Keberadaanmu untuk Mencapai Ketiadaan #Masnawi

Seorang Pencinta Allah sesungguhnya tengah “meniadakan” dirinya. Dia tahu, selama dirinya masih utuh Allah masih jauh. Dia harus mengikis habis ke-“aku”-annya untuk bertemu dengan Sang Aku Yang Sejati.

Dalam bahasa Rumi:

 

Dengan kemiskinan rohani (spiritual poverty) dan peniadaan diri (fana), engkau akan terbebaskan clari bayang-bayang.

 

“Rasa tidak memiliki sesuatu”, menganggap Dia sebagai “Pemilik Tunggal”—itulah kemiskinan rohani. Dan peniadaan diri berarti melampaui ego. Alhasil, seorang pencinta Allah akan terbebaskan dari bayang-bayang pikiran dan dari bayang-bayang emosi yang senantiasa mengalami pasang surut.

 

Sang Nabi bersabda: “Kemiskinan itulah kebanggaanku.” Dia bagaikan lilin yang sudah meleleh. Tak ada bayangan lagi. Yang ada hanyalah cahaya.

Si lilin sadar betul akan tujuan hidupnya. “Keberadaanmu ini untuk mencapai ketiadaan.” Kata Sang Pencipta kepada lilin.

“Ya, itu pula yang sedang kutuju,” jawab lilin yang sudah meleleh itu.

Cahaya para sufi, para murshid, menerangi hidup kita. Sementara dia sendiri sedang menuju “ketiadaan”. Langkah demi langkah, dia maju terus, tidak pemah berhenti. Padamnya lilin hanya membuktikan bahwa “cahaya yang terbatas” itu telah menyatu dengan ”Cahaya Yang Tak Terbatas”.

Bila anda bertemu dengan seorang Pir, seorang Murshid, seorang Master, jangan menyia-nyiakan waktu. Jangan meninggalkan dia lagi. Beradalah di sekitarnya. Hidup anda akan menjadi terang bendenmg. Pertemuan dengan mereka hanyalah pertemuan sesaat. Tetapi dalam “sesaat” itu, “lilin diri” anda akan nyala pula. Dan bersama dia, di belakang dia, anda pun akan melangkah menuju ketiadaan.

Rumi melanjutkan:

 

Keakuan  ibarat awan gelap yang mcnutupi wajah bulan.

 

Keberadaannya tidak mempengaruhi bulan. Ada awan, tidak ada awan, bulan tetap bulan. Yang terpengaruh adalah penglihatan kita. Keberadaanya mengganggu pandangan kita.

Selanjutnya Rumi menyampaikan sesuatu yang amat sangat indah, sekaligus sensitif, bahwasanya “sarana” untuk mencapai Tuhan pun harus dilampaui. Bila tidak, sarana itu bisa menjadi penghalang. Bagi Rumi, sarana-sarana tersebut bagaikan seorang perawat, seorang baby sitter yang dibutuhkan, selama ibu “tidak ada”. Atau kehadirannya tidak kita sadari.

 

The nurse is borrowed for three or four days: do thou, O Mother, take us into thy bosom!

Permohonan, permintaan yang indah sekali. Untuk mengapresiasi maknanya, terjemahan saya harus bebas:

Sampai kapan aku akan dirawat oleh perawat ini? Datanglah ibu, peluklah aku….

Obat hanyalah sanma untuk memulihkan kesehatan anda. Obat bukanlah kesehatan tetapi banyak yang menganggapnya sebagai kesehatan dan tidak bisa hidup tanpa obat. Ketergantungan kita pada obat membuktikan bahwa kita belum sehat. Kalaupun badan sudah sehat, pikira kita belum. Buktinya, kita pikir kita sakit!

“Kesehatan Sejati” akan meniadakan obat.

Dalam bahasa Rumi:

 

Para Nabi dan Para suci bukanlah awan yang menjadi penghalang, sehingga engkau tidak bisa melihat bulan. Mereka dalam perjalanan menuju ketiadaan. Dan karena ketiadaan mereka, engkau pun bisa melihat bulan tanpa halangan.

 

Serang Pir, seorang Murshid, seorang Master atau Guru Sejati sesungguhnya dalam perjalanan pulang. Dia berjalan terus, tidak pernah berhenti. Bila ingin bertemu dengan dia, berbincang-bincang dengan dia, kita pun harus jalan bersama dia. Ke mana dia pergi, kita ikut. Ikut menuju ketiadaan bersama dia.

Seorang Guru yang membuat anda “tergantung” pada dirinya justru sedang mandeg. Dia tidak berjalan. Dia bagaikan awan gelap yang tengah berupaya untuk menutupi bulan.

Ada guru yang sibuk “membuka” chakra dan mata ketiga para pengikutnya. Ada yang asyik “membangkitkan” kundalini orang. Ada yang sedang “memberi” inisiasi. Mereka semua begitu sibuk, sehingga lupa “berjalan”. Kemudian anda pun mengerumuni mereka dan lupa berjalan pula.

Dalam bahasa Rumi:

 

Seperti seekor burung yang sedang “memburu” cacing, dia tidak sadar bahwa gerak-geriknya sedang diawasi oleh seekor kucing. Mau memburu, malah diburu!

Seperti maling yang tidak sadar pula bahwa dirinya sedang dibuntuti. Ada mata-mata yang ingin menangkapnya dengan barang bukti, maka begitu dia memasuki rumah orang untuk mencuri, langsung tertangkap basah.

 

Jelas mereka bukanlah Pir, bukanlah Murshid, bukanlah Guru atau Master yang bisa membantu anda. Mereka sudah celaka, tetapi tidak menyadarinya. Mengerumuni mereka berarti mencelakakan diri.

Itu sebabnya, kata Rumi:

 

Bersahabat dan bergabunglah dengan seorang Pir yang berpandangan jernih, berkesadaran tinggi. Demikian kesadaranmu yang masih rendah akan terangkat pula. Cintailah dia, sehingga engkau akan bersama dia untuk selamanya.

 

Yang dimaksudkan bukan “keterikatan baru”, bukan keterikatan pada Sang Guru. Tidak. Yang dimaksudkan adalah keterikatan pada “ketiadaan”. Guru hanyalah simbol bagi ketiadaan itu, asal dia sendiri sedang menunju ketiadaan.

Mencintai seorang Pir atau Murshid berarti mencintai ketiadaan. Demikian maksud Sang Maulana.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: