Kematian Orang Tercinta sebagai Pemicu Pencerahan #SrimadBhagavatam

Kehidupan Anda membuktikan bahwa masih ada sesuatu yang harus Anda pelajari. Masih ada keinginan-keinginan yang harus dipenuhi. Masih ada obsesi-obsesi yang harus dilampaui. Jujurlah dengan diri Anda sendiri. Jangan membohongi diri. Anda berada di sini untuk mengurus diri sendiri. Perkawinan Anda, putra-putri Anda, hubungan kerja Anda, segala sesuatu yang sedang Anda lakukan, sedang Anda alami, semua demi perkembangan diri sendiri. Jangan lupa hal itu.

Yang penting adalah Kebebasan Anda. Jangan terikat pada siapa atau apa pun. Begitu sadar bahwa dalam hidup ini kita harus belajar sesuatu, kita akan mempelajarinya dengan baik, namun kita tidak akan terikat pada sesuatu apa pun. Kita tidak akan terikat pada bangku yang kita duduki, kita tidak terikat pada bangunan sekolah. Kita tidak terikat pada guru yang mengajar kita. Kita pergi ke sekolah untuk belajar. Selesai belajar, kita pulang. Demikian pula dengan kehidupan ini: Selesai belajar kita pulang. Soul Awareness

 

Parikshit bertanya kepada Rishi Suka mengapa Vrtrasura, seorang asura bisa mencapai Narayana dengan jalan bhakti. Rishi Suka kemudian menceritakan kehidupan masa lalu, past life dari Vrtrasura.

Adalah seorang raja bijak dari negeri Surasena bernama Citraketu. Citraketu mempunyai segalanya, istri-istri cantik, istana megah dan negeri sejahtera, hanya satu yang tidak dipunyainya, yaitu seorang putra. Obsesi mempunyai putra membuatnya menikahi wanita untuk memperoleh keturunan. Walau pun sang raja sudah mempunyai banyak istri tetapi belum ada satu orang pun yang melahirkan putra.

Adalah Rishi Angirasa putra Brahma datang mengunjungi sang raja. Sang rishi mengetahui bahwa pada dasarnya, sang raja adalah baik dan saleh akan tetapi obsesinya belum terselesaikan. Sang raja mohon bantuan Rishi Angirasa agar dapat memperoleh anak. Sang rishi mengatakan bahwa sang putra akan membawa kebahagiaan dan ratapan. Raja Citraketu kurang memperhatikan ucapan sang rishi.

Sang rishi memberikan ramuan ilahi buatan Tvasta, ayahanda dari Visvarupa. Ramuan tersebut diberikan kepada istri tertua dan tidak berapa lama sang istri tertua pun hamil. Sang raja dan istri tertua sangat bahagia apalagi saat sang putra lahir dengan selamat. Karena perhatian sang raja hanya kepada ibu sang putra, maka istri-istri lainnya menjadi iri. Dan saat sang ibu lengah, mereka memberikan racun kepada sang putra.

Sang putra akhirnya meninggal dunia dan Raja Citraketu beserta istrinya menjadi sedih sekali. Negeri Surasena pun menjadi suram, rakyatnya bingung dengan kesedihan sang raja.

 

Kedatangan kembali Rishi Angirasa beserta Rishi Narada

Mereka yang tidak memahami siklus kelahiran dan kematian akan selalu menangisi orang yang mati, apalagi jika orang itu berhubungan keluarga dengannya, orang yang dicintainya.

Dalam beberapa tradisi……… Dialog tentang kematian pun dianggap tabu. Kematian dikaitkan dengan kemalangan. Dan, kehldupan dengan keberuntungan. Banyak tradisi yang menganggap kematian sebagai titik akhir dari kehidupan. Ini yang menyebabkan duka.

Tidak demlkian dengan para bijak yang memahami kematian sebagai bagian dari proses, dari siklus kehidupan. Mati, lahir, mati, lahir – demikian siklus, roda kehidupan berputar terus. Penjelasan Bhagavad Gita 2:11 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Rishi Angirasa mengajak Rishi Narada mengunjungi Raja Citraketu yang sedang berada dalam kesedihan yang dalam. Raja Citraketu tidak mengenali sang rishi karena begitu dalamnya rasa kesedihan yang dideritanya.

Rishi Angirasa memberi nasihat, “Wahai Raja, tidak seharusnya raja bersedih. Raja merasa mempunyai hubungan dengan sang putra, akan tetapi apakah sang putra juga merupakan putramu di kehidupan sebelumnya dan sebelumnya lagi? Apakah sang putra juga putramu di kehidupan yang akan datang dan yang akan datang lagi? Dalam perjalanan waktu raja telah bersama sang putra, kemudian perpisahan telah datang. Kita semua hidup di dunia dalam waktu sementara dan kemudian kita semua meninggal. Jadi, mengapa bersedih? Gusti Pangeran mencipta, memelihara, dan kemudian mendaur-ulang, ini adalah hukum alam. Ikatan antara badan dengan Jiwa adalah karena ketidaktahuan tentang Jiwa. Sekali engkau melepaskan avidya, ketidaktahuan, ini maka duka-citamu akan lenyap!”

Sang Raja tersinggung dengan nasihat sang rishi dan berkata, “Tuan siapa yang berbicara dengan kata menghibur kepadaku. Tuan-Tuan dengan jiwa bebas mengembara di seluruh dunia untuk berbagi pengetahuan tentang Kebenaran. Tetapi aku memang seperti orang gila karena keterikatan dengan putraku yang sekarang telah meninggal. Coba bantulah aku!”

Sang rishi berkata, “Aku adalah Angirasa yang membantumu untuk memperoleh seorang putra. Bersamaku adalah saudaraku Rishi Narada. Raja adalah seorang panembah Guati Pangeran dan tidak seharusnya menderita. Kerajaan, kekayaan, istri, dan putra semuanya ini adalah objek seperti yang kau lihat dalam mimpi. Mereka tidak ada saat kau terjaga, manakala kau terbangun dalam keadaan yang benar, keadaan Brahmi. Bangunlah dari mimpi! Tidak ada di dunia ini yang kekal, yang riil, yang benar, yang sejati.”

Rishi Narada berkata, “Aku akan memberimu mantra dari Upanishad. Setelah mengulanginya selama satu minggu kau akan dapat melihat Adisesa. Kamu kemudian dapat melepaskan diri dari dualitas dan mencapai keadaan jiwa yang bebas.”

 

Nasihat mendiang sang putra raja

Seluruh sifat, segala sesuatu yang berasal dari alam kebendaan memiliki kemampuan untuk mengikat Jiwa.

Jiwa tidak pernah punah – ia kekal abadi adanya. Namun, karena keterikatannya dengan badan, indra, dan alam kebendaan, ia “merasakan” pengalaman kelahiran, kematian, dan perubahan-perubahan lainnya.

Alam benda tidak bisa mengikat Jiwa, kecuali ia “bersedia” untuk diikat. Berarti, keterikatan Jiwa dengan alam benda tidak bisa terjadi kecuali seizin Jiwa itu sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 14:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Kemudian dengan kekuatan yoganya, Narada membuat mereka yang hadir dapat melihat mendiang sang putra yang telah mati tersebut. Narada berkata kepada sang putra, “Lihatlah ayah-ibumu yang sedih akibat kematianmu. Kembalilah ke dalam tubuhmu dan terimalah nasibmu sebagai seorang pangeran, yang mempunyai kekayaan dan kerajaan yang akan diberikan kepadamu oleh ayahmu!”

Sang putra berkata, “Jiwa iindividu karena terlibat dalam karma, maka dia dilahirkan di dalam dunia sebagai anak manusia, atau makhluk lainnya. Seperti emas yang diperjual-belikan melalui beberapa orang, sang jiwa sendiri tidak terikat dengan siapa yang memilikinya. Hubungan antara emas dan pemiliknya adalah khayal, ilusi, hanya bersifat sementara.”

“Pertimbangkan satu batang emas yang hari ini ditempatkan dalam kotak milik seorang pelit. Padahal kemarin batang emas tersebut ditempatkan dalam kotak tukang emas. Kemudian esok hari akan ditempatkan dalam kotak penyimpanan harta seorang raja. Masing-masing orang berkata bahwa emas itu berada dalam kotak miliknya. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa emas itu bukan milik kotak atau pemilik kotak. Emas berada dalam kotak-kotak tersebut hanya sementara saja.

“Demikian juga jiwa tidak mempunyai keterikatan dengan wadah yang dihuninya, dan dengan demikian tidak ada penderitaan atau kesenangan baginya. Ia tidak senang atau berduka kala dipindahkan dari wadah satu kepada wadah yang lain. Demikianlah keadaanku! Hanya jiwa yang bersedia diikat dengan dunia (dalam hal ini menjadi putra raja) yang mengidentifikasikan dirinya dengan dunia (putra raja). Aku tidak terikat dengan dunia.”

Dan, setelah berkata demikian  sang putra menghilang…….…

Mereka yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi sadar atas nasehat mendiang sang putra raja. Mereka tidak berduka lagi dan segera melakukan upacara penyempurnaan jasad sang putra. Para ibu tiri yang meracuninya melakukan tapa menebus kesalahan mereka. Rishi Angirasa dan Rishi Narada meninggalkan istana.

Raja Citraketu kemudian melakukan meditasi di sungai Yamuna. Selama 7 hari 7 malam sang raja membaca mantra  dan berpuasa makan kecuali minum air putih. Pada malam ke-7 dia menjadi Vidyadhara, pikirannya terang dan bersih. Kemudian dia dapat melihat Adisesa salah satu wujud Gusti Pangeran. Adisesa kemudian mengajarkan Brahmavidya kepada Raja Citraketu. “Seluruh alam semesta diliputi oleh-Ku. Aku adalah penglihat, yang dilihat dan proses melihat itu sendiri. Seorang manusia manakala ia terjaga, maka dunia mimpi tidak ada baginya. Pada saat dia bermimpi maka ‘dunia jaga’ tidak ada baginya. Pada saat dia tertidur lelap maka  baik ‘dunia jaga’ dan dunia mimpi tidak ada baginya.”

“Akan tetapi dalam tiga keadaan tersebut ada Sesuatu yang berkata, ‘aku terjaga, aku bermimpi, aku tertidur lelap’. Yang berkata itu adalah Jiwa dan itu adalah kamu dan Aku. Aku di sana dan di dalam semuanya. Dan sekali kau menyadari kebenaran ini tidak ada lagi penyebab penderitaan atau kesenangan bagimu. Bagi kamu semuanya menjadi mirip karena semuanya adalah Jiwa. Keadaan yang membuat kamu melihat segalanya diliputi oleh Aku, adalah keadaan Brahmi. Kapan saja kebenaran dilupakan, kemudian jiwa terlihat dalam dunia objek dan melupakan keadaan alami sebenarnya”

Setelah berkata demikian, kemudian Adisesa menghilang.

Advertisements

One Response to “Kematian Orang Tercinta sebagai Pemicu Pencerahan #SrimadBhagavatam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: