnya dianggap jahat oleh manusia. Spiritualitas memakai bahasa rasa terdalam dan bukan bahasa pikiran. Siapakah Vrtra dalam kehidupan sebelumnya (past life of Vrtrasura)? Silakan ikuti kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya…….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: