Hiranyakasipu: Tercapainya Ambisi Menjadi Penguasa Tiga Dunia #SrimadBhagavatam

Intensitas perasaan dan ingatan kepada Gusti Pangeran

Saat Anda benar-benar mengingat seseorang, semua yang berada di sekeliling Anda bisa memberikan kenangan akan orang tersebut. Orang tersebut bisa jadi yang Anda cintai atau benci. Ini tak ada hubungannya dengan cinta dan benci; ini lebih kepada intensitas perasaan dan ingatan.

Para Sufi dan mistik para kekasih Tuhan, melihat wajah-Nya di mana-mana. Mereka mengingat Tuhan melalui cinta dan intensitas perasaan yang berperan di sini.

Bagaimana dengan mereka yang mengingat Tuhan dengan cara penyesalan dan kebencian mendalam? Mungkin, bahkan bagi orang-orang ini, mereka melihat juga wajah Tuhan di mana-mana. Sekali lagi, intensitas perasaan yang berperan di sini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). Si Goblok, Catatan Perjalanan Orang Gila. Koperasi Global Anand Krishna)

Demikianlah dua penjaga istana Vaikunta, tempat tinggal Sri Vishnu yang lahir ke dunia menjadi musuh Sri Vishnu dengan intensitas yang luar biasa. Mereka sepanjang waktu hanyalah mengingat Sri Vishnu, musuh mereka di dunia………..

Yudistira bertanya pada Rishi Narada, mengapa Sisupala, raja Cedi yang menghina Krishna pada saat upacara Rajasuya dibunuh dengan Cakra Krishna, akan tetapi cahaya dari badan Sisupala menuju kaki Krishna dan memperoleh keselamatan pada kaki-Nya?

Rishi Narada menjawab bahwa memang banyak bhakta Gusti Pangeran yang belum mampu meninggal seperti yang dialami oleh Sisupala musuh Sri Krshna. Selanjutnya Rishi Narada bercerita tentang kisah dua penjaga istana Sri Vishnu yang lahir menjadi Hiranyaksa dan Hiranyakasipu, kemudian lahir menjadi Ravana dan Kumbakarna dan terakhir lehir menjadi Sisupala dan Datavakra.

Silakan baca ulang:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/12/28/hiranyaksha-dan-hiranyakashipu-kelahiran-sifat-raksasa-akibat-nafsu-srimadbhagavatam/

 

Tekad Hiranyakasipu menjadi Penguasa Tiga Dunia

“Lawan yang satu telah kutaklukkan, yang lain pun akan kutaklukkan. Aku menguasai segala-galanya. Aku memiliki kekuasaan tertinggi. Segala-galanya tersedia untuk kunikmati. Aku memiliki segala kekuatan. Aku sakti, aku berhasil, aku bahagia.” Bhagavad Gita 16:14

Kurang lebih afirmasi-afirmasi seperti inilah yang diajarkan para motivator sejak awal abad ke-20, dengan sedikit improvisasi dalam tata-bahasa dan gaya penyampaian.

BAGI KRSNA, PERNYATAAN-PERNYATAAN SEPERTI INI adalah bersifat syaitani. Semuanya memengaruhi niat kita, sehingga kita menjadi sombong; “Aku sudah mencapai ketinggian langit kesekian, kau baru langit kesekian.” Penjelasan Bhagavad Gita 16:14 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Hiranyakasipu memang angkuh, akan tetapi berbeda dengan para pengikut motivator masa kini yang cenderung mengkhayal, Hiranyakasipu berkarya dengan penuh percaya diri. Bekerja keras sesuai dengan potensi dan keahlian dirinya. Itulah yang membawa keberhasilan. Bukan ambisi, bukan afirmasi-afirmasi belaka………….

Dikisahkan Diti putra Daksha kawin dengan Rishi Kasyapa putra Marici dan mempunyai dua putra, Hiranyaksa dan Hiranyakasipu. Hiranyaksa mati di tangan Avatara Varaha yang merupakan wujud Narayana untuk mengangkat bumi dari dasar samudra.

Hiranyakasipu sangat marah atas terbunuhnya saudaranya. Hiranyakasipu kemudian meminta para asura untuk menghancurkan tempat Narayana bersemayam. Di mana pun para brahmana berkumpul untuk mengadakan upacara yajna, upacara persembahan untuk Narayana dibubarkan agar Narayana tak bisa hadir di dunia. Para asura juga diminta untuk menghancurkan dharma, karena Narayana selalu hadir pada perbuatan dharma. Para brahmana pemuja Narayana dibunuh dan dikejar-kejar para asura sehingga merasa cemas dan ketakutan. Semua tempat pemujaan Narayana diluluhlantakkan. Bukan hanya di zaman ini, sejak zaman Satya Yuga penghancuran tempat-tempat pemujaan sudah pernah terjadi………

Untuk mengalahkan Narayana, Hiranyakasipu melakukan tapa keras selama bertahun-tahun untuk memuaskan Brahma. Hiranyakasipu memahami bahwa Brahma dengan tapa kerasnya mampu menciptakan alam semesta  dan dia yakin apabila dia bertapa dengan keras maka dia akan dapat menjadi Brahma. Dia akan membuat dunia sendiri, di mana para asura menjadi dewa dan kejahatan akan dianggap sebagai kesucian.

 

Permohonan Hiranyakasipu kepada Brahma

AMBISI, HARAPAN, EKSPEKTASI – sebutan apa pun yang kita berikan kepada “cara berpikir” seperti ini, sekalipun dibungkus rapi dengan kertas sampul positive thinking — landasannya adalah lobha, keserakahan.

Dan keserakahan membawa bencana. Keserakahan membuat kita menjadi keras, kaku, alot, dan berdarah-dingin. Kita akan menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri, untuk mendapatkan kedudukan, pujian, penghargaan, apa saja.

lalu, apakah ambisi itu tidak boleh? Perkaranya bukanlah boleh atau tidak. Perkaranya adalah bahwa ambisi adalah cocok bagi mereka yang bersifat syaitani; mereka yang belum mengenal nilai-nilai hidup dan kehidupan yang lcbih tinggi, mereka yang masih bodoh. Penjelasan Bhagavad gita 16:13 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Brahma datang kepada Hiranyakasipu yang sedang bertapa dan berkata bahwa dia senang dengan tapa kerasnya dan bertanya apa yang diminta Hiranyaksipu kepadanya. Hiranyakasipu hanya minta satu hal yaitu agar dia dapat hidup abadi. Brahma mengatakan bahwa dia sendiri tidak abadi.

Hiranyakasipu yang sangat cerdas minta kepada Brahma, bahwa tidak ada satu pun makhluk ciptaan Brahma yang dapat membunuhnya. Tidak ada hewan atau manusia yang dapat membunuhnya. Dia minta dia tidak akan mati di dalam rumah atau di luar rumah dan juga tidak bisa mati sepanjang siang dan sepanjang malam. Tidak mati di bumi atau di langit. Tidak ada satu pun senjata yang dapat membunuhnya.

Brahma mengabulkan permintaan Hiranyakasipu dan kemudian lenyap dari pandangan Hiranyakasipu.

Hiranyakasipu dengan kesaktiannya kemudian menaklukkan tiga dunia. Dunia para dewa yang dipimpin Indra dikalahkannya. Dunia yang dikuasai Varuna dan Yama pun ditaklukkannya. Bahkan dunia yang menjadi kekuasaan Kubera pun menjadi wilayah taklukannya.

 

Setelah ambisi tercapai apakah tidak ada masalah yang membuat stres?

Lihatlah keadaan mereka yang selama ini percaya pada kekuatan ambisi. Kendati sudah menjadi kaya-raya, apakah mereka bahagia? Sudah menduduki posisi tinggi, apakah mereka tenang? Sudah berhasil meraih penghargaan, apakah rnereka tentram? Sudah memiliki tabungan di Swiss, apakah mereka damai?

Sehatkah orang nomor satu di belahan dunia mana saja? Seberapa besar tingkat stres yang dideritanya? Penjelasan Bhagavad gita 16:13 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Para dewa datang kepada Gusti Pangeran Narayana dan Narayana menghibur mereka dan mengatakan agar mereka menyerahkan segalanya kepada-Nya. Narayana berkata bahwa Hiranyakasipu akan mempunyai seorang anak yang berbhakti kepada Narayana. Manakala seorang bhakta seperti dia dilukai oleh seorang asura maka Dia akan mewujud di dunia.

Hiranyakasipu telah menjadi penguasa Tiga Dunia, apakah dia bahagia? Anak bungsu tersayang justru menjadi bhakta Narayana? Bagaimana rasa dongkol dan stresnya? Silakan ikuti kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya…………..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: