Obsesi Diti: Melahirkan Putra Pembunuh Indra #SrimadBhagavatam

Sri Ramakrishna Paramhansa selalu mengingatkan kita supaya berhati-hati dengan kamini dan kanchan. Ini adalah sebuah pepatah kuno. Kamini berarti “apa saja yang menggairahkan”, sekarang sering diterjemahkan sebagai wanita. Dan kanchan berarti “sesuatu yang menyilaukan”. Persis seperti kamini, kanchan pun sekarang sering disalahartikan sebagai “uang” dan “emas”. Padahal maksudnya bukan uang atau emas saja.

Nasihat Sri Ramakrishna Paramhansa, berhati-hatilah terhadap segala sesuatu yang “menggairahkan” dan “menyilaukan”, mesti dipahami secara bijak. Segala sesuatu yang memicu kegairahan di dalam diri saya adalah kamini bagi saya. Dan segala sesuatu yang membuat saya menjadi angkuh, arogan, sombong adalah kanchan bagi saya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Rishi Kasyapa mempunyai beberapa istri, dan pada suatu saat istrinya yang sangat jelita Diti selalu melayaninya dengan baik. Apa pun yang diinginkannya dipenuhi dengan penuh kasih. Terketuklah hati sang rishi. Dan, lupalah sang rishi bahwa dia harus berhati-hati dengan apa yang menggairahkan baginya. Begitu tersentuhnya hati sang rishi sampai suatu saat mengatakan kepada Diti bahwa apa pun yang diminta Diti akan dipenuhinya. Pada saat Diti minta kepadanya, dia kaget karena Diti memohon agar anak yang akan dilahirkannya kelak tidak bisa mati, seperti para dewa dan menjadi pembunuh Dewa Indra, sang kemenakannya yang menjadi raja para dewa.

Diti dan Aditi adalah 2 putri dari 13 putri Daksha yang kawin dengan Rishi Kasyapa. Diti menurunkan para pemimpin asura, sedangkan Aditi menurunkan para dewa. Ada saatnya Diti sangat sedih saat melihat banyaknya para asura yang dibunuh oleh Indra dan para dewa, sehingga dia dendam kepada Indra. Diti memiliki obsesi agar dapat menurunkan putra yang dapat membunuh Indra.

Selanjutnya Diti selalu bertindak menyenangkan hati Rishi Kasyapa, sehingga pada suatu hari Kasyapa berjanji akan memenuhi apa pun yang diminta oleh Diti. Diti kemudian menyampaikan keinginan untuk mempunyai putra yang tidak mati seperti para dewa dan dapat membunuh Indra. Rishi Kasyapa kalah janji, dan bagaimana pun dia tetap akan memenuhi janjinya.

Sadhana Diti untuk mencapai tujuan

Mantra adalah upaya untuk membangunkan, membangkitkan Inner Feeling, Rasa Terdalam, Bhaava, Bhaavanaa….

Kenapa pikiran dan perasaan mesti melayangkan “undangan mantra” kepada rasa terdalam dan menyerahkan kekuasaan, jika tidak ada keuntungannya bagi mereka? Para resi menjelaskan, menjawab pertanyaan itu secara tegas dan jelas sekali, “Ada.” Ada keuntungannya bagi pikiran dan perasaan. Kehadiran rasa terdalam sangat menguntungkan. Jika Anda menjadi pemilik saham maka sky is the limit. Anda berhak dan berkuasa untuk ikut merencanakan pengembangan lanjutan sesuai dengan visi Anda. Anda punya hak suara…………

Mantra adalah alat yang mesti di-“guna”-kan, dipakai – jika tidak digunakan, tidak dipakai, tidak ada upaya dari diri kita sendiri untuk memanfaatkannya – maka ia menjadi mubazir. Tidak berguna sama sekali. Setiap orang mesti menggunakannya sendiri tidak bisa diwakilkan oleh orang lain untuk memperoleh manfaat darinya.  Kita tidak bisa membayar seorang pendeta, rahib, atau ulama untuk melakukan pengulangan mantra demi kita. Kita mesti melakukannya sendiri……….. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern. Azka)

 

Rishi Kasyapa menyesal, janjinya kepada Diti ternyata membuat masalah besar dan dia menjadi semakin terikat dengan dunia, karena harus mempertanggungjawabkan tindakannya. Rishi Kasyapa memilihkan mantra yang harus dilakukan bersama sadhana yang berat bagi Diti agar obsesinya tercapai.

Rishi Kasyapa berkata, “kuberikan mantra yang harus dilakukan bersama dengan tapa brata selama 1 tahun. Bila kau berhasil, kau akan memperoleh putra yang dapat membunuh Indra. Akan tetapi bila kau gagal, maka putramu akan menjadi sahabat Indra. Syarat yang harus dilakoni Diti antara lain: tidak melakukan kekerasan kepada makhluk lain; tidak mengutuk; tidak berdusta; tidak memotong kuku dan rambut; tidak menyentuh tulang dan tegkorak; ketika mandi tidak berendam; tidak marah; tidak mengenakan baju yang tidak dicuci bersih; tidak memakai karangan bungan yang pernah dipakai sebelumnya; saat makan tidak menyisakan makanan; tidak makan prasadam bagi Kali (tidak makan daging); setelah makan tidak pergi keluar sebelum membersihkan mulut, tangan dan kaki; dan masih banyak sekali syarat-syarat lainnya………”

Tidak lama kemudian Diti hamil. Dan, luar biasa…….. Diti sangat teguh dengan sadhana-nya: melakukan tapa brata dan membaca mantra hari demi hari dengan sempurna.

Adalah Indra mengetahui kemarahan Diti dan dia juga tahu bahwa Diti sedang melakukan tapa brata yang keras untuk melahirkan putra yang dapat membunuhnya. Indra adalah seorang dewa, akan tetapi dia tetap merasakan ketakutan menghadapi ancaman kematian. Selanjutnya, setiap hari Indra datang membawa buah-buahan, bunga dan rumput persembahan dan diberikannya pada Diti, sang bibi. Bahkan Indra selalu membawakan air suci untuk keperluan ritual Diti. Kewanitaan Diti tersentuh oleh perhatian Indra, sang kemenakannya. Tanpa terasa kemarahan Diti terhadap Indra sudah jauh berkurang. Indra sendiri selama hampir setahun mulai paham kesusahan seorang ibu, kala anaknya dibunuh olehnya.

Pada suatu hari, Diti sangat kelelahan, karena dalam keadaan hamil dan bertapa brata dengan keras selama berbulan-bulan. Diti tertidur sebelum mandi dan lupa melakukan salah satu ritual.

Indra segera memanfaatkan kelalaian ini, dengan kemampuannya dia segera masuk ke dalam kandungan Diti. Indra melihat calon bayi yang bersinar keemasan. Kemudian Indra mengambil vajranya dan memotongnya menjadi tujuh bagian. Potongan-potongan mulai berteriak dan Indra berkata, “Ma Ruda”, jangan menangis. Kemudian masing-masing potongan tersebut dipotongnya masing-masing tujuh bagian. Semua potongan berubah menjadi bayi kecil yang berkata, “Indra! Mengapa kamu melakukan hal ini, bukankah kami adalah saudara-saudaramu. Kami semua selama berada dalam kandungan makan sari makanan dari buah-buahan yang kau berikan kepada ibuku. Sebagian air suci yang diminum ibuku yang diperoleh darimu telah menjadi bagian dari tubuh kami.”

Indra menjawab, “Jangan takut saudara-saudaraku, aku melakukan ini agar kalian menjadi saudara-saudaraku. Kalian akan menjadi satu denganku. Kalian bukan Daitya, asura, akan tetapi kalian akan tinggal di istana para dewa dan kalian akan disebut Marut.”

 

Perubahan karakter Diti akibat Mantra

Bahasa Sanskerta itu bukan bahasa lisan tetapi bahasa program. Bahasa yang dibuat untuk berhubungan dengan dewa. Dalam hal ini dewa bukan makhluk abadi akan tetapi frekuensi yang lebih tinggi. Semuanya frekuensi lebih tinggi disebut dewa. Dan masing-masing frekuensi ada namanya. Kadang kita menyebut sebagai makhluk surgawi, tetapi ini adalah nama-nama dari frekuensi yang lebih tinggi.

Ketika mengucapkan kata dengan bahasa Sanskerta, setiap huruf dalam bahasa Sanskerta terhubung dengan frekuensi yang lebih tinggi. Ke otak, kata tersebut terhubung dengan beberapa bagian dari otak kita. Setiap huruf tertentu merangsang bagian tertentu dari otak kita. Setiap kata yang diucapkan dalam mulut kita dengan totalitas, otak kita dirangsang dan saat otak dirangsang maka seluruh tubuh juga dirangsang. Untuk membaca mantra tidak perlu belajar Sanskerta, cukup membaca mantra dasar misalnya gayatri mantra. Sumber: terjemahan bebas dari conversation Anand Krishna and Kali Ma in meditation, Spreaker

 

Laku sadhana Diti melakukan laku suci dan membaca mantra secara repetitif-intensif hampir satu tahun menampakkan hasilnya. Bayi dalam kandungannya tidak bisa mati, walau dipotong dengan vajra. Laku sadhana tersebut juga membuat Diti menjadi lebih bijak dan emosinya terkendali. Diti mulai bisa menerima peristiwa apa pun yang dihadapinya. Demikianlah kebijaksanaan Rishi Kasyapa untuk membawa Diti ke jalan suci.

Diti bangun dari tidur dan menemukan bahwa anak-anaknya telah dilahirkan. Mereka bersinar keemasan dan berada di sisi Indra. Diti berkata, “Indra , aku tengah melakukan tapa brata yang keras untuk mendapatkan putra yang dapat membunuh kamu. Bagaimana bisa aku mempunyai 49 putra? Sampaikan apa yang telah terjadi?”

Indra berkata, “Ampuni aku bibi. Dengan keinginan melindungi diri dari kemarahanmu, aku masuk ke dalam kandunganmu dan mencoba membunuh anak yang akan lahir. Akan tetapi, walaupun dipotong-potong oleh vajraku, anak itu tidak mati, bahkan setiap potongan menjadi anak tersendiri. Aku melakukan hal ini hanya terdorong naluri untuk mempertahankan kehidupanku. Para putramu hidup dan aku tidak bisa membunuh mereka, mereka tidak bisa mati.”

Kemarahan Diti terhadap Indra sudah menguap dan dia berkata, “Adalah takdir yang menjadikan aku lengah dalam menjalankan tapa brataku. Aku sangat hati-hati, melakukan dengan penuh keseksamaan, akan tetapi hari ini aku melakukan kesalahan. Itu juga bukan kecerobohanku, hanyalah maya Narayana yang menyebabkan itu terjadi. Anak-anakku telah diberi keabadian oleh mantra pemberian suamiku, itulah sebabnya vajra-mu tidak berdaya. Sekarang kamu sudah selamat dan aku juga beruntung bahwa anak-anakku tidak bisa mati.”

 

Indra masih menunggu lanjutan kata-kata Diti dengan penuh kecemasan, dia takut apabila Diti mengeluarkan kutukan bagi dirinya. Kutukan dari seorang wanita yang baik justru lebih berbahaya dari kematian. Indra sangat cemas, karena tidak tahu apa yang terjadi dalam diri bibinya.

Dalam ketidaktahuan tentang misteri kehidupan, Indra menjadi sadar bahwa selama ini dia tidak pernah peduli dengan kematian para asura. Apakah ini juga merupakan peran yang diberikan-Nya kepada dirinya? Indra juga tidak tahu setelah tugas dia berakhir dia akan menjadi apa, dia tahu dia hidup hanya untuk satu manvantara yang berarti satu zaman dengan salah satu Manu dan kemudian akan digantikan oleh Indra lainnya.

Diti kemudian melanjutkan perkataannya, “Semua kehendak Gusti Pangeran tidak pernah dapat digagalkan. Ambillah para putraku bersamamu dan mereka akan menjadi saudara-saudaramu. Kamu adalah seorang dewa dan mereka juga akan menjadi dewa, walau mereka keturunan Diti.”

Indra dan para Marut lega mendengar akhir dari skenario Narayana. Mereka semua melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya, meninggalkan kehendak pribadi mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: