Kesempatan Bertobat pun Ada Masa Kadaluarsanya, Jangan Terlewatkan! #Masnawi

Onta betina milik Salih sering minum air dari mata air yang dimiliki oleh warga Thamud. Mereka berang dan gusar, padahal air yang diminumnya adalah pemberian Allah. Pada suatu hari mereka membunuh onta itu.

Salih ibarat seorang nabi, seorang wali. Onta dia adalah badannya. Jika badan terbunuh, jiwa tidak ikut mati. Seorang nabi, seorang wali tidak pernah menderita. Yang bisa menderita hanyalah badan mereka. Seperti tiram, jika terbentur dengan batu karang, mutiara di dalamnya tetap aman.

 

Tetapi setiap sebab membawa akibat. Anda tidak bisa menghindarinya. Mereka yang tidak mengetahui hukum ini akan bicara tentang ganjaran dan hukuman, padahal ganjaran dan hukuman hanyalah manifestasi luanran dari hukum sebab-akibat.

Salih tahu persis tentang hukum sebab-akibat. Dan dia memberitahu kepada para warga Thamud:

 

Kalian akan mendapatkan musibah. Sebagai pertanda, dalam tiga hari mendatang wajah kalian akan berubah warna. Hari pertama, wajah kalian akan menjadi kuning. Hari kedua, merah. Dan hari ketiga, hitam.”

“Untuk menghindarinya hanya ada satu jalan. Anak onta betina yang kalian bunuh telah Iari ke pegunungan. Cobalah mencari dia dan membawanya kembali. Jika berhasil, kalian akan terhindari dari musibah.”

Dikisahkan bahwa tak seorang pun berhasil menangkap dan membawa kembali anak onta.

 

Menangkap dan membawa kembali anak onta berarti  “bertobat”. Dan “bertobat” jangan diartikan sebagai pengakuan dosa, tetapi sebagai tekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Lewat kisah ini, Rumi ingin menjelaskan bahwa untuk “bertobat” pun ada masanya, ada kalanya. Jika terlewatkan, bertobat seberapa pun tidak akan membantu. Seperti belokan “U-Turn” di Jalan Raya. Kalau sudah terlewat, harus mengambil “U-Turn” berikutnya.

Untuk bisa membelok, untuk bisa bertobat pun anda membutuhkan kesadaran. Sambil mengemudi kendaraan hidup ini, waspadalah selalu. Boleh mendengarkan musik, boleh bicara dengan teman yang duduk di sebelah, boleh memikirkan sesuatu, tetapi jangan sampai melupakan tujuan. Jangan sampai melewati belokan. Kalau terlewati, ya terpaksa jalan terus sampai menemukan belokan berikut.

Apa yang dikatakan oleh Salih menjadi kenyataan. Pada hari ketiga datanglah bencana yang membumihanguskan rumah dan harta para  warga Thamud.

Mereka menyadari kesalahan diri dan memohon pengampunan serta perlindungan dari Allah. Menyaksikan penderitaan mereka, Salih merasa kasihan. Dia mendatangi dan menghibur mereka:

“Melihat penderitaan kalian, saya berdoa dan mendengarkan suara Allah, ‘Jadilah penghibur bagi mereka yang sedang menderita.’”

“Saya menjawab Allah, ‘Hiburan harus berasal dari cinta kasih dan kegirangan hati. Sementara ini, hatiku masih penuh dengan luka pemberian mereka.”

“Maha Besar Allah, Maha Suci Allah… Dia menanggapi keluhan saya, ‘Saya akan mengobati luka-lukarnu. Dengan cinta kasih dan kegirangan hati, pergilah untuk menghibur mereka.”

“Itulah sebab aku berada di tengah kalian. Sebelumnya, pikiranku memang sempat berontak, ‘Apa gunanya menghibur mereka yang telah melukai harimu?”

“Setelah luka-lukaku diobati Allah, maka sekarang tidak ada pemberontakan lagi. Aku datang ke sini untuk menghibur kalian. Untuk memberitahu bahwa di balik setiap kejadian ada hikmahnya. Belajarlah dari kesalahan-kesalahan masa lalu, sehingga tidak mengulanginya lagi di masa-masa menclatang.

“Sering kali racun juga bisa menjadi obat. Malapetaka dan musibah yang menimpa kalian harus kalian anggap sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit jiwa yang kalian derita selama ini.”

 

Penyakit keangkuhan, penyakit keterikatan, penyakit keserakahan—sekian banyak virus ketidaksadaran tengah menggerogoti jiwa kita. Malapetaka dan musibah bagaikan racun untuk mematikan kawanan virus tersebut. Maha Besar Allah, Maha Suci Allah!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: