Doa Rumi Bukan untuk Mempertahankan Keadaan Saat Ini #Masnawi

 

Meminjam mulut para tokohnya, Rumi pun sering berdoa. Khususnya di dalam Buku Kelima ini.

 

Ya Allah, Ya Rabb,

tanah segumpal Kau ubah menjadi emas….

Gumpalan lain kau jadikan Adam.

Ya Allah, Ya Rabb,

dengan Kemampuan-Mu itu,

ubah pula kelalaian diriku

menjadi kesadaran selalu.

 

Rumi berdoa untuk perubahan, karena dia sadar bahwa perubahan adalah Hukum Alam. Rumi juga menyadari Dia sebagai “Yang Maha Mengubah”, sehingga doa seorang Rumi akan selalu selaras dengan “Kehendak Ilahi”.

Seorang Rumi tidak akan berdoa untuk “mempertahankan” suatu keadaan. Dia tahu bahwa doa semacam itu tidak selaras dengan Kehendak-Nya. Walau terkabulkan, doa untuk mempertahankan sesuatu hanyalah membuktikan kurangnya kepasrahan kita.

Segala sesuatu di dalam alam ini sedang berubah. Dan tidak sekadar berubah, tetapi berubah untuk menjadi “lebih” baik. Lalu untuk apa mempertahankan “yang lama”?

Rumi mengajak kita untuk melakukan perenungan:

 

Badanmu yang terbuat dari gumpalan tanah, api, dan angin membuktikan hal itu. Apabila engkau masih berupa tanah atau api atau angin, maka badan pun tak akan ada. Kemudian, dapatkah engkau mencapai tingkat kesadaran yang telah kau capai saat ini?

Tingkat kesadaran ini pun harus kau lewati, dan masih ratusan ribu tingkatan lain yang harus kau lalui. Setiap tingkat, setiap keadaan melebihi tingkat dan keadaan sebelumnya.

Sejak awal keberadaanmu, sudah ratusan ribu kali engkau mengalami perubahan. Sudah berulang kali engkau mengalami kebangkitan kembali.

Perhatikan jejak kaki mereka yang sedang menuju Lautan Luas, hingga suatu saat yang ada hanyalah Lautan Luas, jejak kaki tak terlihat lagi.

 

Adakah orang yang “berubah”, “berjaIan”, tetapi tidak menuju Laut dan justru menjauhi Laut? Menurut Rumi ada; hal itu bisa terjadi.

Rumi mengutip Sang Nabi:

 

Kasiihanilah ketiga (kelompok orang) itu: Petinggi yang direndahkan, orang kaya yang menjadi miskin, dan orang sadar yang harus tinggal bersama mereka yang tidak sadar.”

 

Kesadaran bisa merosot: Tinggi bisa menjadi rendah. Kaya bisa menjadi miskin. Tetapi, yang paling berbahaya adalah ketika seorang sadar harus tinggal bersama mereka yang tidak sadar.

Yang ketiga ini mengandung risiko paling tinggi, karena dalam dua kasus sebelumnya, seseorang mengalami kemerosotan kesadaran. Dari tinggi menjadi rendah. Dari kaya menjadi miskin. Kadang-kadang kemerosotan itu bahkan tidak disadarinya. Tetapi, dalam kasus ketiga, seseorang masih sadar sepenuhnya. Dan dalam keadaan sadar pula dia harus tinggal bersama mereka yang tidak sadar. Dia harus hidup “dalam lumpur” tetapi “tidak berlumpur”, bagaikan bunga teratai. Sungguh sulit. Hanya para pemberani yang bisa. Dan dalam peradaban manusia, para pemberani seperti itulah yang disebut Nabi, Avatar, Mesias, Buddha, Wali, Pir; Murshid, Guru, dan Master.

Mereka harus turun ke dalam lumpur untuk mengangkat kita dari lumpur. Mereka tidak pernah mencari pengikut. Karena itu, mereka patut diikuti. Mereka tidak pernah mengejar ketenaran dan kekuasaan. Sebab itu, ketenaran dan kekuasaan mengejar mereka.

Dengan kesadaran penuh, mereka “menunda” perjalanan menuju laut, hanya untuk mengangkat kita dari lumpur. Jangan ragu-ragu. jangan bimbang. Jangan berpraduga dan berprasangka. Dia tidak mengharapkan apa-apa dari anda. Dia datang untuk memberi, bukan untuk mengambil dan menerima.

Biarkan dirimu diangkat olehnya. Setelah dikeluarkan dari lumpur, janganlah engkau menengok ke belakang lagi, ke bawah lagi. Jalanlah bersama dia. Dia tak akan lama bersamamu.

Dengarkan, apa kata Rumi tentang seorang Nabi, Avatar, Mesias, Buddha, Wali, Pir, Murshid, Guru dan Master:

 

Seperti seekor rusa yang dikandangkan bersama keledai dan kerbau. Pemakan rumput hijau dikandangkan bersama pemakan jerami, pemakan gabah. Jelas, si rusa sengsara.

 

Tetapi dia tetap bertahan di dalam kandang itu. Tetap bertahan karena Sang Majikan yang menempatkannya di situ.

 

Tidak terbiasa makan jerami dan gabah, si rusa harus berpuasa. Dan kawanan keledai pun mengejeknya: “Dia akan dikirimi makanan dari istana raja.”

“Rumput hijau yang segar—itulah makanan saya,” kata Rusa.

“Sombong banget kamu. Sepertinya kamu ini lain sendiri,” seekor keledai menanggapinya.

“Memang lain. Aroma musk yang keluar dari pusarku menjadi saksi. Walau demikian, aroma itu pun tak akan tercium oleh hidung yang sudah terbiasa mencium bau najis.”

 

Demikian adanya. Mereka yang sudah terbiasa hidup dalam kegelapan tidak tahan melihat cahaya. Walau sebelumnya mendambakan cahaya.

Seperti bangsa kita saja: Selama bertahun-tahun kita hidup dalam keseragaman. Kita mendambakan reformasi dan demokrasi. Sekarang ketika angin reformasi itu sudah mulai terasa, bola demokrasi sudah mulai bergulir, kita malah mundur beberapa langkah. Kembali kita menginginkan keseragaman.

Kita belum siap menerima ide baru, gagasan baru. Kita tidak siap dikritik. Seorang pemimpin redaksi salah satu koran nasional mengatakan kepada saya: “Pendapat anda bahwa semua agama itu jalan menuju Tuhan tidak dapat diterima oleh masyarakat ‘a’.”

Saya bertanya kernbali, “Masyarakat ‘a’ mana yang anda maksudkan?”

Tulisan-tulisan saya sudah mulai dibaca sejak tahun 1997. Ide dan gagasan saya sudah dikenal oleh ribuan orang sejak tahun 1991. Bahkan mungkin sejak jauh sebelum itu. Yang tidak bisa menerima hanyalah sebagian masyarakat “a”—bukan seluruh. Lalu apabila “pendapat sebagian masyarakat” itu harus dijadikan alasan untuk “membunuh” kreativitas seseorang, untuk “menzalimi” seseorang, untuk “menolak” beda pendapat – adilkah anda?

Apabila kita tidak secepatnya mengubah sikap, tidak meningkatkan kesadaran diri dan tidak menerima semua agama sebagai jalan yang “valid” untuk menuju Tuhan Yang Satu Ada-Nya, maka disintegrasi negara dan bangsa pun tinggal tunggu waktu!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: