Kutukan Sati Istri Mahadeva: Alur Kisah Seorang Panembah #SrimadBhagavatam

Kesadaran Jiwa Raja Citraketu

Apa yang terjadi, perubahan yang terjadi pada badanku, pikiran serta perasaanku, status sosial serta ekonomi – semuanya tidak serta-merta mengubah-“ku”. Ketika kau menyadari hal itu, maka kau terbebaskan dari belenggu “aku” yang kecil dan bersifat individual. Kau berhadapan dengan Sang Aku Sejati, Aatmaa. Ketika “aku” menyadari hal itu, maka “aku” pun terbebaskan dari belenggu – dan pada saat itu juga Sang Aku Sejati “terungkap” dengan sendirinya! Wow, setiap orang yang terbebaskan dari individualitas – menemukan Sang Aku yang satu dan sama. Luar biasa! Maka, para rsi merumuskan: “Itulah Kebenaran Hakiki”. Itulah Satya, Al Haqq. (Krishna, Anand. (2007). Panca Aksara, Membangkitkan Keagamaan Dalam Diri Manusia. Jakarta: Pustaka Bali Post)

 

Karena berkah Gusti Pangeran yang mendatangkan Rishi Angirasa menemui Raja Citraketu, obsesi sang raja untuk memperoleh putra tercapai. Kematian sang putra meluluh-lantakkan kebahagiaan sang raja. Kedatangan Rishi Narada bersama Rishi Angirasa menemui sang raja yang tenggelam dalam kesedihan, dan kemudian menghidupkan sang putra menjadi pemicu pencerahan sang raja. Sang raja menjadi paham bahwa dirinya adalah percikan Gusti, kebahagiaan duniawi tidak ada yang abadi.

Setelah mendengar nasihat mendiang sang putra, terjadi loncatan kesadaran dalam diri sang raja. selanjutnya pembacaan mantra pemberian Rishi Narada dan pertemuan dengan Adisesa membuat sang raja mencapai Kesadaran Jiwa. Dia hanya menjalani sisa hidupnya dengan penuh kesadaran sampai maut datang menjemput. Apakah maut langsung menjemput? Apakah ada peristiwa besar yang dapat dicatat dan dikisahkan dalam buku Srimad Bhagavatam, yang membuat para bhakta, para panembah semakin cinta pada Sang Gusti?

 

Kutukan Sati istri Mahadeva kepada sang raja

Bagi saya, istilah “kutuk” ini memiliki beberapa sisi. Kutukan manusia bisa mencelakan,  bisa juga tidak. Seseorang mengharapkan agar saya celaka. Kebetulan saja, jika saya mendapatkan musihah, saya akan berpikir, “Sialan, saya ini kena kutukan dia.” Jika tidak terjadi sesuatu, kutukan yang  sama akan saya anggap enteng, “Kutukan tinggal kutukan. Semuanya di tangan Tuhan.  Buktinya, nggak kena kan?!”

Berarti, kutukan manusia “tidak berarti” sama sekali. Bisa kena, bisa tidak. Kalau “kena” pun belum tentu “kena” — karena bisa saja kebetulan. Sebaliknya, kalau “tidak kena” juga belum tentu “tidak kena” karena bisa saja “belum kena”!

Di lain pihak, “kutukan” Allah tidak bisa  disamakan dengan “kutukan” manusia. Bila  Allah “hendak” mencelakakan, tanpa kutukan pun, bisa celaka. Untuk apa “mengutuk”? Adakah seorang ibu yang mengutuk anaknya? Setidaknya, saya tidak pernah mendengar satu pun kejadian seperti itu. Adakah orangtua yang mengharapkan  agar anaknya celaka? Sepertinya helum ada kasus seperti itu. Lalu, jika mereka yang menjadi “perantara” bagi kelahiran saya tidak bisa melakukan hal seperti itu, apalagi Allah yang menyebabkan terjadinya kelahiran!

Istilah “Kutukan Allah” harus diartikan kembali. Kutukan Allah adalah “upaya” Allah untuk mengembalikan kita pada jalan yang lurus. Kutukan Allah bagaikan teguran bagi kita yang tersesat. Kutukan Allah adalah pertanda Kasih serta Kepeduliannya terhadap kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Pada suatu ketika Raja Citraketu naik kereta pemberian Narayana lewat gunung Kailasa tempat tinggal Mahadeva, dia melihat Mahadeva yang bersinar sedang memangku istrinya dikelilingi oleh para rishi dan semua pengikutnya.

Raja Citraketu berkata, “Ini merupakan suatu kejutan, Mahadeva yang dijunjung tinggi  manusia karena kebijaksanaannya sedang bercinta dengan isterinya di muka umum.”

Sang Mahadeva hanya tersenyum mendengar perkataan sang raja. Tak seorang pun dari tamu dan muridnya yang berbicara.

Tetapi Sati, istrinya tidak bisa menerima kekasaran tamunya dan menggerutu, “Manusia ini merasa sangat besar, menguasai Brahmavidya, pengetahuan keilahian, dan sedang berpikir untuk memberikan pelajaran etika kepada orang seperti kami.” Sati melanjutkan dengan perkataan lebih keras, “Kamu menganggap semua yang hadir di sini, termasuk Rishi Narada, Rishi Brigu bodoh dan tidak mengetahui etika. Kukutuk kamu agar lahir sebagai asura karena keangkuhanmu.”

 

Menerima apa pun peran yang diberikan Gusti Pangeran

Lampaui dualitas; berperilaku mulia; menyembah Sang Jiwa Agung dengan segenap Jiwa dan raga; dan, keluar dari siklus kelahiran dan kematian. Inilah roadmap untuk mencapai moksa, nirvana — Kebebasan Mutlak! Penjelasan Bhagavad Gita 7:28 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Ia akan menjalankan sisa masa kehidupannya – selama batere kehidupannya masih tersisa – sebagai Jivana-Mukta, seorang yang telah mencapai moksa – kebebasan mutlak selagi masih hidup. Ia hidup di tengah kita sebagaai mercusuar, untuk menunjukkan jalan kepada setiap orang yang masih tersesat di tengah lautan samsara, lautan kehidupan. Penjelasan Bhagavad Gita 7:19 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Raja Citraketu turun dari kereta dan bersimpuh di depan Sati dengan segala kerendahan hati. “Bunda Dunia, aku menerima kutukanmu. Apa yang ditetapkan para dewa, apa yang diucapkan sebagai kutukan, pada kenyataannya adalah sebagai akibat dari perbuatan diri pada masa yang  lalu. Manusia terperangkap dalam maya, dan tidak mengetahui bagaimana melepaskan diri dari jeratan kelahiran dan kematian yang tak berkesudahan. Jiwa menjauhi putaran ini. Paramatma menciptakan makhluk bersama mayanya. Ia yang memberi keterikatan, Ia pula yang membebaskan dari keterikatan. Ia tidak pernah terlibat. Ia tak pernah mencintai atau membenci orang. Ia tak punya saudara atau teman. Segalanya nampak mirip baginya. Rasa kebalikannya juga tak ada. Dia berada di luar dualitas. Bagaimana mungkin suatu kemarahan menemukan suatu tempat di dalam-Nya? Tidak Bunda, aku tidak marah karena Bunda mengutuk aku. Tidak juga aku minta Bunda menarik kutukan. Jika kata-kataku menyakiti hatimu aku mohon maaf.”

Setelah memberikan penghormatan, Raja Citraketu melanjutkan perjalanan dengan senyuman di wajahnya. Semua yang hadir masih ternganga oleh kata-kata sang raja. Mahadeva membalas senyuman dan berkata pelan kepada sang dewi, “Sekarang apakah kau tidak melihat keagungan seorang bhakta Narayana? Tidak ada apa pun yang akan memengaruhi dia. Surga, neraka, kutukan, berkat semua sama bagi bhakta Narayana.”

“Lihatlah, keadaan menjadi sangat hening. Semua yang hadir sedang menahan napas, angin pun menahan diri untuk tidak bertiup, matahari tetap bersembunyi di balik awan, induk burung pun menunda terbang menikmati tindakan agung salah seorang makhluknya.”

Mahadeva melanjutkan, “Ia akan menemukan kedamaian di mana saja. Lihatlah kedamaian pada wajah Raja Citraketu yang telah kauhukum. Dia bisa saja membalas kutukanmu tetapi hal tersebut tidak dia lakukan.” Kemarahan sang dewi pun berkurang.

Silakan baca ulang bagaimana Raja Citraketu bisa mencapai Pencerahan pada Tautan:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/04/11/kematian-orang-tercinta-sebagai-pemicu-pencerahan-srimadbhagavatam/

 

Lahir sebagai asura, Vrtrasura

Umumnya, Tidak Ada Devolusi, yang ada hanyalah evolusi. Manusia tidak akan lahir kembali sebagai binatang. Tetapi, ya, ada saja pengecualian. Dalam keadaan tertentu, seseorang yang telah mencapai kesadaran cukup tinggi bisa memilih untuk lahir kembali sebagai binatang—hanya demi mempelajari suatu mata pelajaran tertentu.

Barangkali mata pelajaran tentang compassion, tentang bagaimana menyayangi sesama, bagaimana merendahkan diri dan tidak angkuh, dengan memilih wujud hewan. Sebab, sebagai hewan ia bisa belajar dalam waktu singkat. Ia tidak perlu menghabiskan waktu panjang. Sebagai hewan, cukup bila ia hidup 6—7 tahun, sebagai manusia bisa 70-80 tahun.

Sekali lagi, ini merupakan pengecualian. Justru terjadi, bisa terjadi pada 0rang-orang yang sudah berkesadaran. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Umumnya tidak ada devolusi, akan tetapi seorang raja bijak bisa lahir kembali sebagai asura sesuai peran yang diberikan Gusti Pangeran. Sebagai asura pun hanya sebentar, maju perang dan mati guna meninggalkan pesan serta kisah yang menggugah para dewa, para asura serta para pembaca Srimad Bhagavatam. Inikah rencana Sang Gusti Pangeran?

Karena kutukan Sati, Raja Citraketu dilahirkan kembali pada saat Tvasta mengadakan upacara persembahan untuk membalas Indra yang telah membunuh Visvarupa, putranya. Raja Citraketu lahir sebagai Vrtrasura yang memimpin para asura berperang melawan Indra yang memimpin para dewa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: