Duta Besar Kerajaan Tuhan Penghubung Negeri-Nya dengan Negeri Kita #Masnawi

Dia yang mengetahui “Jalan” disebut Pir atau Pemandu. Jika kamu bertemu dengan seorang Pir, ikutilah dia tanpa keraguan, karena dia “tahu”!

Awam bagaikan kegelapan malam. Pir adalah Bulan yang meneranginya. Pir juga berarti “Tua”. Seorang Pir menjadi “Tua” karena Kebenaran, bukan karena Waktu.

Saya memberikan julukan Pir kepada Husamuddin, “keberuntungan”-ku yang masih muda, karena, walaupun tampak muda, sesungguhnya dia tua……….

 

Husamuddin adalah seorang murid yang relatif baru—baru bergabung dengan Rumi. Tetapi, Rumi tidak menilainya berdasarkan “waktu”. Rumi menilainya berdasarkan “kebenaran” —”kesadaran”.

Karena itu pula, Rumi menyebutnya “keberuntunganku”. Seorang murshid bagaikan pedagang yang membuka usaha dengan tujuan jelas: mencari keuntungan. Tetapi keuntungan yang dicarinya bukanlah keuntungan materi. Keuntungan seorang murshid adalah jumlah orang yang meningkat kesadarannya. Berapa orang yang setidaknya menjadi sesadar dia. Makin besar untungnya, jika di antara mereka ada yang menjadi “lebih” sadar dari dia.

 

Anggur tua dinilai lebih tinggi. Begitu pula dengan para Pir. Carilah seorang Pir yang sangat tua. Tua karena kcbenaran, karena kesadaran, bukan karena waktu.

Jika kamu sudah menemukannya, jadikan dia Pemandumu. Dengan adanya seorang Pemandu, perjalananmu akan menjadi lebih nyaman dan terarah.

Ingat, perjalanan ini baru pertama kali kamu tempuh. jangan sok berani. Indahkan panduan Sang Pemandu!

 

Bagi seorang murshid, murid adalah sahabat. Murshid “tahu diri” betul. Pada dasamya, tidak ada perbedaan antara mereka. Seorang murid adalah masa lalu seorang murshid. Dan seorang murshid adalah masa depan seorang murid. Beda “kesadaran” sedikit. Itu saja.

Yang seringkali “lupa daratan” adalah para murid. Disebut “sahabat”, mereka menjadi sombong. “Sekarang aku bisa jalan sendiri. ”—pikir dia. Ternyata apa? Baru berjalan sebentar sudah babak-belur. Tetapi karena kesombongannya, karena keangkuhannya, dia tidak akan mengaku salah. Walaupun sudah “tersesat”, dia akan tetap melanjutkan perjalanannya.

Rumi menasihati mereka:

 

Seperti seekor keledai yang tergiur oleh rerumputan dan berhenti di pinggir jalan, begitu pula kenikmatan duniawi bisa menyibukkanmu, sampai lupa menempuh perjalanan yang harus kau tempuh. Pada saat-saat seperti itu, hanya seorang pemandu yang bisa menyadarkan dirimu.

“Banyak orang berupaya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan lewat ritus-ritus keagamaan.” kata Nabi Muhammad kepada Ali, sambil menasihatinya, “Dekatkan dirimu dengan para pengabdi Allah yang terpilih dan bijak, maka kau akan lebih awal sampai di tujuan.”

Nabi Muhammad melanjutkan, “Ali, engkau adalah seorang Pemberani yang bernyali. Kendati demikian, jangan terlalu percaya pada ‘nyali’. Turutilah nasihat seorang Pemandu yang bisa menemanimu dalam perjalanan ini. Turuti nasihat seorang Pemandu, sebagaimana Musa menuruti nasihat Khidir.

“Jangan menyangsikan kebijakannya, seperti Musa menyangsikan kebijakan Khidir. Jangan sampai Pemandumu meninggalkan kamu, seperti Musa ditinggalkan oleh Khidir.”

“Tangan seorang Pir bagaikan Tangan Tuhan. Jangan meragukan hal ini. Jangan kira ada yang pernah sampai di tujuan tanpa bantuan para Pir. Kalaupun ada yang berjalan sendiri dan sampai di tujuan, hal itu disebabkan oleh doa para Pir yang senantiasa melindungi dirinya.”

Para Pir para Wali, para Nabi—apa pun sebutannya—adalah wakil Keberadaan di atas bumi, seperti para Duta Besar yang mewakili negerinya. Dia berperan sebagai penghubung antara negeri yang mengut us dan negeri di mana dia ditempatkan.

Setelah menyelesaikan masa baktinya, seorang Duta Besar akan pulang ke negerinya, dan digantikan oleh Duta Besar yang baru. Demikian, berjalan terus. Kecuali, terjadi konflik dan pemutusan hubungan  diplomatik.

Untungnya, Tuhan tidak pemah memutuskan “hubungan” dengan dunia kita.  Itu sebabnya, dari jaman ke jaman, ada saja utusan yang Dia kirimkan. Jika anda alergi terhadap istilah “nabi” dan hanya ingin menggunakan untuk pribadi-pribadi tertentu, tidak apa. Gunakan istilah “wali”, “pir”, “pemandu”, “pelayan”, “petugas”—apa saja! Tidak menjadi soal.

Negara-Negara Persemakmuran (The Commonwealth Countries), bekas jajahan Inggris tidak mengenal istilah “Duta Besar” di antara mereka. Mereka menggunakan istilah “High Commissioner”. Tidak menjadi soal. High Commissioner atau Ambassa dor  atau Duta Besar atau apa saja, ketahuilah bahwa yang mereka wakili, satu dan sama.

Sering kali, seorang Duta Besar tidak akan turun tangan sendiri untuk memberi informasi tentang negerinya. Dia akan menggunakan media cetak dan media elektronik untuk menyampaikan berbagai informasi. Lalu berkat informasi yang dia sampaikan itu, anda tertarik untuk mengunjungi negerinya. Langsung membeli tiket dan jalan sendiri.

Tampaknya, anda tidak menggunakan jasa kedutaan. Apalagi kalau negeri itu tidak mengharuskan anda memiliki visa. Tetapi, sesungguhnya ketertarikan anda terhadap negeri itu sudah membuktikan adanya “tangan” Sang Duta Besar yang sedang bekerja di balik layar.

Jadi kalau anda berjalan sendiri dan sampai di tujuan dengan selamat, itu pun berkat bantuan para Pir. Demikian menurut Rumi……..

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: